Advertisements

Tokoh Publik

This tag is associated with 23 posts

Mavendra Singh Gohil, Pangeran Gay pertama di India

Pangeran Manvendra Singh Gohil, Putra Mahkota Maharaja Rajpipla di Gujarat.

Pangeran Manvendra Singh Gohil, Putra Mahkota Maharaja Rajpipla di Gujarat.

Adalah Pangeran Mavendra Singh Gohil, putra mahkota Maharaja Rajpipla di Gujarat. seorang Pangeran gay pertama di India yang terbuka kepada publik tentang orientasi seksualnya. Dalam video ynag diunggah di akun youtube Come Out Loud, sebuah organisasi yang berjuang untuk mempersatukan komunitas-komunitas LGBT.

Sebenarnya Pangeran Gohil pertama kali berbicara tentang seksualitasnya adalah dalam acara talk show Oprah pada tahun 2007. Yang mungkin juga memiliki pengaruh pada penarikan pasal 377 KUHP yang mengkriminalisasi homoseksualitas di India pada tahun 2009, seperti keterangan yang ia berikan kepada Oprah dalam talk show yang menghadirkan dirinya tahun 2011. Namun sayang sekali pada tahun 2013, pasal 377 KUHP kembali disahkan di India yang berarti kembali menkriminalisasi homoseksualitas.

Berikut video perjalanan Pangeran Mavendra Singh Gohil dalam acara Oprah 

Pangeran berumur 50 tahun ini menceritakan, ia sadar bahwa ia tidak tertarik kepada lawan jenis saat ia berumur 12 atau 13 tahun. Ia mengaku tidak tahu kenapa ketertarikan itu terjadi, karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Karena mulai dari minum air pun, ia dilayani, pelayan yang mengambilkannya.

Status keningratan juga memberikannya tekanan.

“Besar dengan pelayan dan tidak punya banyak teman … tidak ada internet  … sebuah keadaan yang membingungkan.” katanya.

Ketika Gohil mulai mencari tahu seksualitasnya, sayang sekali hal tersebut membuatnya tidak diakui oleh keluarganya dan dihapuskan dari silsilah keluarganya. Akhirnya Gohil mulai keliling dunia dan membagikan ceritanya. Waktu berjalan, akhirnya orang tuanya kembali menerimanya.

Dalam videonya, Gohil mengutarakan sebuah pikiran yang sangat menyentuh dan mempunyai makna yang dalam.

“Kita semua adalah manusia. Kita harus diperlakukan dengan setara dan diberikan hak-hak yang selama ini sudah diingarkan. Apa yang kita harapkan dari masyarakat adalah cinta. Hak-Hak gay tidak bisa hanya dimenangkan di ruang sidang, tetapi juga di hati dan pikiran orang-orang yang hidup dengan kita.

“We’re all human beings. We should be treated equally and be given the rights which we have been denied. All we expect from the society is love. Gay rights cannot just be won in the courtroom, but also in the hearts and minds of the people we live with.”

 

Sumber : out.com

Advertisements

Tamara, waria seniman dari Yogyakarta yang mengantongi pengalaman internasional

Tamara dan karya seninya Sumber : metrotvnews

Tamara dan karya seninya
Sumber : metrotvnews

Pertengahan tahun 2015, tepatnya 9-27 Juni, karya seni berjudul We Are All Human menghiasi menjadi salah satu pengisi di acara Jogja Art Week menemani 44 karya seni lainnya.

Karya seni yang berbentuk gaun pengantin yang terbuat dari kawat yang berbentuk boneka ini adalah kreasi Tamawa, seorang waria berusia 25 tahun.

“Saya buat boneka besi beragam ukuran bentuk. Ini disesuaikan dengan manusia yang berbeda-beda. Ada yang kepalanya besar dan ada yang tangannya panjang sebelah,” tuturnya di UGM Yogyakarta, Sabtu (6/6/2015)

Penyusunan boneka melambangkan orang-orang yang memanjat sesuatu.

“Saya sengaja meletakkan boneka seperti orang memanjat. Ini melambangkan orang-orang yang sedang memanjat sesuatu, entah itu kekuasaan atau jabatan atau uang. Gaun dilambangkan sebagai jalan untuk mencapai hal itu,” jelasnya.

Gaun di bagian atas sengaja dibuat bolong karena ingin memberi pesan ada ruang hampa sesudah orang mencapai puncak kekuasaan.

“Saya mau memberi pesan bahwa manusia harus saling membantu agar bisa mencapai kekuasaan. Jika dia egois dan ingin menang sendiri, tidak ada kebahagian yang ia dapat. Karena di setiap kekuasaan itu ada kekosongan,” pungkas Tamara.

Ternyata dengan berjalannya waktu Tama masih terus berkreasi, seperti liputan Tempo berikut ini

Tamara melalui kerasnya hidup. Dulu, ia seorang waria yang menghabiskan sebagian waktunya di jalanan. Kini, ia banyak membuat karya seni. Instalasi seni berupa gaun panjang terbuat dari benang berwarna-warni menghiasi rumah Tamara. Tiga topeng dipasang di dinding belakang gaun panjang yang menyelimuti manekin itu. Tamara menciptakan karya instalasi dengan teknik. “Ini karya prematur. Ekspresiku atas bayangan diriku,” kata Tamara kepada Tempo, Senin, 7 Maret 2016.

Tamara banyak terlibat dalam proyek seni kolaborasi. Tahun 2015, ia menampilkan karyanya, berkolaborasi dengan seniman dari sejumlah negara. Di antaranya, ia tampil dalam Goma Gallery di Brisbane “Asian Pacific Trienale #8”, berkolaborasi dengan seniman Ming Wong, Shahmen Suku, dan Bradd Edward. Karya bersama itu berjudul Aku Akan Bertahan.

Tamara juga terlibat dalam acara seni di Gertrude Contemporary Art berjudul Ancient MSG. Ia berkolaborasi dengan empat seniman Australia dan tiga seniman Indonesia. Acara itu dikuratori oleh Kristi Monfries. Tamara juga berkesempatan tampil mengisi workshop di Melbourne Art Culture Victoria.

Tamara berkisah, ia mengamen di jalanan pada 2008-2012. Ketika mengamen, Tamara kerap mengalami kekerasan atau pelecehan secara verbal, misalnya diteriaki bencong saat ia mengamen di bus. Suatu hari, Tamara sedang berpuasa. Adzan magrib berkumandang dan ia minta air mineral kepada petugas Satuan Polisi Pamong Praja. Bukan air mineral yang didapat, melainkan bentakan dari petugas.

Tamara mengatakan pemerintah selama ini belum serius mendampingi waria. Ia mencontohkan program pelatihan keterampilan menjahit hanya sebatas diberi alat dan pelatihan ala kadarnya. “Permasalahan sosial tidak akan selesai kalau pemerintah setengah-setengah,” ujarnya.

Tamara mulai berkenalan dengan proyek-proyek seni sejak 2012. Ia bergabung dengan Makcik Project, pameran hasil proyek seni yang melibatkan komunitas waria. Acara itu juga merupakan program Parallel Event Biennale Jogja XII Equator #2. Kuratornya waktu itu ialah Grace Samboh.

Dari situ, Tamara memulai tertarik menciptakan karya seni berupa seni instalasi dan performance art. Ia, yang suka dengan karya-karya seni, banyak bergaul dengan seniman. Suatu waktu, Tamara, yang antusias dengan karya seni, meminta cat air dan kuas kepada seniman. Ia senang karena seniman itu tak keberatan. Tamara justru didukung untuk menggambar.

Tamara, yang tak punya latar belakang pendidikan formal seni, gigih berkarya. Ia banyak ditawari terlibat di sejumlah acara seni. Ia sadar sejumlah orang mencibirnya sebagai seniman dadakan. Tapi Tamara tak ciut nyali. Ia tak patah semangat dan terus kreatif bertahan hidup. Kawan-kawannya pun banyak yang mendukung.

Ia sangat percaya diri. Tamara tak pernah menganggap dirinya tak punya kemampuan, setara dengan orang lain. Ia percaya waria adalah manusia, setara dengan orang lain. Kepercayaan diri dan pikiran itulah yang membuatnya menjadi berkembang. “Jangan pernah merasa istimewa. Biasa saja. Setarakan dirimu dengan orang lain,” ucap Tamara.

Tamara bercerita, ia mudah berbaur dengan masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggalnya sekarang. Tak pernah ada yang mempersoalkannya sebagai waria. Ia sering terlibat dalam kegiatan bersih-bersih kampung dan pertemuan-pertemuan rukun tetangga.

Tamara berharap bisa melanjutkan pendidikan. Ia berencana belajar di Universitas Terbuka. Tamara, yang lulusan sekolah menengah atas, kini sedang menyiapkan itu.

Dikutip dari Tempo Metrotvnews

 

Dariah, potret nyata kesenian adiluhung Lengger Banyumas yang terancam punah

Polesan make-up nya tak ribet-ribet amat. Hanya sapuan bedak, lipstick, dan pensil alis. Sentuhan terakhir, andheng-andheng palsu di ujung hidung.

“Biar kelihatan cantik,” ujar Dariah, 86 tahun, maestro lengger lanang Banyumas dari Desa Somakaton Kecamatan Somagede.

Siang itu, Dariah bersama tiga penari lengger lanang lainnya didapuk menari lengger di Petilasan Manggihsari di desa itu. Di petilasan itulah, Dariah, puluhan tahun lalu melakukan perjalanan ritualnya untuk menjadi seorang penari lengger.

Panggung dibuat sederhana, tanpa atap. Meski tanpa atap, panggung cukup teduh karena terlindung rerimbunan pohon beringin yang berdiri kokoh di belakang petilasan. Penonton berjubel di dekat panggung. Tak ada sekat antara penari dan penonton.

Tetua adat Desa Somakaton, Jaya Martono mengatakan, pentas mini napak tilas itu juga dimaksudkan untuk mengajak masyarakat agar kembali berpikir bersih. “Di sini ada takir atau makanan yang dibungkus daun pisang untuk dimakan bersama,” katanya.

Takir merupakan akronim dari tata pikir, atau menata pikiran. Saat ini, kata Jaya, banyak agama yang merasa benar sendiri dan menjelekkan agama lain.

Yusmanto, budayawan lokal Banyumas menambahkan, untuk menjadi penari lengger yang sebenarnya memang harus mengikuti ritual khusus. “Jadi tidak bisa instan,” katanya.

Seperti yang diungkapkan oleh Astuti, penari lengger asal Cilacap yang ikut menari bersama Dariah. “Tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon harus tidur di depan pintu,” ujarnya.

Selain itu, ia harus melakukan puasa mutih alias tidak makan apapun kecuali nasi putih sekepal dalam sehari. Calon penari harus melakukan tirakat agar laris ditonton.

Ritual itulah yang ingin disampaikan kembali oleh Dariah kepada generasi penerusnya. Dariah sendiri merupakan lengger lanang generasi sebelum kemerdekaan yang saat ini masih konsisten menari.

Sejarah transgender di Banyumas tercatat sejak abad ke-18. Kala itu Mangkunegaran VII memerintahkan tiga sastrawan untuk berkeliling Jawa. Mereka diperintahkan untuk menulis kehidupan penduduk Jawa saat itu.

Tiga sastrawan itu singgah di Banyumas dan menjumpai kesenian Lengger Lanang Banyumas. Kisah mereka belakangan tertulis dalam Serat Chentini, kisah tentang Jawa.

 

Dariah, 86 tahun, maestro Lengger Lanang asal Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas menari dalam rangka napak tilas perjalanan hidupnya, Rabu (19/2). Dariah adalah laki-laki yang memilih menjadi perempuan demi kecintaannya terhadap kesenian lengger. Saat ini tinggal segelintir laki-laki yang mau terjun menjadi penari lengger. (Aris Andrianto/Tempo)

Dariah, 86 tahun, maestro Lengger Lanang asal Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas menari dalam rangka napak tilas perjalanan hidupnya, Rabu (19/2). Dariah adalah laki-laki yang memilih menjadi perempuan demi kecintaannya terhadap kesenian lengger. Saat ini tinggal segelintir laki-laki yang mau terjun menjadi penari lengger. (Aris Andrianto/Tempo)

Dariah merupakan simbol militansi kesenian rakyat yang saat ini mulai terancam punah. Bagi Dariah, lengger lanang merupakan kesenian adiluhung yang penuh makna filosofis kehidupan manusia.

Dariah lahir di desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas dengan nama Sadam, berjenis kelamin laki-laki. Ibu bernama Samini dan ayah bernama Kartameja yang hidup sebagai petani kecil. Dariah tidak dapat menyebutkan angka tahun yang pasti tahun berapa Dariah dilahirkan. Dariah menuturkan bahwa kakeknya pernah bercerita dirinya lahir tidak lama setelah Kongres Pemuda. Dengan demikian diperkirakan Dariah lahir pada akhir tahun 1928 atau awal tahun 1929.

Dariah kecil meskipun berjenis kelamin laki-laki, namun suka lenggak-lenggok seperti seorang lengger dan suka nyindhen atau melagukan tembang-tembang Jawa. Kegemarannya menari dan menyanyi dilakukan sambil melakukan pekerjaan apa saja.

Sebelum menjadi penari lengger, Dariah kecil merasa seperti kerasukan indang lengger. Sadam seperti dituntun oleh alam bawah sadar. Tanpa pamit dengan orang-orang tercinta dan tanpa tahu kemana tujuannya, Sadam pergi dari rumah tanpa berbekal apapun kecuali sedikit uang yang dimilikinya.

Sadam berjalan sekedar mengikuti langkah kaki. Hal yang masih diingatnya adalah berjalan ke arah timur mengikuti jalan beraspal jalur Banyumas-Banjarnegara, kemudian berbelok ke kiri ke arah Purbalingga. Di daerah Bukateja Sadam sempat berhenti dan diberi air minum oleh warga setempat.

Dariah terus berjalan entah ke mana dan entah berapa hari sudah dilewatinya, hingga akhirnya sampai di sebuah pekuburan tua. Dariah melihat banyak batu lonjong dalam posisi berdiri (menhir) dan ada sebuah arca wanita cantik terbuat dari batu. Dariah belum juga tahu di wilayah mana dirinya berada. Dariah hanya dapat memasrahkan hidup dan matinya kepada Hyang Maha Pencipta, dan memohon kalau memang ditakdirkan menjadi seorang lengger maka dirinya akan menerima dengan sepenuh hati.

Di tempat yang sebelumnya sama sekali tidak dikenalnya, Dariah sama sekali tidak berniat bertapa atau bersemadi, tetapi betapa dirinya merasa tenang dan damai, sehingga merasa betah dalam waktu berhari-hari. Dariah merasa mendapatkan perlindungan dari kekuatan magis yang tidak pernah dimengerti. Dariah tidak dapat mengingat berapa hari dan berapa malam berada di makam tua tanpa makan dan minum. Menurut Dariah peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia atau sekitar tahun 1944 – 1945 .

Setelah berhari-hari Dariah berada di tempat pekuburan tua yang sangat mendamaikan hatinya, selanjutnya mulai terdengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan yang ada di sisi barat tempat ia bersimpuh. Dariah mulai paham bahwa selama beberapa hari ternyata dirinya berada di Panembahan Ronggeng yang merupakan tempat bagi orang memohon kepada Penguasa Alam agar dapat menjadi seorang ronggeng.

Panembahan Ronggeng merupakan tempat bersemadi bagi orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger, terdapat di desa Gandatapa, kecamatan Sumbang, kabupaten Banyumas. Dengan demikian Dariah telah berjalan mengelilingi tiga kabupaten, yaitu kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga, sebelum akhirnya kembali ke wilayah kabupaten Banyumas di lokasi Panembahan Ronggeng.

Setelah merasa puas berada di Panembahan Ronggeng, selanjutnya Dariah melanjutkan perjalanan pulang. Untuk menuju ke tempat tinggalnya di Somakaton, Dariah tidak begitu saja tahu jalan yang harus dilalui. Dariah harus banyak bertanya kepada orang yang dijumpainya dalam perjalanan. Akhirnya Dariah sampai di kota Purwokerto. Di Purwokerto Dariah membelanjakan bekal uangnya untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan oleh seorang lengger dalam pementasan. Dariah berambut pendek, dibelinya satu buah gelung brongsong (konde yang dilengkapi semacam ikat kepala sehingga pemakaiannya tinggal diterapkan di kepala). Dariah juga membeli kemben (kain penutup dada), sampur, kain, dan keperluan lain.

Barang-barang hasil belanjaan yang dipersiapkan untuk perlengkapan lengger lalu dibawanya pulang. Dengan berjalan kaki akhirnya Dariah sampai di Somakaton. Betapa gemparnya seluruh keluarga, kerabat dan tetangga-tetangganya demi mengetahui Dariah pulang setelah sekian lama pergi entah kemana tanpa ada seorangpun yang tahu. Sesampainya di rumah Dariah menceritakan semua yang dialami selama kepergiannya. Seluruh keluarga dan kerabat menanggapi positif semua yang terjadi. Semua kerabat menganggap bahwa semua yang telah terjadi merupakan bagian dari proses yang harus dialami oleh Dariah untuk menjadi seorang lengger. Beberapa orang yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dikumpulkan untuk berlatih bersama-sama dengan Dariah.

Semenjak itulah Dariah menjadi seorang lengger. Menurut Dariah apa yang dialaminya itu terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang kemerdekaan Indonesia (antara tahun 1944 – 1945).

Kejayaan lengger bertahan hingga Gerakan 30 September 1965 meletus. Kala itu seniman tradisional menjadi kelompok sosial yang oleh rezim Orde Baru ditengarai dekat dengan komunisme. Begitu pula seniman lengger yang banyak ditangkap pemerintah.

Saat lengger dilarang, Dariah menjadi perias pengantin atau sering disebut dukun manten. Pekerjaan yang dilakoninya hingga usia senja.

Kemaestroannya mendapat pengakuan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011. Namun, lebih dari itu, perjalanan kesenimanannya sungguh berliku. Demi seni yang begitu dicintanya, dia memilih melakoni hidup menjadi perempuan walau terlahir sebagai laki-laki.

Kini, ada salah satu penerusnya yang mulai naik daun sebagai lengger lanang. Namanya Agus. Nama panggunya, Agnes. “Mbok Dariah merupakan inspirasi saya sehingga saya ingin menjadi penari lengger lanang,” katanya.

Seniman serba bisa asal Jogjakarta, Didik Nini Thowok mengaku kagum dengan totalitas berkesenian penari lengger lanang, Dariah. “Totalitasnya masih terasa. Saya salut dengan Mbok Dariah,” kata Didik.

Didik pernah mendokumentasikan sosok Dariah. Mulai dari rumahnya, Sungai Serayu, Pendopo Sipanji dan sejumlah tempat keramat yang pernah digunakan ritual oleh Dariah.

Didik blusukan hingga Banyumas merupakan hasil perenungannya akan Serat Chentini. Sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana lengger masa lalu hidup. Serat ini juga berkisah tentang banyaknya kesenian yang diperankan oleh laki-laki, lengkap dengan latar belakang sejarahnya.

 

Didik Nini Thowok (kanan) mementaskan tarian Lengger Lanang bersama maestro tari Lengger Lanang, Dariah (kiri) di Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kec. Nusawungu, Cilacap, Jateng, Kamis (15/11). Pentas Lengger tersebut selain dimainkan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946, juga bagian dari proses pendokumentasian budaya tari Sumber : suarakita

Didik Nini Thowok (kanan) mementaskan tarian Lengger Lanang bersama maestro tari Lengger Lanang, Dariah (kiri) di Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kec. Nusawungu, Cilacap, Jateng, Kamis (15/11). Pentas Lengger tersebut selain dimainkan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946, juga bagian dari proses pendokumentasian budaya tari
Sumber : suarakita

 

Baca juga : Kesenian dan kebudayaan Nusantara yang melibatkan peran LGBT

Ia mengatakan, ide untuk mendokumentasikan Lengger Dariah ini berawal dari perjalanannya di Amerika Serikat pada 20 September hingga 4 Oktober 2012. Saat menari lengger di Yale University di New Haven, Amerika Serikat, ia berjanji akan mendatangi Dariah untuk membuat film dokumenternya.

Dariah, kata Didik, merupakan representasi kesenian transgender yang sudah ada sejak zaman Sultan Hamengkubuwono VII. Saat itu, tari Golek yang dimainkan penarinya adalah laki-laki.

Transgender, kata dia, juga ditemukan pada serat Chentini buku kelima. Di serat itu, diceritakan tentang Cebolang yang menari lengger dengan dandanan perempuan.

Menurut dia, lengger merupakan kesenian tradisional yang adiluhung. Untuk menjadi penari lengger sebenarnya seperti Dariah, kata Didik, dibutuhkan keseriusan. Saat ini, kata dia, banyak penari lengger baru yang meninggalkan proses ritual agar bisa menjadi penari instan.

Padahal, totalitas menjadi penari lengger harus diperoleh melalui proses ritual yang berat. Selain harus puasa, penari lengger juga harus mandi di tujuh sumur yang berbeda.

“Penari juga harus bersemedi di tempat khusus lengger,” kata dia.

Dariah mengaku senang dengan komitmen Didik terhadap kesenian lenger. “Saya langsung klop saat ketemu Didik,” ujar Dariah yang hanya bisa berbahasa Banyumasan itu.

Dariah mengaku sempat bermimpi bertemu Didik sebelum pentas itu. Ia sendiri berkeinginan untuk bisa tampil di Keraton Yogyakarta untuk menari lengger.

Budayawan Banyumas yang juga penulias novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, mengatakan, di Banyumas seni transgender sudah sangat biasa.

“Sudah sejak dulu ada. Penari menjadi wandu atau banci karena menari lengger itu banyak,” katanya.

Hanya saja saat ini generasi itu sudah mulai hilang. Saat ini lebih banyak penari ronggeng yang dimainkan oleh perempuan. Lengger sendiri berasal dari kata leng dan jengger. Ia menyebutkan, kisah soal transgender juga tertulis di History of Java kaya Sir Raffles.

Menurut dia, kesenian banyumasan hampir seluruhnya berorientasi kerakyatan. Kesenian yang tidak elitis dan bisa dinikmati oleh rakyat jelata sebagai manifestasi budaya agraris. Bukan pula kesenian yang disebut adiluhung seperti tarian Serimpi dan Gambyong yang hanya bisa dinikmati di keraton.

Rudi Lukmanto, salah satu penari lengger lanang zaman sekarang mengatakan, saat ini lengger masih menjadi tontonan yang ditunggu masyarakat Banyumas.

“Saya ingin mengikuti jejak Mbok Dariah,” katanya.

Selama ini, kata dia, tidak ada yang membuat dia resah saat menari lengger. “Selama ini tidak ada yang membuat kami resah selama manggung keliling di beberapa daerah.  Bahkan, pertunjukan selalu ramai,” kata pria yang kini berstatus bapak beranak satu ini.

Bahkan setelah mentas, Rudi mengaku kerap dikejar-kejar kaum pria dan wanita yang terpesona akan aksinya. Kesenian lengger yang diperankan kaum lelaki menurutnya merupakan bentuk asli kesenian tradisional Banyumas.

“Kalau yang nari perempuan ya namanya ronggeng, sedangkan lengger ya penarinya laki-laki,” pungkas dia.

 

CERITA SEJARAH LENGGER

 

Film  Amatir Pendek terntang Lengger Lanang

 

Referensi : Laporan Skripsi tentang Eksistensi Lengger Lanang

Referensi dari Kemendikbud : Lengger Lanang

Dikutip dari -credit to- : Purwokertokita 

Referensi lainnya : Liputan6 suarakita.org Krjogja Antaranews  BBC: Agus, pelestari Kesenian tari Lengger Lanang

 

Waheed Ali : Muslim, Gay, pengusaha sukses, pejuang hak-hak LGBT dan politikus berpengaruh di Inggris

Waheed Alli Sumber : wikipedia

Waheed Alli
Sumber : wikipedia

Waheed Alli, Baron Alli sejak kecil mengalami diskriminasi ganda. Dia gay dan  putra imigran, ibunya adalah perawat yang berasal dari Trinidad sedangkan ayahnya berasal dari Guyana yang beragama islam, yang sangat mengecam homoseksualitas. Ali sendiri mengaku beragama Islam.

Lepas dari tekanan lingkungan, dia memulai karir sebagai pengusaha. Bersama sahabatnya, Ali mendirikan Plane 24, sebuah rumah produksi tayangan televisi serta pernah menjadi Direktur Carlton Television Productions.

Menjadi seorang milyader sukses di industri media, Ali perlahan tertarik bergabung dengan Partai Buruh. Lewat saran sahabatnya di Partai sayap kiri tersebut, dia maju ke pemilihan legislatif untuk posisi majelis tinggi (House of Lords).

Pada bulan April tahun 1999, dalam sebuah pidatonya, ia mengatakan “Saya tidak pernah bingung dengan seksualitas saya, saya bingung dengan bagaimana saya diperlakukan karena seksualitas saya. Kebingungan yang pada malam ini dipertunjukan dalam prasangka-prasangka dan banyak dari prasangka tersebut dikekalkan dalam Undang-Undang.

Ali lolos mewakili dapil Croydon, Ibu Kota London dan pada saat itu menjadi anggota dewan yang termuda (34 tahun) dan yang pertama ynag berani terbuka dengan seksualitasnya. Pria 51 tahun yang mengaku tetap menjadi muslim ini menjadi sosok politikus yang aktif membela kepentingan LGBT. Beberapa perda yang diskriminatif melarang aktivitas kaum gay dia intervensi. Ali aktif di parlemen sejak 1998 hingga 2010.

Berkat Ali, LGBT di Inggris mendapatkan kesetaraan haknya, diantaranya pada tahun 2000 dengan disamakannya batas umur bawah orang dewasa pada homoseksual, yang sebelumnya dibedakan dengan heteroseksual. Pada tahun 2009 ia adalah salah satu orang yang mengusahakan perubahan salah satu Klausa dalam Undang-Undang Civil Partnership tahun 2004 yang melarang Lembaga agama melangsungkan upacara pernikahan sesama jenis di tempat mereka sendiri. Kampanye tersebut akhirnya menjadi salah satu bagian dalam Undang-Undang Kesetaraan tahun 2010 –Equality Act 2010.

Kini, Ali lebih banyak keliling dunia mengajak kaum gay peduli pada masyarakat. Dia juga menjadi duta persamaan hak LGBT, seperti di Universitas De Montfort, di Leicester. Presiden Croydon Youth Development Trust.

Tahun 2008 ia memenangkan Penghargaan Stonewall Award dalam kategori Tokoh Politik. Sebelumnya tahun 2002 ia menjadi seorang penyokong di The Albert Kennedy Trust, yang memberikan bantuan dan layanan-layanan khusus kepada  LGBT muda. Ali juga pernah menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Internasional dalam tema Hak-Hak Asasi LGBT, bagian dari 2006 World Outgames yang menjadi awal mula Deklarasi Montreal. Ia juga adalah satu satu penyokong di Yayasan Elton John AIDS.

Ia mendapat julukan sebagai satu-satunya politikus muslim di dunia yamg terbuka dengan seksualitasnya.

Saking besar jasanya kepada negara salah satu foto Ali menjadi salah satu koleksi di National Potrait Gallery, sebuah galeri yang hanya memasang tokoh-tokon besar bangsa.

 

Sumber : wikipedia   Merdeka

Tokoh: Dede Oetomo pejuang LGBT lebih dari 3 dekade

Dede Oetomo, Sosiolog, Aktivis Gay Indonesia, Aktivis AIDS dan Pendiri GAYa Nusantara Sumber: rappler

Dede Oetomo, Sosiolog, Aktivis Gay Indonesia, Aktivis AIDS dan Pendiri GAYa Nusantara
Sumber: rappler

Dede Oetomo, lahir di Pasuruan, Jawa Timut pada tahun 1953. Seorang penggiat Hak-Hak LGBT di Indonesia dan juga seorang ahli dalam isu-isu Gender. Ia adalah salah satu pendiri Organisasi Gay pertama di Indonesia dan Asia, Lambda Indonesia dan menjadi pendiri organisasi GAYa Nusantara setelah bubarnya Lambda Indonesia.

Ia juga adalah anggota dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang merupakan Partai Politik pertama di Indonesia yang mencantumkan “hak hak homoseksual dan transeksual” dalam manifestonya. Sebagai seorang pelajar dan pengajar linguistik, ia juga adalah penulis Beginning Indonesian Trough Self-Instruction yang dicetak oleh Cornell University Press.

Saat ini Dede Oetomo adalah Koordinator  Nasional  GAYa Nusantara, dan anggota Asia-Pacific Council of AIDS Service Organisations (APCASO) yang sangat aktif -sebuah jaringan Organisasi-organisasi komunitas dan non-pemerintah yang mempunyai misi untuk menyediakan dan memperkuat respon komunitas terhadap HIV, AIDS di wilayah Asia Pasifik-.

Besar di Pasuruan, Jawa Timur, Dede Oetomo sekolah di Sekolah Katolik, tetapi tidak tumbuh dalam keluarga yang religius. Ia belajar bahasa inggris saat ia di sekolah menengah menggunakan buku English for SLTP yang digunakan oleh pelajar-pelajar di Indonesia. Buku yang pendanaannya diperoleh dari Ford Foundation.

Tahun 1978, ia menyelesaikan kursus TESOL dan mendapatkan pendanaan dari Ford Foundation untuk belajar linguistik di Universitas Cornell di Ithaca, New York. Tahun 1984, ia memperoleh sokongan untuk bekerja dengan Modern Indonesia Project di Cornell. Sebuah proyek yang mengetengahkan pembelajaran seputar Indonesia yang didirikan pada awal tahun 1950 oleh Professor George McTuenan Kahin dan Professor John M. Echols.

Salah satu sampul GAYa Nusantara

Salah satu sampul GAYa Nusantara

Dede Oetomo menerima beasiswa dari Social Science Research Council -Dewan Riset Ilmu Pengetahuan (sains) Sosial- untuk membantunya mengerjakan Thesisnya dari tahun 1983 – 1984. Lalu ia melakukan studi tentang masalah Seksualitas, Gender dan HIV,AIDS di Indonesia.  Antara tahun 1984-2003, ia mengajar Ilmu Politik di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur.

Lambda Indonesia diprakarsai oleh Dede Oetomo pada tahun 1982, yang pada saat itu adalah  sebuah forum surat menyurat,  di mana orang-orang bisa mendapatkan nasehat dan petunjuk melalui jawaban atas surat yang mereka kirimkan.  Tahun 1984 Lambda Indonesia bubar, lalu Dede Oetomo membuat Organisasi baru dengan nama GAYa Nusantara pada tahun 1987.

GAYa Nusantara dijadikannya sebuah media edukasi seputar masalah seksualitas, gender, kesehatan seksual dengan fokus pada pencegahan HIV.  Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran publik tentang isu-isu tersebut di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.

 

Twitter Dede OetomoFacebook Dede Oetomo

Sumber : wikipediaRappler

 

Abby Wambach, si pencetak gol terbanyak di dunia dan Pejuang Kesetaraan Hak yang baru.

Abby Wambach Sumber: nesn.com

Abby Wambach
Sumber: nesn.com

November 2015, Tabloid Out mengeluarkan  daftar Out100 Honoree and Athlete of the Year yang di dalamnya termasuk Abby Wambach, seorang mantan pesepakbola perempuan di Tim Nasional Amerika Serikat, kelahiran 2 Juni 1980 yang sudah bermain sepak bola selama 30 tahun dan mencetak gol lebih banyak dari pemain bola mana pun dalam sejarah Pesepakbolaan Internasional.

Abby sendiri seorang Lesbian yang  terbuka dengan seksualitasnya. Pada tahun 2013 menikahi pasangannya yang benama Sarah Huffman.Ia orang yang sangat vokal dan aktif tentang kesetaraan dalam dunia olah raga. Katanya, “Saya berharap perempuan, para Studs –sebutan yang sering digunakan kepada seorang perempuan yang maskulin-, bisa mendapatkan gaji yang lebih baik dan diperlakukan seperti layaknya perlakukan kepada para laki-laki,”

“ I hope the women, the studs that come behind me, get better pay and get treated a little more like the men,”

Dia menyatakan pensiun dari dunia pesepakbolaan akhir Desember 2015. Ia memutuskan untuk memperjuangkan Kesetaraan Hak, dan itu adalah pilihan karir dia selanjutnya. Dalam Konferensi MAKERS, ia mengutarakan pandangannya dengan Tim Armstrong, CEO AOL. Katanya, “Buat saya ini sangat mengherankan bahwa dari banyak orang yang menduduki level Eksekutif di Perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam Forbes 500, hanya ada beberapa perempuan saja, sangat sedikit sekali orang-orang dari orientasi-orientasi, warna, etnik yang berbeda. Jadi saya mau memecahkan angka besar ini. Dan satu hal yang paling mengganggu saya -memperlakukan seseorang sama itu tanpa biasa.” Sebuah Fakta, walaupun Abby adalah pencetak goal terbanyak, tetapi penghasillanya jauh lebih sedikit dari pada rekan pesebaknola lain, seperti Ronaldo. Saat Ronaldo mengantongi 48 juta DOllar Amerika tahun 2014, Abby setiap tahunnya dia mendapatkan sekitar 200.000 Dollar Amerika.

“It’s astonishing to me at that the executive level at many, many Forbes 500 companies, there are very few women, very few people of different orientations, different colors, different ethnicities. So I want to tackle the biggie. And it’s the thing that drives me the most crazy—it costs zero dollars to treat someone equally.”

Sejak saat itu lah Abby ada dalam jejak yang sama seperti Hilarry Clinton.

Awal Febuari 2016 ini Abby pun menerima boneka barbie pertamanya yang mirip dengannya.

Screenshot abbay wambach Barbie

 

sumber: Out.comWikipedia – biography Abby Wambachfortune.com

It is Ok to be who you are : Nina Arsenault, transwomen yang memilih untuk tidak melakukan operasi ganti kelamin walaupun ia mampu

 

Nina Arsenault Sumber: ninaarsenault.net

Nina Arsenault
Sumber: ninaarsenault.net

Seorang artis Kanada, penulis dan mantan pekerja seks komersial, lahir 20 Januari 1974. Karya-karyanya dikenal sebagai karya yang mendalam, tak terlupakan, sangat jujur, sebuah pemberian psiritual dan menakjubkan tetapi juga kejam. Karya seni rupa yang berfilosofi, menjelaskan fakta ketidaknyamanan sejati seksualitas, gender, agama dan teknologi.

Lahir dengan nama Rodney dan besar di Beamsville, Ontario. Mempunyai dua diploma Master. Menjelang masa transisinya menjadi seorang perempuan, dia adalah seorang pengajar di Universitas York, dia mengajarkan seni berakting.

Ia menyadari bahwa ia seorang transgender sejak Agustus 1996 dna memulai transisinya sekitar tahun 1998. Pad atahun 2007, dia sudah mengeluarkan uang sebesar 150.000 dollar atau hampir 2 milyar rupiah untuk biasa operasi pefemininannya.

Nina pernah menjadi penulis regular di suatu kolom majalah FAB, sebuah majalah dua mingguan  yang membahas seputar LGBT dan berhenti pada awal tahun 2007.

Train 48, KunK dan Soldier’s Girl adlah beberaa tayangan televisi yang pernah ia bintangi.

Ia  pernah muncul dalam pertunjukkan seni berjudul Ladylike yang khusus ditulis untuknya oleh Sky Gilbert pada bulan November 2007. I pun pernah menulis dan memerankan pertunjukkannya sendiri yang dia beri judul The Silicone Diaries. DI sutradarai oleh Buddies in Bad Times, seorang sutradara artistik bernama Brendan Healy. Mereka melakukan tour pertunjukkan ke seluruh Kanada, penerimaan masyarakat pun cukup bagus dengan selalu terjual habisnya tiket serta pujian-pujian yang sangat kritis.

Dalam pertunjukkan televisi  The Jon Dore, ia menjadi salah satu bintang tamu dalam episode berjudul “Manly Man”, di mana iya membeberkan alasan kenapa ia tidak mau mengganti alat kelaminnya.

I work as a dancer in a club that caters to men who like “transsexuals.” They want us to have beautiful breasts, you know, to be sexy like females but they want that one thing to be different.

Saya bekerja sebagai penari di satu Klub yang memberikan pelayanan kepada laki-laki yang menyukai “transeksual”. Mereka menginginkan kita mempunyai payudara yang bagus, tahu kan, menjadi seksi seperti wanita tetapi mereka mau satu hal yang berbeda -masih memiliki alat kelamin laki-laki-.

Baca juga : Kompleksnya spektrum gender dan seksualitas

Tahun 2010, ia melakukan pertunjukkan bertemakan autobiografi berjudul I was Barbie.

Dua tahun kemudian dia melakukan pertunjukkan 40 hari 40 malam sebagai bagian dari Serial Pertunjukkan Seni  Summerworks Live Art di Toronto, Kanada. Dalam pertunjukkan ini ia menjalani ritual pengalaman spiritual yang terbuka untuk umum selama 11 hari. Serta beberapa pertunjukkan lainnya.

Arsenailt sudah sering menjadi pembicara di Universitas-Universitas di Kanada dan Amerika Serikat, serta Konferensi Intelektual seperti Ideacity-nyaMoses Znaimer. Ia juag seorang aktivis yang mempromosikan HAm dan harga diri para transgender kepada Polisi Toronto, Rumah Sakit Mount Sinai, Rumah Sakit Sekolah Wanita, Pusat Kesehatan Sherbourne, Organisasi Supporting Our Youth dan Pusat Komunitas Gereja Jalanan 519.

Tahun 2013, ia bergabung dengan MAU, sebuah perusahaan pertunjukkan seni kontemporer di Selandia Baru ynag dipimpin oleh Lemi Ponifasio. Karya pertamanya berjudul The Crimson House dan melakukan tour dunia tahun 2014.  Ia juga melakoni satu peran di Serial yang diputar di internet berjudul Murder in Passing.

Buku berjudul Trans(per)forming Nina Arsenault-An Unreasonable Body of Work yang diedit oleh Judith Rudakoff, dan terbit bulan April 2012, mengetengahkan karya-karya dan kehidupan Nina Arsenault.

Dalam satu kuliahnya menjabarkan banyaknya laki-laki yang secara seksual tertarik terhadap seseorang yang mempunyai tubuh layaknya perempuan tetapi masih memiliki alat kelamin laki-laki. Orang-orang ini tentu saja bukan homoseksual, bukan heteroseksual juga bukan pula biseksual.

sumber: wikipedia

 

 

It is Ok to be who you are : Chris Tina Bruce, transwomen dan atlet binaraga yang secara seksual tertarik dengan perempuan

Chris Tina Bruce Sumber: christinabrucefitness

Chris Tina Bruce
Sumber: christinabrucefitness

Terlahir dalam tubuh  laki-laki, dengan nama Christhoper Gary Bruce. Dia pernah menikah dengan pacarnya waktu SMA dan mempunyai 2 orang anak, tetapi akhirnya mereka bercerai tahun 2007 setelah istrinya mengetahui bahwa ia sering melakukan cross-dressing. Tetapi ternyata lebih dari itu, sebenarnya ia merasa bahwa dirinya adalah seorang wanita.

“My purpose is to let the world know who I am and being transgender is nothing to be hid,” katanya kepada Voice.

—“Tujuan saya adalah untuk memberitahu dunia siapa saya dan menjadi transgender tidak untuk ditutupi,”

Walaupun ia seorang transwomen dan mengidentifikasikan sebagai seorang perempuan, bukan berarti ia harus tertarik dengan laki-laki. Secara seksual ia lebih tertarik dengan perempuan.

Baca juga : Buck Angel, transgender man yang tertarik dengan semua gender

Saat ini ia bekerja sebagai instruktur kebugaran. 26 Desember 2010 ia melakukan beberapa operasi memfemininkan wajahnya, serta implantasi payaudara buatan.

Ia juga pendiri organisasi Be Bold Be Proud, sebuah organisasi nirlaba yang mengadvokasi kesetaraan hak transgender dan Discover Health and Fitnes, serta seorang penulis. Dia menyelesaikan sarjananya di Universitas Negeri Georgia.

Menurut Chris Tina : Kehidupan adalah sebuah tarnsisi, di mana kamu tidak diharuskan memberikan identifikasi kamu ingin menjadi siapa, dan bersama kita bisa membuat perubahan, Beranilah, Banggalah dan jadi dirimu sendiri. “Be Bold, Be proud, Be yourself!”

Sebuah serial film dokumentasi di Channel National Geography berjudul taboo yang membahas isu transgender. Saat gender fisik tidak sesuai dengan gender yang dirasakan dan dialami.

sumber : advocate huffingtonpost

It’s Ok to be who you are : Buck Angel, transgender man yang tertarik dengan semua gender

Buck Angel sebelum dan sesudah Sumber: pinterest

Buck Angel sebelum dan sesudah
Sumber: pinterest

Lahir di San Fernando Valley, Los Angeles, California dalam tubuh perempuan bernama Susan. Ke-tomboy-annya sejak kecil bukan suatu masalah dalam keluarganya, tetapi ketika ia mulai beranjak remaja, 16 tahun organ kewanitaannya mulai berkembang, hal ini membuat kehidupannya dan suasana dalam keluarganya mulai menegang.

Setelah melihat gelagat percobaan bunuh diri saat ia di SMA, orang tuanya pun mengurumnya ke terapis, di mana ia menyatakan bahwa dia merasa sebagai seorang laki-laki. Orang tuanya sulit menerima berita ini, bahkan mereka berencana  akan memasukkannya ke Rumah Sakit Jiwa. Tidka tahu bahwa ada terapi untuk orang dengan gender dysphoria dan terapi hormon, ia hidup sebagai wanita, sampai akhirnya ia mulai mengonsumsi narkotika dan alkohol. Dengan postur tubuh dan wajah cantiknya, ia pernah bekerja sebagai seorang model wanita, tapi ia tidak pernah merasa bahwa fisiknya sejalan dengan ynag dia rasakan, bahkan cenderung membenci dirinya. Sampai akhirnya ia mengetahui tentang definisi transgender dan mulai menjalani proses terapi dan transformasinya.

Saat ini, ia adalah salah satu transman terkenal di dunia. Ia seorang motivator, pembicara, penulis dan produser film dewasa, ia sendiri juga menjadi aktor dalam filmnya. Dia menjadi salah satu ketua Woodhull Sexual Freedom Alliance sejak 2010. Sebuah yayasan yang bekecimpung dalam usaha menegaskan kebebasan ekspresi seksualitas sebagai hak asasi manusia melalui advokasi dan pendidikan. Sebagai aktor film dewasa ia adalah transman pertama dan yang paling dikenal, terutama di kalangan gay karena dia lebih banyak bermain dalam film dewasa untuk gay. Kemunculannya dalam dunia industri film dewasa bisa dibilang membuka suatu wacana, karena dia sebagai seorang transman yang tubuhnya secara fisik sangat maskulin, tetapi memiliki vagina, dan ternyata banyak gay yang melihatnya sangat erotis. Ini menunjukkan bahwa memang seksualitas sangat kompleks dan tidak hanya memulu tentang apa yang ada di antara kaki, tetapi lebih pada apa yang ada di antara telinga.

Baca juga : Chris Tina Bruce, transwomen dan atlet binaraga yang secara seksual tertarik dengan perempuan

Maka dari itu tahun 2012, ia mulai berpindah dari industri film dewasa ke dunia pendidikan seksualitas. Ia pun melakukan tour keliling dunia about seksualitas manusia. Slogannya, “it’s not what’s between your legs that defines you” -“Bukan (sesuatu) yang ada di antara kakimu yang mendifinisikanmu.” Presentasi-presentasinya mendefinisikan gagasan seksualitas yang selama ini orang tahu bahwa gender dan seksualitas itu bersifat cair.

Ia juga pernah terlibat dalam kampanye yang di gagas Dan Savage, “It Gets Better” dengan mengunggah video di youtube, bagaimana dia melakukan coming-out. Dia beberapa kali membuat iklan layanan masyarakat yang bertemakan  citra tubuh yang positif, penerimaan keluarga terhadap LGBTQ, Warna-warni queer, kesehatan dan kehidupan transgender, serta pendidikan seksual  yang aman untuk transman.

Buck pernah muncul dalam banyak talkshow di televisi, daro Howard Stern, Tyra Banks sampai Morning Show di Inggris dan Jensen Show di Belanda. Ia juga pembuat situs pencari pasangan seperti grinder tetapi khusus untuk transgender dengan nama buckangeldating.com, karena tidak adanya situs seperti grinder yang dikhususkan untuk transgender.

Pada tahun 2015 dia memprakarsai Transtastic Storytelling, sebuah layanan yang memberikan kesempatan kepada para transgender untuk membagikan pengalaman hidup mereka demi tujuan pendidikan.

Ia sudah 2 kali berumah tangga dengan perempuan Karin WInslow dan Ealayne, pernikahannya dengan Ealayne bertahan selama 11 tahu setelah Ealayne meminta cerat pada tahun 2014.

sumber: wikipedia , huffingtonpost

 

LGBT yang sangat berjasa dalam dunia teknologi

LGBT selalu mendapatkan diskriminasi baik dalam pekerjaan, layanan publik bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal banyak sekali orang-orang dari komunitas LGBT yang mempunyai jasa besar.

Di sini kita akan membahas para LGBT yang sangat berjasa dalam dunia teknologi.

Alan Turing

Alan Turing SUmber : thelifeofsavni.weebly.com

Alan Turing
Sumber : thelifeofsavni.weebly.com

Ya, Alan Turing, si pahlawan dan penyelamat 2 juta nyawa di Inggris pada perang dunia ke-dua berkat keahliannya memecahkan kode dan keahlian matematikanya, juga dikenal sebagai penemu komputer. Tanpanya, mungkin kita tidak bisa menikmati komputer yang sekarang menjadi barang yang umum bagi kebanyakan orang. Tetapi jasanya terhadap teknologi dan pembangunan di dunia toh tidak membantu menyelamatkannya saat didakwa karena orientasi seksualnya dan harus menelan pil pahit terapi Chemical Castration yang menggerogoti kesehatannya.

Lynn Conway

Lynne Conwey Sumber : eecs.umich.edu

Lynne Conwey
Sumber : eecs.umich.edu

Ia adalah penemu desain chio micsoelectronics di Pusat Penelitian Xerox Palo Alto tahun 70-an. Ia pun pernah menjadi anggota The National Academy of Engineering , gelas paling tinggi ynag bisa diperoleh seorang insinyur.

Dia juga merupakan transgender pertama yang memulai perawatan medis dan menjalani terapi hormonal serta operasi ganti kelamin pada tahun 1967.

Tim Cook

Tim Cook SUmber : mashable.com

Tim Cook
Sumber : mashable.com

CEO Apple Penerus Steve Job’s ini sudha pernah menerima penghargaan dari The Human Right Campaign -Kampayane HAM- pada ulang tahun ke-19 organisasi tersebut. Cook menyatakan bahwa di bangga dengan orientasi seksualnya.

“”Aku bangga menjadi gay dan aku merasa menjadi gay adalah satu dari hadiah-hadiah terindah yang Tuhan berikan untukku.”

Chris Hughes

Christ hughes (kiri) dan suami (kanan) Sumber : thedailybeast.com

Christ hughes (kiri) dan suami (kanan)
Sumber : thedailybeast.com

Ia adalah salah satu pendiri facebook, selain Mark Zuckerberg pada tahun 2004.  Banyak yang tidak tahu bahwa Hughes adalah teman satu kamar Mark di Universitas Havard. Setelah kekulusannya, dia tinggak di Palo Alto dan menikah dengan Sean Eldridge tahun 2012. Jasanya terhadap Obama pun terlihat pada saat kampanye kepresidenan tahun 2008 karena dia juga salah satu dari pembantu kampanye Obama pada saat itu.

Peter Thiel

Peter Thiel SUmber: myfavoritebooksare.com

Peter Thiel
Sumber: myfavoritebooksare.com

Siapa yang tidak tahu Paypal? Mungkin semua pengguna bisnis online tahu dan bahkan mempunya akun paypal. Nah Peter thiel inilah pendirinya. Pada usia 47 tahu bahwa dia dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia versi majalah Forbes.  Ia juga pendiri Founders Fund, sebuah perusahaan yang mempunyai tujuan membuat teknologi yang memberikan dampak besar di dunia.

Megan Smith

Megan SMith Sumber : autostraddle.com

Megan Smith
Sumber : autostraddle.com

Ia adalah Chief Technology Officer -kepala pegawai keteknologian Amerika Serikat- yang ditunjuk oleh Presiden Obama pada September 2014.  Technology Officer sendiri berfokus pada kebijakan teknologi, data dan inovasi. Megan SMith pun juga pernah menjadi wakil presiden Google dan CEO PlanetOut.

Leanne Pittsford

Leanne Pittsford (kiri) Sumber autostraddle.com

Leanne Pittsford (kiri)
Sumber autostraddle.com

Para Lesbian pasti banyak yang tahu tentang Lesbian Who Tech. Nah Leanne inilah pendiri dan CEOnya. Dia juga menjadi kepada Operasi untuk kesetaraan gender NGO terbesar di Amerika. Tidak hanya itu, ia juga adalah pendiri Start Somewhere, sebuah agensi berbasis digital yang membantu NGO dan kegiatan sosial.

Dr. Kortney Ryan  Ziegler

Dr. Kortney Ryan Ziegler (kiri) Sumber : youtube

Dr. Kortney Ryan Ziegler (kiri)
Sumber : youtube

Ia adalah orang yang meluncurkan Trans H4CK pada tahun 2013. perusahaan yang berfokus pada bidang inovator dan teknologi transgender. Tak hanya itu, iya juga penulis, pembuat film dan mahasiswa pertama di Universitas Nortwester yang menerima PH.D untuk studi Afrika-Amerika.

 

sumber: liputan 6

 

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: