Advertisements

Infos

This tag is associated with 11 posts

Terapi membantu penerimaan diri cuma-cuma bagi LGBT a la Sekartaji Ayuwangi

Sekartaji Ayuwangi, terapis (ditengah memakai baju hijau) Sumber : jogjanews.com

Sekartaji Ayuwangi, terapis (ditengah memakai baju hijau)
Sumber : jogjanews.com

Seorang praktisi terapi kejiwaan di Yogyakarta, Sekartaji Ayuwangi memberikan terapi cuma-cuma seminggu sekali kepada LGBT. Hal itu ia lakukan seiring posisi mereka yang tidak diterima sepenuhnya oleh lingkungan.

Ia berkata bahwa, terapi  sangat diperlukan agar para LGBT tidak terpuruk, padal sebenarnya mereka memiliki potensi masing-masing. Ia menjelaskan bahwa dengan detox emosi negatif dan self development terhadap penerimaan diri akan menjadikan mereka pribadi yang unggul.

“Dengan detox emosi negatif dan self development terhadap penerimaan diri, akan mentransformasikan mereka menjadi pribadi unggul yang fokus pada pengembangan potensi diri bagi kehdupan yang lebih baik,” kata Sekartaji Senin (21/3/2016).

Ia menambahkan bahwa stigma negatif ynag memojokkan bisa jadi sudah diterima sejak kecil hingga kini. Hal tersebut dapat melahirkan luka batin, stress, trauma sehingga menjauhkan mereka pada diri sendiri.

“Dapat melahirkan luka batin, stres, trauma sehingga justru menjauhkan mereka pada diri sendiri,” ujarnya.

Menurutnya ada beberapa faktor pemicu perilaku LGBT yang ia rangkum dai berbagai pakar.

Pertama,faktor fisiologis atau biologis.

Kedua, faktor psikodinamika yakni cenderung pada ganguan perkembangan psikoseksual sejak anak-anak.

Ketiga, faktor sosiokultur, misal berupa adat istiadat atau tradisi. “Di Indonesia seperti bissu di Makasssar, atau gemblak di Ponorogo,” ujar dia.

Faktor keempat adalah lingkungan yang memicu penyimpangan seksual. Ini bisa terjadi pada manusia yang terisolasi, semisal di penjara. *

Terkait istilah penyimpangan seksual, Sekartaji berpendapat bahwa hal itu lebih tepat untuk menjelaskan perilaku seseorang yang melakukan intimidasi seksual pada orang lain.

“Banyak juga pelaku heteroseksual yang melakukan penyimpangaan,” tandas Sekartaji.

***

*dalam kasus perilaku seksual sesama jenis yang terjadi dipenjara, berdasarkan beberapa testimony para pelaku, mereka melakukannya karena dorongan seksual mereka yang tidak tersalurkan dan tidak ada opsi lainnya. Mereka tidak pernah mengategorikan diri mereka homoseksual walaupun pernah melakukan hubungan seksual sesama jenis. Setelah keluar dari penjara mereka sepenuhnya berhubungan dengan wanita.

Baca juga : Penyebab-penyebab anggapan bahwa orang bisa tertular LGBT

 

Sumber: Liputan6.com

Advertisements

10 Negara paling ramah dengan Gay dan Lesbian

Ilustrasi Sumber: quiliky.com

Ilustrasi
Sumber: quiliky.com

Berdasarkan survey yang dilakukan Gallup tahun 2014 yang dilakukan dengan koresponden dari 124 negara, (Perusahaan Riset yang berbasis di Amerika Serikat) mengeluarkan daftar negara-negara paling ramah dengan Homoseksual -Gay dan Lesbian-.

Para responden disodorkan pertanyaan, “Apakah kota atau tempat Anda tinggal adalah tempat tinggal yang bagus untuk para Gay dan Lesbian?”

Is the city/area where you live a good place to live for gay and lesbian people.

87 persen orang di Belanda dan Spanyol mengatakan Iya. Kanada menyusul dengan angka 84%. Pada dasarnya negara-negara di Eropa menduduki tempat-tempat dengan nilai paling banyak.

Data-data diperoleh dari wawancara secara langsung dan melalui telefon dengan 1000 koresponden dewasa mulai dari umur 15 tahun. Sayang sekali survei ini tidak dilakukan di lebih dari 24 negara termasuk China, Saudi Arabia, Iran, Mesir, Malaysia, serta beberapa negara di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Ilustrasi Sumber : chron.com

Ilustrasi
Sumber : chron.com

Berikut Negara-Negara paling ramah dengan Gay dan Lesbian, versi Gallup: gallup survey 2014

  1. Belanda
  2. Spanyol
  3. Kanada
  4. Belgia
  5. Norwegia
  6. Luxembourg
  7. Uruguay
  8. Swedia
  9. Irlandia
  10. Inggris

Tentu saja saat ini, hasil survei ini mungkin tidak mewakili keadaan tahun 2015 karena belum adanya survei  terbaru.  Apalagi setelah dilegalkannya pernikahan sesama jenis serentak di Negara-negara Bagian di Amerika Serikat. Tetapi data ini bisa dijadikan bahan acuan.

Baca juga : Negara-negara di dunia yang melegalkan pernikahan sesama jenis

 

gallop statictic

 

Sementara Planet Romeo, sebuah situs daring yang diperuntukkan untuk para gay berbasis di Belanda, bekerja sama dengan Johannes Gutenberg University of Mainz di Jerman mengeluarkan laporan hasil survei mereka pada Mei 2015 yang berjudul Indeks Kebahagiaan Gay. Survei ini  berbasis opini publik, perilaku dan kepuasan hidup, khususnya bagaimana perasaan para gay tentang pandangan masyarakat terhadap homoseksualitas, bagaimana mereka diperlakukan, seberapa puas kah mereka dengan hidup mereka. Survei tersebut dilakukan terhadap 115.000 gay di di dunia.

Berikut Negara-Negara di mana para Gay merasa paling bahagia versi Planet Romeo dan Johannes Gutenberg University of Mainz, Jerman:

  1. Islandia
  2. Norwegia
  3. Swedia
  4. Uruguay
  5. Kanada
  6. Israel
  7. Belanda
  8. Swiss
  9. Luxembourg, di mana Perdana Menterinya  melakukan pernikahan sesama jenis dengan pasangannya awal Mei 2015
  10. Selandia Baru

Klik Peta di bawah untuk melihat  hasil detailnya

gay happiness index by planet romeo

 

sumber: independent.co.uk Gallup advocate.com Planet romeo

KTP untuk Waria

Forum Komunitas Waria Indonesia (FKWI) akhirnya membuat kartu pengenal identitas para waria. Ini disebabkan oleh keberadaan waria masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan status mereka belum diakui negara.

Hal ini ditegaskan oleh Mami Yuli selaku ketua FKWI. “Ini bisa membantu mereka dalam hal apapun. Jadi ada yang bisa dihubungi,” ujar Mami Yuli, disela peluncuran sticker untuk sebuah aplikasi perpesanan di Jakarta, Rabu (6/1/2016).

Mami Yuli sumber foto : suarakita.org

Mami Yuli
sumber foto : suarakita.org

Selama ini selalu terjadi diskriminasi kepada waria oleh masyarakat, apabila mereka sakit ataupun meninggal, masyarakat menyerahkannya kepada kepolisian atau ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Kondisi paling miris adalah ketika seorang waria meninggal dunia dan diserahkan kepada polisi, maka akan dikuburkan secara massal, disebabkan mereka tidak memiliki identitas.

Mami Yuli menambahkan “Dengan adanya kartu pengenal bisa membantu para waria menunjukkan identitas dan keberadaan tempat tinggal waria, sehingga masyarakat bisa memberikan informasi terkait waria tersebut.”

Menurut satu satunya di Indonesia waria yang menyandang gelar master Program Studi Hukum Pidana ini, semua masyarakat memiliki hak yang sama seperti yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Bahkan menurut Mami Yuli UU tersebut harus mendukung setiap orang termasuk waria untuk mendapat hak yang sama, seperti mendapatkan fasilitas layanan publik dari negara. “KTP, KK, dan SIM seharusnya ada jenis kelamin khusus.” terangnya.

dikutip dari suara.org

 

Pusat Informasi Isu Gender, Seksualitas, dan Kesehatan Reproduksi di UI.

Logo SGRC-UI sumber foto : suarakita.org

Logo SGRC-UI
sumber foto : suarakita.org

Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Universitas Indonesia (SGRC UI) adalah organisasi mahasiswa di Universitas Indonesia yang bergerak pada bidang kajian pemikiran. Organisasi ini mengupayakan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai permasalahan gender dan seksualitas melalui seminar, diskusi, dan berbagai kegiatan lain.

21 Januari 2016, Humas UI menyatakan bahwa SGRC UI tidak memiliki izin resmi sebagai Pusat Studi/Unit Kegiatan Mahasiswa/Organisasi Kemahasiswaan baik di tingkat Fakultas maupun UI. Untuk itu, dengan tegas UI menyatakan SGRC tidak berhak menggunakan nama dan logo UI pada segala bentuk aktivitasnya. Menjawab pernyataan Humas UI tersebut, SGRC UI mengeluarkan pernyataan sebagai berikut

LGBT Peer Support Network gagasan SGRC-UI dan Melela.org merupakan layanan konseling bagi teman-teman yang ingin tahu lebih banyak tentang LGBT. Konselor kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait isu LGBT, sekaligus menjadi teman cerita bagi individu yang sedang melewati masa sulit. Kegiatan konseling ini bertujuan untuk mencerdaskan publik, sekaligus sebagai coping mechanism bagi teman-teman yang merasa tertekan karena preferensi seksual yang berbeda. Kegiatan konseling kami tidak memiliki muatan politik, dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan juga kami sajikan dalam berbagai perspektif.

Nadya Karima Melati, Koordinator SGRC-UI menuturkan, menolak anggapan beberapa pihak (yang belum mengerti konseling itu apa) yang menganggap bahwa konseling yang SGRC-UI lakukan akan mengarahkan individu untuk menjadi LGBT. “Anggapan tersebut salah, karena kami meyakini bahwa seksualitas merupakan hak individu, dan tugas kami hanya memberikan pengetahuan terkait isu tersebut. Terkait permasalahan dengan pihak Humas UI, saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung kami melalui hashtag #DukungSGRCUI.”

Pihak Humas UI melalui pernyataan resminya mempermasalahkan penggunaan nama dan makara UI pada logo SGRC-UI. Tidak ada pencekalan atau pembubaran, jadi teman-teman tidak usah terlalu panik. Kami berpendapat, pihak Humas UI sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, dan bersikap sangat kooperatif selama dua tahun SGRC-UI berdiri. “Seminar kami tentang pencegahan kekerasan seksual di kampus pernah dimuat dan dipublikasikan oleh Humas UI melalui halaman web resmi mereka. Permasalahan mengenai kenapa SGRC-UI menggunakan nama dan makara akan dijelaskan dalam pernyataan berikutnya. Semoga permasalahan nama dan makara ini dapat segera diselesaikan dan hubungan SGRC-UI dan Humas-UI bisa kembali harmonis seperti dulu,” tutur Nadya.

Mengenai alasan mengapa SGRC-UI menggunakan nama dan makara UI, akan dijelaskan dalam poin-poin berikut:

  1. SGRC-UI adalah komunitas/kelompok kajian yang dibangun secara otonom, sama seperti kelompok kajian lainnya.
  2. SGRC-UI bukan komunitas kencan atau tempat mencari jodoh bagi kelompok LGBT, SGRC-UI merupakan kelompok kajian yang membahas isu gender dan seksualitas secara luas. Feminisme, hak tubuh, patriarki, gerakan pria, buruh dan wanita, kesehatan reproduksi, serta isu-isu lain yang terkait dengan gender dan seksualitas merupakan fokus kajian kami. Kami menolak jika lokus kajian SGRC-UI yang sangat luas dikerdilkan dengan menyebut SGRC-UI sebagai komunitas LGBT.
  3. Kelompok kajian SGRC-UI memiliki struktur organisasi yang jelas, mission statement, dan timeline kegiatan. Semua dapat diakses di wordpress.com.
  4. Kami bukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan tidak berencana untuk menjadi UKM.
  5. Pendiri dan anggota SGRC-UI merupakan mahasiswa, alumni, serta dosen dari Universitas Indonesia. Kegiatan kami juga berbasis di wilayah kampus Universitas Indonesia. Poin inilah yang menjelaskan kenapa kami menggunakan UI di dalam nama komunitas kami.

“Kami sangat berterima kasih kepada teman-teman yang telah mencurahkan perhatiannya kepada kami, baik dalam bentuk sentimen positif, maupun negatif. Kedepannya kami akan melakukan diskusi dengan pihak humas UI terkait penggunaan nama dan makara. Namun satu hal yang pasti, misi kami untuk menyediakan tempat dan pusat informasi bagi akademisi UI yang ingin mengetahui isu-isu terkait gender, seksualitas, dan kesehatan reproduksi,” pungkas Nadya.

dikutip dari suarakita.org.

Apa itu VCT (Voluntary Counseling dan Testing)

sumber foto : lifestyle.okezone.com

sumber foto : lifestyle.okezone.com

Secara harfiah artinya adalah Tes dan Konseling sukarela. Tetapi ini adalah kegiatan konseling bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan oleh seorang konselor VCT yang terlatih, yang dilakukan sebelum dan sesudah test darah untuk HIV di laboratorium. Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih dulu menandatangani inform consent (surat persetujuan tindakan)

VCT ini penting untuk dapat mengakses ke semua layanan yang dibutuhkan terkait pencegahan dan pengobatan HIV, AIDS, juga karena memberikan dukungan untuk kebutuhan kliennya seperti perubahan perilaku, dukungan mental, dukungan terapi ARV, dan pemahaman yang benar dan faktual tentang HIV, AIDS.

VCT bisa didapat di tempat layanan kesehatan atau klinik yang menyediakan layanan VCT, puskesmas, dan RS.

VCT ini dibutuhkan oleh semua orang yang ingin melakukan tes HIV dan untuk orang yang pernah melakukan tindakan maupun perilaku beresiko terjagkit HIV seperti aktifitas seksual, tindik tatoo, konsumsi narkoba melalui jarum suntik dan salin lain dan ingin melakukan sesuatu untuk masa depannya.

Ayo, teman-teman kabar LGBT, harus berani melakukan VCT ya, demi masa depan yang sehat dan stressfree.

dikutip dari aids-ina.org

HIV/AIDS memiliki dampak besar pada penderita, keluarganya, dan masyarakat. Pencegahan penyebaran infeksi dapat diupayakan melalui peningkatan akses perawatan dan dukungan pada penderita dan keluarganya. Voluntary Conseling and Testing (VCT) adalah salah satu bentuk upaya tersebut. VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV.
Dalam tahapan VCT, konseling dilakukan dua kali yaitu sebelum dan sesudah tes HIV. Pada tahap pre konseling dilakukan pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahan dan periode jendela. Kemudian konselor melakukan penilaian klinis. Pada saat ini klien harus jujur menceritakan kegiatan yang beresiko HIV/AIDS seperti aktivitas seksual terakhir, menggunakan narkoba suntik, pernah menerima produk darah atau organ, dan sebagainya. Konseling pra testing memberikan pengetahuan tentang manfaat testing, pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang dihadapi.
Setelah tahap pre konseling, klien akan melakukan tes HIV. Pada saat melakukan tes, darah akan diambil secukupnya dan pemeriksaan darah ini bisa memakan waktu antara setengah jam sampai satu minggu tergantung metode tes darahnya. Dalam tes HIV, diagnosis didasarkan pada antibodi HIV yang ditemukan dalam darah. Tes antibodi HIV dapat dilakukan dengan tes ELISA, Westren Blot ataupun Rapid.
Setelah klien mengambil hasil tesnya, maka klien akan menjalani tahapan post konseling. Apabila hasil tes adalah negatif (tidak reaktif) klien belum tentu tidak memiliki HIV karena bisa saja klien masih dalam periode jendela, yaitu periode dimana orang yang bersangkutan sudah tertular HIV tapi antibodinya belum membentuk sistem kekebalan terhadap HIV. Klien dengan periode jendela ini sudah bisa menularkan HIV. Kewaspadaan akan periode jendela itu tergantung pada penilaian resiko pada pre konseling. Apabila klien mempunyai faktor resiko terkena HIV maka dianjurkan untuk melakukan tes kembali tiga bulan setelahnya. Selain itu, bersama dengan klien, konselor akan membantu merencanakan program perubahan perilaku.
Apabila pemeriksaan pertama hasil tesnya positif (reaktif) maka dilakukan pemeriksaan kedua dan ketiga dengan ketentuan beda sensitifitas dan spesifisitas pada reagen yang digunakan. Apabila tetap reaktif klien bebas mendiskusikan perasaannya dengan konselor. Konselor juga akan menginformasikan fasilitas untuk tindak lanjut dan dukungan. Misalnya, jika klien membutuhkan terapi ARV ataupun dukungan dari kelompok sebaya. Selain itu, konselor juga akan memberikan informasi tentang cara hidup sehat dan bagaimana agar tidak menularkannya ke orang lain.
Pemeriksaan dini terhadap HIV/AIDS perlu dilakukan untuk segera mendapat pertolongan kesehatan sesuai kebutuhan bagi mereka yang diidentifikasi terinfeksi karena HIV/AIDS belum ditemukan obatnya, dan cara penularannya pun sangat cepat. Memulai menjalani VCT tidaklah perlu merasa takut karena konseling dalam VCT dijamin kerahasiaannya dan tes ini merupakan suatu dialog antara klien dengan petugas kesehatan yang bertujuan agar orang tersebut mampu untuk menghadapi stress dan membuat keputusan sendiri sehubungan dengan HIV/AIDS.

dikutip dari prideindonesia.org

Tetap bisa hidup sehat walaupun terinfeksi HIV.

sumber foto : gueberani.cm

sumber foto : gueberani.cm

Kita tidak boleh capek memberi tahu kepada semua orang betapa pentingnya seks yang aman dan sehat. Sampai tahun 2014 sendiri, sudah 35,5 juta orang terjangkit HIV. Memang benar, sudah ada obat yang beredar yang bisa mengontrol HIV dan penderita bisa hidup sehat seperti orang lain. Tetapi tetap, bahaya HIV tidak akan hilang dan membahayakan bagi orang yang tidak tahu bahwa dia tertular HIV dan akhirnya berubah menjadi AIDS.

HIV tidak sama dengan AIDS

Bagi kalian yang merasa pernah melakukan hubungan intim yang tidak aman baik untuk kalangan heteroseksual maupun homoseksual, baik melalui vagina, oral maupun anal. Sekalipun hanya terjadi satu kali saja, harus berani untuk tes HIV. Karena ini penting, semakin cepat kalian tahu apakah kalian HIV positif atau tidak, semakin besar kemungkinan kalian bisa mengontrol dan bisa hidup wajar seperti orang lain.  Karena penyebab sampai berubah menjadi AIDS itu karena terlambatnya virus HIV terdeteksi.

Serta, berikanlah penerangan kepada siapapun tentang informasi bagaimana HIV bisa menular. Salah satu penyebab orang-orang berpikir dua kali untuk tes HIV karena stigma-stigma tentang HIV yang harus dihadapi. Sebagai contoh, banyak yang perpikir bahwa HIV dan AIDS menular lewat jabat tangan, saling pandang, pelukan dan lain-lain. Ini membuat orang yang tertular HIV dijauhi masyarakat dalam kehidupan sosialnya. Jadi bagi yang tidak terjangkit HIV pun bisa mempunyai andil besar dalam hal menghilangkan stigma-stigma yang salah tersebut, sehingga orang yang positif HIV dan AIDS pun bisa dengan normal berinteraksi dengan orang lain.

Untuk yang sudah tertular HIV, hal pertama yang musti ditanamkan adalah:

JANGAN PANIK. ikuti kata dokter dan banyak cari informas, selain dari dokter juga bisa dari  lembaga-lembaga yang membantu orang-orang dengan HIV. Ada obat yang harus dikonsumsi tiap hari untuk mengontrol virus tersebut, ada pula terapi dan IRV (Immune  Recovery Vitritis). Dan ini gratis.

HIDUP SEHAT, mulai biasakan menjalani pola hidup sehat, olah raga, makan makanan sehat, jaga stamina, tidur yang cukup agar terhindar dari penyakit. Karena penyakit apapun itu walaupun penyakit ringan, bisa membahayakan apalagi untuk yang sudah AIDS.

OBAT diminum RUTIN. minum obat secara rutin. Kalau perlu, buatlah di reminder dalam telefon genggam kalian. Ada beberapa obat yang diperuntukkan untuk orang yang positif HIV dan penderita AIDS, konsultasikan dengan dokter sehingga mendapatkan obat dengan efek samping yang paling kecil untuk kalian. Banyak orang yang sudah menkonsumsi obat dengan teratur, hasilnya menunjunkan bahwa virus HIV di dalam darah mereka bisa sampai level “tak terdeteksi”. Ini karena rendahnya kuantitas virus tersebut di dalam darah, semua berkat kerja obat tersebut.

KONTROL, kontrol yang rajin ke dokter. pastikan virus HIV terkontrol dan tidak menyerang bagian-bagian tubuh lainnya. Serta perlu diketahui, YOU ARE IN CONTROL dalam artian kalian adalah yang mempunyai kontrol penuh atas tubuh kalian, termasuk atas penyebaran virus HIV yang ada dalam tubuh kalian. Besar atau kecilnya virus dalam tubuh bisa kalian kontrol.

SEKS  yang AMAN. jika kalian melakukan hubungan seksual, lakukan dengan cara yang aman. Gunakan kondom.

MEREKA PERLU TAHU. akan lebih baik kalau bagi kalian yang sudah HIV positif memberi tahu semua orang yang sudah pernah berhubungan seks dengan kalian, agar mereka bisa tes. Agar yang sudah ikut tertular tahu dan tidak menularkan ke orang lain lagi, serta orang yang sudah menularkan kepada kalian dan ternyata mereka tidak tahu, menjadi tahu, sehingga tidak menularkan lebih jauh.

STILL LOVEABLE, jika kalian positif HIV, tidak berarti kalian tidak layak untuk disayangi dan mendapatkan kasih sayang dari pasangan. Pembawa virus HIV dan penderita AIDS tetap bisa menjalani kehidupan cintanya seperti biasa selama dia in-control.

Untuk teman-teman yang menginginkan informasi tentang HIV dan AIDS bisa merujuk ke organisasi bernama GUE BERANI di situs http://www.gueberani.com

Kutipan dari akun facebook gue berani:

” Buat loe yang butuh layanan medis (Tes HIV, pengobatan IMS, dll), bisa hubungi via BBM 56B89593 ke Procare Klinik PKBI DKI Jakarta atau telepon (021-856 6535) pada hari kerja. loe akan dilayani oleh tenaga medis dan dokter yang ahli dan yang pasti ramah.
Jam Layanan Senin – Jumat jam 09.00 – 16.00WIB
Alamatnya di Jalan Pisangan Baru Timur No. 2A Jatinegara.”

 

Seperti Garry Brough, dalam wawancara The Marianna Show,  yang tertular HIV dan tahu bahwa dia HIV positif pada tahun 1991, di mana, pada saat itu pengobatan dan penanganan belum secanggih sekarang. Pada tahun 1995, dia sudah menderita AIDS. Pada tahun 1997, dia memulai terapi AIDS dan sampai sekarang masih hidup sehat.

HIV adalah virus sedangkan AIDS adalah kumpulan penyakit-penyakit yang menjangkit terutama yang berhubungan dengan kekebalan tubuh menyebabkan tubuh tidak bisa memerangi infeksi dan penyakit-penyakit tersebut. AIDS sendiri bisa dicegah dengan pengobatan. Yang sering dibicarakan banyak praktisi medis atau pembicara-pembicara belakangan ini lebih tentang advance AIDS atau late AIDS. 

 

 

 

 

 

Coming-out dengan teman stright kalian

Bagus juga untuk disimak uraian yang ditulis Remy Linguini ini (salah satu akun di boyzforum)

Gue tahu rasanya memendam perasaan suka kepada cowok straight yang kamu sukai tapi kamu yakin rasa suka itu tidak akan mungkin terbalas karena dia hanya menganggapmu tak lebih dari seorang sahabat. Sering terlintas di benakmu untuk mengaku dan menyatakan cinta padanya walau mungkin dia akan ketakutan dan bahkan beresiko menjauh darimu. Hingga kamu lebih suka memendam perasaan daripada harus kehilangan sahabat yang diam-diam kamu kagumi. Tahukah kamu? mengakui kalau kau seorang gay pada sahabatmu (coming out) mungkin suatu langkah besar untuk move-on pada sebuah rasa cinta yang tak berbalas. Resiko bahwa reaksinya mungkin tidak seperti yang kamu harapkan memang tetap ada. Tapi menurut gue, jauh lebih sehat untuk mengakui kepada temanmu tentang orientasi seksualmu sebagai langkah penerimaan terhadap diri sendiri. Oke, kalau memang masih ragu, ada beberapa tips yang bisa gue bagi buat kamu yang ingin coming out kepada teman yang kamu sukai. Ini sudah gue praktekkan kepada beberapa sahabat terdekat gue dan terbukti mereka menerima keadaan gue apa adanya.

  1. Yakinkan bahwa teman cowok yang kamu suka memiliki sikap yang baik dan tidak berpotensi menyebarkan kondisimu sebagai gay. Terutama kalau kamu belum siap mendeklarasikan orientasi seksual kamu kepada semua orang.

  2. Jangan termehek-mehek. Kalau hendak come-out atau mengaku, lakukan dengan tegas dan elegan. Jangan merengek dan terlihat seolah-olah kau sangat mengharapkan cintamu akan berbalas.

  3. Berikan dia waktu. Bagaimanapun, pengakuanmu mungkin membuatnya seperti dijatuhi bom atom. Biarkan dia berpikir sejenak dan mencerna kondisi yang baru saja dia ketahui. Jangan langsung mengganggunya seolah semua berjalan seperti biasa. Yakinlah, jika dia memang seorang yang baik seperti yang kamu kira, dia akan memulai percakapan denganmu terlebih dahulu.

  4. Jangan jadi psikopat. Menanyakan dan memaksa si dia segera menerima keadaanmu cepat-cepat sama saja membuatmu terlihat seperti orang sakit jiwa. Ini akan membahayakan dirimu apalagi jika si dia telanjur mengenal gay dengan stereotype yang negatif.

sumber foto : ry.org.nz

sumber foto : ry.org.nz

  1. Tetap tunjukkan karakter sendiri. Tetap berkarya dan berprestasi serta menjadi dirimu sendiri dengan kualitasmu yang dia kenal selama ini. Jangan lebay di jejaring sosial dengan status-status curhat galau yang berhubungan dengan pengakuanmu padanya. Percayalah, kebanyakan cowo straight akan ilfeel melihat status-status seperti itu. Kamu tidak mau, kan? kalau sampai cowok yang kamu sukai itu jadi ilfeel?

  2. Siapkan diri dari bermacam pertanyaan seputar kaum gay. Mungkin si dia akan penasaran lebih kepada kenapa dirimu menjadi gay, bukan penasaran mengapa kamu menyukainya. Jawabanmu yang cerdas dan berwawasan akan membuatnya lebih bisa mengerti tentang kaum gay, khususnya dirimu.

  3. Bilanglah pada si dia kalau kamu tetap ingin berteman dengannya dan jangan membenci dirimu. Tak ada yang berubah. Tekankan padanya ini hanyalah proses kejujuran kepada seorang kawan yang kamu percayai. Bilang juga bahwa apapun keputusannya mengenai pertemanan kalian, kamu akan menerimanya dengan ikhlas.

  4. Dan terakhir, walau kemungkinannya sangat tipis, jika dia penasaran dan bertanya apakah hubungan sesama pria lebih nikmat daripada bercinta dengan lawan jenis, siapkan dirimu untuk ‘membimbingnya’ :))

Demikian tips dari gue, semoga bermanfaat. :D

Mengapa Saya GAY?

BETWEEN PRIDE AND PREJUDICE

“Guys, I’m gay..”

Mungkin 30 tahun lalu kata-kata ini terlarang untuk diucapkan bila kita mau diterima di lingkungan sosial. Tapi seiring perkembangan waktu, masyarakat mulai terbuka akan ide-ide dari berbagai arah, dan paradigma masyarakat pun mulai berubah, termasuk lebih berwawasan luas mengenai gay. Namun demikian, bukan berarti homoseks begitu saja diterima di masyarakat, bahkan tidak sedikit kelompok melakukan perlawanan. Memang norma agama dan norma sosial umum di Indonesia masih membatasi penerimaan kita oleh seluruh masyarakat, namun penting untuk kita pahami, apakah sebenarnya yang dimaksud homoseks tersebut, dan apa artinya keberadaan kita sebagai salah satu darinya.

Apakah gay itu kelainan?

“I don’t believe I’m any different from straight people. My wants and needs are the same as theirs. I don’t look at sexual orientation as that big of a deal. It’s just an orientation.” – Chastity Bono

Homoseks sering dianggap sebagai “penyimpangan” atau “kelainan” seksual. Banyak pihak mengarahkan penentangan mereka berdasar anggapan tersebut. Bahkan, banyak diantara gay sendiri menyebut dirinya dengan istilah “sakit”, entah sebagai lelucon atau sebagai expresi kebencian diri. Namun, apakah anggapan itu tepat?

Untuk itu kita harus memahami dulu yang disebut ‘orientasi seksual’. Orientasi seksual, adalah ketertarikan emosional, romantik, seksual, atau rasa sayang yang bertahan lama terhadap orang lain. Orang yang tertarik pada sesama jenis disebut homoseks (gay, untuk wanita juga disebut lesbian), dan orang yang tertarik pada lain jenis disebut heteroseks (straight). Tapi, orientasi seksual itu tidak hitam-putih, melainkan terentang antara kondisi “100% homoseks” sampai “100% heteroseks” dan di antaranya ada “biseks” yang kadarnya bermacam-macam.

Walau homoseks murni adalah minoritas, perlu dicatat bahwa secara biologis, orientasi homoseks dan heteroseks sama saja “normal”nya. Jadi keberadaan homoseks bukan kelainan, dan bukan penyimpangan, melainkan sesuatu yang wajar dan lumrah. Prosentase masing-masing dalam sekelompok manusia hampir selalu sama. Tidak ada bangsa yang ‘banyak’ homoseksnya, dan tidak ada bangsa yang ‘bebas’ dari homoseks. Gay dan lesbian berada di mana-mana dan dalam semua lapisan masyarakat. Di Indonesia, menurut salah satu survey online baru-baru ini, jumlah homoseks mungkin mencapai hampir 10% dari masyarakat ( silakan liat hasilnya di sini).

Perlu diingat bahwa orientasi seksual tidak berubah sepanjang hidup. Orientasi seksual ini juga tidak otomatis berarti perilaku seksual, karena orientasi seksual hanya mencakup perasaan dan kesadaran diri. Dalam perilakunya, seseorang bisa saja mewujudkan atau tidak mewujudkan orientasi seksual mereka. Jadi seorang gay bisa saja memilih menikah dengan wanita, dan seorang straight bisa saja berhubungan seks dengan sesama jenis, tapi itu tidak merubah orientasi seksual dasar mereka.

Kemudian, sama layaknya heteroseks, homoseks tidak tertarik pada sembarang orang. Homoseksual memang tertarik pada sesama jenis, namun jenis hubungan yang terjalin tidak berbeda dengan hubungan kaum heteroseksual, misalkan komitmen emosional, saling ketergantungan dan keinginan untuk bersama selamanya.

Apakah gay itu penyakit?

A big NO, sekali lagi NO. Psikolog, psikiater, dan ahli kejiwaan yang lain sepakat bahwa homseksualitas bukan penyakit, kelainan mental, atau masalah kejiwaan.

Anggapan palsu banwa homoseks adalah penyakit, menuju ke pertanyaan paling yang tidak logis: dapatkah homoseksual disembuhkan? Jawaban saya: bisakah anda coba berjalan dengan tangan? Sama tidak mungkinnya. Orientasi seksual ini terlalu mendasar dalam diri kita untuk dapat diubah. Mustahil untuk merubah homoseks menjadi seorang heteroseks, atau kebalikannya.

Menganggap gay adalah penyakit, ibarat menganggap rambut pirang adalah penyakit. Dari seluruh manusia, kebanyakan berambut hitam. Hanya sedikit yang berambut pirang. Tapi tidak lalu berarti orang berambut pirang itu “sakit”, dan memang tidak bisa dan tidak perlu “disembuhkan”!

Mungkin ada yang dengar metode-metode psikiatri yang melibatkan hipnotis dan metode cuci otak, bahkan metode elektro-shock yang ekstrim. Banyak terapis yang mengaku berhasil, namun penelitian lebih lanjut terhadap laporan tersebut menimbulkan keraguan, karena klaim tesebut ternyata berasal dari organisasi yang mengutuk homoseksual. Bahkan ada yang mengaku bahwa mereka diubah melalui doa atau agama. Ya deh, kalau yang satu ini lebih baik saya tidak komentar.

Mengapa saya gay?

Nah, kini saatnya membahas beberapa hal yang menjadi sumber prasangka buruk masyarakat terhadap kaum homoseksual.

“Kenapa kamu menganggap diri gay?”
– wow, sungguh pertanyaan yang menuduh seakan-akan orang tersebut menyesatkan dirinya sendiri. Pertanyaan ini pada dasarnya sudah salah. Seorang gay tidak “menganggap” bahwa dirinya adalah gay, melainkan dia “mengetahui” dan “menyadari” bahwa dia adalah gay. Seorang gay mengenali perasaannya sendiri bahwa dia tertarik terhadap sesama jenis.

“Kenapa kamu memilih menjadi gay?”
– pertanyaan ini mengingatkan pada wawancara Justin Bieber di majalah Rolling Stone: “Being gay is a decision. It’s everyone’s own decision to do that…” – wow, kiddo, sungguh pernyataan yang aneh! Tidak ada seorang pun yang pernah memilih menjadi homoseksual. Kita tidak bisa memilih menjadi gay, lesbian, biseks, atau straight. Sudah terbukti secara ilmiah bahwa orientasi seksual itu terbentuk pada masa kecil, paling tidak pada masa akil balig, tanpa didahului pengalaman seksual, bahkan bisa dibilang bawaan lahir. Hal ini sudah diterima sebagai fakta dalam bidang ilmiah, psikiatri dan kedokteran. So yes, we were born this way! Terserah pada pribadi masing-masing untuk mengikuti atau menekan orientasi seksual kita.

“Kalau begitu, apa sebabnya orang jadi gay?”
– maksud pertanyaan ini adalah, mengapa orientasi seksual seseorang bisa berupa ketertarikan pada sesama jenis? Wah, terus terang, saat ini, tidak ada yang tahu pasti apa alasan sesungguhnya. Banyak teorinya. Yang pasti, sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa orientasi seksual disebabkan oleh interaksi yang kompleks antara faktor lingkungan, kognitif dan faktor biologis (genetis dan hormonal).

Selama sejarah dunia psikiatri, banyak berkembang teori-teori yang mencoba menjelaskan, apa yang membuat seseorang menjadi homoseks. Mana yang mitos, mana yang fakta? Banyak orang mengajukan pendapat yang berbeda-beda, dan bahkan suatu forum terbesar di Indonesia mencoba mendebat teori-teori yang ada (silakan liat thread forumnya di sini).

  1. Akibat genetika?
    Telah ditemukan bukti bahwa hal ini dapat disebabkan karena perubahan genetika. Sebagai contoh, ditemukan bahwa jika seorang anak adalah gay, maka kakaknya mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menjadi seorang homoseks juga. Seorang kembar identik mempunyai kemungkinan yang sangat tinggi (50%) untuk mempunyai saudara yang juga homoseks. Pada riset yang dilakukan oleh Dean Hamer di Amerika Serikat, ditemukan tanda genetika di daerah Xq28 dari kromosom X yang berhubungan erat dengan orientasi homoseksual. Hal ini membuktikan bahwa orientasi homoseksual mempunyai komponen genetika. (Mungkin benar. But, I’m not saying it’s God’s plan to make someone gay. All I know is, I was gay, even before I had sexual experience…)

  2. Akibat biologis lainnya?
    Bukti-bukti lainnya juga didapatkan dari faktor hormonal pada saat pembentukan janin. Bukti-bukti yang sementara berlaku adalah struktur otak orang homoseks berbeda dari orang heteroseks, dan perbedaan dalam bentuk struktur otak ini disebabkan oleh perkembangan otak semasa perkembangan janin. Bukti utama dari perbedaan perkembangan otak ini diakibatan oleh keseimbangan hormon si ibu hamil yang berpengaruh pada keseimbangan hormon si janin. ( Saya nggak bermaksud menyalahkan ibu saya yang sudah mengandung saya lho, tapi somehow it makes sense…)

  3. Lingkungan masa kecil?
    Sebagian orang menganggap pengasuhan atau lingkungan masa kecil adalah salah satu faktor penyebab homoseks, tetapi ini tidak terbukti sama sekali. Orang-orang cenderung memunculkan dua ide kuno di bawah ini:

a. Ayah yang jauh, ibu yang dominan? Para peneliti yang serius mendalami homoseksualitas menyatakan anggapan ini adalah salah sama sekali, dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ini sebenarnya hanya suatu prasangka, yang menyatakan bahwa pria gay cenderung kewanita-wanitaan karena pengaruh ibu mereka yang sangat dominan, sementara sang ayah yang diharapkan berperan sebagai contoh tidak berfungsi. Hal ini sangat bertolak belakang dari hasil penyelidikan yang didapat. Banyak pria gay yang sama maskulinnya dengan pria normal.

b. Penganiayaan/ pelecehan seksual waktu masa kecil? Lagi-lagi sebuah ide yang juga tanpa data-data yang mendukung. Hal ini diakibatkan dari anggapan yang salah bahwai orang heteroseks dapat “berubah” menjadi homoseks melalui pelecehan seksual yang mereka derita, atau melalui hubungan dengan kaum homoseks yang mereka alami pada masa kecil. Menurut psikiater, teori ini hanyalah anggapan yang tidak berdasar, karena orientasi seksual tidak berubah karena pengalaman seksual.

Nyatanya, kebanyakan homoseks (termasuk saya sendiri) lahir dan besar di lingkungan keluarga yang bahagia, dengan penuh kasih sayang dari kedua orangtua, dan juga tidak mengalami pelecehan seksual waktu kecil. Mengapa saya tidak straight?

  1. Bergaul dengan kaum homoseks?
    Ada anggapan, jika bergaul dengan gay, seseorang akan terpengaruh agar jadi gay juga. Ini juga mitos, karena orientasi seksual seseorang tidak dapat diubah! Seorang heteroseks tidak langsung berubah menjadi homoseks bahkan jika ia bergaul dengan kaum homoseks. Jangankan orang dewasa, bahkan anak-anak atau remaja tidak bisa langsung berubah menjadi seorang gay atau lesbian hanya karena mereka bergaul dengan homoseks dewasa. Anak-anak yang diangkat dan diasuh oleh pasangan sesama jenis pun normal saja (dalam pengertian, tidak terpengaruh orientasi seksualnya).

Pengamatan saya, faktor-faktor lingkungan seperti pergaulan dan pengasuhan ini, biasanya muncul sebagai pembenaran orang-orang yang berusaha menyangkal dirinya adalah homoseks. Ada yang menyalahkan pengasuhan ayah-ibunya, atau berpikir bahwa mereka pernah mengalami pelecehan seksual ataupun menyalahkan kaum homoseks yang sudah ”merubah” mereka menjadi homoseks. Dan teori-teori mengenai “menjadi homoseks karena lingkungan yang salah, atau karena trauma masa lalu” inilah yang menyebabkan munculnya suatu ide konyol: homoseksual adalah “penyakit” dan dapat “disembuhkan”.

Beberapa orang merancukan gay dengan free sex, pelecehan seksual, pelacuran atau bentuk amoralitas lainnya. Ini jelas salah kaprah. Perlu digarisbawahi, bahwa orientasi seksual seseorang itu biologis semata, dan tidak langsung mendikte moralitas atau nilai budaya yang dianutnya. “Gay” tidak sama dengan “rusak” – itu pencitraan buruk yang tidak mendasar. Kaum homoseks kebanyakan adalah warga biasa yang terhormat dan berguna bagi masyarakat, bahkan tidak sedikit yang punya bakat hebat dan prestasi tinggi.

Coming Out

Setelah kita membahas hal-hal mendasar tentang homoseks, sekarang kita bahas bagian yang bagi sebagian besar merupakan tahap yang paling mendebarkan. Coming out. Telling the world who truly we are. Mungkin buat para straight, mereka memandang aneh tentang gay/lesbian yang coming out. Aneh dan tidak tahu malu. Pandangan ini yang harus diubah. Proses coming out bukanlah sekedar ajang pamer bahwa kita itu super pede dan berani ngelawan aturan, makna coming out lebih dalam daripada itu.

Ingat Kurt di serial “Glee” dan Justin di serial “Queer as Folk” dan banyak karakter lainnya di film bertemakan gay yang mengalami tekanan bertubi-tubi setelah dia mencoba coming out? Atau karakter “closeted gay” seperti David Karofsky yang merasakan betapa tertekannya dia menyangkal dirinya sendiri? Bagi sebagian gay/lesbi dan biseks proses membuka diri ini super sulit. Seringkali mereka merasa inferior, merasa berbeda, feeling weird dan merasa bersalah ketika meyadari bahwa orientasi seksual mereka berbeda dari norma-norma yang berlaku di masyarakat. Belum lagi masalah tekanan sosial, seperti pengucilan sosial, bullying/kekerasan fisik dan diskriminasi lainnya. Bahkan penelitian di California membuktikan pada pertengahan 1990an menunjukkan hampir seperlima lesbian yang berpartisipasi dalam studi tersebutdan seperempat gay yang diteliti telah menjadi korban hate crime karena orientasi seksual mereka. Sangat berisiko.

Proses coming out adalah tahap pengakuan diri, bahwa kita mengakui bahwa kita memiliki sesuatu yang berbeda dan proses memahami diri sendiri, mencintai diri sendiri apa adanya, membebaskan diri sendiri dari perasaan berasalah, bahkan bagi beberapa orang adalah proses memaafkan diri sendiri. Coming out timbul dari kebutuhan untuk dihargai apa adanya diri mereka dan tidak hidup dalam kemunafikan. I’m not saying that you should do parade on the street wearing banner saying “I’m gay, so what?” Coming out lebih ke arah jujur kepada orang lain tentang keadaan yang sebenarnya tentang dirinya, karena kejujuran adalah sebuah dasar dalam menjalin hubungan keluarga dan persahabatan.

Bahkan menurut saya, inti proses coming out itu adalah penerimaan kita terhadap diri kita sendiri. Dengan berdamai dengan segala kekurangan, bebas dari rasa malu terhadap diri sendiri, kita telah bebas, melihat diri kita setara seperti orang lain, bukan seorang yang selalu direndahkan karena orientasi seksualnya.

Namun tantangan proses coming out bukan hanya dari internal diri sendiri, namun juga tekanan dari para “homophobes”/pembenci gay. Ancaman mental, tekanan sosial bahkan kekerasan fisik mungkin akan dilayangkan oleh mereka. Sesungguhnya, kebanyakan orang menjadi homophobes karena ketidak tahuan mereka akan homoseksual dan ketakutan mereka akan kaum homoseksual memberikan pengaruh buruk bagi lingkungan dan keluarga mereka, somehow we’ll make them turn int gay. Mereka berprasangka buruk kepada kaum homoseksual karena kekurang tahuan mereka apakah sebenarnya homoseksual tersebut, mereka hanya mendapatkan pemahaman dari generasi sebelum-sebelum mereka, bahwa homoseksual harus diberantas. Banyak juga yang menganggap bahwa homoseksual itu hanya berisi hal-hal tentang seks terlarang (well, thanks to some of us, I don’t blame them). Inilah yang harus diluruskan oleh kita, bahwa kaum homoseksual itu bukan untuk diperangi, kita sama normalnya seperti mereka, hanya dengan orientasi seksual yang berbeda.

“Sure, in a lot of ways, I am just like you. I wanna be happy, I want some security, a little extra money in my pocket, but in many ways, my life is nothing like yours. Why should it be? Do we all have to have the same lives to have the same rights? I thought that diversity was what this country was all about. In the gay community, we have drag queens, leather daddies, trannies, and couples with children – every color of the rainbow. My mother’s standing way in the back with some friends. My friends. She once told me that people are like snowflakes; every one special and unique… and in the morning you have to shovel ’em off the driveway. But being different is what makes us all the same. It’s what makes us family.” – Michael Novotsky, Queer as Folk, 2008
dikutip darI boyzforum, ditulis oleh seseorang dengan akun superlove

Apa itu LGBT

Seperti yang kita tahu atau kebanyakan dari kita tahu LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Bahkan ada pula LGBTQ atau LGBTI, huruf Q untuk Queer dan I untuk interseks, nah loh. Selain nama-nama tersebut pasti kita juga pernah dengar istilah transeksual, shemale, transvestite, crossdresser, transman, transwoman dan drag queen Di negara indonesia sendiri juga banyak istilah untuk menyebut mereka, baik dalam bahasa indonesia atau bahasa daerah.

Sebelum membahas LbisexualGBT dan nama-nama yang mengikutinya, sebaiknya kita tahu terlebih dahulu perbedaan antara Gender atau kelamin dan orientasi seks. Kelamin atau gender pada umumnya dibedakan dalam 2 jenis yaitu laki-laki dan perempuan, walaupun ada manusia yang terlahir dengan kelamin ganda tetapi campur tangan medis biasanya akan memperjelas bentuk kelaminnya menjadi laki-laki atau perempuan seteleh melalui beberapa tes medis, walaupun sering sekali terjadi kekeliruan yangm enyebabkan orang tersebut mengalami gender disorder. Orientasi seksual sendiri adalah kecenderungan kesukaan seksual seseorang terhadap orang lain. Orientasi seksual dibedakan menjadi homoseksual (suka dengan sesama jenis kelamin), heteroseksual (suka dengan lawan jenis kelamin) dan Biseksual (suka dengan 2 jenis kelamin). Jadi sebenarnya ada perbedaan besar antara gender dan seksualitas. Ada yang bilang „gender is between your ears and sex is between your legs”. Spektrum seksualitas itu besar sekali, kadang sampai di luar nalar kita.

Secara medis sendiri para psikolog dan psikiater mempunyai buku panduan yang bernama Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) untuk menentukan kondisi kejiwaan seseorang termasuk didalamnya adalah perihal LGBT. Buku ini sendiri mempunyai beberapa perubahan-perubahan isi yang mana pada buku DSM edisi ke 3 menyatakan bahwa  LGB bukan merupakan kelainan mental. Buku DSM sendiri yang terbaru adalah edisi ke 5.

lesbianHomoseksualitas bisa dikategorikan menjadi dua yaitu Lesbian dan Gay. LESBIAN adalah orientasi seksual yang mana seorang perempuan mempunyai kesukaan seksual terhadap perempuan.

Sedangkan gayGAY adalah orientasi seksual yang mana seorang laki-laki mempunyai kesukaan terhadap laki-laki.  Sering kali julukan homo diberikan kepada para gay, padahal homo yang berasal dari kata homoseksual sebenarnya juga merupakan orientasi seksual para lesbian.

B untuk BISEKSUAL adalah sebuah orientasi seksual yang mana orang tersebut mempunyai kesukaan seksual terhadap 2 jenis kelamin, perempuan dan laki-laki. Saya sendiri masih percaya bahwa setiap manusia itu biseksual dengan kadarnya masing-masing.  Jadi Lesbian, Gay dan Biseksual adalah orientasi seksual.

transgender menTRANGENDER sendiri sebenarnya tidak mempunyai kategori yang sama seperti LGB yang merupakan orientasi seksual karena transgender adalah sebuah kelainan di mana seseorang merasa bahwa gender yang dia punya secara fisik tidak cocok dengan gender yang dia rasakan. Sering ada istilah „trapped in the wrong body” atau terperangkap dalam tubuh yang salah. Dalam transgender sendiri ada istilah transgender women atau transwoman dan transgender man atau transman. Transgender woman adalah istilah bagi seorang laki-laki yang sadar bahwa secara kejiwaan dia adalah seorang perempuan. Transgender man adalah istilah seorang perempuan yang sadar bahwa secara kejiwaan dia adalah seorang laki-laki. Sedangkan Transeksual adalah istilah untuk transgender baik laki-laki atau perempuan yang sudah mengubah kelamin mereka.

Q atau sering pula disebut GQ –GENDER QUEER– merupakan sebuah jenis gender yang lepas dari biner gender baik maskulin ataupun feminin. Bisa dibilang Seperti gender ke-3. Sedangkan huruf I untuk INTERSEKSUAL adalah kondisi yang mana seseorang terlahir dengan alat kelamin yang tidak sesuai dengan definisi khas perempuan atau laki-laki. Biasanya ada kelainan kromosom, yang mana kromosom seseorang baik laki-laki maupun perempuan tidak sama seperti pada kromosom seorang laki-laki atau perempuan pada umumnya, serta adanya ketaksaan alat kelamin mereka yang membuat mereka sulit untuk dikategorikan sebagai laki-laki atau perempaun. Sering pula dikaitkan dengan istilah hermaphrodites, tetapi ini sudah dihapuskan karena istilah hermaphrodites lebih mengacu pada pemahaman yang salah. Dalam interseks sendiri terdapat kompleksitas keadaan yang berbeda-beda.

SHEMALE adalah sebuah sebutan yang dalam bahasa indonesia bisa dipadankan dengan istilah waria. Jadi merupakan seorang transgender woman.

transgender

Banyak sekali orang salah mengartikan istilah berikut ini. TRANSVESTITE adalah istilah untuk seseorang yang suka dan secara sering mengenakan pakaian lawan jenis mereka. Kesukaan mereka ini membawa dorongan seksual tersendiri untuk mereka. Dalam transvestite sendiri spektrum seks mereka luas, ada yang heteroseksual, homoseksual, biseksual ataupun aseksual (tidak tertarik dengan seks sama sekali).

Sedangkan CROSSDRESSER adalah seseorang yang memakai pakaian yang umumnya dipakai oleh lawan jenis kelamin mereka. Perilaku ini dilakukan  baik dalam kehidupan sehari-hari atau hanya pada kesempatan tertentu saja, tetapi dilatar belakangi oleh alasan-alasan tertentu. Perbedaannya dengan transvestite adalah dalam hal seksualitas mereka. Sebuah pakaian tidak memberikan rangsakan seksualitas kepada seorang crossdresser.

DRAG QUEEN adalah istilah untuk seorang laki-laki yang mengenakan pakaian seorang perempuan dalam sebuah pertunjukkan seni menyanyi baik menggunakan suaranya sendiri ataupun suara penyanyi. Sering disebut dengan seni playback atau lipsync.

Memang seperti halnya pelangi, dalam urusan gender dan seksualitas spektrumnya sangat luas dan bermacam-macam seperti pelangi, bahkan lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Secara lebih luas teman-teman bisa baca-baca lagi di halaman-halaman lainya di situs ini.

crossdresser

Apakah homoseksualitas adalah pilihan?

Mungkin sebagian besar orang di dunia akan bilang ya, Lesbian, Gay (dan Biseksual, serta Transgender) adalah pilihan hidup. Bahkan banyak yang bilang itu adalah gaya hidup. Walaupun sebenarnya beberapa study memperlihatkan hasil penelitian yang bertolak belakang.

Coba kita bahas:

Sebelum mengetahui apakah ini pilihan atau tidak, kita harus menentukan dulu apa sih artinya menjadi homoseksual. Berdasarkan penelitian dan study, para homoseksual mengetahui bahwa mereka adalah homoseksual sama dengan heteroseksual tahu bahwa mereka heteroseksual.

Sejak abad 19, banyak sekali teori tentang homoseksualitas yang tak teruji dan kontradiktif.

  • Homoseksualitas pada pria (gay) adalah suatu akibat dari absennya seorang figure ayah dan ibu yang memberikan perhatian lebih. Sedang homoseksualitas pada wanita (lesbian) disebabkan karena kemarahan yang tak tersembuhkan  karena tidak memilikinya penis, dan menolak melakukan eksperimen (dengan laki-laki), malah cenderung mencari wanita lain sebagai objek seksual. RESPON: Tidak terbukti karena banyak gay dan lesbian yang lahir dalam keluarga yang baik-baik saja, perhatian dari dua orang tua seimbang. Dan soal homoseksualitas pada wanita (lesbian), pasti para lesbian tidak akan setuju dengan teori ini.
  • Homoseksualitas tidak natural.  RESPON: Pada kenyataannya homoseksualitas ada pada makhluk hidup lain seperti zebra, baboon, lumba-lumba, kambing, kerbau dan masih banyak lagi. Mungkin banyak yang akan bilang ah, tapi kan manusia punya “free will” (kehendak bebas = kemampuan yang dimiliki manusia dalam  bebas berkehendak)

Berikut Study Ilmiah yang ada pada saat ini yang mempunyai 3 inti study pada:

  1. Gen
  2. Hormon
  3. Urutan Kelahiran

Study ini dilakukan pada pria homoseksual.

  • ketika anak kembar identik lahir, jika salah satunya homoseksual, kemungkinan besar (diatas 70%) lainnya juga homoseksual. Ini membuktikan bahwa gen mempunyai peran penting dalam menentukan orientasi seksual. Lebih besar dari pada saat gen (dipertanyakan) apakah menentukan orang terlahir kidal atau tidak.
  • Hasil statistik membuktikan bahwa dalam keluarga yang kebanyakan anaknya laki-laki, biasanya anak laki-laki terkecil terlahir gay. Teori yang yang tidak tahu pasti akan bilang kalau itu karena perhatian berlebih yang diberikan ibu kepada anak terkecil. Tapi hadil penelitian menunjukkan, karena seringnya seorang ibu mengandung anak laki-laki, pada suatu saat jika mengandung anak laki-laki, tubuh wanita ibu tersebut merespon janin laki-laki tersebut sebagai objek asing dan memproses produksi antibody untuk melawan janin itu. Ini yang membuat rahim memfemininkan janin

Institusi dan klinik pengubah orientasi seksual

Ada beberapa institusi dan klinik yang mengklaim bisa mengubah orientasi seksual. Baik dengan cara-cara agama maupun ilmiah (dengan metode penyiksaan yang cenderung membuat orang tersebut depresi, malu, merasa bersalah yang berkepanjangan, hilang rasa percaya diri, ketakutan dan kegelisahan berlebih). Beberapa homoseksual yang berhasil menjalani terapi dalam istitusi atau klinik tersebut mengklaim bahwa mereka sudah sembuh, bahkan menikah dan punya anak. Tetapi lebih banyak yang akhirnya mengakui bahwa mereka tetap homoseksual dan perasaan suka terhadap sesama jenis tidak hilang.

Banyak akademi dan lembaga yang memberikan pernyataan bahwa homoseksualitas seharusnya tidak diperlakukan sebagai kelainan mental (jiwa) dan melawan segala bentuk terapi pembetulan atau pemulihan, serta  ORIENTASI SEKSUAL BUKANLAH PILIHAN DAN TIDAK BISA DIUBAH..

Berikut ini Daftar tentang homoseksuaitas pada hewan-hewan, silahkan klik pada nama spesiesnya. Atau Baca juga : Homoseksualitas pada hewan adalah sangat alami

Homoseksualitas pada spesies Mamalia

Homoseksualitas pada spesies burung

Homoseksualitas pada spesies Ikan

Homoseksualitas pada spesies Reptilia

Homoseksualitas pada spesies Amfibi

Homoseksualitas pada spesies Serangga

Homoseksualitas pada hewan tak bertulang belakang

 

Sumber-sumber dan bukti :

Study anak kembar dalam hal homoseksualitas
http://www.tim-taylor.com/papers/twin…
http://allpsych.com/journal/homosexua…
http://www.springerlink.com/content/w…
See: http://tinyurl.com/yl2rurn for the PDF.

Study urutan kelahiran dalam hal homoseksualitas
http://www.pnas.org/content/103/28/10…
http://msu.edu/~breedsm/pdf/BogaertCo…

Kenapa Terapi pembetulan dan Ex-gay ministry gagal?
http://www.csufresno.edu/StudentOrgs/…

Study Asosiasi Medis America (American Medical Association) dalam hal homoseksualitas
http://www.clgs.org/official-statemen…

Study Asosiasi Psikiater Amerika  (American Psychiatric Association) dalam hal Homoseksualitas
http://www.soulforce.org/article/642

Study Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological Association) dalam hal Homoseksualitas
http://www.apa.org/topics/sorientatio…
http://www.apa.org/helpcenter/sexual-…

Study Asosiasi Psikoanalitik (American Psychoanalytic Association) dalam hal Homoseksualitas
http://hem.passagen.se/nicb/psychoana…

Study Akademi Pediatrik Amerika (American Academy of Pediatrics) dalam hal Homoseksualitas
http://www.clgs.org/official-statemen…

Study Asosiasi Nasional Pekerja Sosial (National Association of Social Workers) dalam hal homoseksualitas
http://www.socialworkers.org/research…

sumber penunjang lain : wikipedia : Homoseksualitas pada hewan

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: