Advertisements

FILM

This tag is associated with 23 posts

Dariah, potret nyata kesenian adiluhung Lengger Banyumas yang terancam punah

Polesan make-up nya tak ribet-ribet amat. Hanya sapuan bedak, lipstick, dan pensil alis. Sentuhan terakhir, andheng-andheng palsu di ujung hidung.

“Biar kelihatan cantik,” ujar Dariah, 86 tahun, maestro lengger lanang Banyumas dari Desa Somakaton Kecamatan Somagede.

Siang itu, Dariah bersama tiga penari lengger lanang lainnya didapuk menari lengger di Petilasan Manggihsari di desa itu. Di petilasan itulah, Dariah, puluhan tahun lalu melakukan perjalanan ritualnya untuk menjadi seorang penari lengger.

Panggung dibuat sederhana, tanpa atap. Meski tanpa atap, panggung cukup teduh karena terlindung rerimbunan pohon beringin yang berdiri kokoh di belakang petilasan. Penonton berjubel di dekat panggung. Tak ada sekat antara penari dan penonton.

Tetua adat Desa Somakaton, Jaya Martono mengatakan, pentas mini napak tilas itu juga dimaksudkan untuk mengajak masyarakat agar kembali berpikir bersih. “Di sini ada takir atau makanan yang dibungkus daun pisang untuk dimakan bersama,” katanya.

Takir merupakan akronim dari tata pikir, atau menata pikiran. Saat ini, kata Jaya, banyak agama yang merasa benar sendiri dan menjelekkan agama lain.

Yusmanto, budayawan lokal Banyumas menambahkan, untuk menjadi penari lengger yang sebenarnya memang harus mengikuti ritual khusus. “Jadi tidak bisa instan,” katanya.

Seperti yang diungkapkan oleh Astuti, penari lengger asal Cilacap yang ikut menari bersama Dariah. “Tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon harus tidur di depan pintu,” ujarnya.

Selain itu, ia harus melakukan puasa mutih alias tidak makan apapun kecuali nasi putih sekepal dalam sehari. Calon penari harus melakukan tirakat agar laris ditonton.

Ritual itulah yang ingin disampaikan kembali oleh Dariah kepada generasi penerusnya. Dariah sendiri merupakan lengger lanang generasi sebelum kemerdekaan yang saat ini masih konsisten menari.

Sejarah transgender di Banyumas tercatat sejak abad ke-18. Kala itu Mangkunegaran VII memerintahkan tiga sastrawan untuk berkeliling Jawa. Mereka diperintahkan untuk menulis kehidupan penduduk Jawa saat itu.

Tiga sastrawan itu singgah di Banyumas dan menjumpai kesenian Lengger Lanang Banyumas. Kisah mereka belakangan tertulis dalam Serat Chentini, kisah tentang Jawa.

 

Dariah, 86 tahun, maestro Lengger Lanang asal Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas menari dalam rangka napak tilas perjalanan hidupnya, Rabu (19/2). Dariah adalah laki-laki yang memilih menjadi perempuan demi kecintaannya terhadap kesenian lengger. Saat ini tinggal segelintir laki-laki yang mau terjun menjadi penari lengger. (Aris Andrianto/Tempo)

Dariah, 86 tahun, maestro Lengger Lanang asal Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas menari dalam rangka napak tilas perjalanan hidupnya, Rabu (19/2). Dariah adalah laki-laki yang memilih menjadi perempuan demi kecintaannya terhadap kesenian lengger. Saat ini tinggal segelintir laki-laki yang mau terjun menjadi penari lengger. (Aris Andrianto/Tempo)

Dariah merupakan simbol militansi kesenian rakyat yang saat ini mulai terancam punah. Bagi Dariah, lengger lanang merupakan kesenian adiluhung yang penuh makna filosofis kehidupan manusia.

Dariah lahir di desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas dengan nama Sadam, berjenis kelamin laki-laki. Ibu bernama Samini dan ayah bernama Kartameja yang hidup sebagai petani kecil. Dariah tidak dapat menyebutkan angka tahun yang pasti tahun berapa Dariah dilahirkan. Dariah menuturkan bahwa kakeknya pernah bercerita dirinya lahir tidak lama setelah Kongres Pemuda. Dengan demikian diperkirakan Dariah lahir pada akhir tahun 1928 atau awal tahun 1929.

Dariah kecil meskipun berjenis kelamin laki-laki, namun suka lenggak-lenggok seperti seorang lengger dan suka nyindhen atau melagukan tembang-tembang Jawa. Kegemarannya menari dan menyanyi dilakukan sambil melakukan pekerjaan apa saja.

Sebelum menjadi penari lengger, Dariah kecil merasa seperti kerasukan indang lengger. Sadam seperti dituntun oleh alam bawah sadar. Tanpa pamit dengan orang-orang tercinta dan tanpa tahu kemana tujuannya, Sadam pergi dari rumah tanpa berbekal apapun kecuali sedikit uang yang dimilikinya.

Sadam berjalan sekedar mengikuti langkah kaki. Hal yang masih diingatnya adalah berjalan ke arah timur mengikuti jalan beraspal jalur Banyumas-Banjarnegara, kemudian berbelok ke kiri ke arah Purbalingga. Di daerah Bukateja Sadam sempat berhenti dan diberi air minum oleh warga setempat.

Dariah terus berjalan entah ke mana dan entah berapa hari sudah dilewatinya, hingga akhirnya sampai di sebuah pekuburan tua. Dariah melihat banyak batu lonjong dalam posisi berdiri (menhir) dan ada sebuah arca wanita cantik terbuat dari batu. Dariah belum juga tahu di wilayah mana dirinya berada. Dariah hanya dapat memasrahkan hidup dan matinya kepada Hyang Maha Pencipta, dan memohon kalau memang ditakdirkan menjadi seorang lengger maka dirinya akan menerima dengan sepenuh hati.

Di tempat yang sebelumnya sama sekali tidak dikenalnya, Dariah sama sekali tidak berniat bertapa atau bersemadi, tetapi betapa dirinya merasa tenang dan damai, sehingga merasa betah dalam waktu berhari-hari. Dariah merasa mendapatkan perlindungan dari kekuatan magis yang tidak pernah dimengerti. Dariah tidak dapat mengingat berapa hari dan berapa malam berada di makam tua tanpa makan dan minum. Menurut Dariah peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia atau sekitar tahun 1944 – 1945 .

Setelah berhari-hari Dariah berada di tempat pekuburan tua yang sangat mendamaikan hatinya, selanjutnya mulai terdengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan yang ada di sisi barat tempat ia bersimpuh. Dariah mulai paham bahwa selama beberapa hari ternyata dirinya berada di Panembahan Ronggeng yang merupakan tempat bagi orang memohon kepada Penguasa Alam agar dapat menjadi seorang ronggeng.

Panembahan Ronggeng merupakan tempat bersemadi bagi orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger, terdapat di desa Gandatapa, kecamatan Sumbang, kabupaten Banyumas. Dengan demikian Dariah telah berjalan mengelilingi tiga kabupaten, yaitu kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga, sebelum akhirnya kembali ke wilayah kabupaten Banyumas di lokasi Panembahan Ronggeng.

Setelah merasa puas berada di Panembahan Ronggeng, selanjutnya Dariah melanjutkan perjalanan pulang. Untuk menuju ke tempat tinggalnya di Somakaton, Dariah tidak begitu saja tahu jalan yang harus dilalui. Dariah harus banyak bertanya kepada orang yang dijumpainya dalam perjalanan. Akhirnya Dariah sampai di kota Purwokerto. Di Purwokerto Dariah membelanjakan bekal uangnya untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan oleh seorang lengger dalam pementasan. Dariah berambut pendek, dibelinya satu buah gelung brongsong (konde yang dilengkapi semacam ikat kepala sehingga pemakaiannya tinggal diterapkan di kepala). Dariah juga membeli kemben (kain penutup dada), sampur, kain, dan keperluan lain.

Barang-barang hasil belanjaan yang dipersiapkan untuk perlengkapan lengger lalu dibawanya pulang. Dengan berjalan kaki akhirnya Dariah sampai di Somakaton. Betapa gemparnya seluruh keluarga, kerabat dan tetangga-tetangganya demi mengetahui Dariah pulang setelah sekian lama pergi entah kemana tanpa ada seorangpun yang tahu. Sesampainya di rumah Dariah menceritakan semua yang dialami selama kepergiannya. Seluruh keluarga dan kerabat menanggapi positif semua yang terjadi. Semua kerabat menganggap bahwa semua yang telah terjadi merupakan bagian dari proses yang harus dialami oleh Dariah untuk menjadi seorang lengger. Beberapa orang yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dikumpulkan untuk berlatih bersama-sama dengan Dariah.

Semenjak itulah Dariah menjadi seorang lengger. Menurut Dariah apa yang dialaminya itu terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang kemerdekaan Indonesia (antara tahun 1944 – 1945).

Kejayaan lengger bertahan hingga Gerakan 30 September 1965 meletus. Kala itu seniman tradisional menjadi kelompok sosial yang oleh rezim Orde Baru ditengarai dekat dengan komunisme. Begitu pula seniman lengger yang banyak ditangkap pemerintah.

Saat lengger dilarang, Dariah menjadi perias pengantin atau sering disebut dukun manten. Pekerjaan yang dilakoninya hingga usia senja.

Kemaestroannya mendapat pengakuan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011. Namun, lebih dari itu, perjalanan kesenimanannya sungguh berliku. Demi seni yang begitu dicintanya, dia memilih melakoni hidup menjadi perempuan walau terlahir sebagai laki-laki.

Kini, ada salah satu penerusnya yang mulai naik daun sebagai lengger lanang. Namanya Agus. Nama panggunya, Agnes. “Mbok Dariah merupakan inspirasi saya sehingga saya ingin menjadi penari lengger lanang,” katanya.

Seniman serba bisa asal Jogjakarta, Didik Nini Thowok mengaku kagum dengan totalitas berkesenian penari lengger lanang, Dariah. “Totalitasnya masih terasa. Saya salut dengan Mbok Dariah,” kata Didik.

Didik pernah mendokumentasikan sosok Dariah. Mulai dari rumahnya, Sungai Serayu, Pendopo Sipanji dan sejumlah tempat keramat yang pernah digunakan ritual oleh Dariah.

Didik blusukan hingga Banyumas merupakan hasil perenungannya akan Serat Chentini. Sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana lengger masa lalu hidup. Serat ini juga berkisah tentang banyaknya kesenian yang diperankan oleh laki-laki, lengkap dengan latar belakang sejarahnya.

 

Didik Nini Thowok (kanan) mementaskan tarian Lengger Lanang bersama maestro tari Lengger Lanang, Dariah (kiri) di Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kec. Nusawungu, Cilacap, Jateng, Kamis (15/11). Pentas Lengger tersebut selain dimainkan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946, juga bagian dari proses pendokumentasian budaya tari Sumber : suarakita

Didik Nini Thowok (kanan) mementaskan tarian Lengger Lanang bersama maestro tari Lengger Lanang, Dariah (kiri) di Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kec. Nusawungu, Cilacap, Jateng, Kamis (15/11). Pentas Lengger tersebut selain dimainkan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946, juga bagian dari proses pendokumentasian budaya tari
Sumber : suarakita

 

Baca juga : Kesenian dan kebudayaan Nusantara yang melibatkan peran LGBT

Ia mengatakan, ide untuk mendokumentasikan Lengger Dariah ini berawal dari perjalanannya di Amerika Serikat pada 20 September hingga 4 Oktober 2012. Saat menari lengger di Yale University di New Haven, Amerika Serikat, ia berjanji akan mendatangi Dariah untuk membuat film dokumenternya.

Dariah, kata Didik, merupakan representasi kesenian transgender yang sudah ada sejak zaman Sultan Hamengkubuwono VII. Saat itu, tari Golek yang dimainkan penarinya adalah laki-laki.

Transgender, kata dia, juga ditemukan pada serat Chentini buku kelima. Di serat itu, diceritakan tentang Cebolang yang menari lengger dengan dandanan perempuan.

Menurut dia, lengger merupakan kesenian tradisional yang adiluhung. Untuk menjadi penari lengger sebenarnya seperti Dariah, kata Didik, dibutuhkan keseriusan. Saat ini, kata dia, banyak penari lengger baru yang meninggalkan proses ritual agar bisa menjadi penari instan.

Padahal, totalitas menjadi penari lengger harus diperoleh melalui proses ritual yang berat. Selain harus puasa, penari lengger juga harus mandi di tujuh sumur yang berbeda.

“Penari juga harus bersemedi di tempat khusus lengger,” kata dia.

Dariah mengaku senang dengan komitmen Didik terhadap kesenian lenger. “Saya langsung klop saat ketemu Didik,” ujar Dariah yang hanya bisa berbahasa Banyumasan itu.

Dariah mengaku sempat bermimpi bertemu Didik sebelum pentas itu. Ia sendiri berkeinginan untuk bisa tampil di Keraton Yogyakarta untuk menari lengger.

Budayawan Banyumas yang juga penulias novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, mengatakan, di Banyumas seni transgender sudah sangat biasa.

“Sudah sejak dulu ada. Penari menjadi wandu atau banci karena menari lengger itu banyak,” katanya.

Hanya saja saat ini generasi itu sudah mulai hilang. Saat ini lebih banyak penari ronggeng yang dimainkan oleh perempuan. Lengger sendiri berasal dari kata leng dan jengger. Ia menyebutkan, kisah soal transgender juga tertulis di History of Java kaya Sir Raffles.

Menurut dia, kesenian banyumasan hampir seluruhnya berorientasi kerakyatan. Kesenian yang tidak elitis dan bisa dinikmati oleh rakyat jelata sebagai manifestasi budaya agraris. Bukan pula kesenian yang disebut adiluhung seperti tarian Serimpi dan Gambyong yang hanya bisa dinikmati di keraton.

Rudi Lukmanto, salah satu penari lengger lanang zaman sekarang mengatakan, saat ini lengger masih menjadi tontonan yang ditunggu masyarakat Banyumas.

“Saya ingin mengikuti jejak Mbok Dariah,” katanya.

Selama ini, kata dia, tidak ada yang membuat dia resah saat menari lengger. “Selama ini tidak ada yang membuat kami resah selama manggung keliling di beberapa daerah.  Bahkan, pertunjukan selalu ramai,” kata pria yang kini berstatus bapak beranak satu ini.

Bahkan setelah mentas, Rudi mengaku kerap dikejar-kejar kaum pria dan wanita yang terpesona akan aksinya. Kesenian lengger yang diperankan kaum lelaki menurutnya merupakan bentuk asli kesenian tradisional Banyumas.

“Kalau yang nari perempuan ya namanya ronggeng, sedangkan lengger ya penarinya laki-laki,” pungkas dia.

 

CERITA SEJARAH LENGGER

 

Film  Amatir Pendek terntang Lengger Lanang

 

Referensi : Laporan Skripsi tentang Eksistensi Lengger Lanang

Referensi dari Kemendikbud : Lengger Lanang

Dikutip dari -credit to- : Purwokertokita 

Referensi lainnya : Liputan6 suarakita.org Krjogja Antaranews  BBC: Agus, pelestari Kesenian tari Lengger Lanang

 

Advertisements

Homoseksualitas pada hewan adalah fakta bukan hoax

Seperti yang banyak orang dari dulu percaya, semua hewan itu heteroseksual. Hewan-hewan dipercaya hanya kawin dan bepasangan dengan lawan jenisnya. Kepercayaan tersebut pun dikuatkan dengan legenda Bahtera Nabi Nuh yang dipercaya hidup pada abad 31-40 SM. Legenda yang juga ditemukan dalam ajaran agama  Yahudi, Kristen dan Islam ini menceritakan bagaimana Nabi Nuh menyelamatkan keluarganya dan hewan-hewan dari bencana banjir besar yang menenggelamkan bumi selama 150 hari. Nabi ketiga dari jajaran Nabi dalam agama Islam ini menyelamatkan hewan-hewan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan, agar mereka bisa berkembang biak.

Ilustrasi kapal Nabi Nuh Sumber : dailymail

Ilustrasi kapal Nabi Nuh
Sumber : dailymail

Dari situlah terlihat bahwa seks hanya memiliki satu fungsi saja, yaitu fungsi reproduksi. Bagaimana kalau ternyata kepercayaan tersebut tidak relevan lagi dengan fakta yang sebenarnya. Bagaimana jika ternyata pada Kera, Lumba-Lumba, Gurita serta jenis hewan lain yang jumlahnya 450 ternyata juga ditemukan afkesi bahkan hubungan seksual sesama jenis? Apakah itu hanya teori propaganda atau HOAX para aktivis LGBT dan ilmuwan yang pro-LGBT?

Ternyata itu bukanlah hoax dan teori semata. Tahun 2009 para peneliti dari Universitas California melakukan penelitian tentang homoseksualitas pada hewan dan hasilnya menunjukan bahwa mulai dari serangka seperti lalat sampai binatang mamalia seperti singa laut, ditemukan perilaku homoseksualitas. Mungkin fakta ini sulit untuk dipercaya bagi orang awam. Bagaimana tidak, Darwin saja yang biasa disebut ahlinya dalam teori evolusi juga percaya bahwa dalam kerajaan hewan, hanya ada perilaku heteroseksual. Hal itu ia percayai karena ia dibesarkan dengan kepercayaan tersebut.

Baca juga : Apakah Homoseksualitas adalah pilihan atau gaya hidup?

Pada tahun 1922, 5 ekor pinguin dibawa ke sebuah kebun binatang  burung, tetapi tanpa disangka, terlihat perilaku yang tidak umum, yaitu perilaku homoseksualitras. Pingun jantan yang diberi nama Andrew akhirnya diganti menjadi Ann, pinguin betina bernama Erika akhirnya mendapat nama baru, Erik, yang saat itu berpasangan dengan Dora, seorang pinguin betina, begitu juga Caroline yang akhirnya mendapatkan nama baru, yaitu Charles.

Penelitian tentang homoseksualitas pada hewan, sebenarnya sudah sejak 200 tahun yang lalu dilakukan, yaitu pada ikan paus Orca, tetapi hasil penelitian seperti itu seolah ditutup-tutupi sehingga hanya segelintir orang saja yang tahu. Sampai sekarang pun berita ini masih dianggap berita simpang siur, bahkan dikatakan hoax.

Beberapa peniliti beranggapan bahwa perilaku homoseksual pada hewan mungkin hanya sebagai latihan sebelum musim kawin tiba, atau mungkin sekedar ingin merangsang lawan jenisnya. Namun ternyata tidak begitu adanya. Contohnya pada rusa di Afrika, meskipun rusa jantan bersikeras ingin kawin dengan rusa betina, tetapi beberapa rusa betina menolak dan melanjutkan merayu rusa betina lain untuk melakukan hubungan seksual. Tetapi bukti tersebut belum cukup mengubah pendapat peneliti-peneliti tersebut, mereka masih beranggapan bahwa homoseksualitas pada hewan masih didominasi seksualitas untuk menghasilkan keturunan. Sampai ditemukannya bukti baru dari sebuah penelitian pada kera di Afrika. Kera hanya menghasilkan keturunan setiap 6 tahun sekali, ternyata dalam kurun waktu tersebut para kera tetap berhubungan seksual, termasuk hubungan seksual sesama jenis. Kera yang mempunyai hubungan sesama jenis, cenderung mempunyai ranking yang lebih tinggi dalam koloninya. Mereka saling melindungi saat terjadi serangan. Ini memberikan titik terang bagi para peneliti tentang masalah tersebut. Bukti tersebut menunjukan bahwa seksualitas pada hewan tidak hanya memiliki fungsi reproduksi tetapi juga fungsi kenikmatan serta fungsi sosial.

Banyak yang beranggapan bahwa hubungan homoseksual pada hewan tidak berlangsung lama. Tetapi lagi-lagi hal itu terbantahkan saat ditemukannya hubungan homoseksualitas pada lumba-lumba yang berlangsung seumur hidup, begitu juga pada singa betina.

Lagi-lagi muncul bantahan, bahwa itu terjadi karena hewan tidak berpasangan  secara heteroseksual, khususnya saat parenting –membesarkan keturunan- . Hubungan seksual lawan jenis hanya dilakukan sekedar untuk memperbanyak keturunan, saat parenting sepenuhnya adalah tugas hewan betina. Jadi wajar hubungan homoseksual itu terjadi. Namun teori itu pun terbantahkan lagi, karena pada banyak spesies burung, parenting -mengasuh anak- ternyata dilakukan oleh pasangan lawan jenis juga. Lebih dari itu, ternyata parenting juga dilakukan oleh pasangan sesama jenis juga, seperti pada angsa yang mempunyai hubungan segitiga, 2 jantan dan satu betina.

Pada spesies burung di sebuah pantai di Massachusetts, timur laut Amerika, ditermukan parenting pada banyak pasangan burung betina, selain parenting pasangan heteroseksual. Awalnya para peneliti keheranan, bagaimana pasangan burung betina bisa bertelur? Ternyata pada kasus pasangan burung betina, peran burung jantan hanya sebagai donor sperma saja. Saat menetaskan telur, orang tua pasangan burung betina mempunyai peran yang sama seperti pada pasangan orang tua heteroseksual. Ketika salah satu pasangan mengerami telur, pasangan lainya mencari makan dan menjaga sarang mereka.

Octopus atau sering kita sebut gurita, hidup di kedalaman 2 kilometer. Tidak hanya homoseksualitas ditemukan pada  kelompok gurita, tetapi hubungan homoseksualitas tersebut dilakukan antara dua gurita yang jenisnya berbeda.

Penelitian pada monyet jepang, menunjukan bahwa perilaku homoseksual pada monyet, terutama monyet betina ternyata bukan karena kurangnya monyet jantan. Pasangan monyet betina, justru menolak monyet jantan yang ingin kawin. Pasangan homoseksual tersebut mempunyai suatu hubungan dengan peran bergantian. Pada satu waktu salah satu monyet betina menaiki pasangannya, pada waktu lain ia yang dinaiki. Hubungan seksual sesama jenis pada monyet jepang ini  diketahui terjadi bukan karena fungsi sosial saja -saling melindungi jika monyet jantan datang-, tetapi lebih pada fungsi seksual lainnya, yaitu kenikmatan. Bagaimana mungkin hewan seperti monyet mempunyai sebuah rasa yang umumnya dimiliki manusia (rasa kenikmatan)? Kira-kira kenapa monyet-monyet jepang senang sekali dan menikmati waktunya berendam di kolam air hangat? Bahkan bisa sampai berjam-jam. Bukankah karena mereka menikmati aktifitas tersebut?

Lalu bagaimana hewan-hewan yang mempunyai hubungan sesama jenis ini punya keturunan? Para peneliti setuju bahwa hewan yang melakukan hubungan seksual sesama jenis, pada satu waktu mereka juga melakukan hubungan lawan jenis, untuk mempunyai keturunan. Tetapi sesudahnya, mereka akan kembali lagi kepada pasangan sesama jenisnya.

Masihkah berpikir bahwa homoseksualitas hanya ada pada satu spesies mamalia, yaitu Manusia?

Berikut ini Daftar tentang homoseksuaitas pada hewan-hewan, silahkan klik pada nama spesiesnya

Homoseksualitas pada spesies Mamalia

Homoseksualitas pada spesies burung

Homoseksualitas pada spesies Ikan

Homoseksualitas pada spesies Reptilia

Homoseksualitas pada spesies Amfibi

Homoseksualitas pada spesies Serangga

Homoseksualitas pada hewan tak bertulang belakang

 

 

Sumber : Wikipedia – Nuh Noah the real story Homoseksualitas pada hewan  sciencedaily BBC

Video-video anti-bullying

Bagaimana rasanya ada dalam kelompok minoritas yang dibenci.

 

 

Bullying terhadap Identitas Gender

 

 

Film : The Perfect Family

 

The Perfect Family

The Perfect Family

The Perfect Family adalah film drama komedi yang disutradarai oleh Anne Renton dan rilis tahun 2011. Mengetengahkan tentang sebuah keluarga Katolik yang sangat taat. Eileen, seorang ibu dan istri yang sangat taat, sampai-sampai ia dinobatkan sebagai the catholic women of the year oleh gereja tempat ia biasa beribadah. Ia pun lalu mencoba segala cara untuk menjadi keluarga yang bisa dicontoh banyak orang. Mengetahui bahwa anak perempuannya adalah seorang lesbian membuat terjadinya konflik di dalam keluarga itu. Tidak hanya itu, ternyata Shannon, anak perempuannya hamil 5 bulan dari hasil inseminasi buatan dan  berencana menikahi pacarnya, Angela.

Anak laki-lakinya pun memutuskan ingin bercerai dari istrinya karena ia tidak merasa bahagia walaupun sudha dikaruniai 2 anak. Ia ingin menikahi wanita yang ia cintai.

 

Film : Cowboy and Angel

Shane and Vincent

Shane and Vincent

Film Irlandia yang rilis tahun 2003 yang disutradarai oleh David Gleeson ini menceritakan Shane, seorang pegawai negeri yang “kurang beruntung”. Untuk bisa menyewa apartemen, ia terpaksa harus mencari apartemen yang memang disewakan kepada 2 penyewa agar ongkos sewanya bisa dibagi. Ternyata penyewa satunya adalah seorang gay yang sedang belajar mode (fashion) bernama Vincent.

Film ini mengisahkan cerita mereka dalam megeksplorasi kesulitan-kesulitan hidup yang harus mereka hadapi di dunia dengan budaya yang semakin maju, termasuk bagaimana keterlibatan mereka dengan narkoba dan dunia malam. Shane yang seorang pegawai negeri, di sela-sela kebosanannya, dia menemukan teman satu kantor. Seorang pegawai negeri senior yang sudah sangat lama bekerja sebagai pegawai negeri.

Sedangkan Vincent adalah seorang anak muda yang penuh energi, mudah bergaul dan mempunyai rencana untuk menyelesaikan sekolahnya dan pindah ke New York dan bekerja di industri Fashion di sana.

Mengetahui kekosongan pada diri Shane, Vincent pun mulai mencoba membantu Shane untuk lebih relax. Akhirnya mereka pun berteman baik dan saling membantu. Viencnet membantu Shane bagaimana untuk menjadi seorang pria yang modis, sedangkan Shane membantu Vincent dalam pertunjukan busananya yang merupakan bagian dari tugas sekolahnya.

Karena faktor ekonomi dan keinginan Shane untuk bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi yang ia inginkan membuat Shane harus terjun dalam dunia perdagangan Narkoba.

Keterlibatan Shane dalam perdagangan narkoba, membuat Vincent secara tidak langsung terlibat saat polisi menemukan sisa narkoba di apartemen mereka. Akhirnya mereka dibawa di penjara.  Vincent panik karena ia takut mimpinya menjadi desainer busana ternama musnah. Tanpa mereka tahu, ternyata kepala polisi yang mengurusi kasus mereka adalah mantan pacar Vincent, yang akhirnya membebaskan mereka.

Teman baik Shane yang belum lama meninggal pernah menasehati Shane untuk keluar dari pekerjaannya dan tidak mau membiarkan nasib Shane seperti dirinya ynag sampai tua bekerja di sana. Ia mau Shane mengejar mimpinya. Berangkat dari pesan itu serta dorongan dari Vincent, Shane pun memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Universitas yang dia mimpikan. Sedangkan Vincent akhirnya berangkan ke New York mengejar mimpinya.

 

Film Dokumenter : Stephen Fry: Out There

StephenFryWorldPrideStephen Fry: Out There adalah sebuh film dokumenter yang tayang di BBC tahun 2013, Terdiri dari 2 bagian. Filim ini mengetengahkan perjalanan Stephen Fry mengekplorasi seputar homoseksualitas dan kehidupan mereka di beberapa belahan dunia. Ia sendiri adalah seorang gay yang terbuka dengan orientasi seksualnya.

Pada bagian Pertama Stephen Fry bertemu dengan Elton John dan David Furnish. Dua orang yang memberikannya inspirasi untuk terbua dengan orientasi seksualnya. Ia pun pergi ke Uganda yang pernah dianggap negara paling kejam terhadap Homoseksualitas. Yang pada akhirnya, setelah 1 tahun film ini tayang, Uganda memberlakukan hukum yang menyatakan bahwa Homoseksualitas adalah tindakan kriminal. Bahkan bisa mendapatkan hukuman mati karena homoseksualitas mereka. Ia juga mengunjungi Amerika serikat di mana ia bertemu dengan orang-orang yang mengelola rehabilitasi orientasi seksual. Ia juga sempat melakukan wawancara dengan Neil Patrick Hariis, David Ross dan Joseph Nicolosi.

 

Pada bagian kedua ia pergi ke Brazil, di mana satu orang gay terbunuh setiap 36 jam. Sekitar 60.000 orang dibunuh dalam 1 tahun. Jair Blsonaro, seorang politikus Brazil juga berhasil ia interview.   Lalu Fry mengunjungi Russis dan berbicara dengan salah satu politikus, Vitaly Milonov. Seperti diketahui, Rusia sangat menentang homoseksualitas. Walaupun 2 politukus tertinggi mereka, Putin  dan PM Russia pernah dikatakan hubungan mereka layaknya hubungan sepasang gay. Terakhir dia mengunjungi India, di mana ia menemui para Hijras.

BACA JUGA : Hijras di India

 

Film : Heavenly Creatures

Juliet dan Pauline Sumber: backtalk.kinja.com

Juliet dan Pauline
Sumber: backtalk.kinja.com

Film Selandia Baru yang rilis tahun 1994, disutradarai oleh Peter Jackson yang menceritakan tentang kisah nyata kasus pembunuhan Parker-Hulme di Christchurch, Selandia Baru. Film ini dibintangi oleh Melanie Lynskey dan Kate Winslet yang memerankan tokoh Pauline Parker dan Juliet Hulme, 2 orang gadis yang memiliki hubungan yang sangat obsessif. Dalam film ini diperlihatkan awal mula pertemuan dua gadis ini pada tahun 1952 sampai peristiwa pembunuhan tahun 1954.

Pauline Parker, gadis berumur 14 tahun yang tinggal di Christchurch, berasal dari keluarga kaum-pekerja (buruh), berteman dengan Juliet, gadis berumur 15 tahun ynag baru saja masuk sekolah tempat ia belajar.  Juliet sendiri adalah anak yang pintar dan juga lucu, serta sudah melanglang buana ke banyak tempat di dunia.

Pauline sangat kagum dengan arogansi dan kecantikan Juliet. Mereka banyak melakukan kegiatan bersama, melukis, menulis, membuat patung dari tanah liat, sampai akhirnya mereka berfantasi tentang sebuah kerajaan bernama Borovnia yang mereka tulis bersama dengan harapan bisa dipublikasikan dan dibuat filmnya di Hollywood. Tetapi sepertinya cerita yang mereka tulis menjadi kenyataan. Hubungan Pauline dengan ibunya mulai memburuk, cenderung lebih sering bertengkar. Berbeda dengan hidup Juliet yang selalu harmonis dengan orang tuanya. Hal itu membuat Pauline lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Juliet, karena merasa ia lebih diterima di sana.

Juliet memperkenalnya sebuah dunia fantasinya kepada Pauline. Fantasi dunia ke-empat, di mana surga berada, tanpa orang-orang Kristen, di mana Musik dan Seni dirayakan. Juliet pun bermimpi bahwa ia akan pergi ke sana setelah ia meninggal, Beberapa aktor dan musisi menjadi orang suci di sana,

Dalam perjalanan ke Port Levy, orang tua Juliet mengatakan bahwa mereka akan melakukan perjalanan dan berencana meninggalkan Juliet di Selandia Baru. Berita itu membuat Juliet histerik, dan membuatnya terbuai dengan fantasi dunia ke-empatnya. Dunia di mana semuanya cantik, indah dan aman. Bahkan ia meminta Pauline untuk ikut bersamanya. Sampai pada akhirnya Pauline percaya dan mau ikut fantasi Juliet. Keduanya pun seperti mengalami pengalaman spiritual, sebuah konfirmasi tentang dunia ke-empat mereka yang mempengaruhi persepsi mereka tentang dunia nyata dan khayalan.

Suatu waktu, Juliet terjangkit TBC dan harus dilarikan ke klinik. Orang tuanya pun tidak ada bersamanya sehingga membuatnya sendiri dan di saat itulah ia sangat membutuhkan Pauline. Begitu juga Pauline, ia merasa tidak lengkap tanpa Juliet. Mereka pun mulai saling menulis surat, tetapi tidak sebagai mereka tetapi sebagai sepasang kekasih di keluarga kerajaan Borovnia. Selama ini terjadi, Pauline mulai menjalin hubungan degan seorang pemondok di rumahnya, yang membuat Juliet sangat cemburu.

Cerita khayalan itu semakin berkembang dan menjadi pelampiasan mereka atas kehidupan mereka yang penuh tekanan. Sampai pada akhirnya mereka berfantasi tentang pembunuhan orang-orang yang menekan mereka. 4 bulan berjalan, Juliet pun keluar dari rumah sakit. Keluarnya Juliet membuat hubungan keduanya semakin dekat. Mengetahui kedekatan itu, Ayah Juliet berbicara dengan Ayah Pauline. Pauline pun dibawa ayahnya kedokter , dan dokter mengatakan bahwa Pauline seorang Lesbian, dan mengatakan bahwa ini terjadi karena kemarahannya terhadap ibunya yang terus meningkat, juga karena turunnya berat badan Pauline secara drastis.

Tanpa diduga, Juliet menangkap basah ibunya yang sedang selingkuh dengan pasiennya dan Juliet mengancam akan memberitahu ayahnya tentang hal itu. Tetapi ibunya berkata bahwa ayahnya sudah tahu. Tidak lama kemudian, mereka pun memutuskan untuk bercerai. Kejadian ini benar-benar membuat Juliet sedih. Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan Christchurch dan meminta Juliet tinggal dengan sanak keluarganya di Afrika Selatan. Mengetahui hal tersebut, lagi-lagi Juliet menjadi histerik dan memutuskan untuk lari dengan Pauline.

Mengetahui bahwa itu tidak mungkin terjadi, mereka berdua pun memutuskan untuk membunuh ibu Pauline, karena mereka menganggap dia sebagai halangan utama mereka untuk bisa bersama-sama.

Menjelang keberangkatan Juliet, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di rumah Juliet. Pada saat Pauline harus kembali ke rumahnya, mereka berdua memutuskan untuk mewujudkan rencana pembunuhan tersebut. Ibu Pauline merencanakan untuk berjalan-jalan dengan mereka berdua di Taman Victoria. Mengetahui itu, mereka berdua pun memutuskan bahwa hari itu sebagai hari pembunuhan tersebut.

Juliet memasukkan sebongkah batu bata ke dalam stockingnya sebelum mereka pergi ke taman. Mereka pun pergi untuk membeli teh. Setelah itu, mereka berjalan di jalan setapak ketika tiba-tiba Ibu Pauline membungkuk untuk mengambil sebuah gantungan berwarna merah muda. Pada saat itulah mereka memukul ibu Pauline.

Satu hari setelah pembunuhan, buku diari Pauline pun ditemukan. Dan itu dijadikan buktu pembunuhan yang membuat keduanya ditahan. Putusan tersebut lah yang membuat mereka tidak bisa bertemu lagi untuk selamanya.

***

Dalam kehidupan nyata, setelah Juliet keluar dari penjara, Juliet menjadi seorang penulis terkenal yang akhirnya terbuka dengan seksualitasnya. Sedangkan Pauline, menjadi seorang perawat orang-orang difabel.

Film : Juste Une Question D’Amour “Hanya Masalah Cinta”

Laurent dan Cédric

Laurent dan Cédric

Film yang berumur 15 tahun ini adalah filim drama romantis berbahasa perancis garapan sutradara Christian faure.

Mengisahkan cerita cinta 2 orang gay bernama Laurent (nama aktor : Thouvenin) dan Cédric (Stéphan Guérin-Tillé). Laurent yang merupakan seorang mahasiswa jurusan biologi yang sedang melakukan praktek di laboratorium seorang ahli biologi bernama Cédric. Kedekatan di antara mereka pun mulai terjalin.

Cédric sendiri terbuka dengan seksualitasnya, terutama dengan ibunya. Ibunya menerima orientasi seksual anaknya tersebut. Konflik pun terjadi ketika pertanyaan muncul apakah Laurent harus terbuka dengan orang tuanya tentang orientasi seksualnya.

Selama ini orang tua Laurent menyangka bahwa Laurent seorang heteroseksual, karena Laurent berhasil membohongi orang tuanya dengan memperkenalkan teman wanita baiknya yang bersedia menjadi pacar bohongan. Kebohongan itu pun berjalan cukup lama, ynag membuat teman wanita Laurent pun tidka mau lagi menjalani sandirawa tersebut.

Ibu Cédric merasa ia harus memberitahukan kepada orang tua Laurent yang mempunyai usaha apotek. Datangnya ia ke apotek tersebut dan memberi tahu ibunya tentang kondisi Laurent. Melihat Ibu Laurent syok, ia pun memintanya untuk menelfon kapan pun jika memerlukan bantuan dan ingin berbicara.

Cerita berakhir saat Laurent bisa menerima orientasi dirinya dan mereka berdua menghabiskan satu waktu berdua di sebuah hutan dengan pemandangan yang indah.

Film : Romeos – Kisah seorang Gay Transman

Fabio, Luke Sumber : gay-themed-filmes.com

Fabio, Luke
Sumber : gay-themed-filmes.com

Film yang menjadi salah satu film utama di Festival Film Internasional di Berlin tahun 2011 ini sutradarai oleh Sabina Bernardi.

Menceritakan kehidupan seorang transgender men berumur 20, Lukas (luke). Nama kecil Lukas adalah Miriam, seorang perempuan. Dia sedang menjalani terapi hormon untuk menjadi laki-laki, dia yang juga seorang youtuber, dia punya channel dan sering mengupload video terbarunya tentang perkembangan transformasinya.Seperti keinginan setiap transgender man, mereka ingin menghilangkan buah dadanya dan memiliki penis.  Suatu hal mengharuskannya pindah ke Cologne. Tetapi karena secara legal ia masih berjenis kelamin perempuan, ia harus tinggal di asrama perempuan. Di mana teman baiknya Ine, tinggal dan sudah berbaur dengan komunitas gay dan lesbian di Cologne.

Pada malam pertama Ine mengajak luke ke sebuah pesta. Saat Lukas pergi ke toilet dan hendak buang air kecil dengan bantuan penis buatan. Seseorang yang berada di belakang tirai bak mandi, melihatnya dan mengambilnya. Luke berhasil keluar dari kamar mandi dengan cepat sehingga orang itu tidak melihat wajah Lukas. Penis buatan itu akhirnya jadi mainan dan olok-olokan dalam pesta itu. Agar orang-orang tidak curiga bahwa itu punyanya, Luke pun ikut berceloteh mengecek penis buatan itu. Melihat itu, Ine marah. Luke pun keluar ruman mencari udara segar di mana dia bertemu dengan Fabio, seorang gay.

Pada malam berikutnya Lukas dan Ine bermain dengan teman-teman prianya di tempat bermain billiard. Fabio pun juga ada di tempat itu. Luke dan Fabio pun saling curi pandang.. Lalu mereka memutuskan pergi ke Klub khusus unntuk Gay, tetapi ketika Fabio mulai mendekati Luke, luke pun menghindar.

Hari berikutnya Lukas dan Ine saling bertengkar di pinggir danau. Fabio lalu mendorong Lukas ke dalam danau. Ia pun lalu pulang ke asramannya ynag ternyata dia mendapatkan kunjungan dari keluarganya karena itu adalah hari ulang tahunnya. Fabio pun mengejar Lukas karena Lukas masih memakai jaket Fabio. Fabio lalu bermain dengan saudara perempuan Luke, tetapi tidak selang berapa lama ia pun mencari Luke, yang ternyata membuatnya kesal. Saking kesalnya ia pun teriak bahwa Luka atau Lukas dulunya seorang perempuan.

Suatu sore, ia mengunjungi petugas asrama karena permintaan pindahnya tidak disetujui oleh kepala departemen. Akhirnya ia pun mengijinkan ia pindah tanpa izin kepala departemen. Untuk merayakannya Luke mengajak Ine dan teman gay mereka Sven berpesta di Klub Gay. Ternyata Fabio ada di sana. Fabio berkata pada Luke, seharusnya ia jujur, karena ia tidak tertarik dengan transwomen secara seksual. Dan meminta Luke mengatakan ke orang-orang bahwa mereka tidak pacaran, karena Fabio merasa malu setelah ketahuan bahwa Fabio suka dengan Luke yang ternyata seorang transman. Ine yang sebenarnya suka dengan Luke, kecewa. Ia pun lari pulang.

Hari berikutnya Luke menghampiri Fabio, sehabis ia pergi ke apotek membeli obat.obat teraapi hormonnya. Fabio ingin tahu sekali tentang obat itu. Luke dan Fabio pun saling kejar-kejaran. Saking capeknya mereka pun terduduk dan menyenderkan punggungnya satu sama lain, bahkan hampir saja mereka berciuman. Tetapi tiba-tiba telfon genggam Fabio berdering dan mengharuskannya pergi dengan pacar barunya.

Luke pun pergi menemui Sven yang sedang dikhianati oleh pacarnya. Lalu mereka pergi minum dan akhirnya mabuk lalu tidur di tempat tidur Luke. Luke pun bilang bahwa ia adalah seorang transgender FTM (Female to Male) dan meminta Sven pergi dari kamarnya.

Luke dan Fabio pun mulai dekat lagi. Fabio bilang bahwa ia takut kalau orang tuanya tahu dia Gay, dia ingin mencoba dengan seorang wanita. Pada suatu malam , di Klun Billiard, Fabio datang dengan pacarnya. Di sana Ine mencoba merayu pacar perempuan Fabio, sedangkan Fabio mendekati Luke dan bercinta.

Cerita berakhir ketika Luke menyelesaikan  operasi bagian atasnya, yaitu menghilangkan buah dadanya. Setelah sembuh ia pun berlari setengah telanjang ke pantai. Sebuah wujud kebebasan yang selama ini tidak bisa ia lakukan.

Baca: spectrum gender dan seksualitas

 

Film: Priscilla, Si Ratu Padang Pasir Australia

Bernadette, Felicia, Belrose

Bernadette, Felicia, Belrose

Rilis tahun 1994 baik di Amerika Serikat maupun di Australia. Stephen Elliott, sang sutradara kelahiran Australia yang berhasil membesarkan namanya dengan film ini. Film bertema drama komedi ini mengisahkan perjalanan 2 orang dragqueen (Anthony “Tick” belrose, Adam Whitely atau Felicia) dan satu orang transgender(Bernadette Bassinger) dari Sydney ke Alice Spring di Australia  dengan sebuah bis sekolah yang mereka desain ulang. Perjalanan mereka menuju Alice Spring menemui banyak sekali kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa di luar bayangan mereka. Dari diskriminasi, kekocakan, percintaan dan kekerasan.  Film ini pun banyak diadopsi menjadi seni teater di beberapa negara, termasuk Hongaria.

Cerita berawal saat Tick Belrose mendapatkan telefon dari teman wanitanya setelah dia melakukan pentas di salah satu pertunjukkan. Marion meminta Tick Belrose melakukan pentas Dragqueen di salah satu Casino di ALice Spring. Rasa bosannya dengan hidupnya di Sydney ia pun akhirnya menyanggupi permintaan tersebut, dia mengajak teman lamanya yang sudah menjadi transgender, Bernadette Bessinger. Dan satu orang teman dragqueennya Felicia yang sangat flamboyan, periang dan spontan.

Cuplikan pembukaan film

Tick belrose mempercayakan Felicia untuk mencari alat transportasi mereka menuju Alice Spring. Sebuah kejutanpun dibawa Felicia. Sebuah bus sekolah bekas. Lalu dia sulap layaknya ruang kostum.

Dalam perjalanan mereka melalui padang gurun Simpson Desert, mereka tesesat karena keputusan mereka memotong jalan. Ketersesatan itu membawa mereka bertemu dengan orang-orang dari suku aborigin  yang ternyata sangat ramah kepada mereka. Mereka pun memutuskan untuk melakukan pertunjukkan.

Perjalanan berlanjut, di sebuah kota kecil bernama Coober Pedy, penerimaan pun berbeda. Mereka mendapatkan sambutan yang tidak ramah. Bahkan mendapatkan perlakuan kasar. Bis mereka pun tidak lepas dari aksi vandalisme, tulisan AIDS Fuckers Go Home pun terbaca jelas di bis mereka.  Adam lalu mencatnya dengan warna lavender dengan tujuan menutupi tulisan tersebut.

Felicia, Belrose, Bernadette

Felicia, Belrose, Bernadette

Pada saat mobilnya mogok, mereka bertemu dengan Bob. seorang laki-laki separuh baya dari sebuah kota kecil yang akhirnya bergabung dengan mereka. Mereka melakukan itu selain Bob orang yang sangat simpatik, mereka tahu bahwa kalau terjadi apa-apa dengan bis mereka, Bob bisa membantu.

Sebelum mereka sampai di Alice Spring, Belrose mengungkapkan rahasia besarnya. Marion yang mengundang mereka sebenarnya adalah istrinya dan mereka tidak pernah bercerai. Mereka datang ke sana sebenarnya untuk membantu Marion.

Saat meneruskan perjalanan, felicia mendapatkan perlakuan kasar malah hampir dimutilasi oleh kelompok orang homofobik, tetapi akhirnya diselamatkan oleh Bob dan bernadette.

Felicia mengungkapkan bahwa sebenarnya ia punya mimpi untuk mendaki gunung Uluru dengan pakaian drag regalia.Ia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya tersebut, tetapi ia mengganti tempatnya menjadi di King’s Canyon, tidak jauh dari tempat mereka berada. Bernadette dan Belrose pun bergabung dengan Felicia.

Bernadette yang belum lama ditinggal kekasihnya (meninggal), pun jatuh hati dengan Bob. Romansa antara mereka pun makin terjalin. Bob ternyata sangat terbuka dengan konsep seksualitas dan sepertinya Bob juga tertarik dengan Bernadette.

Masih banyak adengan lain dalam film ini, seperti temuan sebuah danau di padnag pasir. Pertunjukkan show diatas bis sepanjang perjalanan di padang gurun.

Pada saat mereka sampai di Hotel, Marion mengatakan bahwa Belrose sebenarnya punya anak laki.laki bernama Benjamin. Belrose pun mulai takut jika anaknya mengetahui profesinya sebagai seornag dragqueen juga dengan fakta bahwa ia seorang homoseksual. Tanpa ia ketahui ternyata Benjamin sudah tahu soal itu dan sangat supportif dengan profesi dan kondisi ayahnya.

Setelah pertunjukkan mereka selesai, Belrose dan Felicia kembali ke Sydney bersama Benjamin, karena Belrose ingin kenal anaknya lebih jauh. Marion akhirnya bisa mengambil cuti panjangnya. Sedangkan Bernadette dan Bob memutuskan untuk tinggal di hotel, selain Bernadette ingin mengenal Bob lebih jauh, Bob juga mendapatkan pekerjaan di hotel tersebut.

Link film, klik gambar di bawah ini

priscilla play

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 22 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: