Advertisements

Penting Tahu

This tag is associated with 43 posts

Pernyataan resmi Asosiasi Psikiater Dunia (WPA) terkait LGBT dan Terapi ‘Penyembuhan’

Professor Dinesh Bhugra, presiden World Psychiatric Association

Professor Dinesh Bhugra, presiden World Psychiatric Association

Ditulis Buzzfeed.com pada hari Senin 21 Maret 2016, Organisasi Psikiater internasional terbesar di dunia sebentar lagi akan mengeluarkan pernyataan yang akan menyatakan bahwa conversion therapy  adalah tidak ilmiah, tidak etis, tidak efektif, dan berbahaya.

Secara resmi pada hari Selasa (kemaren) Asosiasi Psikiater Dunia World Psychiatric Association (WPA) mengumumkan oposisinya terhadap segala bentuk upaya untuk mengubah LGBT menjadi heteroseksual -biasanya disebut terapi konversi atau terapi reparatif-. Hal tersebut dilakukan guna mengurangi stigmatisasi, diskriminasi dan mencegah memburuknya kesehatan jiwa individu LGBT:

“Tidak ada bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan bahwa orientasi seksual bawaan lahir bisa diubah” kata pejabat WPA.

“Lebih jauh lagi, ‘perawatan’ yang disebut bisa menyembuhkan homoseksualitas bisa menumbuhkan prasangka dan diskriminasi, serta mempunyai potensi yang berbahaya. Pemberian segala bentuk intervensi yang mengatakan bisa menyembuhkan sesuatu yang tidak menyimpang sama sekali tidak etis.”

Walaupun banyak organisasi psikiater di negara-negara barat seperti Inggris dan Amerika yang secara terbuka telah menentang terapi-terapi konversi, WPA mewakili lebih dari 200.000 psikiater dari 118 negara, yang mana banyak dari mereka menkiminalisasi homoseksualitas, dalam beberapa kasus, membenarkan upaya untuk “menyembuhakannya”.

Pernyataan WPA yang sepertinya akan dinilai kontroversial oleh banyak anggotanya ini berbunyi “Orientasi seksual sesama jenis pada hakekatnya tidak menunjukkan disfungsi psikologi yang obyektif maupun gangguan dalam membuat pertimbangan, stabilitas atau kemampuan kejuruan.”

““[WPA] mengakui kurangnya efikasi ilmiah terkait perawatan-perawatan yang berupaya untuk mengubah orientasi seksual dan menonjolkan bahaya dan efek-efek merugikan terapi-terapi seperti itu.”

WPA juga meminta pemerintah-pemerintah di seluruh dunia untuk menghilangkan hukum-hukum yang menentang homoseksualitas:

“WPA mendukung keinginan untuk mendekriminalisasi orientasi dan perilaku seksual sesama jenis dan identitas gender transgender, dan menerima hak-hak LGBT sebagai hak-hak asasi manusia, sipil dan politik.”

But to reduce the suffering and mental ill-health experienced by a disproportionate number of LGBT people, governments and psychiatrists alike need to go much further than decriminalising homosexuality and banishing conversion therapy, the statement says:

Tetapi untuk mengurangi penderitaan dan kesehatan jiwa yang dialami oleh sejumlah LGBT (yang jumlahnya disproporsional), pemerintah dan para psikiater harus mencari solusi lebih jauh tidak sekedar mendiskriminasi homoseksualitas dan membuang terapi konversi, pernyataan WPA berbunyi:

“[WPA juga] mendukung undang-undang anti-bullying; anti-diskriminasi pelajar, pekerjaan dan undang-undang perumahan dan pemukiman; kesetaraan immigrasi; undang-undang kesetaraan umur kedewasaan; dan undang-undang kejahatan kebencian yang memberikan peningkatan hukuman terhadap kekerasan kepada LGBT yang didasarkan atas prasangka.”

It also cites research demonstrating that countries that liberalise laws around homosexuality – and provide equal legal treatment – see a resulting improvement in the mental health of their LGBT citizens.

Pernyataan tersebut juga menyebutkan penemuan yang menunjukkan bahwa negara-negara yang mempunyai undang-undang  yang meliberalisasi homoseksualitas -dan memberikan kesetaraan hak- menunjukkan sebuah peningkatan kesehatan mental penduduk LGBT mereka.

And in a radical move that goes much further than its British or American counterparts, the WPA says psychiatrists have a duty to fight discrimination against LGBT people.

Dan dalam sebuah langkah radikal yang lebih jauh daripada rekan kami di Inggris dan Amerika (Asosiasi Psikiater Inggris dan Asosiasi Psikiater Amerika), WPA menyatakan bahwa para psikiater mempunyai tugas untuk memerangi diskriminasi terhadap LGBT.

“Para Psikiater mempunyai tanggung jawab sosial untuk memberikan advokasi dalam pengurangan ketidaksetaraan sosial kepada semua individu, termasuk ketidaksetaraan terkait identitas gender dan orientasi seksual.”

Seperti dituliskan dalam situs Buzzfeed.com pada hari Senin 21/3/2016, dituliskan bahwa WPA akan mengeluarkan pernyataan penuhnya pada hari Selasa (22/3/2016) dan akan mengirimkannya segera melalui email kepada semua ketua organisasi-organisasi.

Dalam sebuah interview dengan Buzzfeed News pada tahun 2015, Professor Dinesh Bhugra, Presiden WPA, ia mengatakan, “individu-individu LGBT masih dilihat sebagai orang luar, tidak seperti ‘kita’. Jika Anda  sudah menghentikan diskriminasi secara resmi, itu bagus, tetapi stigmanya belum pergi.”

Ia mengatakan perlunya “solusi radikal” guna memerangi “double jeopardy” -penuntutan ganda atas pelanggaran yang sama- yang dihadapi LGBT yang menderita penyakit kejiwaan, membuat pemerintah “harus bertanggung jawab atas kesehatan jiwa seluruh penduduknya. Mengatakan ‘Saya akan mendukung yang 9o%’ – atau apapun itu – ‘yang heteroseksual’ adalah bertentangan dengan penghormatan dasar manusia serta hak-hak asasi manusia.”

Surat Pernyataan Resmi World Psychiatric Association juga sudah diterbitkan di situs resmi mereka www.wpanet.org.

Dokumen dalam bentuk PDF bisa diunduh di sini : WPA Position statement on same sex FINAL-21 March 2016

Sebelumya  British Psychological Society dan American Psychiatric Association melayangkan tegurannya kepada Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang mengklasifikasikan Homoseksual sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

WPA Position statement on same sex FINAL-21 March 2016 1 WPA Position statement on same sex FINAL-21 March 2016 2 WPA Position statement on same sex FINAL-21 March 2016 3 WPA Position statement on same sex FINAL-21 March 2016 4 WPA Position statement on same sex FINAL-21 March 2016 5

Sumber : Buzzfeed.com wpanet.org

 

Advertisements

Phronemophobia (rasa takut berlebih untuk berpikir) di Indonesia

Ilustrasi Sumber: esinosa.wordpress.com

Ilustrasi
Sumber: esinosa.wordpress.com

Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia. Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia seperti psikosis lain, adalah penyakit karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.

Mungkin banyak yang heran, bagaimana seseorang bisa takut berpikir? Dalam kadar tertentu, setiap orang punya ketakutan untuk memikirkan sesuatu. Terlalu banyak berpikir bisa membuat kita depresi, bahkan sakit jiwa. Kita punya mekanisme pertahanan untuk memikirkan hanya hal-hal yang perlu kita pikirkan dan menolak hal-hal yang kita takut akan menyesatkan kita. Asal ketakutan berpikir ini adalah sosialisasi semenjak balita tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita pikirkan yang membentuk logika dan sekat-sekat di dalam pikiran kita. Membuat sebuah trauma tersendiri dan membentuk rasa takut dan anti pada pengetahuan-pengetahuan baru.

Untuk menjelaskan secara sederhana kenapa orang takut berpikir, saya harus menjelaskan soal pikiran dan pemetaanya terlebih dahulu. Tapi cara termudahnya bisa saya ilustrasikan pada video berikut, soal belajar bersepeda. Jika semenjak kecil orang sudah belajar dan biasa dengan cara bersepeda dan koordinasinya, maka ketika ia diberikan sepeda yang stangnya terbalik (ke kiri adalah ke kanan dan ke kanan adalah ke kiri), orang tersebut akan kehilangan orientasi dan kehilangan kendali. Simak video berikut.

Bayangkan jika seorang yang sejak kecil dididik secara konservatif tiba-tiba harus membiasakan diri dengan setting dunia yang terbalik. Bayangkan juga bagaimana seseorang yang hidupnya biasanya hitam putih, tiba-tiba terjebak di dunia yang warna-warni. Betapa bingung dan betapa paniknya ia jadinya. Tesis saya sederhana: bahwasannya ketakutan untuk berpikir dihasilkan ketika pengetahuan yang disodorkan tidak bisa dimengerti. Saya bicara ini dalam konteks video di atas: bahwa pengetahuan tidak sama dengan pengertian. Pengetahuan cuma informasi, sedang pengertian membutuhkan proses pemikiran dan adaptasi. Seseorang yang tahu, belum tentu mengerti. Seseorang yang mengerti bukan hanya tahu, tapi juga bisa mengejawantahkan lebih jauh karena ia telah melibatkan lebih daripada otaknya–ia telah “menjadi.”

Saya akan membahas phronemophobia melalui dua hal: pertama dengan membahas topografi pikiran manusia melalui dasar-dasar teori Psikoanalis klasik. Kedua saya akan membahas bagaimana topografi ini bekerja untuk membuat sekat-sekat yang menghalangi pengetahuan untuk menjadi pengertian, melalui pemaparan kasar soal agama dan kapitalisme.

TOPOGRAFI PIKIRAN

Pikiran, kata Plato, adalah hal yang paling ideal, paling sempurna. Dalam hal ini saya juga bisa bilang bahwa pikiran bisa jadi kecacatan yang paling sempurna pula. Semua mungkin di dalam alam pikiran. Dan kemungkinan-kemungkinan ini seringkali tidak logis, surreal, absurd dan kacau. Manusia diberi kemampuan untuk membuat struktur dan kategori-kategori agar tetap bisa waras. Ketika struktur dan ketegori-kategori itu sudah terbentuk, maka ada beberapa hal yang disingkirkan dan ditakutkan. Untuk memudahkan pemahaman ini kita bisa memakai topografi klasik Sigmund Freud soal pikiran, Freud membagi pikiran dalam dua topografi: vertikal dan horizontal.

freuds_model

TOPOGRAFI VERTIKAL

Topografi Vertikal adalah sebuah tingkatan dari alam sadar, bawah sadar dan tak sadar. Alam sadar adalah tempat pikiran yang kita sadari ada. Ini kita pakai sehari-hari untuk bekerja dan berkomunikasi. Ketika kita melamun, lamunan kita adalah alam sadar kita.

Alam bawah sadar (subconscious/preconscious) adalah tempat memori kita dan khayalan-khayalan yang tidak kita pikirkan. Kita memakai alam bawah sadar ketika kita tidur atau bermimpi–yang bisa kita ingat (disebut mimpi manifes). Kita juga bisa mengaksesnya ketika kita ingin mengingat sesuatu. Jika kita umpamakan komputer, alam sadar adalah software yang kita gunakan untuk bekerja dan alam bawah sadar adalah harddisk tempat kita menyimpan data.

Sementara itu alam tak sadar adalah tempat hal-hal yang tidak bisa kita ingat sama sekali. Koma adalah keadaan tidak sadar. Mimpi-mimpi yang tidak bisa kita ingat (mimpi laten) adalah keadaan tidak sadar. Alam tak sadar adalah sebuah dimensi tanpa batas tempat hasrat-hasrat yang paling kita takutkan dipendam. Keberadaan alam bawah sadar ini bisa dilihat ketika kita mengigau, atau dalam keadaan trans, atau ketika kita mengalami dejavu–merasa pernah ada di suatu tempat atau situasi tapi tidak jelas kenapa. Alam tak sadar menunjukkan dirinya dalam simbol-simbol di mimpi kita. Jika Anda pernah menonton film berjudul Inception, maka alam tak sadar adalah Limbo, dunia ide dan imajinasi tanpa batas, yang hanya bisa diakses dalam ketidaksadaran total, atau dengan hipnosis yang sangat kuat.

TOPOGRAFI HORIZONTAL

Jika topografi vertikal adalah ruang-ruang  di dalam pikiran, maka topografi horizontal adalah penghubung antara pikiran dengan kenyataan, yaitu bagian pengambilan keputusan. Jika vertikal adalah legislatif, maka horizontal adalah eksekutif. Freud membaginya menjadi Id, Ego dan Superego. Id adalah hawa nafsu dan hasrat yang dekat hubungannya dengan bawah sadar dan tak sadar, ego pengambil keputusan atau diri di dunia nyata, dan superego adalah aturan-aturan yang membatasi ruang gerak ego dan id untuk menuruti hasratnya. Saya beri satu contoh. Misalnya seorang anak ingin mengambil kue di meja (Id). Ada ibunya yang melarangnya, “Jangan! Itu buat tamu!” (superego). Ego si anak tidak jadi mengambil kue itu karena ibunya melarangnya.

Namun, neo-psikoanalis seperti Lacan bilang bahwa Id dan Superego adalah sebuah paradox dalam tubuh yang sama. Id dan superego sebenarnya saudara kembar, dua sisi mata uang yang sama. Superego sebagai aturan yang mengekang hawa nafsu (Id) adalah hawa nafsu dalam bentuknya yang lain (sublime). Ego si anak yang tidak jadi mengambil kue karena menurut pada ibunya adalah untuk memuaskan nafsu yang lain, nafsu yang lebih dalam daripada nafsu makan kue. Inilah nafsu yang masuk di alam tak sadar: nafsu untuk menjadi menurut demi cinta dan pengakuan eksistensi dari si Ibu.

Contoh lain dari paradoks Id-Superego adalah ketika orang sangat-sangat galak dan strict dalam menuruti superego-nya. Zizek memberi contoh pada pemetaan rumah di film Psycho arahan Alfred Hitchcock. Ada tiga lantai di rumah psikopat Norman Bates. Lantai 3 adalah kamar ibunya, lantai 2 adalah losmen yang ia sewakan dan basement adalah tempat ia menyimpan mayat busuk ibunya yang sudah lama mati. Lantai 3 adalah superego di mana kita bisa mendengar teriakan-teriakan ibu Norman yang menyuruhnya ini itu, lantai 2 adalah ego, dan lantai satu adalah id: kenyataan dan hasrat sebenarnya dari Norman untuk mendapatkan pengakuan ibunya dengan…menjadi ibunya. Keinginan “menjadi” ini akan saya bahas di kesimpulan tulisan ini.

PHRONEMOPHOBIA

Setelah mengenal pemetaan-pemetaan pikiran yang sederhana dari Freud, mari kita bahas bagaimana cara orang takut dengan pikirannya sendiri. Kewarasan seseorang ditentukan dari kemampuannya membuat struktur dan kategori-kategori di alam sadarnya. Semakin kacau struktur dan kategori-kategorinya, semakin orang mengalami disorientasi, kebingungan, dan kegilaan. Tanpa struktur dan kategori-kategori di alam sadar, orang tidak akan mengenal apapun, termasuk dirinya sendiri. Di situ kemanusiaannya akan raib karena yang membuat manusia menjadi manusia adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi dirinya sendiri, egonya. Ia bisa melihat ke cermin dan mengenal dirinya sendiri–tidak seperti binatang atau bayi yang melihat ke cermin dan tidak mengenali objek yang ada di cermin.

Jadi yang harus dimengerti pertama-tama adalah: kategorisasi adalah syarat kewarasan dan represi pikiran adalah sesuatu hal yang wajar. Membebaskan seluruh pikiran atau merepresi seluruh pikiran adalah hal yang tidak mungkin dilakukan–keduanya berarti kegilaan. Lalu bagaimana dengan ketakutan untuk berpikir; bagaimana dengan Phronemophobia?

Ketakutan adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Ia diperlukan untuk menjaga kita agar tidak mati. Tapi phobia bukanlah ketakutan biasa. Phobia adalah ketakutan yang dibesar-besarkan,exaggerated. Maka ketika kita bicara soal Phronemophobia, kita bicara tentang ketakutan akan berpikir yang dibesar-besarkan dengan imajinasi hasil pengalaman traumatis sejak kecil. Sebenarnya kesakitan apa sih yang dimungkinkan dari berpikir? Ternyata banyak, dan sifatnya bukan hanya mental tetapi fisik–ini bekerja secara resiprokatif, dari fisik ke mental-mental ke fisik.

Sebelum saya kasih contoh, saya akan kasih dulu pola yang saya temukan dari ketakutan berpikir di banyak orang Indonesia yang saya kenal. Saya menemukan bahwa semakin sedikit referensi seseorang, maka ia semakin takut untuk berpikir karena berpikir ternyata perlu bentuk. Tanpa referensi, maka bentuk itu akan sangat abstrak, membingungkan dan sulit dipahami. Referensi ini bukan cuma didapat secara akademis, tapi sesuatu yang diketahui melalui observasi-partisipasi. Seorang petani yang tidak bisa baca tulis pun, tidak akan takut berpikir ketika ia punya rasa ingin tahu dan tidak takut mencoba-coba untuk menciptakan sesuatu dari kehidupannya sehari-hari: dari sekedar ritual panen, sampai persilangan bibit unggul yang sederhana.

Ketakutan ini dimulai ketika sejak kecil seorang anak mendapatkan hukuman ketika ia berpikir. Ini bukan hanya terjadi ketika anak dilarang berpikir, tapi bisa juga terjadi di masyarakat yang ‘memaksa’ seseorang untuk berpikir. Hukuman berpikir tidak hanya bisa dilakukan masyarakat, tapi juga bisa dilakukan diri sendiri–yang kedua ini efeknya akan lebih parah. Contoh pelarangan berpikir oleh masyarakat sudah banyak, karena sampai hari ini masih banyak dilakukan di institusi pendidikan di Indonesia. Contoh kedua, banyak terjadi di negara Eropa, misalnya pada anak-anak Eropa yang bergabung dengan ISIS agar mereka bisa mengontrol pikirannya. Pikiran yang tak terkontrol itu rasanya seperti tenggelam dalam lautan pengetahuan yang penuh argumen. Begitu banyak kata, tapi kekosongan di jiwa tidak bisa terjelaskan. Kekosongan yang dibentuk oleh hasrat (Id) yang tidak terlampiaskan. Ergo, berpikir=kesakitan. Rasa ingin tahu=kesesatan. Di sinilah Phronemophobia merusak tidak hanya secara mental tapi secara fisik: ketika ia jadi kompas hidup sehari-hari, diimani sebagai sesuatu yang “paling” riil seperti Agama.

PHRONEMOPHOBIA TERJADI KETIKA AGAMA = KONSUMERISME

Jika seseorang punya alat lain untuk melampiaskan kekosongan ini: bermusik, berkesenian, menulis, maka bisa jadi ia akan stabil. Tapi kebanyakan orang lebih memilih hal paling mudah dan paling instan untuk menjaga pikiran: Agama. Yang saya maksud agama di sini bukan sekedar islam, kristen, hindu, buddha, atau agama resmi lainnya. Agama yang saya maksud mungkin bisa diilustrasikan Geertz, “(1) sebuah sistem simbol (2) yang bekerja untuk memberikan mood dan motivasi yang kuat, mendalam dan tahan lama (3) dengan memformulasikan konsepsi tentang aturan umum keberadaan dan (4) membungkus konsepsi ini dengan aura faktual yang (5) membuat mood dan motivasi terasa nyata.”

Tapi saya menolak membahas definisi Geertz ini secara antropologis untuk menjelaskan phronemophobia. Saya hendak membawanya ke psikoanalisis. Definisi Geertz ini tidak semata-mata menjelaskan soal agama-yang-kita-tahu sebagai institusi. Lebih jauh dari itu, jika definisi ini adalah sebuah syarat agama, maka prinsip industrial kapitalistik yang membuat seseorang jadi workaholik bisa masuk. Kapitalisme (modal, uang) adalah sebuah sistem simbol yang bisa memberikan mood dan motivasi untuk hidup sehari-hari. Hidup untuk bekerja. Ada formulasi konsepsi soal keberadaan seseorang sebagai mur industri ini,  dan ada aturan umum soal keberadaan seseorang di dunia kerja. Dalam hal ini, Marx sudah mendahului Geertz untuk membuat sebuah tesis soal Agama sebagai candu yang membuat kapitalisme tetap bekerja. Namun saya, seperti Zizek, bisa membuat kesimpulan lebih jauh lagi. Kapitalisme, seperti agama, adalah ideologi. Dan Ideologi kebanyakan tidak disadari oleh pelakunya: seperti kebanyakan orang beragama merasa agamanya paling benar, kebanyakan orang konsumeris merasa ia butuh kerja untuk mengkonsumsi lebih karena ia butuh konsumsi lebih. Agamis seperti konsumeris, tidak bisa membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kenapa saya jadi bicara agama dan konsumen, karena, ini punchline yang Anda tunggu-tunggu:

Phronemophobia akut akan diderita oleh seseorang yang hyper-relijius sekaligus hyper-konsumeris.

Jadi religius atau konsumeris saja tidak cukup untuk punya phobia berpikir. Anda harus jadi dua-duanya. Agama bisa menyelamatkan Anda dari konsumerisme. Konsumerisme, sebaliknya, bisa menyelamatkan Anda dari dogma agama. Tapi siapa yang bisa menyelamatkan Anda, ketika Anda menjadi seorang konsumeris yang religius. Di sini, phobia terbesar Anda adalah berpikir. Anda tidak mau sama sekali berpikir soal apapun, Anda hanya ingin didikte untuk belanja dan mengkafir-kafirkan orang lain yang mengajak Anda berpikir.

Hyper-religius sama dengan hyper-konsumeris, dalam artian apa yang ia konsumsi tidak melulu barang. Konsumeris di sini berarti lebih luas daripada belanja barang dan tidak sama dengan materialistis. Konsumerisme yang saya maksud adalah ketidakmampuan untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan bentuknya yang paling mengerikan adalah ‘merasa membutuhkan dunia ideal dengan memaksa orang lain’. Di sini yang orang konsumsi habis-habisan adalah kuasa (power) dan untuk mengonsumsi itu, ayat dan hadist akan ia gunakan sebagai justifikasi. Hyper-religius-konsumeris ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Ia sudah ada sejak zaman Indulgensi Katolik sampai zaman ESQ Khofifah: Tuhan doyan duit dan dengan itu maka agama bisa mempertahankan kuasa dan kelas. Dan bukan hanya orang religius saja, orang liberal-agnostik-atheis pun bisa jadi hyper-religius-konsumeris kalau dia haus kuasa pada yang tak sependapat dengannya dan sudah merasa pintar (hingga tak bisa belajar lagi)–lihat saja para dosen postivis zaman orba yang masih mengajar di kampus-kampus dan ngotot pendidikan harus linear.

Argumen tidak akan mempan. Anda sudah terlanjur percaya pada dogma agama dan doktrin kapitalisme, yang sesungguhnya berlawanan, paradoksal, oximoronik! Logika sudah tidak berjalan sama sekali, karena pikiran abstrak itu, yang Anda tidak mengerti, dijalankan mentah-mentah. Di sini, sebagai combo relijius-konsumeris, sebenarnya Anda sudah menderita psikotik! Phronemophobic! Turunan dari phobia ini banyak sekali dan biasanya melibatkan kata anti: anti-semit, anti-LGBT, anti-liberal, anti-komunis… lanjutkanlah sendiri semua anti yang sudah terinstitusi dalam jargon-jargon ormas para-militerstik itu.

Di sini kita bisa kembali ke psikoanalisis Lacan-Zizek tadi. Seandainya agama adalah superego dan konsumerisme adalah Id, maka kegilaan dimulai ketika superego dan Id bercampur di ego yang sama. Ketika agama=konsumeris. Ketakutan utama Norman Bates, tokoh psikopat di film Psycho, adalah ketika ia berpikir soal seks dengan perempuan lain. Superegonya (dalam bentuk sang Ibu), melarang itu dengan menanamkan ketakutan-ketakutan di diri Norman soal perempuan: bahwa semua perempuan itu jahat, kecuali ibunya. Norman takut berpikir soal perempuan dan seks, maka satu-satunya cara untuk bisa hidup tenang adalah membunuh si perempuan. Norman anak baik, tidak boleh membunuh, maka ibunya yang membunuh si perempuan dengan cara ‘merasuki’ Norman. Seperti mereka yang membunuh atas nama Tuhan.

 

Sekarang bayangkan ketika orang gila seperti Norman Bates menduduki posisi-posisi penting di masyarakat. Inilah ketakutan khas zaman ini. Ketakutan yang membuat sebuah disparitas sosial dan kesenjangan yang lebih parah dari kesenjangan kelas. Kelas sosial yang berbeda bisa memiliki ketakutan yang sama akan pikiran. Karena itu, dalam banyak wacana publik, seringkali kita temukan opini yang sangat tidak logis dan mengancam Hak Asasi orang lain, yang dikemukakan oleh orang dengan pendidikan dan kuasa tinggi. Bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Tonton saja debat GOP akhir-akhir ini yang anti pada Islam, imigran dan homoseksual. Anda akan paham maksud saya.

Maka saya akan menyimpulkan dengan sebuah benang merah antara topografi klasik Freud, definisi agama Geertz, kritik Kapitalisme Marx, dan Ideologi Zizek. Superego hadir sebagai mekanisme pertahanan di pikiran manusia, ia dibentuk oleh agama dan ideologi semenjak balita dalam proses sosialisasi lingkungan-masyarakat. Lingkungan masyarakat yang cacat logika, akan melahirkan segolongan mayoritas yang cacat pikiran, yaitu mayoritas yang takut pada pikirannya sendiri. Maka berpihaklah pada kebaikan untuk menyembuhkan phobia ini di diri sendiri dan di masyarakat. Apa itu yang baik?

“Jadi berani adalah baik.” Kata Nietzsche.

 

Dikutp dari (credit to) :Eseinosa : Phronemophobia Indonesia

Penyebab-penyebab anggapan bahwa orang bisa tertular LGBT

Ilustrasi Sumber: dailymail

Ilustrasi
Sumber: dailymail

Memang sangat sulit menghilangkan stigma dan prasangaka yang sudah melekat dan ‘mendarah daging’ di masyarakat. Jangankan menghilangkan, mengubahnya pun juga sulit. Seperti halnya stigma dan prasangka yang melekat pada LGBT, apalagi di dalam masyarakat yang cenderung tertutup untuk melihat alternatif lain dalam mencari penjelasan suatu masalah dan hanya menerima penjelasan dari sisi agama saja.

Banyak orang, tidak hanya di negara yang belum maju, bahkan di negara maju pun masih masih ada yang tidak percaya bahwa orang tidak bisa tertular LGBT .

Coba kita analisa kira-kira apa saja yang menyebabkan banyak orang beranggapan seperti itu

  1. Proses berdamai dan menerima orientasi seksual dianggap sebagai proses penularan LGBT

Seperti diuraikan oleh Lenes Angela, seorang transgender yang bekerja di organisasi penanggulangan HIV/AIDS, GWL-INA.

Menurutnya ada kekeliruan pemahaman yang terjadi di masyarakat. Konsep penerimaan dianggap sebagai proses penularan. Ia mengatakan bahwa ada tahap-tahap saat seseorang dianggap ‘menjadi’ LGBT.

Ada tahapan satu di mana dia merasa berbeda dari orang lain. Tahap berikutnya dia akan mencari orang yang sama dengannya, mulai mencari komunitasnya. Saat ini dia akan lebih intens datang ke komunitas

Pertama, tahap di saat seseorang merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain,

Kedua, tahap di saat ia akan mencari orang-orang yang sama seperti dirinya -tahan mencari komunitas- ,

Ketiga, tahap di saat ia mulai lebih intens datang ke komunitas.

Tahap-tahap yang akhirnya membuat ia terbebaskan dari belengku tekanan batin dan sosial dan bisa berdamai dengan keadaannya. Hal inilah yang sering dianggap sebagai proses penularan. Orang-orang tahunya bahwa orang tersebut dulunya tidak Lesbian, Gay, Biseksual atau Transgender, setelah bergaul dengan komunitas LGBT kok akhirnya ia mengatakan bahwa ia juga LGBT. Orang-orang itu tidak tahu bahwa sudah sejak lama orang tersebut tahu bahwa ia LGBT.

Selain itu ada banyak orang yang sangat menentang dan tidak setuju dengan LGBT yang sebenarnya ia sendiri LGBT. Rasa bencinya terhadap keadaannya tersebutlah yang membuatnya membenci LGBT, dan di mata orang awam ia kelihatan sangat heteroseksual karena sikapnya tersebut. Dalam ilmu psikologi, orang seperti ini justru disebut memiliki kejiwaan yang tidak sehat, Mereka disebut sebagai dystonic-homosexual.

Baca juga : dystonic- dan syntonic-homosexual

2. Fakta adanya hubungan seksual Laki-laki Sama Laki-Laki  (LSL) dan Perempuan Sama Perempuan (PSP) yang terjadi di penjara.

Hubungan seksual sesama jenis yang terjadi di penjara bisa karena beberapa hal. Memang orang tersebut pada dasarnya gay atau biseksual, atau karena kebutuhan seksual yang mendesak dan tidak ada pilihan untuk melakukannya dengan lawan jenis dan jenuh dengan m*sturbasi. Selain itu juga perlu diingat bahwa kondisi kejiwaan orang yang dipenjara bisa dikatakan berbeda dengan orang yang hidup bebas (tidak dipenjara).

Ada juga yang namanya Consensual Relationship, yaitu hubungan yang dijalin antara penghuni penjara senior dengan junior. Hubungan ini selain tidak sepenuhnya melibatkan hubungan seksual. Jika melibatkan hubungan seksual maka kemungkinan besar mereka gay atau biseksual, bisa juga karena si junior merasa tidak aman dan akhirnya mau menjalani hubungan tersebut, dengan harapan dirinya akan dilindungi dari kerasnya penjara. Si senior yang seorang gay atau biseksual yang merasa sudah melindungi si junior akhirnya meminta imbalan berupa hubungan seksual. Hubungan seperti ini masuk kedalam ranah pelecehan HAM yang serius karena memiliki unsur paksaan dan kekerasan, seperti yang dikatakan Martha Kempner dalam artikel berikut ini. Jadi sangat tidak relevan dan orang yang beranggapan seperti ini bisa dipastikan memiliki kekurangpahaman tentang orientasi seksual dan HAM.

Consensual Relationship ini juga dipakai saat mendefinisikan hubungan antara seorang guru senior dan muridnya, apakah hubungan seperti ini tidak dianggap tabu di masyarakat dan tidak seharusnya terjadi.

Seperti pengakuan seorang laki-laki yang pernah masuk penjara dan akhirnya melakukan hubungan seks sesama jenis. Ia mengatakan bahwa ia melakukannya karena ia mempunyai kebutuhan seksual layaknya orang lain, dan ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan tidak ada lawan jenis yang bisa ia ajak, akhirnya ia melakukannya dengan sesama jenis, yaitu heteroseksual yang lebih lemah secara paksa atau dengan gay atau biseksual baik secara paksa atau memang orang tersebut mau. Setelah ia keluar dari penjara dia tetap heteroseksual dan tidak punya keinginan berhubungan dengan sesama jenis.

“I’m completely straight. What happened then was just about having my sexual needs met, in a particular time and place where I couldn’t get [heterosexual] sex.”

Bukti adanya hubungan seksual sesama jenis di penjara ini hanya membuktikan bagaimana buruknya pengamanan penjara-penjara. Tidak relevan dengan masalah orientasi seksual. Selain itu, sampai sekarang tidak ada penelitian yang detail tentang masalah hubungan seksual sesama jenis di penjara ini.

3. Ada beberapa pekerja seks komersial yang katanya heteroseksual, ternyata memberikan ‘jasanya’ kepada homoseksual. Dan akhirnya orang tersebut dicap tertular LGBT.

Penjelasan in tentu saja mirip dengan penjelasan nomor dua. Adanya faktor keterpaksaan, yaitu faktor ekonomi. Selain itu, bagaimana bisa membuktikan bahwa orang tersebut tidak gay atau biseksual? Pengakuannya yang mengatakan bahwa ia heteroseksual bisa jadi membuatnya banyak dicari. Karena ia mau melakukan hubungan sesama jenis tersebut apakah membuatnya menjadi penyuka sesama jenis?

Sekali lagi, kasus ini justru memperlihatkan kegagalan pemerintah yang tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.

Baca juga : Menurut Ahli Neuorologi, LGBT adalah genetik dan tidak menular

Baca juga : Apakah LGBT sebuah pilihan?

Baca juga : 8 pemahaman keliru tentang LGBT

Baca juga : Bahaya Rehabilitasi LGBT

Baca juga : Penyembuhan homoseksual yang berbahaya dan dikecam banyak negara

Baca juga : Sejak tahun 1983, Depkes menyatakan homoseksualitas bukan gangguan jiwa

Sumber : Wikipedia Queerty Portalkbr Theguardian studentaffairs.georegtown.edu rhrealitycheck.org

Mari kita peringati Hari Solidaritas LGBTIQ Nasional yang ke 16

Wadam, adalah singkatan dari HaWa ADam, sebuah sebutan yang mempunyai arti sama dengan Waria. Istilah Wadam muncul pada saat kepemimpunan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin tahun 1968. Istilah wadam diperkenalkan untuk mengganti istilah lain yang berkonotasi negatif seperti banci dan bencong.

Pada tahun 1969 (sumber lain mengatakan tahun 1973) , lahirlah Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) yang difasilitasi oleh Ali Sadikin. Karena ditentang para pemimpin ormas islam, sebutan wadam diganti dengan waria. Para pemimpin ormas tersebut tidak mau sebutan wadam digunakan karena mengandung nama Nabi, yaitu Nabi Adam.

Baca juga : Ali Sadikin Gubernur paling ramah dengan LGBT

1 Maret 1982, organisasi Gay pertama di Indonesia dan Asia pun berdiri dengan nama Lambda Indonesia yang bersekretariat di Solo, Jawa Tengah.

18 tahun kemudian, pada tanggal 17 Maret tahun 2000, di Lembaga Indonesia-Perancis Yogyakarta, Indonesian Gay Society (IGS) Yogyakarta mendeklarasikan tanggal 1 Maret sebagai Hari Solidaritas LGBTIQ.

Baca juga : Dede Oetomo, tokoh pejuang LGBT lebih dari 3 dekade

Seperti yang dituliskan di laman daring  GAYa Nusantara, nama hari peringatan sengaja mengandung kata “Solidaritas”  karena IGS memandang perjuangan emansipasi waria, gay dan lesbian membuka kesempatan seluas-luasnya kepada kawan-kawan yang simpatik untuk ikut bergabung. Lembaga Indonesia-Perancis dipilih mengikuti preseden perayaan Gay Pride 1999 di Pusat Kebudayaan Perancis Surabaya. Diharapkan Perancis bisa melihat perjuangan pembebasan LGBTIQ sebagai kelanjutan  Revolusi Perancis yang mempunyai moto “Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan”.

Mengutip himbauan GAYa Nusantara, marilah kita semua yang peduli dan menghormati kesetaraan total semua manusia, termasuk yang berbeda orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender dan sifat-sifat seks-nya, memperingati Hari Solidaritas ini dengan melakukan sesuatu, bagaimanapun kecilnya dan apa pun caranya, untuk terus menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang, termasuk LGBTIQ.

Satu hari lagi (besok) akan menjadi peringatan Hari Solidaritas LGBT yang ke-16. Tahun ke-16, jika dalam umur manusia, bisa dibilang adalah masa peralihan dari remaja ke dewasa, masa di mana seorang anak akan meninggalkan bangku SMP mereka. Tentunya peringatan tahun ini bisa dibilang ‘spesial’ karena LGBT(IQ) saat ini tidak hanya dibicarakan tetapi juga mendapatkan tentangan yang bertubi-tubi baik dari lembaga pemerintah maupun dari masyarakat sosial. Seperti halnya pelangi yang muncul setelah hujan reda, semoga polemik LGBT(IQ) saat ini juga akan memunculkan pelangi bagi teman-teman pelangi di Indonesia.

Selamat Hari Solidaritas LGBTIQ bagi teman-teman LGBTIQ di Indonesia.

Sumber : GAYa Nusantara

Homoseksualitas pada hewan adalah fakta bukan hoax

Seperti yang banyak orang dari dulu percaya, semua hewan itu heteroseksual. Hewan-hewan dipercaya hanya kawin dan bepasangan dengan lawan jenisnya. Kepercayaan tersebut pun dikuatkan dengan legenda Bahtera Nabi Nuh yang dipercaya hidup pada abad 31-40 SM. Legenda yang juga ditemukan dalam ajaran agama  Yahudi, Kristen dan Islam ini menceritakan bagaimana Nabi Nuh menyelamatkan keluarganya dan hewan-hewan dari bencana banjir besar yang menenggelamkan bumi selama 150 hari. Nabi ketiga dari jajaran Nabi dalam agama Islam ini menyelamatkan hewan-hewan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan, agar mereka bisa berkembang biak.

Ilustrasi kapal Nabi Nuh Sumber : dailymail

Ilustrasi kapal Nabi Nuh
Sumber : dailymail

Dari situlah terlihat bahwa seks hanya memiliki satu fungsi saja, yaitu fungsi reproduksi. Bagaimana kalau ternyata kepercayaan tersebut tidak relevan lagi dengan fakta yang sebenarnya. Bagaimana jika ternyata pada Kera, Lumba-Lumba, Gurita serta jenis hewan lain yang jumlahnya 450 ternyata juga ditemukan afkesi bahkan hubungan seksual sesama jenis? Apakah itu hanya teori propaganda atau HOAX para aktivis LGBT dan ilmuwan yang pro-LGBT?

Ternyata itu bukanlah hoax dan teori semata. Tahun 2009 para peneliti dari Universitas California melakukan penelitian tentang homoseksualitas pada hewan dan hasilnya menunjukan bahwa mulai dari serangka seperti lalat sampai binatang mamalia seperti singa laut, ditemukan perilaku homoseksualitas. Mungkin fakta ini sulit untuk dipercaya bagi orang awam. Bagaimana tidak, Darwin saja yang biasa disebut ahlinya dalam teori evolusi juga percaya bahwa dalam kerajaan hewan, hanya ada perilaku heteroseksual. Hal itu ia percayai karena ia dibesarkan dengan kepercayaan tersebut.

Baca juga : Apakah Homoseksualitas adalah pilihan atau gaya hidup?

Pada tahun 1922, 5 ekor pinguin dibawa ke sebuah kebun binatang  burung, tetapi tanpa disangka, terlihat perilaku yang tidak umum, yaitu perilaku homoseksualitras. Pingun jantan yang diberi nama Andrew akhirnya diganti menjadi Ann, pinguin betina bernama Erika akhirnya mendapat nama baru, Erik, yang saat itu berpasangan dengan Dora, seorang pinguin betina, begitu juga Caroline yang akhirnya mendapatkan nama baru, yaitu Charles.

Penelitian tentang homoseksualitas pada hewan, sebenarnya sudah sejak 200 tahun yang lalu dilakukan, yaitu pada ikan paus Orca, tetapi hasil penelitian seperti itu seolah ditutup-tutupi sehingga hanya segelintir orang saja yang tahu. Sampai sekarang pun berita ini masih dianggap berita simpang siur, bahkan dikatakan hoax.

Beberapa peniliti beranggapan bahwa perilaku homoseksual pada hewan mungkin hanya sebagai latihan sebelum musim kawin tiba, atau mungkin sekedar ingin merangsang lawan jenisnya. Namun ternyata tidak begitu adanya. Contohnya pada rusa di Afrika, meskipun rusa jantan bersikeras ingin kawin dengan rusa betina, tetapi beberapa rusa betina menolak dan melanjutkan merayu rusa betina lain untuk melakukan hubungan seksual. Tetapi bukti tersebut belum cukup mengubah pendapat peneliti-peneliti tersebut, mereka masih beranggapan bahwa homoseksualitas pada hewan masih didominasi seksualitas untuk menghasilkan keturunan. Sampai ditemukannya bukti baru dari sebuah penelitian pada kera di Afrika. Kera hanya menghasilkan keturunan setiap 6 tahun sekali, ternyata dalam kurun waktu tersebut para kera tetap berhubungan seksual, termasuk hubungan seksual sesama jenis. Kera yang mempunyai hubungan sesama jenis, cenderung mempunyai ranking yang lebih tinggi dalam koloninya. Mereka saling melindungi saat terjadi serangan. Ini memberikan titik terang bagi para peneliti tentang masalah tersebut. Bukti tersebut menunjukan bahwa seksualitas pada hewan tidak hanya memiliki fungsi reproduksi tetapi juga fungsi kenikmatan serta fungsi sosial.

Banyak yang beranggapan bahwa hubungan homoseksual pada hewan tidak berlangsung lama. Tetapi lagi-lagi hal itu terbantahkan saat ditemukannya hubungan homoseksualitas pada lumba-lumba yang berlangsung seumur hidup, begitu juga pada singa betina.

Lagi-lagi muncul bantahan, bahwa itu terjadi karena hewan tidak berpasangan  secara heteroseksual, khususnya saat parenting –membesarkan keturunan- . Hubungan seksual lawan jenis hanya dilakukan sekedar untuk memperbanyak keturunan, saat parenting sepenuhnya adalah tugas hewan betina. Jadi wajar hubungan homoseksual itu terjadi. Namun teori itu pun terbantahkan lagi, karena pada banyak spesies burung, parenting -mengasuh anak- ternyata dilakukan oleh pasangan lawan jenis juga. Lebih dari itu, ternyata parenting juga dilakukan oleh pasangan sesama jenis juga, seperti pada angsa yang mempunyai hubungan segitiga, 2 jantan dan satu betina.

Pada spesies burung di sebuah pantai di Massachusetts, timur laut Amerika, ditermukan parenting pada banyak pasangan burung betina, selain parenting pasangan heteroseksual. Awalnya para peneliti keheranan, bagaimana pasangan burung betina bisa bertelur? Ternyata pada kasus pasangan burung betina, peran burung jantan hanya sebagai donor sperma saja. Saat menetaskan telur, orang tua pasangan burung betina mempunyai peran yang sama seperti pada pasangan orang tua heteroseksual. Ketika salah satu pasangan mengerami telur, pasangan lainya mencari makan dan menjaga sarang mereka.

Octopus atau sering kita sebut gurita, hidup di kedalaman 2 kilometer. Tidak hanya homoseksualitas ditemukan pada  kelompok gurita, tetapi hubungan homoseksualitas tersebut dilakukan antara dua gurita yang jenisnya berbeda.

Penelitian pada monyet jepang, menunjukan bahwa perilaku homoseksual pada monyet, terutama monyet betina ternyata bukan karena kurangnya monyet jantan. Pasangan monyet betina, justru menolak monyet jantan yang ingin kawin. Pasangan homoseksual tersebut mempunyai suatu hubungan dengan peran bergantian. Pada satu waktu salah satu monyet betina menaiki pasangannya, pada waktu lain ia yang dinaiki. Hubungan seksual sesama jenis pada monyet jepang ini  diketahui terjadi bukan karena fungsi sosial saja -saling melindungi jika monyet jantan datang-, tetapi lebih pada fungsi seksual lainnya, yaitu kenikmatan. Bagaimana mungkin hewan seperti monyet mempunyai sebuah rasa yang umumnya dimiliki manusia (rasa kenikmatan)? Kira-kira kenapa monyet-monyet jepang senang sekali dan menikmati waktunya berendam di kolam air hangat? Bahkan bisa sampai berjam-jam. Bukankah karena mereka menikmati aktifitas tersebut?

Lalu bagaimana hewan-hewan yang mempunyai hubungan sesama jenis ini punya keturunan? Para peneliti setuju bahwa hewan yang melakukan hubungan seksual sesama jenis, pada satu waktu mereka juga melakukan hubungan lawan jenis, untuk mempunyai keturunan. Tetapi sesudahnya, mereka akan kembali lagi kepada pasangan sesama jenisnya.

Masihkah berpikir bahwa homoseksualitas hanya ada pada satu spesies mamalia, yaitu Manusia?

Berikut ini Daftar tentang homoseksuaitas pada hewan-hewan, silahkan klik pada nama spesiesnya

Homoseksualitas pada spesies Mamalia

Homoseksualitas pada spesies burung

Homoseksualitas pada spesies Ikan

Homoseksualitas pada spesies Reptilia

Homoseksualitas pada spesies Amfibi

Homoseksualitas pada spesies Serangga

Homoseksualitas pada hewan tak bertulang belakang

 

 

Sumber : Wikipedia – Nuh Noah the real story Homoseksualitas pada hewan  sciencedaily BBC

Apa itu HAM dan Prinsip-prinsip Yogyakarta yang berkaitan dengan orientasi seksual dan identitas gender

 

Gambar Fitur di situs Prinsip-prinsip Yogyakarta

Gambar Fitur di situs Prinsip-prinsip Yogyakarta

Sepertinya masih ada yang tidak tahu apa itu Hak Asasi Manusia (HAM) dan apa saja itu yang termasuk dalam HAM.

Menurut definisi dalam situs  ohchr.org, situs resmi Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights).

Human rights are rights inherent to all human beings, whatever our nationality, place of residence, sex, national or ethnic origin, colour, religion, language, or any other status. We are all equally entitled to our human rights without discrimination. These rights are all interrelated, interdependent and indivisible.

Hak-hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang melekat pada semua manusia, apapun kewarganegaraannya, tempat tinggalnya, jenis kelaminnya, bangsanya, sukunya, warna kulitnya, agamanya, bahasanya dan apapun status-status lainnya. Kita semua berhak atas hak-hak asasi kita tanpa diskriminasi. Hak-hak ini semua saling terkait, saling tergantung dan tak terpisahkan.

“Human rights are rights inherent to all human beings, whatever our nationality, place of residence, sex, national or ethnic origin, colour, religion, language, or any other status. We are all equally entitled to our human rights without discrimination. These rights are all interrelated, interdependent and indivisible.”

Hak-hak Asasi Manusia Universal sering dinyatakan dan dijamin oleh hukum, dalam bentuk perjanjian, hukum kebiasaan internasional, prinsip-prinsip umum dan sumber-sumber hukum internasional lainnya. Hak-hak Asasi Manusia Internasional mewajibkan Pemerintah untuk bertindak secara khusus atau menahan diri dari tindakan-tindakan tertentu, dalam rangka untuk mempromosikan dna melindungi hak asasi manusia dan kebebasan dasar individu atau kelompok.

Apa saja Hak-Hak yang ada dalam Hak-Hak Asasi Manusia yang dideklarasikan?

  1. Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan.
  2. Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Deklarasi ini dengan tidak ada kekecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Selanjutnya, tidak akan diadakan pembedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilyah-wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain.
  3. Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai indvidu.
  4. Tidak seorang pun boleh diperbudak atau diperhambakan; perhambaan dan perdagangan budak dalam bentuk apa pun mesti dilarang.
  5. Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, diperlakukan atau dikukum secara tidak manusiawi atau dihina.
  6. Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia berada.
  7. Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi. Semua berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi yang bertentangan dengan Deklarasi ini, dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada diskriminasi semacam ini.
  8. Setiap orang berhak atas pemulihan yang efektif dari pengadilan nasional yang kompeten untuk tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak dasar yang diberikan kepadanya oleh undang-undang dasar atau hukum.
  9. Tidak seorang pun boleh ditangkap, ditahan atau dibuang dengan sewenang-wenang.
  10. Setiap orang, dalam persamaan yang penuh, berhak atas peradilan yang adil dan terbuka oleh pengadilan yang bebas dan tidak memihak, dalam menetapkan hak dan kewajibankewajibannya serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan kepadanya.
  11. (1) Setiap orang yang dituntut karena disangka melakukan suatu tindak pidana dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dalam suatu pengadilan yang terbuka, di mana dia memperoleh semua jaminan yang perlukan untuk pembelaannya. (2) Tidak seorang pun boleh dipersalahkan melakukan tindak pidana karena perbuatan atau kelalaian yang tidak merupakan suatu tindak pidana menurut undang-undang nasional atau internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak diperkenankan menjatuhkan hukuman yang lebih berat daripada hukum yang seharusnya dikenakan ketika pelanggaran pidana itu dilakukan.
  12. Tidak seorang pun boleh diganggu urusan pribadinya, keluarganya, rumah-tangganya atau hubungan suart-menyuratnya dengan sewenang-wenang; juga tidak diperkenankan melakukan pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan atau pelanggaran seperti ini.
  13. (1) Setiap orang berhak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas-batas setiap negara. (2) Setiap orang berhak meninggalkan suatu negeri, termasuk negerinya sendiri, dan berhak kembali ke negerinya.
  14. (1) Setiap orang berhak mencari dan mendapatkan suaka di negeri lain untuk melindungi diri dari pengejaran. (2) Hak ini tidak berlaku untuk kasus pengejaran yang benar-benar timbul karena kejahatan-kejahatan yang tidak berhubungan dengan politik, atau karena perbuatanperbuatan yang bertentangan dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa.
  15. (1) Setiap orang berhak atas sesuatu kewarganegaraan. (2) Tidak seorang pun dengan semena-mena dapat dicabut kewarganegaraannya atau ditolak hanya untuk mengganti kewarganegaraannya.
  16. (1) Laki-laki dan Perempuan yang sudah dewasa, dengan tidak dibatasi kebangsaan, kewarganegaraan atau agama, berhak untuk menikah dan untuk membentuk keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dalam soal perkawinan, di dalam masa perkawinan dan di saat perceraian. (2) Perkawinan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan pilihan bebas dan persetujuan penuh oleh kedua mempelai. (3) Keluarga adalah kesatuan yang alamiah dan fundamental dari masyarakat dan berhak mendapatkan perlindungan dari masyarakat dan Negara.
  17. (1) Setiap orang berhak memiliki harta, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. (2) Tidak seorang pun boleh dirampas harta miliknya dengan semena-mena.
  18. Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; dalam hal ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dengan kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaann dengan cara mengajarkannya, melakukannya, beribadat dan mentaatinya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di muka umum maupun sendiri.
  19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk 5 mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan cara apa pun dan dengan tidak memandang batas-batas.
  20. (1) Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berkumpul dan berserikat tanpa kekerasan. (2) Tidak seorang pun boleh dipaksa untuk memasuki suatu perkumpulan.
  21. (1) Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan negaranya, secara langsung atau melalui wakil-wakil yang dipilih dengan bebas. (2) Setiap orang berhak atas kesempatan yang sama untuk diangkat dalam jabatan pemerintahan negeranya. (3) Kehendak rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah; kehendak ini harus dinyatakan dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara berkala dan murni, dengan hak pilih yang bersifat umum dan sederajat, dengan pemungutan suara secara rahasia ataupun dengan prosedur lain yang menjamin kebebasan memberikan suara.
  22. Setiap orang, sebagai anggota masyarakat, berhak atas jaminan sosial dan berhak akan terlaksananya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang sangat diperlukan untuk martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya, melalui usaha-usaha nasional maupun kerjasama internasional, dan sesuai dengan pengaturan serta sumber daya setiap negara.
  23. (1) Setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih pekerjaan, berhak atas syarat-syarat perburuhan yang adil dan menguntungkan serta berhak atas perlindungan dari pengangguran. (2) Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak atas pengupahan yang sama untuk pekerjaan yang sama. 6 (3) Setiap orang yang bekerja berhak atas pengupahan yang adil dan menguntungkan, yang memberikan jaminan kehidupan yang bermartabat baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya, dan jika perlu ditambah dengan perlindungan sosial lainnya. (4) Setiap orang berhak mendirikan dan memasuki serikat-serikat pekerja untuk melindungi kepentingannya.
  24. Setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk pembatasan-pembatasan jam kerja yang layak dan hari liburan berkala, dengan tetap menerima upah.
  25. (1) Setiap orang berhak atas tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkannya kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya. (2) Ibu dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan istimewa. Semua anakanak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat perlindungan sosial yang sama.
  26. (1) Setiap orang berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan harus dengan cuma-cuma, setidak-tidaknya untuk tingkatan sekolah rendah dan pendidikan dasar. Pendidikan rendah harus diwajibkan. Pendidikan teknik dan kejuruan secara umum harus terbuka bagi semua orang, dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengan cara yang sama oleh semua orang, berdasarkan kepantasan. (2) Pendidikan harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta untuk mempertebal penghargaan terhadap hak asasi manusia dan kebebasankebebasan dasar. Pendidikan harus menggalakkan saling pengertian, toleransi dan 7 persahabatan di antara semua bangsa, kelompok ras maupun agama, serta harus memajukan kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam memelihara perdamaian. (3) Orang tua mempunyai hak utama dalam memilih jenis pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak mereka.
  27. (1) Setiap orang berhak untuk turut serta dalam kehidupan kebudayaan masyarakat dengan bebas, untuk menikmati kesenian, dan untuk turut mengecap kemajuan dan manfaat ilmu pengetahuan. (2) Setiap orang berhak untuk memperoleh perlindungan atas keuntungan-keuntungan moril maupun material yang diperoleh sebagai hasil karya ilmiah, kesusasteraan atau kesenian yang diciptakannya.
  28. Setiap orang berhak atas suatu tatanan sosial dan internasional di mana hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang termaktub di dalam Deklarasi ini dapat dilaksanakan sepenuhnya.
  29. (1) Setiap orang mempunyai kewajiban terhadap masyarakat tempat satu-satunya di mana dia dapat mengembangkan kepribadiannya dengan bebas dan penuh. (2) Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya, setiap orang harus tunduk hanya pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang yang tujuannya semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang tepat terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syaratsyarat yang adil dalam hal kesusilaan, ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis. (3) Hak-hak dan kebebasan-kebebasan ini dengan jalan bagaimana pun sekali-kali tidak boleh dilaksanakan bertentangan dengan tujuan dan prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.
  30. Tidak sesuatu pun di dalam Deklarasi ini boleh ditafsirkan memberikan sesuatu Negara, kelompok ataupun seseorang, hak untuk terlibat di dalam kegiatan apa pun, atau melakukan perbuatan yang bertujuan merusak hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang mana pun yang termaktub di dalam Deklarasi ini.

Selain Hak-Hak Asasi Manusia yang sudah diakui oleh PBB tersebut, Hak-Hak manusia terkait orientasi seksual dan identitas jender juga pernah dibahas dalam pertemuan Komisi Ahli Hukum Internasional, International Service for Human Rights dan ahli hak asasi manusia dari seluruh dunia di Universitas Gadjah Mada di Yogyakartapada tanggal 6-9 November di 2006, yang selanjutnya menghasilkan Yogyakarta Principles (Prinsip-prinsip Yogyakarta), berisi 29 prinsip yang dimaksudkan untuk menerapkan standar hukum hak asasi manusia internasional untuk mengatasi pelecehan hak asasi manusia terhadap lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), dan (secara sekilas) interseks.

Gambaran singkat tentang isi prinsip Yogyakarta adalah sbb :

Prinsip 1          : Hak untuk Penikmatan HAM secara universal

Prinsip 2          : Hak atas Kesetaran dan Non Diskriminasi

Prinsip 3          : Hak atas Pengakuan di mata Hukum

Prinsip 4          : Hak untuk Hidup

Prinsip 5          : Hak atas Keamanan Seseorang

Prinsip 6          : Hak atas Privasi

Prinsip 7          : Hak atas Kebebasan dari Kesewenang-wenangan terhadap perampasan kebebasan

Prinsip 8          : Hak atas Pengadilan yang Adil

Prinsip 9          : Hak untuk Mendapatkan Perlakuan Manusiawi selama dalam Tahanan

Prinsip 10        : Hak atas Kebebasan dari Siksaan dan Kekejaman, Perlakuan atau Hukuman  yang tidak manusiawi atau merendahkan

Prinsip 11        : Hak atas Perlindungan dari Semua Bentuk Eksploitasi, Penjualan dan Perdagangan manusia

Prinsip 12        : Hak untuk Bekerja

Prinsip 13        : Hak atas Keamanan Sosial dan Atas Tindakan Perlindungan Sosial Lainnya

Prinsip 14        : Hak Untuk mendapatkan Standar Kehidupan yang Layak

Prinsip 15        : Hak atas Perumahan yang layak

Prinsip 16        : Hak Atas Pendidikan

Prinsip 17        : Hak atas Pencapaian Tertinggi Standar Pendidikan

Prinsip 18        : Perlindungan atas Kekerasan Medis

Prinsip 19        : Hak atas Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi

Prinsip 20        : Hak atas Kebebasan Berkumpul dengan damai dan Berasosiasi

Prinsip 21        : Hak atas kebebasan Berpikir

Prinsip 22        : Hak atas Kebebasan untuk berpindah

Prinsip 23        : Hak untuk mencari Perlindungan

Prinsip 24        : Hak untuk Menemukan Keluarga

Prinsip 25        : Hak untuk Berpartisipasi dalam Kehidupan Publik

Prinsip 26        : Hak untuk Berpartisipasi dalam Kehidupan Budaya

Prinsip 27        : Hak untuk Memajukan HAM

Prinsip 28        : Hak atas Pemulihan dan Ganti Rugi yang Efektif

Prinsip 29        : Akuntabilitas

Jika ingin mengetahui penjelasan Prinsip-Prinsip Yogyakarta secara detail bisa mengunduh dokumen-dokumen di bawah ini.

Versi bisa diunduh : Universal Declaration Human Rights – Bahasa Inggris

Versi bisa diunduh: Universal Declaration Human Rights – Bahasa Indonesia

Versi bisa diunduh : Yogyakarta Principle official Bahasa Inggris

Versi bisa diunduh : Prinsip-prinsip Yogyakarta Divisi Litbang dan Komnas Perempuan

 

Sumber : PBB: un.org– ohchr.org Deklarasi Universal HAM – Bahasa Indonesia Yogyakartaprinciples.org  Divisi Litbang dan Komnas Perempuan

Berita berumur 7 tahun lebih yang terlupakan “Homoseksual bukan penyimpangan seksual”

Sebuah berita yang mungkin sudah banyak yang lupa, karena sudah berumur 7 tahun lebih. Beruntung, berkat internet, berita-berita dalam portal-portal berita daring masih bisa dibaca kembali, meskipun sudah bisa dibilang tua. Tahun 2008, sebelum polemik LGBT menjadi bahan pembicaraan secara nasional, tepatnya tanggal 11 November, dalam situs kompas.com, diunggah sebuah berita berjudul “Homoseksual Bukan Penyimpangan Seksual”.

dr Lukas Mangindaan, SpKJ Sumber : berita kawanua.com

dr Lukas Mangindaan, SpKJ
Sumber : berita kawanua.com

Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Lukas Mangindaan, SpKJ dalam seminar nasional berjudul “Seksualitas yang ditabukan: Tantangan Keberagaman” di Hotel Sahid Jaya, Jakarta 11 November 2016, mengatakan bahwa Orientasi Homoseksual tidak memenuhi kriteria gangguan jiwa atau mental. Istilah Homoseksualitas sebagai orientasi seksual menyimpang tidak lah tepat dan menyesatkan karena memberi dampak negatif seperti stigmatisasi, pengucilan oleh masyarakat yang kurang mendapat informasi yang benar.

Penghapusan paham bahwa homoseksualitas sebagai gangguan jiwa merupakan keputusan WHO -Organisasi Kesehatan Sedunia- pada tanggal 17 Mei 1990 dan sudah pula dicantumkan Depkes RI dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993).

“Jadi sudah terbukti bahwa orientasi homoseksual tidak memenuhi kriteria gangguan jiwa atau mental,” ujarnya.

Homoseksualitas, Biseksualitas dan Heteroseksualitas adalah bagian dari identitas diri seseorang.

“Identitas diri itu tak lain adalah ciri-ciri khas dari seseorang seperti nama, umur, jenis kelamin termasuk orientasi seksual (heteroseksual, biseksual, homoseksual). Sedangkan identitas diri perlu dibedakan dengan perilaku, karena identitas diri bersifat netral dan perlu diterima sebagaimana adanya, tetapi perilaku dapat bersifat positif, negatif, netral, dan lain-lain. Jadi jangan dicampurbaurkan identitas diri dengan perilaku,” ujarnya.

Lukas menekankan perlunya melihat pelbagai jenis identitas diri sebagai bagian dari keberagaman manusia dan bersikap pluralistik tanpa sikap apriori.

“Upaya untuk berempati yakni kemampuan untuk mengerti, menghayati dan menempatkan diri di tempat mereka yang terpinggirkan perlu dikembangkan. Sikap homofobia yang menyisihkan, melecehkan, diskriminasi dan mendapat perlakuan kekerasan pada kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transjender) harus dihilangkan. Ini yang perlu disosialisasikan pada masyarakat,” jelasnya.

Dede Oetomo, Pendiri dan Pembina Yayasan Gaya Nusantara, mengatakan bahwa tidak semua agama dan kepercayaan mengharamkan homoseksualitas dan Transgenderisme.”Tafsir ulang atas ajaran yang mengharamkan homoseksualitas dan transjenderisme sudah dilakukan beberapa agama yang sangat menentang hal itu, supaya tak menghasilkan pandangan yang memusuhi homoseksualitas dan transjenderisme,” katanya.

Peran negara untuk melindungi hak-hak kaum LGBT, dikatakan Dede, perlu dikembangkan untuk menuju ke kehidupan bersama yang lebih baik.

Berita juga bisa diunduh di sini: Homoseksual Bukan Penyimpangan Seksual – Kompas 11 nov 2008

Sumber : Kompas 

Satu dari banyak Tafsiran Kisah kaum Nabi Luth

Gambar cerita Sodom dan Gomorrah dari the Nuremberg Chronicle oleh Hartmann Schedel, 1493 Sumber : wikipedia

Gambar cerita Sodom dan Gomorrah dari the Nuremberg Chronicle oleh Hartmann Schedel, 1493
Sumber : wikipedia

Cerita Kaum Nabi Luth adalah sebuah cerita yang sudah ada sebelum Islam ada. Cerita yang juga dituliskan di kitab suci Injil, pada Perjanjian Lama. Cerita yang sering digunakan oleh banyak orang beragama dalam menilai LGBT, termasuk muslim.

Banyak sekali tafsiran mengenai kisah kaum Nabi uth, coba kita simak salah satu tafsiran Kisah Kaum Luth berikut ini. Dikutip dari situs inspirasi.co

Baca juga : Pendapat pemimpin Madinaonline tentang LGBT

***

ISLAM, LGBT DAN PERKAWINAN SEJENIS
Oleh Mun’im Sirry

Pro-kontra terkait LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender) mungkin saja akan segera meredup ditelan zaman. Tapi, kesan yang tersisa di kepala mereka yang pro dan kontra akan berbekas lama dan suatu saat muncul lagi dalam versinya yang lebih luas. Jika saat ini isunya berpusat sekitar sejauhmana legitimasi hak-hak kelompok LGBT dapat diakui dan diproteksi atau sebaliknya ditolak dan diberangus, di masa depan ruang-lingkup perdebatan bisa melampaui itu hingga soal keabsahan perkawinan sejenis. Lagi-lagi, agama (dalam hal ini, Islam) akan menjadi arena pertarungan penafsiran.

Pelajaran penting dari pro-kontra tersebut ialah keberadaan kelompok LGBT merupakan fakta sosial yang menuntut perbincangan serius dengan etika dan paradigma baru. Kehadiran mereka semakin tampak (visible) dan tak terbantahkan. Mereka yang menolak LGBT akan berargumen, penampakan mereka dalam ruang kenyataan tidak berarti dapat begitu saja dilegitimasi oleh agama. Hal itu benar adanya. Pertanyaannnya, apa dasar agama tidak melegitimasinya?

Dalam tulisan ini saya akan meruntuhkan argumen tekstual yang acapkali digunakan oleh mereka menolak hak-hak kaum LGBT. Saya akan menggiring perbincangan kita lebih jauh menyangkut prinsip-prinsip yang bisa dikembangkan untuk melegitimasi perkawinan sejenis.

Argumen tekstual dan alternatif tafsirnya
Dalam buku teks pelajaran Islam, Kementerian Pendidikan Arab Saudi menggambarkan “homoseksualitas” sebagai berikut: “Salah satu dosa paling menjijikkan dan pelanggaran terbesar. Allah tidak pernah mengazab suatu umat sebagaimana azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Lut. Dia menghukum mereka dengan hukuman yang tak dialami umat lain. Homoseksualitas merupakan perbuatan bejat yang berlawanan dengan tabiat alamiyah.” Ketika seorang hakim Hasan al-Sayis di Mesir mengetukkan palu menghukum seseorang yang dituduh sebagai gay, dia juga merujuk ke cerita kaum Lut sebagai dasar putusannya.

Mari kita diskusikan kisah kaum Lut dalam al-Qur’an dan lihat sejauhmana ayat-ayat tersebut dapat dijadikan argumen untuk mendelegitimasi kaum LGBT, termasuk untuk melangsungkan perkawinan sejenis.

Al-Qur’an menarasikan kembali kisah tersebut dari Kitab Kejadian 19 dalam Al-Kitab Ibrani (dalam Kristen disebut “Perjanjian Lama”). Nabi Lut disinggung dalam 14 surat al-Qur’an, yakni 6:85-87, 7:78-82, 11:73; 79-84, 15:58-77, 21:70-71; 74-75, 22:43-44, 26:160-176, 27:55-59, 29:25; 27-34, 37:133-138, 38:11-14, 50:12-13, 54:33-40 dan 66:10. Ayat terakhir memang hanya menyebut istri Nabi Lut, bukan Lut sendiri, tapi juga relevan.

Kisah Nabi Lut dan kaumnya menggambarkan paradigma al-Qur’an tentang misi kenabian. Disebut “paradigma” karena nabi-nabi dalam al-Qur’an digambarkan dengan pola yang sama, yakni diutus kepada suatu kaum untuk memberi peringatan, ditolak oleh sebagian kaum, dan Allah menurunkan azab. Lebih menarik lagi, dalam surat al-Syu‘ara’ (26), beberapa kalimat yang sama diucapkan oleh nabi-nabi berbeda. Lho koq bisa? Saya menyebut paradigma kenabian yang disuguhkan al-Qur’an ini sebagai “mono-prophetic” (kenabian tunggal). Dengan kata lain, walaupun ada banyak nama nabi disebut dalam al-Qur’an, tapi sesungguhnya satu sosok, yaitu ia yang diutus kepada suatu umat, ditolak oleh sebagian umat dan turunnya ancaman azab Tuhan.

Kisah Nabi Lut dan kaumnya juga menggambarkan paradigma Qur’ani itu. Apakah kisah Nabi Lut dan nabi-nabi lain adalah fakta sejarah atau bukan? Pertanyaan ini menjadi kurang relevan, karena dengan paradigma “mono-prophetic” al-Qur’an lebih menekankan pesan moralnya. Bahkan, apakah Nabi Lut dan yang lain benar-benar figur historis atau bukan, juga tidak revelan karena “prophetology” al-Qur’an bersifat tunggal (mono-prophetic).

Dengan pengantar agak konseptual ini kita bisa mengalisis “moral story” Nabi Lut dan kaumnya. Ketika Nabi Lut memberi peringatan: “Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara ciptaan dan malah meninggalkan istri-istri yang Tuhanmu ciptakan untukmu?” (Q.26:165-166). Apa yang dimaksud “mendatangi” laki-laki? Dijelaskan dalam Q. 27:55, untuk melampiaskan “nafsu.” Di sini terlihat bahwa kaum Lut memiliki istri-istri yang sah, tapi mereka justru melakukan seks tidak senonoh dengan para pengunjung laki-laki yang singgah ke kota mereka. Hal ini berarti bahwa hubungan seks mereka terjadi di luar nikah. Penjelasan ini perlu digarisbawahi karena, sebagaimana akan dijelaskan nanti, sebagian madzhab fikih menganalogikan sodomi dengan zina.

Lalu, apa yang terbayang di pikiran kita tentang perlakuan kaum Lut terhadap pelancong dari luar kota? Apakah para pelancong itu akan menerima dengan suka-rela? Hanya mereka yang tidak punya hati nurani yang akan meng-iya-kan pertanyaan itu. Jika demikian adanya, kebejatan perbuatan kaum Lut itu terletak pada aspek pelampiasan nafsu yang bersifat semau-dewe, dan dapat dikategorikan “pemerkosaan.”

Al-Qur’an tidak memberikan penjelasan eksplisit kenapa kaum Lut melakukan itu, sebagaimana tidak ada penjelasan rinci tentang banyak hal lain. Q.54:37 memberikan kesaksian menarik. Malaikat yang menjelma sebagai laki-laki diincar untuk diperkosa, dan Tuhan membutakan mata mereka. Lalu, dari mana Kementerian Pendidikan Arab Saudi sampai pada kesimpulan bahwa kaum Lut diazab dengan hukuman yang tak terkira karena homoseks? Ulama Saudi biasanya literlek dalam memahami al-Qur’an, tapi kenapa dalam hal ini tidak? Jika merujuk ke Q. 29:29, pelanggaran kaum Lut itu bertumpuk-tumpuk, selain melampiaskan nafsu pada laki-laki (tentu tanpa nikah!), juga merampok, berbuat munkar, dan menantang Tuhan.

Jika para penolak hak-hak LGBT konsisten dengan tafsir literleknya, semestinya mereka tidak akan gegabah mengaitkan azab pedih Tuhan dengan perbuatan homoseksual. Lihatlah bagaimana ulama literalis Ibn Hazm (w.1064) memahami azab yang menimpa kaum Lut. Dalam magnum opus-nya, Kitab al-Muhalla, ulama asal Andalusia itu menolak pandangan yang mengaitkan azab kaum Lut dengan perbuatan seks sesama laki-laki, tapi justeru karena penolakan mereka terhadap ajakan Nabi Lut dan misi kenabiannya. Penjelasan Ibn Hazm mirip dengan gagasan “mono-prophetic” yang saya kemukakan di atas (walaupun, tentu saja, saya tidak literalis!): Nabi Lut diutus untuk menyampaikan pesan Ilahi, ditolak oleh sebagian kaumnya. Allah mengazab mereka yang menolak dan memberkahi mereka yang menerima.

Singkatnya, ayat-ayat al-Qur’an terkait kisah Nabi Lut dan kaumnya tidak dapat dijadikan landasan normatif untuk mendiskriminasi kaum LGBT, termasuk melarang mereka menikah sejenis.

Prinsip-prinsip dasar perkawinan sejenis
Landasan normatif lain yang kerap dijadikan alasan kaum konservatif ialah hadis Nabi yang memerintahkan hukum bunuh bagi mereka yang melakukan seks sodomi. Hadis-hadis yang menyebut bentuk-bentuk hukuman tertentu terhadap sodomi sudah banyak dipersoalkan otentisitasnya bahkan oleh ulama-ulama konservatif sendiri, seperti Syinqiti.

Di kalangan para fuqaha, terdapat perbedaan tajam mengenai bentuk-bentuk hukuman bagi pelaku sodomi. Perbedaan mereka cukup substantif karena terkait aspek konseptual kenapa pelaku sodomi harus dihukum. Perlu diakui, empat madzhab Sunni menggolongkan sodomi sebagai pelanggaran. Tak ada keraguan soal itu. Menarik dicatat di sini, mereka membedakan antara sodomi dengan laki-laki dan perempuan. Yang terakhir disebut “liwat sughra” (sodomi ringan). Dalam madzhab Syi’ah, sodomi dengan istri diperbolehkan, walaupun sebisa mungkin dicegah.

Pertanyaannya, kenapa para fuqaha menganggap “liwat” (sodomi) sebagai pelanggaran? Pertanyaan ini menarik didiskusikan karena dasar-dasar asumsinya bertolak belakangan dengan bagaimana pendapat para fuqaha itu dipahami oleh kaum konservatif belakangan. Perlu segera disebut dahulu, al-Qur’an jelas tidak menetapkan suatu hukuman tertentu bagi pelaku sodomi. Lalu, bagaimana menentukan bentuk hukumannya? Mereka menganalogikan dengan zina yang bentuk hukumannya dijelaskan dalam al-Qur’an. Kenapa analogi ini menarik? Karena asumsi dasarnya ialah sodomi yang dihukum (seperti halnya zina) ialah yang dilakukan di luar jalingan pernikahan. Tiga madzhab, yakni Maliki, Syafi’i dan Hanbali, menyamakan
sodomi dengan zina yang ketentuan hukumnya disebut “had” (jamaknya, hudud), yakni bentuk hukuman yang sudah dipatok dalam al-Qur’an.

Sementara itu, madzhab Hanafi yang tidak mau menggunakan analogi (qiyas) dalam konteks ini berpendapat hukuman sodomi ialah “ta‘zir”, yakni bentuk hukuman yang diserahkan sepenuhnya kepada keputusan penguasa. Perbedaan keempat madzhab itu mengindikasikan bahwa mereka semua tidak menerima hadis yang memerintahkan hukum bunuh bagi pelaku sodomi sebagaimana yang sering disitir kaum konservatif belakangan.

Sampai di sini, saya berharap saya berhasil mematahkan argumen tekstual yang mendiskreditkan kaum LGBT itu. Perlu diakui, sebagaimana tidak dalil yang secara eksplisit melarang pernikahan sejenis, juga tidak ada dalil yang jelas-jelas membolehkannya. Lalu, apa prinsip-prinsip dasar yang memungkinkan perkawinan sejenis dapat dibenarkan? Jawabnya, konsep kemaslahatan yang bermuara pada terwujudnya kesataraan, keadilan, dan kehormatan manusia. Konsep kemaslahatan ini muncul cukup awal dalam tradisi yurisprudensi Islam dan terus berkembang hingga sekarang, yang mengindikasikan bahwa konsep itu merepresentasikan “spirit” agama yang mampu menyerap perkembangan zaman.

Tidak sulit untuk berargumen secara rinci kenapa atas nama kemaslahatan perkawinan sejenis dapat dibenarkan. Karena keterbatasan ruang (dan waktu), saya dapat katakan bahwa pelembagaan perkawinan sejenis memungkinkan pasangan dapat menikmati berbagai hak keistimewaan (privileges) yang dinikmati suami-istri lain.

Ada argumen klasik yang sering disebut untuk menolak konsep kemaslahatan, yaitu “tidak ada kemaslahatan manakala bertentangan dengan nash al-Qur’an dan hadis.” Saya sengaja memulai diskusi dengan mematahkan argumen tekstual dari al-Qur’an dan hadis supaya penolakan semacam ini tidak dimunculkan.

***

Referensi Sodom and Gomorrah dari wikipedia

Sumber : inspirasi.co

PP PDSKJI : LGB tidak mempunyai masalah kejiwaan jika bisa “menerima” kondisinya

Jumat 19/2/2016, Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait LGBT yang didasarkan pada Undang-Undang no .18 tahun  2014.

Dalam pernyataan sikap resmi yang terdiri dari 2 halaman tersebut, menyatakan bahwa Orang dengan Homoseksual dan Biseksual dapat dikategorikan sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Transeksualisme dapat dikategorikan sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). 

Pernyataan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) halaman 1

 

Pernyataan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) halaman 2

 

Banyaknya respon masyarakat terhadap Pernyataan yang ditanda tangani oleh Dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKj(K) selaku ketua tersebut, membuat Juneman Abraham, Psikolog Sosial, Konsultan dan Peneliti Psikologi menuliskan pandangannya dalam membaca pernyataan tersebut.

Menurutnya, terdapat kekacauan berbahasa yang terjadi dalam memahami pernyataan sikap PP PDSKJI tersebut. Disebutkan bahwa LGB dapat dikategorikan sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (OMDK). Yang artinya bahwa LGB bukan Orang Dengan Jiwa Kejiwaan (ODGJ). Baris yang mengatakan, “ODMK berkewajiban memelihara kesehatan jiwanya dengan cara menjaga perilaku, kebiasaan, gaya hidup yang sehat dan meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial untuk mengurangi resiko menjadi ODGJ”, memperkuat bahwa LGB bukan gangguan jiwa.

Berdasarkan pernyataan tersebut,  PP PDSKJI berarti menyatakan LGB sudah mempunyai jiwa yang sehat dan perlu dijaga. Menurut WHO orang yang memiliki Kesehatan Jiwa adalah orang yang mampu menanggulangi tekanan hidupnya. Dengan perkataan lain, orang-orang ini dapat saja dilanda oleh tekanan hidup, memiliki masalah hidup, namun ia mampu menanggulanginya.

Berdasarkan Undang-undang no 18 tahun2014, tentang Kesehatan Jiwa, ODMK adalah “orang yang mempunyai masalah fisik, mental dan sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa”.  Jika dibaca dengan lebih seksama, Orang Dengan Masalah Kejiwaan (OMDK) bukan lah orang yang berbeda dari orang pada umumnya. Setiap orang tentu saja pernah dan mungkin sedang mempunyai masalah-masalah seperti masalah fisik, mental, sosial dan lain-lain. Tetapi bukan berarti orang tersebut sakit jiwa. Kunci kesehatan jiwa sesungguhnya terletak pada kemampuan seseorang untuk menanggulangi masalah-masalah yang disebutkan itu, sehingga masalah-masalah itu tidak melekat/menetap/permanen. Kemampuan ini bersifat subjektif (individu per individu, bukan pertama-tama kelompok) dan berubah sepanjang hayat, disumbang oleh berbagai faktor, termasuk kita di sekeliling orang tersebut.

Membaca penjelasan Juneman Abraham tersebut bisa pula disimpulkan, jika LGB mampu menanggulagi masalahnya, maka ia sebenarnya dinyatakan sehat. Masalah-masalah LGB,

  • Tekanan, terjadi karena stigma sosial terhadapnya. Jika stigma tersebut hilang, maka LGB bisa menerima kondisinya dan tekanan pun akan hilang.
  • Apakah LGB punya perilaku, kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat? Ada yang tidak. Banyak LGB ynag mempunyai perilaku, kebiasaan dan gaya hidup sehat.
  • Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial. LGB tentu punya kemampuan tersebut, terbukti bahwa banyak LGB bisa berperan dan memberikan sumbangsih pada kehidupan di masyarakat, terlepas dari orientasi sosialnya. Masalahnya di sini adalah, masih adanya sikap masyarakat yang anti-pati terhadap LGB yang membuat LGB tidak diberi ruang di lingkungan sosial.

Jadi sebenarnya, kuncinya ada di penerimaan masyarakat. Jika masyarakat menerima maka tekanan yang dialami LGB juga akan hilang.

Sumber : Kompasiana

dr. Fidiansjah diminta mengkoreksi ucapan kelirunya yang semakin mengekalkan kebencian terhadap LGBT

dr. Fidiansyah di acara Indonesia Lawyers Club, TV One

dr. Fidiansyah di acara Indonesia Lawyers Club, TV One

dr Fidiansjah Sp. KJ MPH yang juga mantan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan dan menjadi salah satu pembimbing di Peduli Sahabat, komunitas yang salah satu tujuannya adalah “meluruskan” LGBT”, dalam acara Indonesia Lawyers Club yang diadakan TV One 16/2/2016 mengatakan bahwa LGBT adalah gangguan jiwa, dan mengatakan bahwa buku yang dijadikan pedoman aktivis LGBT hanyalah buku saku saja yang tidak menjelaskan tentang diagnosis LGBT. Ia membandingkan dengan buku yang ia pakai yang jauh lebih tebal dari buku yang dipakai aktivis LGBT.

“Mohon maaf, buku yang dipakai itu buku saku Pak, kalau buku kami, text book-nya tebel begini Pak. Sama-sama membahas LGBT, tapi ini yang lengkap,” ungkap Fidiansjah.

“Silahkan dibuka halaman 288, 280 dan 279. Persis kalimatnya ada. Ini adalah masih sebuah gangguan,” imbuhnya. Host Karni Ilyas kembali menanyakan dan Fidiansyah menegaskan bahwa LGBT adalah “gangguan jiwa”.

Video tentang pernyataan Fidiansyah pun banyak disebarkan di media, bahkan banyak media yang menggunakannya sebagai sumber berita yang menyudutkan LGBT, “Argumen Ilmiah Dr Fidiansjah Bikin Pendukung LGBT Mati Kutu”.

Selain pernyataan tersebut banyak digunakan sebagai dasar untuk membenarkan opini mereka bahwa LGBT adalah gangguan jiwa, ternyata banyak juga yang menentang pernyataan tersebut. Mereka menentangnya dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang lebih baru.

dr Andri SpKJ FAPM, psikiater dengan kekhususan psikosomatik medis, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dan pengajar di Fakultas Kedokteran UKRIDA. Pada hari Jum’at 19/2/2016  menegaskan bahwa homoseksual dan Biseksual tidak masuk gangguan jiwa.

Berikut kutipan tulisannya:

Banyak yang inbox di FB dan WA kepada saya terutama beberapa murid saya dulu yang bertanya Apakah LGBT masuk kategori Gangguan Jiwa? Mereka sepertinya kembali bingung karena berita LGBT yang marak belakangan ini.

Panduan saya dalam mendiagnosis adalah Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III yang merupakan buku pedoman diagnosis gangguan jiwa yang dipakai di Indonesia (diterbitkan oleh Kemenkes tahun 1993), walaupun dalam perkuliahan kadang disinggung kriteria diagnosis dari DSM yg lazim dipakai di dunia internasional.

Kembali kepada apakah LGBT itu Gangguan Jiwa, maka saya mengatakan berdasarkan PPDGJ III Homoseksual (Gay dan Lesbian) dan Biseksual TIDAK TERMASUK GANGGUAN JIWA. Pada kode F66 Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan Dengan Perkembangan dan Orientasi Seksual, di bawahnya langsung tertulis: catatan: Orientasi Seksual Sendiri Jangan dianggap sebagai suatu Gangguan.

Digit kelima yang dituliskan setelahnya digunakan sebagai specifier dan itu juga ada Heteroseksual, Homoseksual, dan Biseksual. Artinya dalam PPDGJ III itu sendiri mengatakan bahwa orientasi seksual yang mungkin mengalami problem adalah tiga orientasi tersebut. Jadi digit kelima digunakan sebagai specifier orientasi bukan menunjukkan suatu gangguan.

Sedangkan gangguannya adalah di Digit ke-4 seperti tercantum di F66.0 Gangguan maturitas seksual; yang dalam uraiannya dikatakan: Individu menderita karena ketidakpastian tentang identitas jenis kelaminnya atau orientasi seksualnya yang menimbulkan kecemasan atau depresi. Paling sering terjadi pada remaja yang tidak tahu pasti apakah mereka Homoseksual, Heteroseksual atau Biseksual dalam orientasi, atau pada individu yang sesudah suatu periode orientasi seksual yang tampak stabil sering kali setelah hubungan yang berlangsung lama ternyata menemukan bahwa dirinya mengalami perubahan orientasi seksual.

Ada lagi F66.1 Orientasi Seksual Egodistonik yang dijelaskan: Identitas jenis kelamin atau preferensi seksual tidak diragukan tetapi individu mengharapkan yang lain, disebabkan oleh gangguan psikologis dan perilaku dan mungkin mencari pengobatan untuk mengubahnya.

Artinya bahwa orientasi seksual Egodistonik bisa terjadi pada semua orientasi seksual yang telah disebutkan sebelumnya dalam specifier. Untuk Transeksual atau Transgender dalam PPDGJ III masih dikategorikan dalam Gangguan Identitas jenis kelamin di F64.0 Transeksualisme (catatan bukan merupakan bagian dari gangguan genetik atau kromosom seks)

Saya memahami kebingungan murid saya dan beberapa orang yang bertanya kepada saya. Sejak masa kuliah memang sering kali dikatakan bahwa Psikiatri itu sulit dan membingungkan. Beberapa yang lainnya bahkan mengatakan ilmu psikiateri seperti di awang-awang. Hal ini mungkin karena gejala dan tanda gangguan psikiatri berhubungan dengan perasaan, perilaku, dan pikiran manusia.

Sangat wajar jika membuat bingung para mahasiswa saya. Namun jika bingung maka kembalilah pada rujukan yang kita sepakati dalam dunia kedokteran bersama. Jangan membuat asumsi sendiri karena bisa membuat kesalahan persepsi dan merugikan orang lain. Jangan pula asal mendiagnosis gangguan jiwa karena konsekuensi dicap mengalami gangguan jiwa itu berat di masyarakat yang belum sepenuhnya memahami masalah gangguan jiwa.

Makanya saya suka pesan ama mahasiswa kalau selesai stase jiwa jangan sampai main cap temen sendiri dengan diagnosis yang sudah dipelajari di pedoman seperti PPDGJ III. Semoga artikel singkat saya ini bermanfaat untuk memahami kriteria diagnosis gangguan jiwa terutama terkait dengan issue LGBT yang hangat baru-baru ini. Salam Sehat Jiwa

Halaman 288, PPDG III depkes Dirjen YanMed 1993

Halaman 288, PPDG III depkes Dirjen YanMed 1993

 

Halaman 289, PPDG III depkes Dirjen YanMed 1993

Halaman 289, PPDG III depkes Dirjen YanMed 1993

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Pengajar di FK UKRIDA, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine)

Sumber : Tulisan dr. Andri di kompasiana

***

Tidak hanya dr. Andri, seorang blogger Herman Saksono yang sebelumnya juga pernah menulis 7 hal yang orang banyak salah mengerti tentang LGBT, pun ikut mengeluarkan suara.

Baca juga : 7 hal yang banyak orang salah mengerti tentang LGBT

Berikut kutipan tulisannya:

Dalam episode Indonesian Lawyers Club (ILC) berjudul “LGBT Marak, Apa Sikap Kita?”, dr. Fidiansjah mengatakan bahwa homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Tulisan ini akan membuktikan benar salahnya ucapan dr. Fidiansjah.

Kronologisnya, pada ILC episode 16/2/2016,  dr. Fidiansjah mengatakan bahwa homoseksualitas merupakan gangguan. Ketika ditanya Karni Ilyas gangguan apa yang dimaksud, dr. Fidiansjah menjelaskan bahwa homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Kesimpulan ini dia ambil setelah membacakan buku diagnosis PPDJG III versi “textbook” yang ilmiah. Menurut dr. Fidiansjah, buku versi textbook lebih lengkap daripada buku saku yang dipakai masyarakat.

Untuk menguji benar salahnya dr. Fidiansjah, saya akan membandingkan ucapan beliau dengan buku PPDGJ III versi “textbook”. Pada tanggal 18 Februari 2016, saya mendapatkan PPDGJ III dari perpustakaan Fakultas Psikologi UGM. Buku ini bernomor 616.89 Ind p-c4. Jika pernyataan dr. Fidiansjah sesuai dengan isi buku textbook, maka kita bisa menyimpulkan bahwa dr. Fidiansjah mengatakan kebenaran.

herman saksono PPDGJ_III-sampul_cover

Mari kita mulai. dr. Fidiansjah mengatakan bahwa definisi gangguan jiwa yang dimaksud bisa dilihat di halaman 288. dr. Fidiansjah kemudian membacakan isi halaman tersebut:

Gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan perilaku seksual …
Adalah …
F66.x01 Homoseksualitas
F66.x02 Biseksualitas

Tertulis jelas!

Sekarang, mari kita bandingkan dengan salinan buku PPDGJ III yang dibaca dr. Fidiansjah pada ILC:

herman saksono PPDGJ_III-288

Kita bisa lihat bahwa, entah karena alasan apa, dr Fidiansjah tidak menyebutkan dua baris penting dari buku PPDGJ III:

  1. “Orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai gangguan”
  2. F66.x00 Heteroseksualitas

Saya memperoleh 2 foto PPDGJ dari sumber lain, dan isinya sama dengan PPDGJ III yang saya peroleh dari perpustakaan Fakultas Psikologi UGM.

Terlihat jelas bahwa PPDGJ III mengatakan orientasi homoseksual tidak dianggap sebagai gangguan. Selain itu, buku diagnosis ini menyetarakan homoseksualitas dan biseksualitas dengan heteroseksualitas. Akan tetapi, dr. Fidiansjah tidak menyebutkan 2 kalimat penting itu sehingga homoseksualitas dan biseksualitas seolah-olah adalah gangguan jiwa.

Ini bertentangan dengan pernyataan dr. Fidiansjah bahwa membaca teks itu tidak boleh sepotong-sepotong. Oleh karena ada dua kalimat yang hilang, dr. Fidiansjah tidak nampak mengatakan kebenaran.

Kesalahan ini tidak dapat diterima. dr. Fidiansjah harus mengkoreksi ucapannya kepada publik dan meminta maaf karena tindakannya berpotensi melanggengkan diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum marginal homoseksual, biseksual, dan LGBT pada umumnya. Lagipula, jika mengacu pada UU No. 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa ayat 68.a, seorang ODMK berhak mendapatkan informasi yang tepat mengenai kesehatan jiwa.

Menariknya, dr Fidiansjah mengutip Einstein untuk menekankan bahwa ilmu harus mengacu kepada ajaran agama: “Ilmu tanpa agama itu buta, tapi agama tanpa ilmu lumpuh”.

Ucapan Einstein tersebut memang sering dipakai untuk melegitimasi bahwa agama harus mengatur sains. Padahal, maksud Einstein, ilmu hanya bisa tumbuh dari orang-orang yang jujur dan peduli. Di sini agama menjadi sangat penting karena mengajarkan kejujuran dan kepedulian.

Oleh karena itu dr. Fidiansjah harus jujur dan peduli, termasuk ke kelompok minoritas LGBT.

Tambahan:

  • 19 Feb 2016: Paido Siahaan mengingatkan saya bahwa mungkin dr. Fidiansjah memakai buku teks PPDGJ edisi lama yang masih menggolongkan homoseksualitas sebagai gangguan. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa memakai buku kuno dipakai untuk mendiagnosa gangguan jiwa, jika ada buku edisi baru yang mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan? Oleh karena itu, dr. Fidiansjah tetap harus mengkoreksi ucapannya.
  • 20 Feb 2016: Saya menambahkan UU No 14/2014 tentang Kesehatan Jiwa. Pasal 68.a mengatakan bahwa ODMK berhak mendapatkan informasi yang tepat mengenai kesehatan jiwa.

Sumber : Tulisan Herman Saksono

 

Sebelumnya seorang Neurolog dari Rumah Sakit Mayapada, Roslan Yusni,  mengatakan pendapatnya tentang pembentukan Orientasi Seksual. Orientasi seksual adalah hasil dari variasi struktur otak manusia.

Ia mengatakan bahwa masih banyak ilmuwan dan pekerja medis, seperti dokter belum menyerap pengetahuan tersebut. Sehingga masih banyak dokter yang menganggap bahwa  LGBT adalah penyakit. Tidak hanya dalam kalangan dokter, bahkan dalam kalangan psikolog. Sudah sejak lama Orientasi seksual tidak dikategorikan sebagai penyakit, tetapi masih banyak psikolog yang tidak tahu.

Seharusnya pada ilmuwan, dokter dan ahli kejiwaan menggunakan sains untuk membantu mencerahkan publik, sehingga bisa mengurangi diskriminasi.

Menurutnya, ketika sains tidak sesuai dengan keyakinan, maka sains itu diabaikan -dianggap tidak benar-.

Baca juga : kata Neurolog tentang LGBT

 

Sumber : Kompas

 

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: