Advertisements

Ceritaku

This tag is associated with 12 posts

Sepupu saya seorang transgender

Almarhumah Ibu Maryani, Pendiri Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta

Almarhumah Ibu Maryani, Pendiri Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta Sumber: bahasa.aquila-stlye.com

Pada tahun 2008, seorang perempuan transjender Indonesia bernama Maryani (dikenal luas dengan hanya satu nama) mencatat sejarah saat membuka Pesantren Waria Al Fatah, sebuah sekolah Islam berasrama untuk perempuan transjender. Sekolah tersebut, terletak di kota Yogyakarta, Jawa Tengah, merupakan yang pertama di dunia.

Dengan meninggalnya Maryani bulan lalu, sekolah tersebut dipindahkan ke rumah aktivis LGBT Shinta Ratri, lapor Jakarta Post.

Dengan dukungan Universitas Nahdlatul Ulama Jepara di Jawa Tengah, sekolah tersebut menawarkan 35 siswanya pelajaran tentang Islam, membaca Qur’an, dan shalat.

Di acara pembukaan kembali sekolah tersebut, sebuah pidato disampaikan oleh Abdul Muhaimin, seorang angota kelompok advokasi setempat. “Setiap orang memiliki hak untuk memaknai agama mereka dengan cara mereka. Menurut Qur’an, kita tidak boleh membedakan orang berdasarkan nilai ekonomi, sosial, politik, jender, atau agamanya.”

Saya berharap seluruh dunia mau memahami pesan mendalam tersebut dengan hati.

Baca juga : Mengenang almarhumah ibu Maryani, sang waria pendiri ponpes waria di Yogyakarta

Salah satu sepupu saya adalah seorang transjender. Saat kami kecil, ia sering bermain rumah-rumahan dengan para saudari dan sepupu perempuan saya sementara saudara dan anak lelaki lainnya akan menyuruh saya mengambil posisinya dalam permainan sepak bola atau kasti.

Sepupu saya menyukai tari tradisional Melayu, dan bersekolah di sekolah sekuler sekaligus madrasah seperti kami semua. Tidak satupun dari kami pernah merasa ia aneh sebagai seorang anak lelaki yang lebih suka melakukan hal-hal yang dilakukan anak perempuan.

Saat remaja, gerak-gerik femininnya makin terlihat. Akhirnya, saat memasuki dunia kerja dan mulai menghasilkan uang sendiri, ia memutuskan menjadi seseorang yang selalu ia inginkan – seorang perempuan.

Bagi kami para sepupu, keputusannya tidak mengejutkan. Justru kami menjadi sangat penasaran. Kami memberi berbagai pertanyaan mulai dari operasinya hingga suntik hormon. Ia masih menjadi bagian dari kami dan kami tidak melihatnya sebagai seseorang yang berbeda.

Namun, orangtuanya tidak menerima perubahan tersebut dengan baik. Mereka menolaknya dan akan berdiam diri jika ada yang menanyakannya. Butuh bertahun-tahun sebelum akhirnya mereka menerima kenyataan dan menerima sepupu saya apa adanya.

Sayangnya, bagi sepupu saya dan transgender lain, stigma sosial masih menghantui mereka. Sepupu saya ditertawakan dan dijadikan tontonan aneh. Saya mengagumi kekuatan dan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai hal agar tidak mempengaruhinya.

Hingga kini, salah satu paman kami, seorang lelaki taat agama yang menganggap dirinya penasihat keluarga, masih memperlakukan sepupu saya seakan ia tidak kasat mata. Di acara-acara keluarga, ia akan berpaling jika sepupu saya kebetulan berada di depannya.

Saya masih ingat apa yang paman tersebut katakan kepada saya dan para sepupu: “Jangan sekalipun berbicara dengannya. Kalau tidak, saat ia masuk neraka, ia akan membawa kalian semua bersamanya.”

“Peringatannya” mengejutkan saya. Bagi saya, tidak seorang pun berhak mengutuk sesama Muslim, karena saya sangat meyakini bahwa setiap orang memiliki hak untuk memeluk Islam dan mempraktekkannya, apapun warna kulit, status sosial, maupun orientasi seksual mereka.

Ucapan paman tersebut mengganggu saya, jadi saya menceritakan hal ini pada ayah saya. Dengan gaya santainya, ayah saya mengatakan hal ini pada saya dan para saudari saya:

“Pernahkah sepupu kalian berbuat salah pada kalian? Pernahkah ia entah bagaimana menyinggung kalian? Perlakukan ia seperti manusia lain – jika ia baik pada kalian, maka kalian harus baik padanya. Tidak ada alasan untuk bersikap tidak ramah padanya hanya karena ia berbeda.”

Saya merasa lega mendengarnya. Tentunya ayah saya menganggap transgender berbeda dari kebanyakan kita – ia tidak terlalu progresif – namun ia merasa hal tersebut bukan alasan untuk memperlakukan mereka dengan berbeda.

Saya berharap setiap orang berpikir seperti itu. Saya tidak mengharapkan masyarakat menjadi sangat bersahabat dengan para transjender, namun setidaknya berhenti menyebar kebencian terhadap mereka merupakan awal yang baik. Dan setelah mendengar tentang perjuangan sepupu saya mendapat pekerjaan, saya berharap para pemberi kerja juga memberi orang-orang transjender kesempatan yang sama.

Tulisan di atas dikutip dari tulisan Lina Lewis pada tanggal 29 April 2014 dalam kolom  gaya hidup muslim modern @bahasa.aquila-style.com

Advertisements

Ceritaku: Bapak berhak bahagia, Bapak tetap orang tua saya terlepas dari orientasi seksualnya

Ilustrasi Sumber : youngisthan.in

Ilustrasi
Sumber : youngisthan.in

Bapak

Tiga tahun berlalu sudah semenjak Ibu dan Bapak saya bercerai. Meskipun mereka berpisah, tetapi hubungan mereka tetap terjaga dengan baik. Bapak masih rajin dan menyempatkan diri mengunjungi kami setiap dua minggu sekali. Karena hubungan mereka masih sangat hangat, saya mulai bertanya-tanya, kenapa Bapak dan Ibu memutuskan untuk berpisah?

Sekitar tujuh bulan yang lalu, tepatnya bulan September, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Ibu kenapa beliau berpisah dengan Bapak. Raut wajah Ibu berubah; bukan sedih bukan juga marah. Ibu terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu matang-matang hingga ucapan beliau yang cukup mengejutkan saya terlontar, “Bapakmu seorang homoseksual.”

Jujur, reaksi pertama saya terkejut dan bingung. Saya bukan seorang homofob, saya banyak belajar mengenai gender dan orientasi seksual semenjak saya duduk di kelas 3 SMA.

Pengetahuan mengenai orientasi seksual bukan hal baru bagi saya. Akan tetapi, sungguh masih sulit bagi saya untuk menerima bahwa Ayah saya sendiri seorang homoseksual.

Bapak… beliau tidak kemayu dan tidak juga semaskulin seperti gambaran stereotip masyarakat yang sering dilekatkan pada orang-orang homoseksual. Penampilan dan ekspresi gender Bapak saya biasa-biasa saja. Bapak saya tidak tampan, namun beliau sering tersenyum dan sangat ramah pada orang lain. Wajahnya yang teduh dan tutur katanya yang santun melekat hingga menjadi ciri khas beliau di mata masyarakat.

Selama 22 tahun saya hidup, Bapak menjadi sosok yang luar biasa bagi saya. Beliau tak pernah kenal lelah memotivasi saya untuk meraih cita-cita, bahkan ketika saya sering didiskriminasi karena cita-cita saya katanya tidak cocok untuk perempuan.

Bapak dan Ibu saya dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Awalnya Bapak menolak, tapi entah kenapa akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Bapak dikenal keluarga sebagai sosok yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarga, apalagi saya yang anak semata wayangnya.

Setelah Ibu saya terbuka mengenai penyebab perceraian beliau, hal pertama yang saya tanyakan adalah, “jadi selama ini Ibu dibohongi oleh Bapak?”

Jawaban Ibu saya sangat tidak terduga; beliau menjawab, “Nduk, Ibu ndak merasa dibohongi oleh Bapak. Ibu sebenarnya sudah tahu lama sebelum kami berpisah kalau Bapak itu ndak suka sama perempuan. Ibu terenyuh lihat Bapak yang masih berusaha untuk mempertahankan rumah tangga, mencukupi kebutuhan kita semua dan nggak pernah lupa dengan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Tapi terus terang, Ibu ndak tega lihat Bapak menderita terus-terusan. Ibu tahu Bapak sayang sama Ibu tapi beliau ndak pernah cinta sama Ibu. Kamu harus tetap hormat sama Bapak, salah satu yang membuat Bapak bertahan adalah kamu nduk. Bapak cintanya sama kamu, jangan benci sama Bapak ya, Nduk.”

Kata-kata Ibu menjadi tamparan keras bagi saya. Saya lupa, bahwa yang paling menderita adalah Bapak. Bapak lah yang selama ini memendam perasaannya karena takut dengan kejamnya stigma masyarakat. Bapak yang tetap menjalankan kewajibannya dengan baik sebagai orang tua. Bapak berhak bahagia.

Banyak yang bertanya bagaimana hubungan saya dengan Bapak setelah mengetahui hal itu. Saya dan beliau masih sangat dekat dan hubungan kami malah semakin hangat. Saya sering menginap di apartment beliau dan bahkan sering saling menggoda tentang pacar kami masing-masing.

Kenapa saya memutuskan untuk memberanikan diri berbagi cerita saya pada orang lain? Karena sepertinya masih banyak yang menganggap bahwa homoseksualitas bisa “sembuh” jika menikah dengan lawan jenis. Anda salah besar, menikah bukanlah solusi. Salah-salah malah akan menyakiti dan mengorbankan banyak pihak. Tidak semua anak bisa menghadapi dan menerima perceraian orangtuanya dan tidak semua perempuan setegar Ibu saya.

Bapak saya adalah salah satu korban dari masyarakat patriarkal yang konservatif. Bapak saya membohongi dirinya sendiri selama puluhan tahun dan mengabaikan kebahagiannya sendiri demi kami. Beruntung, Bapak bisa sanggup bertahan hingga sekarang, mengingat tidak semua orang punya mental sekuat beliau.

Bapak, terimakasih telah membesarkan saya dengan baik. Bapak tetap orang tua saya terlepas dari orientasi seksualnya. Bapak berhak mendapatkan kebahagian yang sepantasnya, beliau berhak mendapatkan haknya dan terbebas dari diskriminasi serta prasangka masyarakat. Bapak setara dengan manusia lainnya.

Terimakasih kepada Admin yang sudah mengizinkan saya untuk berbagi disini. Semoga tetap semangat mengedukasi.

Full credit kepada akun resmi Interseksionalisme di jejaring sosial LINE

Mengenang, bagaimana Alm. Ibu Maryani, waria yang mendirikan ponpes waria berangkat umroh

Ibu Maryani, Pendiri Pondok Pesantren Waria Sumber : The Jakarta Post

Ibu Maryani, Pendiri Pondok Pesantren Waria
Sumber : The Jakarta Post

Melihat bagaimana situasi yang harus dihadapi LGBT di Indonesia saat ini,  mungkin banyak yang lupa bahwa 3 tahun yang lalu situasinya mungkin cukup berbeda.

Adalah Alm. Ibu Maryani, sang pendiri Pondok Pesantren Waria Al-Fatah di Yogyakarta. Seorang wanita transgender, atau banyak orang awam akan menyebutnya waria. Pada bulan Ramadhan tahun 2012, Ibu Maryani memutuskan untuk pergi umroh ke Mekah, Saudi Arabia.

Ia pergi ke salah satu agen perjalanan umroh di Yogyakarta. Tetapi sayang sekali permintaannya ditolak karena ia seorang waria. Maryani dikenal sebagai seorang waria yang tidak pernah menyembunyikan identitasnya sebagai seorang waria, termasuk kepada agen perjalanan umroh tersebut sekali pun.

Berdasarkan informasi yang didapat Ibu Maryani dari agen perjalanan tersebut, orang-orang yang berada dalam kelompok umroh tersebut merasa takut dan tidak nyaman jika ada seorang waria yang ikut dalam kelompok mereka.

Namun pada tahun 2013, akhirnya mimpi Bu Mar (panggilan akrab Ibu Maryani) ini pun terwujud. Ia terbang ke Mekah pada tanggal 26 April 2013 dan kembali ke Indonesia pada tanggal 5 Mei 2013. Bu Mar menunaikan ibadah umroh dengan pakaian yang biasa di pakai para wanita saat umroh.

Bu Mar menceritakan pengalamannya saat beribadah umroh. Ia mengatakan bahwa di sana, orang tidak membedakan waria dan wanita. Ibu Maryani menjalani seluruh ibadahnya tanpa hambatan sama sekali.

Pada tahun 2008, Ibu Maryani menjadikan rumahnya di Notoyudan, Yogyakarta sebagai tempat di mana para waria bisa belajar agama Islam. Yang selanjutnya diberi nama Pondok Pesantren Al-Fatah yang beranggotakan puluhan waria. Keberadaan Pondok Pesantren ini pun ternyata menjadi perhatian media-media internasional.

Menurut Rully, pengurus Organisasi Waria bernama Kebaya, kepergian Ibu Maryani untuk umroh mempunyai arti besar bagi anggota Kebaya. Ibu Maryani memperlihatkan bahwa ada waria yang relijius dan mempunyai spiritualitas yang bagus. Bertolak belakang dengan stigma di masyarakat yang menganggap waria tidak bermoral.

Orang yang berjasa mewujudkan mimpi Ibu Maryani adalah Ani Kurniyawati, pemilik agen perjalanan Arminareka Perdana yang menawarkan tempat dalam group umroh yang ia kelola.

“Niat saya membantu, untuk orang-orang seperti ibu Maryani yang memang sudah terpanggil oleh Allah SWT, apalagi Ibu Maryani orang yang selama ini banyak membantu orang lain” tegas Anis kepada Suarakita.org

Perangkat desa di mana Ibu Maryani tinggal menawarkan akan mengeluarkan KTP untuk Ibu Maryani yang akan mengidentifikasikannya sebagai seorang wanita. Hal itu dilakukan karena ia merasa status tersebut lebih cocok untuk Ibu Maryani. Dengan terbitnya KTP tersebut, mimpi Ibu maryani untuk berangkat umroh pun terbuka lebar.

Ibu Maryani menuturkan bahwa ia sangat berterima kasih atas pemberian KTP tersebut walaupun sebenarnya ia tidak pernah meminta KTP yang mengidentifikasikannya sebagai seorang wanita. Itu murni keputusan perangkat desa. Ia mengatakan jika saja ada pilihan status sebagai wanita, laki-laki atau waria, ia akan memilih status sebagai waria.

Menurut Ibu Maryani, agama bisa membantu pada waria untuk mempunyai pandangan lebih jauh dan membuat mereka mampu membuat keputusan yang lebih baik. Ia menceritakan bagaimana banyak waria yang hidup dari satu hari ke hari berikutnya sebagai pekerja seks.

Sejarah Pondok Pesantren Waria Al-Fatah yang didirikan Ibu Maryani.

Pondok Pesantren yang didirikan Ibu Maryani berawal dari bencana gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006. Ia menggagas acara doa bersama para waria. Saat itu Maryani mengundang pastur dan pemuka agama yang lain. Sebanyak 200 waria dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam acara itu. Dari situlah gagasan mendirikan pesantren waria dimulai. Ponpes ini sendiri akhirnya berdiri di tahun 2008.

Bagi Maryani, kehidupan di dunia ini, tidak lebih dari perhentian sementara menuju dunia yang kekal dan abadi. Tempat itu adalah di neraka maupun di surga. Maka, dia merasa perlu mengisi kehidupannya di dunia dengan hal-hal positif seperti mendirikan pesantren khusus waria.

Ia mengungkapkan tujuan pesantren yang didirikannya adalah untuk mengajak para waria agar dapat memberikan kontribusi yang positif pada masyarakat bahwa waria juga berhak untuk beribadah dan melakukan hal-hal yang positif.  Selain itu pesantren ini juga untuk mengakomodir para waria yang ingin membangun spritualitasnya yang selama ini tidak diterima ditempat pengajian-pengajian umum.

“Satu saat diminta atau tidak diminta, kita sewaktu-waktu pasti naik keranda. Nah, saya perlu nyari sangu dulu kalau sewaktu-waktu ditimbali Gusti Allah,” jelas Mariani, 3 November 2012.

Berita yang kami tulis kembali ini adalah berita yang pernah dipublikasikan oleh The Jakarta Post pada tanggal 5 Juli 2013, Suara Kita 24 April 2013 dan Baranews.co 30 April 2014.

The Jakarta Post menuliskan  bahwa Indonesia belum mengakui gender lain selain perempuan dan Laki-laki, tetapi penerimaan terhadap waria sudah meningkat.

Juga ditulis pula harapan Ibu Maryani agar kepergiannya ke Mekah untuk umroh tersebut, akan membuka pintu lebar bagi para waria yang ingin melakukan yang yang sama.

3 tahun sudah berlalu, sepertinya harapan mulia Ibu Maryani tersebut masih belum bisa terwujud.

Pada tanggal 21 Maret 2014, Ibu Maryani meninggal dunia. 2 hari lagi tepat 2 tahun sudah Ibu Maryani meninggal dengan meninggalkan jasa besar kepada komunitas waria di Yogyakarta serta menjadi contoh bagi komunitas waria di Indonesia. Semoga Ibu Maryani diberikan tempat yang paling layak di sisi-Nya.  Amin.

Sumber : The Jakarta Post Suara Kita baranews.co

Cerita jujur, dari hati seorang muslim gay Iskan Darilyas

Ilustrasi Parade Gay Muslim Sumber : sdgln.com

Ilustrasi
Parade Gay Muslim
Sumber : sdgln.com

Sebagaimana umumnya LGBT di Indonesia, tadinya saya takut untuk unjuk berbicara. Tapi fitnah dan tuduhan para petinggi agama dan tokoh-tokoh populer terhadap LGBT sudah demikian parah. Kebencian mereka terhadap LGBT sudah membuat mereka berlaku tidak adil.

Saya muslim, dan saya gay. Saya tidak berharap ada yang mengerti bagaimana saya bisa hidup dalam oxymoron ini. Namun jika ada yang mau tahu bagaimana kisah saya bertransformasi dari self-loathing gay, lalu menjadi muslim garis keras yang ingin memenggal kepala LGBT, hingga saya bisa berdamai dengan seksualitas saya sendiri, silahkan ikuti tulisan-tulisan saya ini. InsyaAllah saya akan terus menulis, karena this is the fight I have chosen.

Tentang saya, mungkin anda mengira akan mendengar kisah yang sama tentang seorang pria gay pada umumnya. Bahwasanya saya waktu kecil mengalami perlakuan buruk di keluarga dan mendapatkan sex abuse dari orang dewasa. Atau bahwasanya saya dari kecil sudah kemayu, suka main boneka dan berteman hanya dengan anak perempuan saja. Lalu karena salah asuhan dan pergaulan ini besarnya saya menyukai sesama jenis.

Let me help you expand your mind: saya waktu kecil bandel dan badung. Saya tidak kemayu. Saya tidak salah asuhan dan tidak mendapat sex-abuse. Saya tidak main sama anak perempuan saja. Saya justru pimpinan geng anak-anak seusia saya yang sekarang besarnya sudah jadi ustad, pedagang, preman, tukang ojek, kuli bangunan dan profesi-profesi macho lainnya.

Besarnya pun saya tidak kemayu. Tampang saya pun seram seperti preman pasar tanah abang. Saya nonton bola, denger musik rock, dan tidak pergi ke gym. Orang-orang banyak bertanya, bagaimana saya bisa jadi gay? Karena saya memilih jadi gay?

Hell no!

Inilah kesalahpahaman yang kemudian berkembang menjadi fitnah, dikoar-koarkan oleh pihak-pihak anti LGBT, yang kemudian memaksa saya menulis catatan-catatan kecil saya ini.

Di negara-negara maju, anggapan bahwasanya menjadi gay itu karena trauma masa kecil, karena pilihan, karena terlular, atau karena salah pilih gaya hidup dan sebagainya sudah lama kadaluwara, sama kadaluwarsanya dengan anggapan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi. Orang-orang sudah sangat enggan menjawab diskusi ini, karena tidak worth the effort. Orang yang massih percaya dengan doktrin ini biasanya adalah para bigot yang picik. Mencoba menjelaskan kepada mereka itu sia-sia saja. Seperti hendak mengkonvert pendukung fanatik MU agar mendukung Liverpool. Atau seperti meminta Jonru mengapresiasi hasil kerja Jokowi.

Tapi karena isu ini baru di Indonesia, okelah, saya paham masih banyak yang belum tahu. Jadi inilah bahasan tulisan pertama saya.

Saya tegaskan lagi, tidak ada yang memilih menjadi gay, dan tidak ada yang (andai pun bisa) berniat menularkannya. Saya sudah mendengar ratusan kisah teman-teman LGBT. Tidak satu pun yang bercerita bahwa suatu pagi di hari yang cerah mereka bangun tidur, mandi, sarapan lalu duduk anteng minum kopi. Lalu tiba-tiba saja terbersit ide di kepala, “hmmm … kayaknya jadi gay enak, nih!”

Konyol. Jika boleh memilih, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau jadi gay. Di negara-negara maju saja diskriminasi masih kerap sekali terjadi. Apalagi di Indonesia kita tercinta ini, dimana orang-orang yang berbeda dari orang kebanyakan dianggap ancaman bagi kelangsungan peradaban. Karenanya mereka lalu didiskriminasi, dihina, direndahkan derajatnya, dirampas hak-haknya sebagai manusia, dijadikan lelucon dan dilecehkan di setiap kesempatan sosial. Siapa yang memilih hidup seperti itu?

Orang gila mana yang memilih hidup sebagai gay? Keberadaannya dianggap mengintimidasi nilai-nilai agama, cintanya dianggap borok mental, kasih-sayangnya dianggap cacat pergaulan, sehingga mereka harus mengubur jati diri mereka sendiri. Terpaksa hidup sebagai orang lain agar selaras dengan keinginan sosial. Seumur hidup harus berpura-pura. Pura-pura menjadi lelaki yang suka perempuan, pura-pura punya pacar, pura-pura bahagia saat menikah, pura-pura menjalani hidup yang ‘normal’, punya anak, menua, lalu pura-pura menuntaskan cerita hidup yang sempurna, meskipun mereka akhirnya mati sebagai orang lain.

Manusia waras mana yang mau menjadi gay di Indonesia ini? Negeri dimana alim-ulama merasa bertanggungjawab atas iman orang lain, sehingganya mereka merasa berhak mengatur apa yang boleh dan tidak boleh ditonton orang, bagaimana orang harus berpakaian, kemana orang boleh pergi dan siapa-siapa yang boleh mereka cintai. Dan jika ada orang yang tidak setuju, mereka dinobatkan sebagai pembangkang dan musuh agama. Mereka diklaim sebagai agen peradaban barat dan musuh islam.

Siapa yang mau jadi gay di negeri ini? Negeri dimana para ustad anyar mantan preman atau artis yang baru tahu satu dua ayat langsung buru-buru mengeluarkan fatwa halal dan haram. Tanpa ragu mengobarkan api kebencian dan menebar kegelisahan di tengah masyarakat yang tadinya tenteram dan saling menghormati. Tanpa pikirpanjang men-tweet isi kepala mereka, teledor mengantisipasi bahwa kicauan kecil itu akan memutus banyak tali persahabatan, merenggangkan banyak ikatan kekeluargaan bahkan menginspirasi berbagai macam kekerasan.

Wong edan macam apa yang memilih menjadi gay di negeri ini. Negeri dimana para cendekiawan muda berpenampilan rapi dan berwajah santun namun memiliki kepala yang sempit dan hati yang dikobari api kebencian berkumpul dan bergerak seperti MLM yang terus merekrut member. Mereka menelusup ke sekolah-sekolah, kampus-kampus, masjid-masjid dan rumah-rumah untuk menanamkan pemahaman kerdil mereka di kepala anak-anak muda, sehingga orang-orang muda yang tadinya hanif, penuh keceriaan, kasih sayang dan kehangatan ini berubah menjadi hakim-hakim kecil yang menudingkan telunjuk mereka kepada orang-orang di sekeliling mereka, memutuskan siapa benar dan siapa salah.

Orang-orang ini  hidup dan bernafas dengan mengusung ‘mentalitas korban’. Bahwasanya mereka adalah korban — korban konspirasi dunia. Mereka percaya bahwa satu-satunya agenda para penghuni planet bumi ini adalah berkonspirasi menjatuhkan Islam. Bahwa judul besar sandiwara dunia ini adalah “Islam Melawan Dunia”. Oleh karenanya umat islam harus bangkit melawan, bergerak, menelusup dan merebut tampuk-tampuk strategis.

Mereka percaya bahwa semua pahlawan Islam seperti Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Ibnu Taymiyah atau Shalahuddin Al-Ayyuby sudah menitis ke dalam diri Hasan Al-Banna. Dan satu-satunya dakwah yang sempurna adalah dakwah yang dimulai Hasan Al-Banna ini.

Manusia macam apa yang nekad menjadi gay di negeri ini, negeri dimana kelompok-kelompok pengajian berkembang menjadi harokah-harokah picik yang berkepercayaan bahwa syurga hanya milik jamaah mereka saja. Bahwa tidak ada dakwah lain selain jalan pedang. Bahwa jalan keluar bagi kaum LGBT adalah dirajam, dibakar atau dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Kelompok-kelompok ini akan melakukan sweeping ke kamar-kamar penduduk, memeriksa apakah orang-orang sudah makan dan minum halal serta berhubungan sex sesuai cara dan kriteria mereka.

Orang sakit jiwa macam apa yang memilih menjadi gay? Gay itu salah di mata (mayoritas) agama popluer. Cintanya adalah dosa. Sepanjang hidup seorang gay harus tersiksa batin. Memendam dalam-dalam rahasia terbesar hidup mereka. Jika pun mereka akhirnya berbesar hati meminta nasehat kepada orang-orang alim, sudah bisa dipastikan kisah nabi Luth atau Sodom dan Gomorah lah yang akan mereka dapat. Orang-orang beragama beranggapan bahwa ayat-ayat ini adalah semacam ayat kursi atau ayat-ayat rukyah yang jika dibacakan akan dapat mengusir jin dan setan yang telah membuat seseorang menjadi gay.

Semudah itu. Jika ada orang yang gay, maka bacakanlah kepada mereka Surah As Syu’araa : 160; An Naml: 54; Al Hijr: 67; Al Furqan: 38; atau Qaf: 12.

Abracadabra!! … si gay akan jadi straight.

Pesan gay muslim : Allah menyayangi kita semua

Orang-orang ini dengan mudah men-judge kami para LGBT, tanpa mau tahu betapa berat hidup yang telah kami jalani.

Orang-orang seperti saya dan teman-teman LGBT lainnya telah menghabiskan masa pubertas kami dengan penuh ketakutan, takut bahwa kami akan besar menjadi gay. Kami melewatkan masa remaja kami dengan merasa rendah diri karena rupanya kami memang gay. Kami berbeda. Kami salah. Kami tidak berharga.

Orang-orang seperti kami menghabiskan malam-malam kami untuk berdoa kepada Allah agar kami berubah jadi straight. Saat orang-orang hanya sempat membaca do’a sapu jagat sehabis shalat mereka karena kesibukan, kami menyempatkan-nyempatkan membaca do’a personal kami: Ya Allah, jadikanlah saya straight. Doa ini bagi kami lebih penting dari meminta umur panjang dan murah rejeki. Karena buat apa umur panjang dan murah rejeki jika kami menderita batin dan tidak bahagia.

Kami jalani hari demi hari berusaha terlihat ‘normal’, meskipun hati kami hampa karena nkami tidak akan bisa hidup sebagai diri kami sendiri. Masa depan kami suram. Dari semua penjuru kami diserbu dengan gambaran ideal keluarga samara, sinetron-sinetron cinta, novel-novel islami romantis, hingga lagu-lagu yang mengatakan bahwa cinta adalah jawaban segala pertanyaan. Sementara cinta kami? Cinta kami adalah sumber penderitaan hidup kami.

Di negeri ini orang-orang bebas berkumpul dan berorganisasi. Maka dengan mudah kita jumpai berbagai macam kelompok. Dari yang sepele hingga yang serius. Dari kelompok pencinta perangko, pecinta kucing, geng motor, geng BMX, fans club Justin Bieber, hingga kelompok kajian politik. Tapi ketika kami ingin membuat support group bagi teman-teman kami yang mengalami tekanan mental, membantu mereka berhenti membenci diri mereka sendiri, membuat mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri, lalu meyakinkan mereka bahwa mereka juga bisa sukses, kami dilarang. Kami dituduh sedang menghimpun kekuatan untuk merubah Indonesia menjadi negara gay. Kami dibilang ingin menularkan seksualitas kami. Bahwa kami ingin mengubah anak-anak, saudara, istri dan suami kalian menjadi LGBT.

Baca juga : Kisah Nyata : Surat Coming-Out Michael kepada ibundanya

michael in tales of the city

Michael dalam Film Tales of The City SUmber : slate.com

Demi Allah, jangankan ingin menularkan, andai saja LGBT adalah semacam wabah penyakit yang dikirim oleh dewa yang murka, dan untuk menyembuhkannya seseorang harus disembelih sebagai tumbal, saya rela menjadi tumbal itu! Sembelih saja leher saya kalau memang dengan itu tidak akan ada lagi gay di dunia ini.

Sungguh, saya tidak tega melihat ada orang yang harus menjalani beratnya hidup sebagai gay. Saya tidak sanggup membayangkan ada orang yang harus melalui beratnya pergulatan mental seperti yang saya alami. Saya nyaris gila, nyaris bunuh diri, sempat membenci diri sendiri dan akhirnya sempat curiga dan benci semua orang. Semua adalah buah pergulatan mental karena saya gay.

Saya dan teman-teman LGBT hanya ingin memberi support kepada teman-teman kami. Paling tidak agar mereka bisa menerima diri mereka sendiri. Lalu apakah nanti mereka memutuskan untuk menikah, mencoba ‘menyembuhkan’ diri mereka dengan mendekatkan kepada agama, itu sama sekali tidak masalah bagi kami. Kami hanya ingin memberikan pendidikan kepada mereka, agar mereka tidak melakukan hal-hal ceroboh atau terjerat ke dalam aktifitas seksual yang beresiko.

Maka dengan ini saya mohon, hentikan menyebarkan fitnah kepada kami. Hentikan mengajak orang membenci kami.

Kami tidak bermaksud menularkan seksualitas kami kepada siapapun andaikan itu mungkin dilakukan. Kami hanya meminta perlindungan atas hak-hak dasar kami. Termasuk hak untuk berorganisasi dengan aman, tanpa dibayang-bayangi hukuman dibakar atau dilempar dari tempat yang tinggi. Kami sudah cukup menderita. Kalau kalian peduli, pelajarilah kami. Bicaralah dengan kami baik-baik. Tanya apa yang sebenarnya kami inginkan. Jangan menyimpulkan sendiri berdasarkan kebencian kalian kepada kami. Kalian sudah berlaku tidak adil.

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al MAidah : 08 )

Dikutip dari Kompasiana

Baca juga : Cinta 2 orang gay muslim yang tumbuh di masa Perang Irak akhirnya dipersatukan setelah terpisahkan lebih dari 1 dekade

Betu Allami dan Nayyef Hrebid

Betu Allami dan Nayyef Hrebid Sumber : kuow.org

 

Cerita Nurjanah yang menyentuh : Teman-teman LGBT saya adalah manusia-manusia yang saya sayangi

Nurjanah Sumber : Malela.org

Nurjanah
Sumber : Malela.org

Nurjanah, seorang muslimah yang merasakan pahit getirnya kehidupan dan bagaimana ketidakpedulian mengubah hidupnya. Di mana penilaian terhadap seseorang masih pada penampilan luar dan stigma. Kesulitan hidupnya dulu pun akhirnya memberikannya pelajaran berharga tentang cinta kasih.

Baginya melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi saat itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa ia bayangkan, apalagi bisa sampai sekolah program doktoral, di Tokyo pula. Segala cara ia tempuh dari mulai mencari bantuan dari keluarga, bahkan sampai ke tempat-tempat pendidikan agama  (Madrasah-Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah), dengan harapan bisa mendapatkan pendidikan yang terjangkau. Mengajukan keringanan ke pemerintah pun juga sudah dicoba, tapi semua nihil.

Ia merasa harapan dan asanya sudah hilang. Sampai akhirnya ia dipertemukan dengan orang-orang yang banyak orang lihat sebelah mata karena orientasi seksualnya. Ya, orang-orang tersebut adalah LGBT, yang sudah menjadi temannya di saat ia putus asa. Mereka lah yang sudah mendorongnya untuk bangkit lagi dan mengejar cita-citanya meneruskan bersekolah lagi.

Saat terjadi bencana gempa dahsyat di Yogyakarta yang menelan ribuan korban, ia adalah satu satu suka relawan yang turun tangan langsung membantu para korban. Apapun bantuan yang diberikan kepadanya ia terima dan langsung ia berikan kepada korban bencana. Tetapi itu semua ternyata tidak cukup, mengingat betapa banyaknya korban. Sampai akhirnya datanglah bantuan dari kelompok LGBT Jakarta dan Yogyakarta dan dokter yang kebetulan berwisata di Yogyakarta. Berkat bantuan mereka banyak orang tertolong. Dari anak kecil yang akhirnya bisa bersekolah dan membantu orang tuanya sekarang, sampai seorang ayah yang akhirnya bisa kembali bekerja dan mencari nafkah. Dari tangan mereka lah banyak orang mendapatkan makanan yang layak di saat-saat sulit.

Ia merasa tidak berhak menghakimi orang lain, karena yang ia tahu setiap orang yang menebarkan kebaikan akan bermanfaat bagi orang banyak. Hendaknya orang yang mengatakan beriman membuka mata dan hati, meringankan langkah, mengulurkan tangan, ketika banyak permasalahan sosial terjadi di sekitar kita. Biasakah kita sejenak melepaskan segala atribut di badan kita? Dan hanya meletakkan tubuh ini sejajar sebagai sesama manusia? Bisakah kita membedakan, bahwa antara penjahat dan LGBT tidaklah sama?

“Saya bukanlah orang suci, saya tidak berhak menghakimi, Karena saya belum tentu lebih baik dari mereka.”

Sebuah tulisan yang jujur dan sangat menyentuh. Untuk membaca keseluruhan cerita bisa klik di sini Nurjanah: Teman-teman LGBT saya adalah manusia-manusia yang saya sayangi. credit to Malela.org

Sumber : Malela.org

Cinta yang tumbuh di masa Perang Irak akhirnya dipersatukan setelah terpisahkan lebih dari 1 dekade

Betu Allami dan Nayyef Hrebid Sumber : kuow.org

Betu Allami dan Nayyef Hrebid
Sumber : kuow.org

Ini adalah sebuah kisah tentang cinta dan perang; cinta yang hilang dan cinta ynag dipertemukan kembali.

Pada tahun 2004, Nayyef Hrebid adalah seorang penerjemah Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di Irak, dan Betu Allami adalah seorang tentara perang Irak.

Saat itu Rumah Sakit Umum  Ramadi sudah dikuasai oleh pemberontak. Hrebid dan Allami masuk ke dalam kelompok yang ingin merebut kembali rumah sakit tersebut. Sebuah misi yang berbahaya, di sebuah kota yang berbahasa dan pada waktu yang berbahaya pula.

Pada saat malam tiba, setelah ketegangan mulai mereda, mereka berlindung di salah satu rumah untuk beristirahat, makan, duduk di kebun belakang rumah dan ngobrol sampai berjam-jam.

Di tengah ganasnya peperangan dan situasi yang serba sulit itu, obrolan-obrolan tersebut lah yang membuat Hrebid tetap bertahan dan jiwanya terjaga.

“Sebab, kalian tahu, kami melihat mayat-mayat, kami berperang. Jadi yang kami obrolkan seputar kehidupan dan masa lalu kami, tentang perasaan kami, di mana kami ingin tinggal nantinya” Kata Hrebid. “Dan itu adalah saat-saat yang sangat indah di dalam waktu yang sulit”

Tidak satu pun dari mereka terbuka bahwa mereka adalah gay, tetapi mereka tahu bahwa mereka mempunyai perasaan satu sama lain. Setelah 4 hari, Allami mengatakan kepada Hrebid, “Aku saya kamu.” Hrebid menjawab pernyataan itu dengan menciumnya. Allami mengatakan bahwa ia sangat senang, saking senangnya ia sampai tidak makan selama 2 hari.

Tetapi apapun itu, itu di Irak, menjadi seorang Gay adalah tidak OK.  Jika saja mereka tertangkap, mereka bisa dipenjarakan selama 15 tahun, bahkan mungkin lebih buruk.

“Menjadi seorang gay di Irak sangat berbahaya,” kata Hrebid. “Sama dengan kehilangan kehidupanmu. Kamu memberikan rasa malu kepada keluarga. Kamu kehilangan keluargamu. temanmu, hampir semuanya. Karena itu hanya ada satu cara bagi gay, yaitu menyimpannya untuk diri sendiri dan pasangannya.

Selama hampir 5 tahun, Hrebid dan Allami menyimpan dan merahasiakan perasaan cinta mereka. Beberapa teman kadang membantu mereka untuk bisa bertemu, tetapi mereka tidak bisa mengekpresikannya secara terbuka.

Baca juga : Cerita jujur, dari hati seorang muslim gay Iskan Darilyas

Tahun 2009, Hidup Hrebid dalam bahaya, ia menjadi target serangan pasukan militan karena pekerjaannya sebagai penerjemah.

“Mereka mulai menuliskan nama kami di jalan-jalan; Aku tidak bisa bertemu dengan keluargaku lagi, bahkan semua tetanggaku tahu kalau aku bekerja pada Amerika, itu membuat mereka menyebutku pengkhianat,” katanya.

Berkat bantuan Kapten Marinir Amerika Serikat, Hrebid diberikan hak suaka dan akhirnya pada tahun 2009 ia tinggal di Seattle, Amerika Serikat. tetapi itu membuatnya harus meninggalkan Allami sendiri di Irak.

Allami mengatakan bahwa dia bahagia mengetahui bahwa Hrebid sudah ada di tempat yang aman dan bisa hidup dengan nyaman sebagai seorang gay. “Tetapi tinggal aku sendiri di Irak, sangat sulit,” kata Allami.

“Aku merasa sangat berdosa meninggalkanya,” Kata Hrebid.

Keduanya saling berhubungan melalui telefon, skype dan media lainnya. Bertahun-tahun Hrebid mencoba mencari jalan untuk membawa Allami tinggal bersamanya di Seattle.

Sejarah militer Allami membuat Hrebid kesulitan mendapatkan izin dari pemerintah Amerika Serikat agar mengizinkan Allami datang ke Amerika Serikat. Pada saat yang sama, hidup Allami pun dalam bahaya. Salah seorang anggota keluarganya mengetahui bahwa Allami gay, hal itu membuatnya khawatir.

Baca juga : Kisah Nyata : Surat Coming-Out Michael kepada ibundanya

Atas bantuan beberapa temannya, Hrebid berhasil mengirim Allami ke Beirut, Lebanon. Yang akhirnya memberikan jalan kepada Hrebid untuk membawa Allami ke Vancouver, Kanada, di mana Hrebid bisa mengunjunginya sewaktu-waktu.

Mereka tinggal di perbatasan Amerika dan Kanada, dan saling bertemu seminggu sekali. Pada akhirnya mereka menikah di Kanada pada hari Valentine 2014.

Tahun 2015, akhirnya mereka mendapatkan janji dengan Immigrasi Amerika Serikat.  Hrebid  sangat ingat sekali hari itu.

“Hari itu adalah salah satu hari terbesarku. Kami pergi ke sana dengan satu bendel dokumen, foto dan surat-surat yang menguatkan hubungan kami. Interviewnya berlangsung 10 menit saja. Kami diberikan pertanyaan spesifik, bagaimana kami bertemu, Sudah berapa lama kami bersama, dan bagaimana kami berhubungan satu sama lain. Setelah itu petugas mengatakan ‘Visa Anda sudah disetujui'” Kata Hrebid.

Ia sangat syok dan mulai menangis dan menjerit seketika itu. “Aku benar-benar kehilangan kesadaran, akhirnya ini terjadi juga. Kami akhirnya bisa tinggal bersama,”katanya. “Aku ingin bangun tidur dan melihatnya di hadapanku. Dan ketika aku memejamkan mata, wajahnya lah yang terakhir aku lihat.”

Keduanya menikah di Olympic Peninsula pada bulan Agustus 2015. Mereka menyebutnya “dream wedding”. Saat ini mereka tinggal di Capitol Hill di Seattle. Setelah lebih dari 1 dekade tinggal berjauhan, mereka sangat bersyukur akhirnya bisa dipersatukan.

“Kami punya tempat tinggal” kata Allami, “sebuah apartemen, tapi…”

Hrebid memotongya, “Itu layaknya istana bagi kami.”

 

 

Sumber : Kuow.org

Kisah Nyata : Surat Coming-Out Michael kepada ibundanya

Michael dalam Film Tales of The City SUmber : slate.com

Michael dalam Film Tales of The City
SUmber : slate.com

Surat ini adalah bagian dari buku  Amistead Maupin berjudul Tales of the City, menceritakan kehidupan sekelompok orang yang tinggal di San Francisco dari tahun 1976 sampai pertengakan tahun 80-an.  Penulis surat ini adalah Michael Toliver, seorang gay yang saat itu mengetahui bahwa orang tuanya ikut dalam kampanye Anita Bryant di Floria ynag ingin menumpas para gay.  Berikut surat yang diberi judul “Letter for Mama” -Surat untuk Mama”. Terjemahan dalam bahasa indonesia ada di bagian bawah.

Dear Mama,

I’m sorry it’s taken me so long to write. Every time I try to write to you and Papa I realize I’m not saying the things that are in my heart. That would be O.K., if I loved you any less than I do, but you are still my parents and I am still your child.

I have friends who think I’m foolish to write this letter. I hope they’re wrong. I hope their doubts are based on parents who loved and trusted them less than mine do. I hope especially that you’ll see this as an act of love on my part, a sign of my continuing need to share my life with you. I wouldn’t have written, I guess, if you hadn’t told me about your involvement in the Save Our Children campaign. That, more than anything, made it clear that my responsibility was to tell you the truth, that your own child is homosexual, and that I never needed saving from anything except the cruel and ignorant piety of people like Anita Bryant.

I’m sorry, Mama. Not for what I am, but for how you must feel at this moment. I know what that feeling is, for I felt it for most of my life. Revulsion, shame, disbelief – rejection through fear of something I knew, even as a child, was as basic to my nature as the color of my eyes.

No, Mama, I wasn’t “recruited.” No seasoned homosexual ever served as my mentor. But you know what? I wish someone had. I wish someone older than me and wiser than the people in Orlando had taken me aside and said, “You’re all right, kid. You can grow up to be a doctor or a teacher just like anyone else. You’re not crazy or sick or evil. You can succeed and be happy and find peace with friends – all kinds of friends – who don’t give a damn who you go to bed with. Most of all, though, you can love and be loved, without hating yourself for it.”

But no one ever said that to me, Mama. I had to find it out on my own, with the help of the city that has become my home. I know this may be hard for you to believe, but San Francisco is full of men and women, both straight and gay, who don’t consider sexuality in measuring the worth of another human being.

These aren’t radicals or weirdos, Mama. They are shop clerks and bankers and little old ladies and people who nod and smile to you when you meet them on the bus. Their attitude is neither patronizing nor pitying. And their message is so simple: Yes, you are a person. Yes, I like you. Yes, it’s all right for you to like me, too.

I know what you must be thinking now. You’re asking yourself: What did we do wrong? How did we let this happen? Which one of us made him that way?

I can’t answer that, Mama. In the long run, I guess I really don’t care. All I know is this: If you and Papa are responsible for the way I am, then I thank you with all my heart, for it’s the light and the joy of my life.

I know I can’t tell you what it is to be gay. But I can tell you what it’s not.

It’s not hiding behind words, Mama. Like family and decency and Christianity. It’s not fearing your body, or the pleasures that God made for it. It’s not judging your neighbor, except when he’s crass or unkind.

Being gay has taught me tolerance, compassion and humility. It has shown me the limitless possibilities of living. It has given me people whose passion and kindness and sensitivity have provided a constant source of strength. It has brought me into the family of man, Mama, and I like it here. I like it.

There’s not much else I can say, except that I’m the same Michael you’ve always known. You just know me better now. I have never consciously done anything to hurt you. I never will.

Please don’t feel you have to answer this right away. It’s enough for me to know that I no longer have to lie to the people who taught me to value the truth.

Mary Ann sends her love.

Everything is fine at 28 Barbary Lane.

Your loving son,
Michael

Terjemahan

Teruntuk Mama

Maafkan aku karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menulis ini. Setiap kali aku mencoba menulis untukmu dan Papa, aku sadar kalau aku tidak menuliskan apa yang ada di dalam hatiku. Tentu sebenarnya itu juga tidak apa-apa, jika aku kurang menyayangimu, tapi kalian masih orang tuaku dan aku masih anak kalian.

Aku punya teman-teman yang berpikir bahwa aku ini bodoh menulis surat ini. Semoga saja mereka keliru.  Semoga saja keraguan mereka karena orang tua mereka tidak segitu sayang dan percaya pada mereka seperti sayang dan percayanya kalian padaku. Aku berharap kalian melihat ini sebagai uangkapan sayang dariku, sebuah tanda bahwa aku masih ingin membagi hidupku dengan kalian. Aku rasa. aku tidak akan menulis surat ini jika kalian tidak memberitahuku tentang keikut sertaan kalian dalam kampanye Save Our Children. Hal itu memperjelas bahwa sudah menjadi kewajibanku untuk memberitahu kalian tentang yang sebenarnya, bahwa anak kalian adalah seorang homoseksual, dan aku tidak akan pernah membutuhkan perlindungan dari apapun, kecuali dari orang-orang kejam dan orang sok alim seperti Anita Bryant.

Maafkan aku Mama, bukan karena siapa aku, tetapi karena apa yang harus kamu rasakan saat ini. Aku tahu seperti apa perasaan itu, perasaan yang sudah aku rasakan seumur hidupku. Rasa jijik, malu, tidak percaya -penolakan melalui ketakutan atas suatu hal yang aku tahu, bahkan sebagai seorang bocah, itu ada secara alami seperti warna mataku.

Tidak Mama, Aku tidak “diajak”.  Tidak ada homoseksual yang pernah menjadi guruku. Tapi kamu tahu Mama? Aku berharap ada seseorang yang lebih tua dariku dan lebih bijak dari orang-orang di Orlando yang pernah duduk di sampingku dan berkata “Kamu baik-baik saja nak, Kamu bisa tumbuh menjadi dokter, guru seperti orang lain. Kamu tidak gila,  sakit atau pun jahat. Kamu bisa sukses dan bahagia dan mendapatkan kedamaian dengan teman-teman -semua jenis teman- yang tidak peduli dengan siapa kamu tidur. Tapi yang terpenting, kamu bisa mencintai dan dicintai, tanpa harus membenci dirimu sendiri.”

Tapi, tidak ada seorangpun yang mengatakan itu padaku Mama. Aku harus mencari tahu itu sendiri, dengan bantuan kota ini, kota yang sudah menjadi rumahku. Aku tahu ini mungkin sulit untuk kalian percayai, tapi San Francisco penuh dengan laki-laki dan wanita, ada yang straight ada yang gay, yang tidak menggunakan seksualitas sebagai ukuran untuk menilai seseorang.

Mereka bukan orang-orang radikal yang aneh, Mama. Mereka penjaga toko dan pegawai bank dan  wanita-wanita tua dan orang-orang yang suka mengangguk dan senyum pada kalian ketika kalian berpapasan dengan mereka di bis. Mereka melakukan itu bukan karena merendahkan atau mengasihani. Dan pesan mereka sangat sederhana: Ya, kamu adalah seseorang. Ya, saya suka kamu. Ya. tidak apa-apa kalau kamu menyukaiku juga.

Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Kamu bertanya pada dirimu sendiri: Kesalahan apa yang sudah kami buat? Bagaimana kami bisa membiarkan ini terjadi? Siapa diantara kami yang membuatnya seperti ini?

Aku tidak bisa menjawabnya, Mama. Aku rasa, lama kelamaan sebenarnya aku tidak peduli. Yang saya tahu hanya ini: Jika kalian memang bertanggung jawab atas apa yang terjadi denganku, maka aku berterima kasih dengan sepenuh hatiku, atas kebahagian hidupku saat ini.

Aku tahu aku tidak bisa memberi tahumu bagaimana rasanya menjadi gay itu. Tetapi aku bisa memberi tahumu bagaimana rasanya tidak menjadi gay.

Ini adalah suatu hal di mana kita tidak harus bersembunyi dibelakang kata-kata, Mama. Seperti Keluarga dan Sopan santun dan Kekristenan. Ini tidak membuatmu takut, atau membuatmu takut atas kenikmatan yang Tuhan berikan. Ini  bukan seperti mengatai tetanggamu, kecuali ketika mereka kasar dan tidak baik.

Menjadi gay sudah mengajarkanku toleransi, rasa iba, dan rendah hati. Menjadi gay juga sudah menunjukkanku hidup dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak ada batasnya. Juga sudah memperkenalkku kepada orang-orang yang mempunyai semangat dan kebaikan dan kepekaan yang sudah memberikan sumber kekuatan yang terus menerus. Ini sudah membawaku kepada keluarga manusia, Mama dan aku senang  berada di sini. Aku menyukainya.

Sudah tidak ada lagi yang bisa aku katakan, kecuali bahwa aku masih Michael yang sama, yang selama ini kalian kenal. Kamu hanya sudah mengenalku lebih baik sekarang. Aku belum pernah melakukan apapaun dengan penuh kesadaran untuk melukaimu. Tidak akan pernah.

Tolong, jangan berpikir bahwa kamu harus segera  menjawab surat ini. Buatku sudah cukup mengetahui bahwa aku tidak harus lagi berbohong kepada orang-orang yang sudah mengajariku tentang nilai-nilai kebenaran.

Mary Ann mengirim salam sayangnya untukmu.

Semuanya baik-baik saja di Barbary Lane 28

Anakmu yang menyayangimu,
Michael

Baca juga : Cerita jujur, dari hati seorang muslim gay Iskan Darilyas

Baca juga : Cinta 2 gay muslim yang tumbuh di masa Perang Irak akhirnya dipersatukan setelah terpisahkan lebih dari 1 dekade

Sumber: mic.com

Cerita pembaca: Jangan pandang gay sebelah mata!

Ilustrasi Sumber : youthinkit.tumbler.com

Ilustrasi
Sumber : youthinkit.tumbler.com

Mungkin ini yg membuat kaum Gay, lesbian selalu kesepian, dan membutuhkan cinta, kasih sayang yg tulus. Gimana tidak, kita slalu merasa HAMPA, JENUH dan sepi -setiap mau gabung dengan teman yang straight (yang dianggap normal)  kita harus berperilaku seperti mereka, dan berpura-pura menyenangi apa yang mereka suka (kecuali yg biseks) – jika ada kaum GAY sejati (mau top atau bot atau flexi pasti ada gemulainya) pasti akan diledek (BENCONG atau BANCI), maka org tersebut akan memilih sendiri, berkurung dirumah, mencari teman yang bisa menerima mereka yaitu kebanyakan (WANITA).

Apa sih salahnya kaum gay? Nggak semua kaum gay itu suka melakukan hal bejat, seperti RIAN PEMBUNUH ITU, atau seperi ORANG YG SUKA SODOMI, ini orang-orang yang berpikiran centek, IQ jongkok karena mereka Kaum GAY divonis tidak baik. Padahal kaum gay juga bisa memberikan penghargaan, seperti salah satu pencipta facebook beliau mengaku sebagai seorang gay, CEO Apple, Alan Turing pencipta komputer dll.

Kita juga bisa memberikan prestasi yg baik. Dan prestasi kita juga digunakan orang yang dianggap normal (heteroseksual). Kita hanya punya orientasi seksual yang berbeda. Kita butuh kasih sayang dan cinta seperti orang „normal” lain. Namun salahnya kebanyakkan kaum gay menyalah gunakan naluri seksual mereka. Mereka menganggap jika berhubungan intim dengan sesama tidak akan ada yang rugi atau tidak akan hamil. Yah…. Memang benar tidak ada yang rugi tapi apa kalian tahu HATI dan PERASAANLAH yg kalian sakiti!

Tentang dosa, Yakin para ulama nggak berdosa? Yakin orang-orang yang sering ibadah nggak berdosa? Masalah dosa TUHAN yang menentukan, TUHAN yang tahu.

GAY yang gila seks itu tergantung orangnya, seperti halnya orang „NORMAL”, tergantung sama orangnya, kalau dia tukang kawin atau tukang selingkuh atau tukang ML sama pelacur apa itu nggak dosa?

GAY bukanlah pilihan, kita hanya pasrah menjalani hidup yg penuh kemunafikkan ini, Jadi jangan pandang GAY sebelah mata, DAN mari kita para kaum LGBT memperbaiki sifat kita yang glamour atau menganggap rendah tentang SEKS.

Ditulis oleh sahabat kita berinisial AG

Berpacaran sebagai Gay

Mungkin pacaran heteroseks adalah hal yang jamak. Lantas bagaimana dengan pacaran homoseksual alias kaum gay. Disini gw bakal cerita gimana gw bisa kemudian jatuh dalam dunia menyimpang ini. Yang gw rasain ada gw suka ngelihat bapak-bapak atau yang umurnya jauh diatas gw. Mungkin gara-garanya pas kecil gw sering di marahin dan dibentak bokap gw, mungkin ini jadi hal traumatik buat gw. Gw kadang pengen punya bokap yang lebih baik dari bokap gw. Tapi itu dulu, skip karena bokap gw sekarang beda.

Habis itu gw SMP dan gw ngerasain ada yang beda sama gw. Gw ngerasa suka sama cowok. Ya, kakak kelas gw. Bahkan gw suka ngelihat bapak-bapak tetangga gw yang sukanya telanjang dada dan ga pake kaos.Oh God! Gw semakin dilematis dan bingung dan ngerasa kalau gw ini gay. Masuk ke dunia SMA gw kenalan sama seseorang dan disinilah dimulainya kehidupan menyimpang. Gw kenalan sama orang itu di Migg di Room gay. Gw ketemu terus gw diajakin ke kantornya yang kebetulan kosong dan gw ML sama orang itu. Sempet beberapa kali ketemu habis itu kita hilang kontak.

Masuk ke dunia kampus, gw pindah ke Surabaya. Selama SMA gw ga pernah kenalan sama orang lain, selain minder gw juga sibuk sama ujian, sama seleksi masuk universitas. Pas kuliah gw sempet kenalan sama anak dia umurnya jauh dibawah gw, masih SMA. Hal yang sama kita ngelakuin ML. Dia ngajak gw buat bf-an, ini pertama kalinya gw punya bf. Tapi ga lama, cuma seminggu, gw ngerasa aneh aja punya bf kaya gini, dan gw rasa dia rada sissy jadi kurang suka juga.

Lama gw agak bingung sama orientasi seksual gw, akhirnya gw kenalan sama seorang cowok, dan dia guru. Kontak-kontakan sama dia lama, dan kita ga pernah ML sama sekali. Endingnya putus kontak juga ama dia gara-gara satu hal, nyaris ketahuan keluarga kalo gw punya hubungan sama cowok. Untungnya pas itu gw lagi punya cewek jadi aman.

Selama itu sempet kenalan sama orang, tapi ga sempet ML atau bf-an. Just fun, buat smsan aja.

Hingga akhirnya gw nyoba masuk ke sosial media buat gay dan disini kenalan makin banyak tapi jarang samapi ketemuan. Sempet ketemu sama Bapak-bapak usianya sekitar 40-an. Kita ML dan masih sempet komunikasi. Dia luar kota, kalau kebetulan lagi di Surabaya kita sempetin ketemu. Tapi sekarang ga tahu lagi kita ga pernah kontak-kontakan lagi.

Akhir-akhir ini gw masih nyari PLU, tapi ga ada yang klik. Gw pengen kenal orang yang bisa bener-bener deket dan bukan sex-oriented aja. Ge capek hidup kaya gini, gue ngejar-ngejar cewek, tapi gue juga ngejar cowok.

Gw pengen cukup satu dan setia, dan nggak sex-oriented.

Kisah gw selalu begitu, kenalan deket terus akhirnya ga pernah kontak-kontakan lagi. Pernah juga kenalan dan gw rasa kita udah cocok banget tapi endingnya dia kerja di luar pulau Jawa. Mungkin emang pada dasarnya cowok itu punya sisi egois yang tinggi. Gw rasain bener-bener kalau gw deket sama cewek, kita bisa care dan sharing bareng. Tapi kalau sama cowok susah. Gw juga capek kalau harus terus-terusan ngasih perhatian, gue juga pengin diperhatiin.

Tapi sekarang gw lagi kenalan sama seseorang. Kita belum sempet ketemu, cuma kontak via BBM aja, Kita udah niat ketemu tapi batal gara-gara kemaleman. Pertemuan yang ini agak rumit, tapi gw ngerasa yang satu ini beda. Dia ngirim BBM permintaan maaf. Sesuatu yang jarang gue temuin, padahal kita belum pernah ketemu. Dan dia usianya 10 tahun diatas gue. Tapi gue suka, gue suka cowok yang dewasa, dan udah kerja. Ga harus kaya, tapi yang penting dia tipikal pekerja keras.

PS : Sorry gw lagi random banget malam ini. Lagi bete aja, liburan tapi ga bisa pulang ke rumah.

ML yang gue maksud disini bukan ML sampai saling nusuk atau semacam itu, kita sebatas saling ngocok atau oral (Buat PLU pasti paham maksud gw). Gw orang yang paling ga suka nusuk, apalagi ditusuk. Gw pure Top yang lebih milih sama orang Top juga selama ML buat mengurangi resiko, karena gue bukan sex oriented.

dikutip dari kisahsangpria.wordpress.com dengan judul Berpacaran dalam dunia gay

Ada cinta antar Lelaki

Sungai air mata mbak Faradina—sahabat, penyair Merah Yang Meremah—meluap. Adik perempuan tersayang kecewa di Cikarang. Mereka sedih melihat saya bahagia. Sebab saya yang lelaki ini jatuh cinta pada dia yang juga lelaki. Sulit dijelaskan, pun sulit menjelaskan. Coba bayangkan perasaan maha dahsyat ini: kaki menjejak bumi, jiwa melambung ke langit tinggi. Dunia yang sumpek seketika menjelma surga. Bising kendaraan bermotor terdengar alunan melodi indah. Terik mentari terasa hangat di badan. Sunyi malam riuh geletar batin. Seluruh indera menjadi begitu peka. Hanya ada dia di setiap kedipan mata: lelaki tercinta.

Bagi saya, cinta adalah anugerah. Cinta bukan sejenis keinginan yang didapat dengan parameter tertentu. Cinta hadir, membuat manusia demam rindu atasnya. Dan yang terjadi di sini asmara. Menyeret saya dan dia menembangkan syair Kahlil Gibran,”Bila cinta memanggilmu, turutlah ke mana dia pergi.” Saya telah pergi menuju lelaki. Sebesar apa cinta itu, hanya saya sendiri yang tahu. Tidak pasangan saya, apalagi orang lain. Cukup disimpan di hati dan sesekali berbagi dalam bentuk puisi, semisal puisi Matahari Terbit Malam Hari.

Saya bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Selama empat tahun hati ini terkunci dan sekarang terbuka kembali. Bukan lantaran tak laku. Untuk seorang Antok Serean: ganteng, pintar, dan baik hati (ckckck) tawaran menjalin kasih—lelaki maupun perempuan—datang silih berganti. Tapi, saya tak bergeming. Cinta tanpa kompromi. Seolah mata air jernih yang bergulir indah di lereng-lereng hati dan menggenangi danau perasaan. Datang tanpa pesanan. Tugas saya hanyalah menjalani dengan lapang dada, jujur, ikhlas, dan penuh syukur. Sekarang cinta mempertemukan dengan lelaki, jalani saja. Pun nanti cinta mempertemukan dengan perempuan, jalani saja. Hati tak usah dikonstruksi. Biarkan mengalir apa adanya. Tak perlu dilawan, apalagi bunuh diri dengan ragam pengingkaran.

Dia berhasil membuat saya takhluk. Satu bulan dia mendekat, tak lelah mengajak, dan akhirnya tak menolak. Kenyataan bahwa pacar saya tampan tak bisa dipungkiri. Saya suka lantaran fisik memang iya. Bukankah senang mulanya pandangan? Tapi, bukan hanya itu alasannya. Dia serius dalam tindakan, terbuka, dan sudi berbagi apa saja. Di sisi lain, interpretasi saya tentang cinta, realitas hidup, dan nilai-nilai kehidupan sangat berbeda dibanding empat tahun lampau. Saya memahami konsep keutuhan diri dan konsep cinta yang membebaskan. Sekilas terdengar naïf. Tapi, bagi saya, cinta tidak untuk menjajah satu sama lain, justru membebaskan. Apabila sendiri berhadapan dengan cermin tunggal, maka berdua berhadapan dengan cermin ganda. Melalui dia saya dapat melihat diri saya yang lain.

Sebab hubungan antar lelaki tak ada patriarki, maka wilayah domestik aman-aman saja. Keseharian sederhana penuh makna. Seperti apa? Saya setrika, dia cuci baju. Saya bikin sarapan Sereal, dia antar belanja ke Carrefour. Juga saling mengingatkan satu sama lain. Dia yang rajin shalat mengingatkan saya untuk ibadah—sudah bisa ditebak, saya terlalu ndableg menjalankannya— . Dia minta saya mengurangi merokok. Dia menganjurkan minum jus buah dan rajin olahraga. Sebaliknya, saya minta dia teratur menaruh barang karena sifat pelupanya. Saya minta dia mengurangi makan dan rajin fitnes agar perutnya rata. Saya sumbang pemikiran ketika dia hendak pindah kerja. Atau menjalankan aktivitas bersama, seperti nonton ke bioskop, pergi ke tempat karaoke, pergi ke tempat ngeber, atau makan malam berdua. Indah bukan?

Tetapi, segala yang saya paparkan di atas tak ada di benak orang lain (baca: hetero). Selalu dan selalu, saya dihadapkan pada komentar, pertanyaan, dan ocehan dangkal seputar seks: siapa pewong siapa lekong, siapa nembak siapa ditembak. Memang tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi, please deh, cerdas sedikit masa tidak bisa. Seolah kehidupan gay seputar selangkangan belaka. Lebih parah lagi, banyak yang melihat aktivitas gay terkait jual-beli tubuh. Saya benar-benar marah, ngamuk, mencak-mencak, ketika seorang karib bicara dengan enteng,”Kon dibayar piro sekali ngencuk?” (Kamu dibayar berapa sekali ML?) Saya dendam sebulan lamanya. Sebagai kawan dekat, saya merasa dilecehkan. Karib mengiba maaf. Oke, saya maafkan. Tapi, jangan memandang rendah saya atau gay lain.

Saya selalu bilang pada kawan hetero,”Saya suka lelaki atau perempuan tak merubah pribadi Antok Serean yang kamu kenal. Saya tetap suka membaca, menulis, melamun, dan cangkruk di warung kopi.” Pada kenyataannya, saya menerima perlakuan berbeda. Ketika pacaran dengan perempuan, mereka bersorak-sorak bergembira. Sebaliknya, ketika saya pacaran dengan lelaki, mereka menjaga jarak, seolah orang asing. Entahlah. Barangkali ini harga yang harus saya bayar demi nilai kejujuran. Menantang mainstream memang berat. Tapi, itu jalan yang saya pilih, lengkap dengan resikonya—banyak kawan dekat tak lagi mau kenal, terlebih setelah saya aktif di GAYa NUSANTARA—. Kalau sudah begitu, saya bakar semangat dengan baca ulang buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

Meski masih dalam suasana kasmaran, tapi tampuk kesadaran saya tetap mengeja kefanaan hidup. Pertemuan dan perpisahan, kelahiran dan kematian, bak dua sisi mata uang. Kita tak bisa merenggut salah satunya. Bagi saya, titik beratnya bukan pada dua sisi itu, tapi proses di dalamnya. Setiap percintaan adalah kesempatan. Kesempatan menuai pengalaman. Bukankan hidup melaju dari rangkaian pengalaman demi pengalaman? Ada masanya kesempatan itu terhenti dan perpisahan terjadi. Bisa dengan akhir biasa-biasa saja: masing-masing merasa cukup lalu melanjutkan kehidupan sendiri—saya suka perpisahan indah ala Dee dan Marcel—. Bisa juga dengan dramaturgi klise: pertengkaran, perselingkuhan, salah satu menikah dengan perempuan, atau kematian. Saya tidak kenal kata putus, saya memilih kata pisah. Sebab kebersamaan bisa dilanjutkan dengan pola berbeda: sebagai kawan, sahabat, atau saudara. Kebencian pada orang lain hanya menjadi racun yang membunuh diri sendiri. Tebarkan cinta, hidup akan lebih berwarna.

Dua bulan: satu bulan pendekatan, satu bulan pacaran. Saya tidak suka harapan. Saya lakukan yang terbaik sekarang. Adik tersayang bertanya,”Sampai kapan, Mas?” Saya jawab,”Tidak tahu.” Jujur, saya tidak tahu yang akan terjadi nanti, bahkan esok hari. Nanti biar jadi misteri. Detik ini berarti detik ini. Sebisa mungkin saya isi dengan pengalaman indah. Sebab keindahan selalu memberi kekuatan. Apabila saya tengok kenangan yang terlewat, tercipta senyum anggun. Betapa hidup, dengan caranya yang tak terduga telah mengajarkan makna. Tak perlu hidup seribu tahun, dua bulan saja pemahaman itu terhampar begitu nyata. Dan saya akan terus mencipta keindahan dari kesempatan yang ada sekarang. Sampai suatu saat perpisahan itu terjadi.

Sekali lagi, kenangan indah memberi kekuatan. Masa yang terlewat, yang tak terengkuh kembali, kekal dalam diri. Persis kristal kenangan karaoke di NAV, kilaunya masih memancar sampai sekarang. Berdua, duet lagu Mayangsari: Rasa Cintaku. Tak ada sesiapa di dunia, hanya saya dan dia, berteriak di tengah malam buta, agar semesta mencatat cinta yang membuncah di dada:

Jangan jangan aku takut mendengar

Kuingin selalu, selamanya denganmu

Hanya engkau saja satu­satunya

Tempat kubersandar di dalam dunia

Hanya padamu, kuserahkan cintaku

cerita dikutip dari gerakan-gay.blogspot.com

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 22 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: