Advertisements

pengalaman

This tag is associated with 3 posts

Hindari 10 Kesalahan Jatuh Cinta

  1. Seiring dengan waktu
    Cinta sebenarnya memerlukan proses dan waktu, dengan seiring waktu cinta dapat berkembang dan saling mengenal. Tak jarang seseorang lupa hal ini, dengan terlalu cepatnya memulai suatu hubungan dapat berakibat kurang baik bagi anda maupun pasangan, karena tidak saling mengenal dengan baik, termasuk karakter, atau sifatnya. Dan sebaliknya jika terlalu terburu-buru untuk memutuskan hubungan hanya karena masalah yang ringan atau sepele, juga tidak bijaksana. karena itu cinta membutuhkan waktu.

  2. Lupa diri sendiri
    Ketika sedang jatuh cinta, seringkali hanya memikirkan kekasih, hanya ingin selalu berdua dengannya. Hingga orang-orang yang ada disekitarnya pun diabaikan sehingga lama-lama orang-orang disekitarnya pun akan menjauh. Hal ini dapat mengakibatkan hal yang buruk di kemudian hari, misal anda akan dianggap kurang pergaulan, dan ketika anda sendiri atau jenuh dengan kakasih anda, tidak ada seorang teman yang bersama dengan anda.

  3. Membohongi diri sendiri.
    Orang yang jatuh cinta sering memberikan toleransi yang berlebihan kepada pasangan, seolah-olah sikap atau gangguan pasangan bukan merupakan masalah besar dan mereka berharap akan selesai dengan seiring waktu.

  4. Outer beauty
    Hal yang sering terjadi ketika jatuh cinta adalah terlalu memprioritaskan kecantikan fisik diatas kecantikan batin (inner beauty). Padahal kecantikan fisik dapat berkurang seiring waktu dan inner beauty jauh lebih bermanfaat.

  5. Sex, fokus pada sex
    Perlu disadari tidak ada seorang yang akan senang menjadi obyek sex. Hindari menjadikan sex sebagai prioritas didalam menjalin hubungan dengan pasangan. Sebaliknya fokus dan buatlah rencana yang matang untuk masa mendatang.

  6. Menggantungkan harapan dan kebahagian kepada pasangan
    Anda boleh untuk jatuh cinta kepada siapa pun tetapi jangan terlalu beranggapan bahwa hanya pasangan anda yang dapat membuat anda bahagia. Hindari memusatkan perhatian dan kebahagian hanya kepada satu orang, karena dapat menutup kesempatan untuk menjadi lebih baik dan menutup wawasan bagi diri anda sendiri. Berbeda ketika anda dan pasangan telah menikah.

  7. Mengulangi kesalahan yang sama.
    Intropeksi diri khususnya mengenai kegagalan dalam menjalin hubungan cinta anda. Sebelum menjalin hubungan yang baru, coba renungkan apa penyebab kegagalan itu dan apa solusinya.

  8. Hubungan tanpa tujuan yang jelas.
    Berkencan memang merupakan aktivitas yang dinantikan oleh pasangan yang sedang jatuh cinta, tetapi jika anda tidak mempunyai tujuan yang jelas, hal ini lambat laun akan menjadikan anda lelah secara fisik maupun mental. Jadi sebaiknya anda tentukan tujuan didalam menjalin hubungan dengan calon pasangan tersebut.

  9. Ciptakan hubungan asmara tanpa menjalin persahabatan
    Mungkin anda sedang dalam jatuh cinta pada pasangan anda tetapi jangan lupa anda juga perlu membangun persahabatan dengan dia, luangkan waktu untuk mengetahui atau memperhatikan apa yang dia perlukan atau inginkan. Bukan hanya memperhatikan secara fisik tetapi mempelajari kepribadiannya.

  10. Beranggapan Sex solusi segalanya.
    Hindari dan jauhi prinsip tersebut, meskipun anda bersedia atau menyerahkan diri seutuhnya kepada dia tetapi hal itu bukan menyelesaikan masalah tetapi malah dapat menimbulkan masalah baru yang mungkin lebih besar. Prinsip itu tidak menjamin pasangan akan setia atau membuktikan cinta anda, tetapi hal itu membuktikan bahwa pasangan hanya menginginkan kesenangan semata.

dikutip dari boyzforum, dari tulisan akun farava***  Desember 2012

Advertisements

Berpacaran sebagai Gay

Mungkin pacaran heteroseks adalah hal yang jamak. Lantas bagaimana dengan pacaran homoseksual alias kaum gay. Disini gw bakal cerita gimana gw bisa kemudian jatuh dalam dunia menyimpang ini. Yang gw rasain ada gw suka ngelihat bapak-bapak atau yang umurnya jauh diatas gw. Mungkin gara-garanya pas kecil gw sering di marahin dan dibentak bokap gw, mungkin ini jadi hal traumatik buat gw. Gw kadang pengen punya bokap yang lebih baik dari bokap gw. Tapi itu dulu, skip karena bokap gw sekarang beda.

Habis itu gw SMP dan gw ngerasain ada yang beda sama gw. Gw ngerasa suka sama cowok. Ya, kakak kelas gw. Bahkan gw suka ngelihat bapak-bapak tetangga gw yang sukanya telanjang dada dan ga pake kaos.Oh God! Gw semakin dilematis dan bingung dan ngerasa kalau gw ini gay. Masuk ke dunia SMA gw kenalan sama seseorang dan disinilah dimulainya kehidupan menyimpang. Gw kenalan sama orang itu di Migg di Room gay. Gw ketemu terus gw diajakin ke kantornya yang kebetulan kosong dan gw ML sama orang itu. Sempet beberapa kali ketemu habis itu kita hilang kontak.

Masuk ke dunia kampus, gw pindah ke Surabaya. Selama SMA gw ga pernah kenalan sama orang lain, selain minder gw juga sibuk sama ujian, sama seleksi masuk universitas. Pas kuliah gw sempet kenalan sama anak dia umurnya jauh dibawah gw, masih SMA. Hal yang sama kita ngelakuin ML. Dia ngajak gw buat bf-an, ini pertama kalinya gw punya bf. Tapi ga lama, cuma seminggu, gw ngerasa aneh aja punya bf kaya gini, dan gw rasa dia rada sissy jadi kurang suka juga.

Lama gw agak bingung sama orientasi seksual gw, akhirnya gw kenalan sama seorang cowok, dan dia guru. Kontak-kontakan sama dia lama, dan kita ga pernah ML sama sekali. Endingnya putus kontak juga ama dia gara-gara satu hal, nyaris ketahuan keluarga kalo gw punya hubungan sama cowok. Untungnya pas itu gw lagi punya cewek jadi aman.

Selama itu sempet kenalan sama orang, tapi ga sempet ML atau bf-an. Just fun, buat smsan aja.

Hingga akhirnya gw nyoba masuk ke sosial media buat gay dan disini kenalan makin banyak tapi jarang samapi ketemuan. Sempet ketemu sama Bapak-bapak usianya sekitar 40-an. Kita ML dan masih sempet komunikasi. Dia luar kota, kalau kebetulan lagi di Surabaya kita sempetin ketemu. Tapi sekarang ga tahu lagi kita ga pernah kontak-kontakan lagi.

Akhir-akhir ini gw masih nyari PLU, tapi ga ada yang klik. Gw pengen kenal orang yang bisa bener-bener deket dan bukan sex-oriented aja. Ge capek hidup kaya gini, gue ngejar-ngejar cewek, tapi gue juga ngejar cowok.

Gw pengen cukup satu dan setia, dan nggak sex-oriented.

Kisah gw selalu begitu, kenalan deket terus akhirnya ga pernah kontak-kontakan lagi. Pernah juga kenalan dan gw rasa kita udah cocok banget tapi endingnya dia kerja di luar pulau Jawa. Mungkin emang pada dasarnya cowok itu punya sisi egois yang tinggi. Gw rasain bener-bener kalau gw deket sama cewek, kita bisa care dan sharing bareng. Tapi kalau sama cowok susah. Gw juga capek kalau harus terus-terusan ngasih perhatian, gue juga pengin diperhatiin.

Tapi sekarang gw lagi kenalan sama seseorang. Kita belum sempet ketemu, cuma kontak via BBM aja, Kita udah niat ketemu tapi batal gara-gara kemaleman. Pertemuan yang ini agak rumit, tapi gw ngerasa yang satu ini beda. Dia ngirim BBM permintaan maaf. Sesuatu yang jarang gue temuin, padahal kita belum pernah ketemu. Dan dia usianya 10 tahun diatas gue. Tapi gue suka, gue suka cowok yang dewasa, dan udah kerja. Ga harus kaya, tapi yang penting dia tipikal pekerja keras.

PS : Sorry gw lagi random banget malam ini. Lagi bete aja, liburan tapi ga bisa pulang ke rumah.

ML yang gue maksud disini bukan ML sampai saling nusuk atau semacam itu, kita sebatas saling ngocok atau oral (Buat PLU pasti paham maksud gw). Gw orang yang paling ga suka nusuk, apalagi ditusuk. Gw pure Top yang lebih milih sama orang Top juga selama ML buat mengurangi resiko, karena gue bukan sex oriented.

dikutip dari kisahsangpria.wordpress.com dengan judul Berpacaran dalam dunia gay

Ada cinta antar Lelaki

Sungai air mata mbak Faradina—sahabat, penyair Merah Yang Meremah—meluap. Adik perempuan tersayang kecewa di Cikarang. Mereka sedih melihat saya bahagia. Sebab saya yang lelaki ini jatuh cinta pada dia yang juga lelaki. Sulit dijelaskan, pun sulit menjelaskan. Coba bayangkan perasaan maha dahsyat ini: kaki menjejak bumi, jiwa melambung ke langit tinggi. Dunia yang sumpek seketika menjelma surga. Bising kendaraan bermotor terdengar alunan melodi indah. Terik mentari terasa hangat di badan. Sunyi malam riuh geletar batin. Seluruh indera menjadi begitu peka. Hanya ada dia di setiap kedipan mata: lelaki tercinta.

Bagi saya, cinta adalah anugerah. Cinta bukan sejenis keinginan yang didapat dengan parameter tertentu. Cinta hadir, membuat manusia demam rindu atasnya. Dan yang terjadi di sini asmara. Menyeret saya dan dia menembangkan syair Kahlil Gibran,”Bila cinta memanggilmu, turutlah ke mana dia pergi.” Saya telah pergi menuju lelaki. Sebesar apa cinta itu, hanya saya sendiri yang tahu. Tidak pasangan saya, apalagi orang lain. Cukup disimpan di hati dan sesekali berbagi dalam bentuk puisi, semisal puisi Matahari Terbit Malam Hari.

Saya bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Selama empat tahun hati ini terkunci dan sekarang terbuka kembali. Bukan lantaran tak laku. Untuk seorang Antok Serean: ganteng, pintar, dan baik hati (ckckck) tawaran menjalin kasih—lelaki maupun perempuan—datang silih berganti. Tapi, saya tak bergeming. Cinta tanpa kompromi. Seolah mata air jernih yang bergulir indah di lereng-lereng hati dan menggenangi danau perasaan. Datang tanpa pesanan. Tugas saya hanyalah menjalani dengan lapang dada, jujur, ikhlas, dan penuh syukur. Sekarang cinta mempertemukan dengan lelaki, jalani saja. Pun nanti cinta mempertemukan dengan perempuan, jalani saja. Hati tak usah dikonstruksi. Biarkan mengalir apa adanya. Tak perlu dilawan, apalagi bunuh diri dengan ragam pengingkaran.

Dia berhasil membuat saya takhluk. Satu bulan dia mendekat, tak lelah mengajak, dan akhirnya tak menolak. Kenyataan bahwa pacar saya tampan tak bisa dipungkiri. Saya suka lantaran fisik memang iya. Bukankah senang mulanya pandangan? Tapi, bukan hanya itu alasannya. Dia serius dalam tindakan, terbuka, dan sudi berbagi apa saja. Di sisi lain, interpretasi saya tentang cinta, realitas hidup, dan nilai-nilai kehidupan sangat berbeda dibanding empat tahun lampau. Saya memahami konsep keutuhan diri dan konsep cinta yang membebaskan. Sekilas terdengar naïf. Tapi, bagi saya, cinta tidak untuk menjajah satu sama lain, justru membebaskan. Apabila sendiri berhadapan dengan cermin tunggal, maka berdua berhadapan dengan cermin ganda. Melalui dia saya dapat melihat diri saya yang lain.

Sebab hubungan antar lelaki tak ada patriarki, maka wilayah domestik aman-aman saja. Keseharian sederhana penuh makna. Seperti apa? Saya setrika, dia cuci baju. Saya bikin sarapan Sereal, dia antar belanja ke Carrefour. Juga saling mengingatkan satu sama lain. Dia yang rajin shalat mengingatkan saya untuk ibadah—sudah bisa ditebak, saya terlalu ndableg menjalankannya— . Dia minta saya mengurangi merokok. Dia menganjurkan minum jus buah dan rajin olahraga. Sebaliknya, saya minta dia teratur menaruh barang karena sifat pelupanya. Saya minta dia mengurangi makan dan rajin fitnes agar perutnya rata. Saya sumbang pemikiran ketika dia hendak pindah kerja. Atau menjalankan aktivitas bersama, seperti nonton ke bioskop, pergi ke tempat karaoke, pergi ke tempat ngeber, atau makan malam berdua. Indah bukan?

Tetapi, segala yang saya paparkan di atas tak ada di benak orang lain (baca: hetero). Selalu dan selalu, saya dihadapkan pada komentar, pertanyaan, dan ocehan dangkal seputar seks: siapa pewong siapa lekong, siapa nembak siapa ditembak. Memang tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi, please deh, cerdas sedikit masa tidak bisa. Seolah kehidupan gay seputar selangkangan belaka. Lebih parah lagi, banyak yang melihat aktivitas gay terkait jual-beli tubuh. Saya benar-benar marah, ngamuk, mencak-mencak, ketika seorang karib bicara dengan enteng,”Kon dibayar piro sekali ngencuk?” (Kamu dibayar berapa sekali ML?) Saya dendam sebulan lamanya. Sebagai kawan dekat, saya merasa dilecehkan. Karib mengiba maaf. Oke, saya maafkan. Tapi, jangan memandang rendah saya atau gay lain.

Saya selalu bilang pada kawan hetero,”Saya suka lelaki atau perempuan tak merubah pribadi Antok Serean yang kamu kenal. Saya tetap suka membaca, menulis, melamun, dan cangkruk di warung kopi.” Pada kenyataannya, saya menerima perlakuan berbeda. Ketika pacaran dengan perempuan, mereka bersorak-sorak bergembira. Sebaliknya, ketika saya pacaran dengan lelaki, mereka menjaga jarak, seolah orang asing. Entahlah. Barangkali ini harga yang harus saya bayar demi nilai kejujuran. Menantang mainstream memang berat. Tapi, itu jalan yang saya pilih, lengkap dengan resikonya—banyak kawan dekat tak lagi mau kenal, terlebih setelah saya aktif di GAYa NUSANTARA—. Kalau sudah begitu, saya bakar semangat dengan baca ulang buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

Meski masih dalam suasana kasmaran, tapi tampuk kesadaran saya tetap mengeja kefanaan hidup. Pertemuan dan perpisahan, kelahiran dan kematian, bak dua sisi mata uang. Kita tak bisa merenggut salah satunya. Bagi saya, titik beratnya bukan pada dua sisi itu, tapi proses di dalamnya. Setiap percintaan adalah kesempatan. Kesempatan menuai pengalaman. Bukankan hidup melaju dari rangkaian pengalaman demi pengalaman? Ada masanya kesempatan itu terhenti dan perpisahan terjadi. Bisa dengan akhir biasa-biasa saja: masing-masing merasa cukup lalu melanjutkan kehidupan sendiri—saya suka perpisahan indah ala Dee dan Marcel—. Bisa juga dengan dramaturgi klise: pertengkaran, perselingkuhan, salah satu menikah dengan perempuan, atau kematian. Saya tidak kenal kata putus, saya memilih kata pisah. Sebab kebersamaan bisa dilanjutkan dengan pola berbeda: sebagai kawan, sahabat, atau saudara. Kebencian pada orang lain hanya menjadi racun yang membunuh diri sendiri. Tebarkan cinta, hidup akan lebih berwarna.

Dua bulan: satu bulan pendekatan, satu bulan pacaran. Saya tidak suka harapan. Saya lakukan yang terbaik sekarang. Adik tersayang bertanya,”Sampai kapan, Mas?” Saya jawab,”Tidak tahu.” Jujur, saya tidak tahu yang akan terjadi nanti, bahkan esok hari. Nanti biar jadi misteri. Detik ini berarti detik ini. Sebisa mungkin saya isi dengan pengalaman indah. Sebab keindahan selalu memberi kekuatan. Apabila saya tengok kenangan yang terlewat, tercipta senyum anggun. Betapa hidup, dengan caranya yang tak terduga telah mengajarkan makna. Tak perlu hidup seribu tahun, dua bulan saja pemahaman itu terhampar begitu nyata. Dan saya akan terus mencipta keindahan dari kesempatan yang ada sekarang. Sampai suatu saat perpisahan itu terjadi.

Sekali lagi, kenangan indah memberi kekuatan. Masa yang terlewat, yang tak terengkuh kembali, kekal dalam diri. Persis kristal kenangan karaoke di NAV, kilaunya masih memancar sampai sekarang. Berdua, duet lagu Mayangsari: Rasa Cintaku. Tak ada sesiapa di dunia, hanya saya dan dia, berteriak di tengah malam buta, agar semesta mencatat cinta yang membuncah di dada:

Jangan jangan aku takut mendengar

Kuingin selalu, selamanya denganmu

Hanya engkau saja satu­satunya

Tempat kubersandar di dalam dunia

Hanya padamu, kuserahkan cintaku

cerita dikutip dari gerakan-gay.blogspot.com

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 22 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: