Advertisements

Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia
Kabar LGBT has written 376 posts for Kabar LGBT

KabarLGBT resmi ditutup. Terus berjuang! #lovewins

 

 

Kepada Yth,

Teman-teman kabarLGBT

 

Seperti yang mungkin teman-teman kabarLGBT ketahui, beberapa hari ini kabarLGBT tidak mengunggah artikel maupun postingan apapun baik di situs http://www.kabarlgbt.org maupun di jejaring sosial kabarLGBT (facebook dan twitter). Hal tersebut kami lakukan karena satu, dua pertimbangan.

Salah satu pertimbangan kami tersebut adalah adanya beberapa masukan yang menganggap beberapa artikel dan postingan kabarLGBT tidak sejalan dengan pandangan dan perjuangan komunitas LGBT+ di Indonesia. Kami sepenuhnya mengerti bahwa perbedaan pendapat pasti akan selalu ada, apalagi dalam demokrasi dan kebebasan mengeluarkan pendapat.

Kami, para admin kabarLGBT tidak tinggal di Indonesia. Kami tahu bahwa bagi teman-teman LGBT+ yang tinggal di Indonesia, pasti situasi yang harus dihadapi lebih sulit. Sehingga munculnya beberapa berita dan postingan terkait LGBT+ ke publik mungkin dianggap membahayakan komunitas LGBT+, bahkan dianggap menambah rasa takut mereka. Kami bisa mengerti pandangan tersebut, walaupun menurut kami, publik di Indonesia dan di dunia harus mengetahui diskriminasi-diskriminasi yang dialami teman-teman LGBT+ di Indonesia.  Pembatasan pemberitaan yang berisi diskriminasi, pengetahuan hukum dan lain-lain  terkait LGBT+, menurut kami tidak tepat. Pemahaman yang beragam terhadap suatu artikel atau tulisan menurut kami adalah suatu hal yang wajar.  Meskipun masukan tersebut kami anggap tidak sesuai dengan cara pandang kami, kami tetap menghormati masukan tersebut dan kami memutuskan untuk menggantung “pena” kami untuk menghindari kejadian yang sama terulang.

Mulai hari ini, kami tidak akan menulis artikel maupun membuat postingan apapun di jejaring sosial kabarLGBT. Begitu juga kami akan menggantung rencana jangka panjang kami, diantaranya:

a. Mendirikan “Persahabatan LGBT+ Uni Eropa dan LGBT+ Indonesia” yang direncanakan sebagai wadah dukungan moral dari LGBT+ di Uni Eropa kepada LGBT+ di Indonesia.

b. Mendirikan LSM di Uni Eropa yang berbasis Crowdfunding -penggalangan dana-, guna membantu pada LGBT+ Indonesia yang mengalami keterpurukan hidup, untuk memberikan support agar hidup mereka bisa lebih terangkat.

Satu hal yang sangat membanggakan bagi kami, selama 2,5 bulan kabarLGBT berjalan, adalah postingan kami tanggal 25 Februari 2016 lepas tengah malam, yang menampilkan Foto Didik Nini Thowok bersandingan dengan Surat Edaran KPI yang kami sebarkan guna menentang keputusan KPI.  Kami tidak menyangka bahwa postingan tersebut beredar luas di Indonesia, sampai seorang budayawan besar seperti Butet Kertaradjasa mengunggah kembali postingan tersebut, begitu juga Budayawan Sujiwo Tejo.

Kami meminta maaf sebesar-besarnya jika kami ada kekurangan maupun kelalaian. Kami selanjutnya tetap mendukung para aktivis LGBT+ di Indonesia, kami tidak ingin berselisih dan menentang beberapa dari mereka. Semoga kesuksesan senantiasa bersama mereka. Kami juga berharap bahwa suatu saat, beberapa dari mereka akan meninjau kembali pandangan mereka tentang pembatasan publikasi. Begitu juga, semoga Komunitas LGBT+ di Indonesia bisa semakin solid dan berjalan dalam visi, misi yang sama dan mewakili seluruh suara komunitas LGBT+ di Indonesia

 

Hormat kami,

KabarLGBT

logo kecil (2)

 

Advertisements

Fidiansjah tetap menyatakan LGBT penyakit kejiwaan

Dr. Fidiansjah Mursjid, Ketua Seksi Reliji Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP-PDSKJI) Sumber : republika

Dr. Fidiansjah Mursjid, Ketua Seksi Reliji Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP-PDSKJI)
Sumber : republika

Pada tanggal 17 Maret 2016, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) melayangkan somasi kepada Ketua Seksi Reliji Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP-PDSKJI) Fidiansjah Mursjid, yang juga mantan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan dan menjadi salah satu pembimbing di Peduli Sahabat, komunitas yang salah satu tujuannya adalah “meluruskan” LGBT”.

Baca juga : Fidiansjah diminta mengkoreksi ucapannya.

Baca juga : LBH mensomasi Dr. Fidiansjah

Pada hari Rabu tanggal 23 Maret 2016, ia melakukan konferensi pers di sekretariat Gerakan Indonesia Beradab di Jalan Haju Saabun, Jati Padang, Jakarta Selatan. Yang intinya meminta maaf terkait pernyataannya di acara Indonesia Lawyers Club yang diadakan TV One 16/2/2016 mengatakan bahwa LGBT adalah gangguan jiwa, dan mengatakan bahwa buku yang dijadikan pedoman aktivis LGBT hanyalah buku saku saja yang tidak menjelaskan tentang diagnosis LGBT. Ia membandingkan dengan buku yang ia pakai yang jauh lebih tebal dari buku yang dipakai aktivis LGBT.

Dalam 7 poin permintaan maafnya tersebut, ia tidak menyebutkan sama sekali pemintaan maaf terkait ucapannya yang mengatakan LGBT adalah gangguan jiwa. Sebuah pernyataan yang banyak dikritik oleh banyak orang, termasuk ahli kejiwaan.

Berikut tujuh butir permohonan maaf yang disampaikan oleh dr Fidiansjah:

  1. Permohonan ampun dan maaf yang pertama, kami sampaikan kepada Allah SWT Tuhan yang Maha Pemberi ilmu pengetahuan dan semua kebutuhan hidup ini karena kami belum dapat memanfaatkan semua titipan amanah yang diberikan untuk melaksanakan yang diperintahkan dan mencegah yang dilarang.

  2. Permohonan maaf yang kedua, kami sampaikan kepada orang tua, guru-guru dan para pemimpin serta pejuang yang telah memberi pola asuh, asih, dan asah serta pendidikan yang sangat berguna untuk bekal hidup ini namun masih banyak yang belum dapat kami terapkan dalam melanjutkan perjuangan kemerdekaan negara ini secara optimal menjadikan negara Indonesia yang adil dan makmur.

  3. Permohonan maaf yang ketiga, kami sampaikan kepada keluarga, kerabat, sahabat, dan handai taulan, serta semua orang yang selama ini telah memberi arti bagi kehidupan yang sangat berharga namun demikian kami merasa masih banyak keteladanan dan inspirasi yang diberikan belum sepenuhnya dapat kami ikuti.

  4. Permohonan maaf yang keempat, kami sampaikan kepada saudara-saudara kami yang sedang diberi musibah dan cobaan atas problematika yang dihadapi di bidang seksualitas dalam beragam bentuknya antara lain homoseksual, biseksual, dan transeksual. Kamu mohon maaf, baru dapat memberi keyakinan bahwa Allah SWT Tuhan Yang Maha Sempurna dan Maha Menyembuhkan senantiasa akan memberi pertolongan bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada fitrah seksual yang diridhai dan diberkatinya.

  5. Permohonan maaf yang kelima, kami sampaikan kepada para orang tua, keluarga, handai taulan dari saudara kami yang mengalami musibah dan cobaan atas problematika yang dihadapi di bidang seksualitas dalam beragam bentuk, antara lain homoseksual, biseksual, dan transeksual. Mohon maaf atas keterlambatan kami menyampaikan informasi bahwa apa yang dialami saudara-saudari kita yang menimbulkan problematika seksualitasnya, Insya Allah dengan ikhtiar yang optimal dan saling bekerja sama, bahu-membahu, tolong-menolong untuk membantu mereka, adalah bisa mendapat kesembuhan dengan izin Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa dan Berkehendak atas segala sesuatu.

  6. Permohonan maaf yang keenam, kami sampaikan kepada para penggagas dan pendukung press release yang keberatan dengan pernyataan kami di ILC TVOne tanggal 16 Februari 2016 sehingga menimbulkan ketidaknyamanan yang dirasakan, karena bagaimanapun kami harus tetap teguh konsisten menyampaikan kebenaran ini dalam rangka mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat menuju cita-cita sebagai negara yang berdaulat di atas landasan dasar Negara Pancasila dan UUD 1945.

  7. Permohonan maaf yang ketujuh, kami sampaikan kepada seluruh media di Indonesia yang agak terlambat dalam mengetahui lahirnya Gerakan Indonesia Beradab, satu gerakan yang lahir untuk mendukung kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai menuju negara yang lebih beradab, aman, damai, sejahtera dalam naungan kasih sayang Allah SWT, Tuhan yang Maha Bijaksana.”

Di akhir pernyataan tertulisnya, dr Fidiansjah juga menyampaikan bahwa terkait aspek kode etik kedokteran, ia menyerahkan sepenuhnya ke Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan PP PDSJKI) sebagai pihak yang memiliki otoritas.

Fidiansjah masih tetap teguh dengan pendapatnya, karena ia menganggap kebenaran itu adalah kebenaran komunal yang diakui sejumlah pihak di dalam Gerakan Indonesia Beradab. Dan tetap menegaskan LGBT adalah penykait kejiwaan. Ia mengatakan bahwa meminta maaf bukan berarti LBH benar

“Permintaan maaf yang saya sampaikan sesuai dengan yang mereka (LBH Jakarta) tuntut. Meminta maaf bukan berarti mereka benar,” ujar dr Fidiansjah

 

Dalam poin keenam, sepertinya ia ingin menunjukkan keteguhan pendapatnya untuk menolak LGBT dan menyatakan sebagai penyakit. Ia menolak membicarakan lebih lanjut poin tersebut dalam konferensi pers dan memilih membahasnya dalam forum ilmiah.

Menanggapi tudingan yang telah menhilangkan dua kalimat dalam Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, ia berdalih bahwa apa yang ia sampaikan dalam ILC sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh pembawa acara. Ia mengambil bagian yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia juga beralasan hal tersebut terkait dengan durasi waktu yang singkat. Fidiansjah juga beralasan jika tentang kesehatan jiwa, maka membahasnya juga sesama spesialis kesehatan jiwa.

“Kalau soal kesehatan jiwa, ngomongnya sama sesama spesialis kesehatan jiwa,” ujar dia.

Sumber :  Republika Republika

Terapi membantu penerimaan diri cuma-cuma bagi LGBT a la Sekartaji Ayuwangi

Sekartaji Ayuwangi, terapis (ditengah memakai baju hijau) Sumber : jogjanews.com

Sekartaji Ayuwangi, terapis (ditengah memakai baju hijau)
Sumber : jogjanews.com

Seorang praktisi terapi kejiwaan di Yogyakarta, Sekartaji Ayuwangi memberikan terapi cuma-cuma seminggu sekali kepada LGBT. Hal itu ia lakukan seiring posisi mereka yang tidak diterima sepenuhnya oleh lingkungan.

Ia berkata bahwa, terapi  sangat diperlukan agar para LGBT tidak terpuruk, padal sebenarnya mereka memiliki potensi masing-masing. Ia menjelaskan bahwa dengan detox emosi negatif dan self development terhadap penerimaan diri akan menjadikan mereka pribadi yang unggul.

“Dengan detox emosi negatif dan self development terhadap penerimaan diri, akan mentransformasikan mereka menjadi pribadi unggul yang fokus pada pengembangan potensi diri bagi kehdupan yang lebih baik,” kata Sekartaji Senin (21/3/2016).

Ia menambahkan bahwa stigma negatif ynag memojokkan bisa jadi sudah diterima sejak kecil hingga kini. Hal tersebut dapat melahirkan luka batin, stress, trauma sehingga menjauhkan mereka pada diri sendiri.

“Dapat melahirkan luka batin, stres, trauma sehingga justru menjauhkan mereka pada diri sendiri,” ujarnya.

Menurutnya ada beberapa faktor pemicu perilaku LGBT yang ia rangkum dai berbagai pakar.

Pertama,faktor fisiologis atau biologis.

Kedua, faktor psikodinamika yakni cenderung pada ganguan perkembangan psikoseksual sejak anak-anak.

Ketiga, faktor sosiokultur, misal berupa adat istiadat atau tradisi. “Di Indonesia seperti bissu di Makasssar, atau gemblak di Ponorogo,” ujar dia.

Faktor keempat adalah lingkungan yang memicu penyimpangan seksual. Ini bisa terjadi pada manusia yang terisolasi, semisal di penjara. *

Terkait istilah penyimpangan seksual, Sekartaji berpendapat bahwa hal itu lebih tepat untuk menjelaskan perilaku seseorang yang melakukan intimidasi seksual pada orang lain.

“Banyak juga pelaku heteroseksual yang melakukan penyimpangaan,” tandas Sekartaji.

***

*dalam kasus perilaku seksual sesama jenis yang terjadi dipenjara, berdasarkan beberapa testimony para pelaku, mereka melakukannya karena dorongan seksual mereka yang tidak tersalurkan dan tidak ada opsi lainnya. Mereka tidak pernah mengategorikan diri mereka homoseksual walaupun pernah melakukan hubungan seksual sesama jenis. Setelah keluar dari penjara mereka sepenuhnya berhubungan dengan wanita.

Baca juga : Penyebab-penyebab anggapan bahwa orang bisa tertular LGBT

 

Sumber: Liputan6.com

Sepupu saya seorang transgender

Almarhumah Ibu Maryani, Pendiri Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta

Almarhumah Ibu Maryani, Pendiri Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta Sumber: bahasa.aquila-stlye.com

Pada tahun 2008, seorang perempuan transjender Indonesia bernama Maryani (dikenal luas dengan hanya satu nama) mencatat sejarah saat membuka Pesantren Waria Al Fatah, sebuah sekolah Islam berasrama untuk perempuan transjender. Sekolah tersebut, terletak di kota Yogyakarta, Jawa Tengah, merupakan yang pertama di dunia.

Dengan meninggalnya Maryani bulan lalu, sekolah tersebut dipindahkan ke rumah aktivis LGBT Shinta Ratri, lapor Jakarta Post.

Dengan dukungan Universitas Nahdlatul Ulama Jepara di Jawa Tengah, sekolah tersebut menawarkan 35 siswanya pelajaran tentang Islam, membaca Qur’an, dan shalat.

Di acara pembukaan kembali sekolah tersebut, sebuah pidato disampaikan oleh Abdul Muhaimin, seorang angota kelompok advokasi setempat. “Setiap orang memiliki hak untuk memaknai agama mereka dengan cara mereka. Menurut Qur’an, kita tidak boleh membedakan orang berdasarkan nilai ekonomi, sosial, politik, jender, atau agamanya.”

Saya berharap seluruh dunia mau memahami pesan mendalam tersebut dengan hati.

Baca juga : Mengenang almarhumah ibu Maryani, sang waria pendiri ponpes waria di Yogyakarta

Salah satu sepupu saya adalah seorang transjender. Saat kami kecil, ia sering bermain rumah-rumahan dengan para saudari dan sepupu perempuan saya sementara saudara dan anak lelaki lainnya akan menyuruh saya mengambil posisinya dalam permainan sepak bola atau kasti.

Sepupu saya menyukai tari tradisional Melayu, dan bersekolah di sekolah sekuler sekaligus madrasah seperti kami semua. Tidak satupun dari kami pernah merasa ia aneh sebagai seorang anak lelaki yang lebih suka melakukan hal-hal yang dilakukan anak perempuan.

Saat remaja, gerak-gerik femininnya makin terlihat. Akhirnya, saat memasuki dunia kerja dan mulai menghasilkan uang sendiri, ia memutuskan menjadi seseorang yang selalu ia inginkan – seorang perempuan.

Bagi kami para sepupu, keputusannya tidak mengejutkan. Justru kami menjadi sangat penasaran. Kami memberi berbagai pertanyaan mulai dari operasinya hingga suntik hormon. Ia masih menjadi bagian dari kami dan kami tidak melihatnya sebagai seseorang yang berbeda.

Namun, orangtuanya tidak menerima perubahan tersebut dengan baik. Mereka menolaknya dan akan berdiam diri jika ada yang menanyakannya. Butuh bertahun-tahun sebelum akhirnya mereka menerima kenyataan dan menerima sepupu saya apa adanya.

Sayangnya, bagi sepupu saya dan transgender lain, stigma sosial masih menghantui mereka. Sepupu saya ditertawakan dan dijadikan tontonan aneh. Saya mengagumi kekuatan dan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai hal agar tidak mempengaruhinya.

Hingga kini, salah satu paman kami, seorang lelaki taat agama yang menganggap dirinya penasihat keluarga, masih memperlakukan sepupu saya seakan ia tidak kasat mata. Di acara-acara keluarga, ia akan berpaling jika sepupu saya kebetulan berada di depannya.

Saya masih ingat apa yang paman tersebut katakan kepada saya dan para sepupu: “Jangan sekalipun berbicara dengannya. Kalau tidak, saat ia masuk neraka, ia akan membawa kalian semua bersamanya.”

“Peringatannya” mengejutkan saya. Bagi saya, tidak seorang pun berhak mengutuk sesama Muslim, karena saya sangat meyakini bahwa setiap orang memiliki hak untuk memeluk Islam dan mempraktekkannya, apapun warna kulit, status sosial, maupun orientasi seksual mereka.

Ucapan paman tersebut mengganggu saya, jadi saya menceritakan hal ini pada ayah saya. Dengan gaya santainya, ayah saya mengatakan hal ini pada saya dan para saudari saya:

“Pernahkah sepupu kalian berbuat salah pada kalian? Pernahkah ia entah bagaimana menyinggung kalian? Perlakukan ia seperti manusia lain – jika ia baik pada kalian, maka kalian harus baik padanya. Tidak ada alasan untuk bersikap tidak ramah padanya hanya karena ia berbeda.”

Saya merasa lega mendengarnya. Tentunya ayah saya menganggap transgender berbeda dari kebanyakan kita – ia tidak terlalu progresif – namun ia merasa hal tersebut bukan alasan untuk memperlakukan mereka dengan berbeda.

Saya berharap setiap orang berpikir seperti itu. Saya tidak mengharapkan masyarakat menjadi sangat bersahabat dengan para transjender, namun setidaknya berhenti menyebar kebencian terhadap mereka merupakan awal yang baik. Dan setelah mendengar tentang perjuangan sepupu saya mendapat pekerjaan, saya berharap para pemberi kerja juga memberi orang-orang transjender kesempatan yang sama.

Tulisan di atas dikutip dari tulisan Lina Lewis pada tanggal 29 April 2014 dalam kolom  gaya hidup muslim modern @bahasa.aquila-style.com

Andini menopang kebutuhan orang tua yang menerima kondisinya itu dari pentas tari tradisional

Andini Sumber : Tempo

Andini
Sumber : Tempo

Andini, waria yang batal menikah dengan pasangannya adalah satu-satunya tumpuan keluarganya. Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana di Kecamatan Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah. Rumahnya berdinding kayu dengan luas 8 x 10 m persegi. Ia tinggal dengan ayah dan ibunya yang sudah menderita sakit stroke selama empat tahun. Ia tidak bisa berdiri, bahkan untuk menyalami tamu saja ia tidak mampu. Ayahanda Andini sendiri juga menderita stroke, walaupun stroke ringan.

Waria berumur 25 tahun ini dengan sabar merawat kedua orang tuanya. Saudara perempuannya sudah berkeluarga dan tidak tinggal bersama mereka. Setiap pagi ia menyiapkan makanan untuk kedua orang tuanya, juga termasuk bersih-bersih rumah. Ia adalah tulang punggung keluarganya.

“Saya menjadi tulang punggung keluarga,” kata Andini  Kamis, 17 Maret 2016.

Andini adalah seorang pekerja keras, Setelah ia lulus dari Madrasah Tsanawiah di Wonosobo, ia pernah bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Jakarta selama 13 bulan. Ia pun pernah membantu masak dan bersih-bersih di rumah yang berada di Jalan Parangtritis, DIY selama dua tahun. Kerja di warung sate di Yogyakarta pun pernah ia jalani.

Andini sering diundang mengisi hajatan maupun acara desa dengan menari dolalak, kesenian tradisional khas Kabupaten Purworejo. Ia sering pentas ke Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Cilacap. Anak kedua Suroso ini juga pernah pentas di Pantai Parangtritis di Yogyakarta. Sejumlah kelompok kesenian mengajaknya pentas. Upah Rp 200.000 ia terima setiap kali pentas. Begitulah ia menyambung hidup dan memenuhi hidup keluarganya keluarganya.

“Tari menghidupi keluarga saya,” kata Andini

Selain pentas, ia juga memberikan les tari selama dua kali dalam seminggu. Setiap kali memberi les, Andini mendapat honor Rp 100.000. Uang yang ia kumpulan juga ia gunakan untuk mengangsur sepeda motor.  Ia mengatakan menyukai seni tari sejak belajar di SD dan mulai aktif menari dolalak saat ia berada di SMP. Andini mengaku kawan-kawannya menerimanya dengan baik.

“Saya  menyukai tari sejak belajar di sekolah dasar,” katanya

Orang tua Andini mengatakan tidak pernah terusik dengan identitas gender anaknya. Suroso yang sedang sakit stroke ringan mengatakan menerima dan menyayangi Andini. Ia dan istrinya bertumpu sepenuhnya pada Andini.

“Kami bergantung pada Andi,” kata Suroso, Kamis, 18 Maret 2016.

Setiap satu kali pentas, Andini menerima imbalan Rp 200 ribu. Selain pentas keliling, ia juga mengajar menari siswa dari banyak sekolah menengah pertama dan sekolah menengah kejuruan.

Sumber : Tempo

Secara sepihak polisi melarang Andini dan kekasihnya bertemu

Polisi di Rumah Andini Sumber : forum.suara.com

Polisi di Rumah Andini
Sumber : forum.suara.com

Setelah pernikahan Andini dan kekasihnya Didik Suseno sempat dengan heboh diberitakan, saat ini Andini diminta untuk menjauhi kekasihnya. Dengan alasan bahwa suasana sedang tidak baik, Polisi memintanya menjauhi kekasihnya. Mereka juga dilarang untuk saling berkomunikasi.

“Karena suasana sedang tidak baik, polisi meminta saya menjauhi Didik,” kata Andini  Kamis malam, 17 Maret 2016.

Meski keberatan dengan larangan itu, tapi Andini tak punya kuasa untuk melawan. Dia justru mengkhawatirkan keadaan Didik, ia khawatir jika kekasihnya nekat kabur dari rumah.

“Saya khawatir Didik akan nekat kabur dari rumah,” kata waria berumur 25 tahun ini.

Andini  dan kekasihnya, Didik Suseno berkenalan sejak setahun lalu, tepat pada bulan puasa. Saat itu Didik baru pulang ke Purworejo setelah merantau dari Jambi. Andini mengatakan mereka punya keinginan  bersama untuk menikah. Namun, rencana hidup bersama mereka dibatalkan setelah permintaannya ditolak oleh KUA, Kecamatan Kepil, Wonosobo karena status Andini yang secara biologi masih sebagai seorang laki-laki.

Mengetahui hal itu, Andini menyarankan kekasihnya untuk menikah dengan perempuan agar keluarga Didik tidak malu, tetapi kekasihnya tidak setuju. Didik dan Andini pergi ke rumah keluarga Didik di Purworejo untuk mengatakan bahwa mereka sudah menikah di KUA.  Tetapi saat rombongan keluarga Didik tiba di rumah Andini, polisi dan beberapa tokoh masyarakat datang untuk menggagalkan pernikahannya.

Andini mengatakan tidak tahu siapa yang melaporkan mereka ke polisi. Yang jelas, polisi datang ke rumahnya sesaat sebelum pernikahan berlangsung. Saat itu Andini dan Didik sudah mengenakan baju pengantin.

***

Mengenai pelarangan bertemu dan berkomunikasi yang dilakukan oleh polisi, bisa jadi justru merupakan tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Seperti diketahui, polisi sebagai penegak hukum hanya bertindak berdasarkan hukum dan perundang-undangan yang belaku. Sedangkan apa yang dilakukan polisi tersebut (melarang Andini dan pasangannya untuk bertemu dan berkomunikasi) jelas-jelas tidak mempunyai dasar hukum yang jelas.

Jika pelarangan tersebut merupakan sanksi dari sebuah tindakan kriminal, maka harus ada putusan dari pengadilan terlebih dahulu. Polisi tidak bisa dengan sewenang-wenang dan sepihak memutuskan pelarangan tanpa dasar hukum yang jelas.

Polisi seharusnya melindungi Hak Asasi setiap warga negara Indonesia tanpa mengurangi, menghalangi dan membatasinya. Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia, tanpa diskriminasi.

Sumber : Tempo

Bagaimana sebenarnya kisah pernikahan Andini, si waria tegar dengan pasangannya

Andini Sumber : Tempo

Andini
Sumber : Tempo

Adalah Andini, seorang waria atau wanita transgender yang tegar dari Wonosobo yang belakangan ini dibicarakan banyak orang karena pernikahannya yang digagalkan. Media dengan heboh dan subjektif menuliskan berita tanpa mengetahui sebenarnya bagaimana Andini, hubungannya dengan kekasihnya dan bagaimana proses pernikahan itu berlangsung. Bahkan mengindahkan fakta bahwa Andini adalah seorang wanita transgender.

Selasa 8, Maret 2016, Andini pergi ke KUA Kecamatan Kepil membawa surat pengantar menumpang nikah yang ia dapatkan dari Kecamatan Pituruh, Purworejo. Surat tersebut diurus oleh Andini dan kekasihnya, Didik Suseno. Namun KUA Kepil menolak untuk melangsungkan pernikahan tersebut karena dua calon pengantin secara biologis berjenis kelamin laki-laki. Surat penolakan dari KUA Kepil tersebut ditandatangani oleh H. Slamet, petugas KUA Kepil.

Semua berkas yang Andini ajukan sudah sesuai dengan kartu identitasnya yaitu Andi Budi Sutrisno. Andini adalah orang yang taat administrasi, ia khawatir jika mengubah nama akan menyalahi hukum. Ia tahu kalau menikah sesama laki-laki dilarang tetapi ia dan pasangannya mencoba mengajukan permohonan mereka ke KUA. Andini sendiri sebelum mengajukan permohonan ke KUA, ia berkonsultasi dulu dengan Kepala Urusan Pemerintahan Desa tempat ia tinggal, yaitu Bapak Edi Purnomo, untuk memastikan ia tak melanggar hukum.

“Saya lampirkan identitas saya sesuai KTP dan kartu keluarga,” kata Andini.

Edi Purnomo mengatakan bahwa ia tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap oyang yang punya orientasi seksual berbeda, ia menyarakankan Andini untuk mengajukan ke KUA dengan tanpa mengubah nama, nama sesuai KTP.

“Saya sarankan Andi untuk datang ke KUA, mengikuti prosedur. Tanpa mengubah nama sesuai KTP,” kata Edi.

Kepala KUA Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Slamet Zaenal  mengatakan bahwa andini melampirkan surat-surat persyaratan untuk menikah, diantaranya kartu keluarga dan KTP Andini yang menyebutkan nama Andi Budi Sutrisno, serta  surat pengantar dari KUA Kecamatan Pituruh, Purworejo.

“Setelah saya teliti, dua-duanya beridentitas laki-laki. Jadi kami menolak permohonan itu,” kata Slamet Jumat, 18 Maret 2016.

Slamet mengatakan bahwa Andini, mengajukan surat permohonannya dengan pasangannya, Didik Suseno, Ayahanda Andini, Suroso. Ia mengatakan kepada mereka bahwa ia tidak bis amengabulkan permohonan mereka, karena tidka sesuai dengan UU Perkawinan tahun 1974.

Mengetahui KUA menolak permohonan mereka, Andini menyarankan pasangannya untuk menikah dengan perempuan, karena Andini tidak mau membuat malu pasangannya dan keluarganya karena batal menikah. Tetapi pasangannya, Didik Susesno tidak setuju dengan saran Andini. Mereka lalu bertemu dengan ayahanda dan ibunda Didik di pruworejo dan mengatakan KUA telah menikahkannya mereka.

Keluarga sudah memberi tahu tetangga melalui pengajian tentang rencana pernikahan itu tiga hari sebelumnya. Andini dan keluarga sudah membagi-bagikan nasi kenduri kepada warga sekitar sebagai wujud syukur atas pernikahannya.

Karena mengetahui bahwa Didik Susesno dan Andini sudah menikah, sabtu, 12 Maret 2016, rombongan keluarga pasangan Andini datang dari Purworejo. Mereka datang untuk bersilaturahmi ke rumah Andini di Kecamatan Kepil. Pasangan Andini kepada orang tuanya di Purworejo menyatakan telah menikah. Keluarga Andini menerima keluarga pasangannya.

Sabtu pagi, Andini berhias seperti pengantin. Polisi dari Kecamatan Kepil mendatangi rumah Andini. Mereka ke sana setelah mendapat laporan dari tokoh masyarakat akan adanya pernikahan Andini dan pasangannya. Polisi datang untuk minta klarifikasi tentang pernikahan itu. Persoalan akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan dengan surat kesepakatan bermaterai. Keluarga Andini sebagai pihak I akan mengembalikan biaya yang dikeluarkan keluarga pasangannya, Didik Suseno selaku pihak II sebegsat Rp. 5 juta paling lambat sepekan setelah kesepakatan itu dibuat.

Mustofa Al Kifli, Ketua MUI Kepil, berharap pemerintah bersikap arif dan tidak berlarut-larut.

“Saya berharap pemerintah arif menyikapi persoalan ini dan tidak berlarut-larut,” kata dia.

Anggota Komisi D (bidang sosial) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Wonosobo, Edi Sutoto mengatakan akan berkomunikasi dengan pemerintah ihwal rencana pernikahan waria. Anggota dewan rencananya akan datang ke rumah Andini di Kecamatan Kepil.

Sumber : Tempo Tempo

 

Hidayat, politisi PKS mengatakan Presiden RI setuju agar persoalan LGBT segera diselesaikan

Hidayat Nur Wahid, Politisi PKS, Wakil Ketua MPR RI Sumber : skalanews.com

Hidayat Nur Wahid, Politisi PKS, Wakil Ketua MPR RI
Sumber : skalanews.com

Dalam acara “Talkshow Parenting: Tentukan Sikap Kita Hadapi Penyimpangan Seksual” di Graha SMK 57 Jakarta, Minggu 20/3/2016, Politisi PKS dan wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, seperti ditulis Republika, mengaku bahwa ia sudah menyampaikan pendapatnya terkait isu LGBT kepada Presiden RI, Joko Widodo, dan menurutnya Presiden menyetujui agar persoalan LGBT diselesaikan sesegera mungkin.

“Fenomena ini sudah saya sampaikan kepada Presiden, bahwa pengaruh negatif LGBT sudah sampai ke daerah-daerah perkampungan. Di kota-kota besar, pengaruhnya tentu lebih dahsyat. Alhamdulillah Presiden menyetujui agar soal LGBT ini diselesaikan sesegera mungkn,” ujarnya.

Baca juga : Beberapa LSM Internasional meminta Presiden Joko Widodo segera mengeluarkan pernyataan terkait diskriminasi terhadap LGBT

Hidayat berpendapat bahwa pengaruh kejahatan LGBT sama merusaknya dengan kejatahan narkoba. Sehingga, menurutnya selain darurat narkoba, harus ada juga darurat LGBT.

Menurutnya, semua agama menyatakan LGBT sesat, menyimpang dan penyakit. Ia mengatakan parpol Islam seperti PKS, PAN, PKB dan PPP sudah mendukung UU yang melarang LGBT.

Baca juga : Bagaimana agama Hindu, Kong Hu Cu dan Budha memandang Homoseksualitas

Seperti argumen politisi dan pejabat sebelumnya, ia menggunakan sila pertama Pancasila, serta UUD 1945 pasal 29 ayat 1 saat melontarkan pernyataan Anti-LGBT-nya.

***

Sebelumnya British Psychological Society dan Asosiasi Psikiater Amerika menegur Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang mengklasifikasikan LGB sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

Lalu  dalam jumpa pers Scientific Meeting “Quo Vadis LGB-T?” yang digelar FK Unpad di Eycman FK UNpad, Sabtu 19/3/2016,, Ketua PDSKJI, Dr. Danardi mengatakan Lesbian, Gay dan Biseksual bukan penyakit.

Kementerian Kesehatan dalam buku terbitannya, Buku Panduan Pengklasifikasian dan Diagnosis Penyakit Kejiwaan di Indonesia, edisi ketiga (1993), menyatakan bahwa orientasi seksual tidak memenuhi kriteria penyimpangan seksual atau penyakit kejiwaan.

Menurut Undang-Undang yang ada di Indonesia, sudah jelas. Undang-Undang HAM No. 39/1999 pasal 3 ayat 3, menyatakan bahwa Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia, tanpa diskriminasi. Undang-undang tersebut juga mewajibkan pemerintah memberikan perlindungan bagi orang-orang yang mengalami diskriminasi dan kekerasan.

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 12 tahun 2012, tentang Pendidikan Tinggi, dijelaskan bahwa Pendidikan Tinggi merupakan lembaga yang berasaskan kebenaran ilmiah. Sudah seharusnya pemahaman tentang orientasi seksual dan pendidikan seksual menjadi bagian dari kurikulum yang diajarkan. Hal ini dikarenakan pentingnya pemahaman tentang orientasi seksual, terutama, dalam ranah kebenaran ilmiah.

Sumber : Republika

 

Karena pernyataan kebenciannya terhadap gay, Pacquiao kembali dilarang masuk The Grove

Pacquiao dan Rombongan Sumber : tmz

Pacquiao dan Rombongan
Sumber : tmz

The Grove, sebuah pusat rekreasi, hiburan dan perbelanjaan super besar layaknya sebuah kota kecil di Los Angeles, Amerika Serikat lagi-lagi melarang Manny Paquiao memasuki area The Grove.

Pelarangan ini dilakukan karena pernyataan-pernyataan kebenciannya terhadap para gay.

Sebelumnya tahun 2012, The Grove pernah melarang Pacquiao memasuki areanya ketika Pacquiao  melontarkan pernyataan-pernyataan yang ia kutip dari Kitab Suci yang mengatakan untuk memberikan hukuman mati kepada para gay.  Namun Pelarangan tersebut dicabut The Grove setelah mendapatkan klarifikasi bahwa pernyataan-pernyataan Pacquiao tersebut sudah disalah tafsirkan.

Pacquiao dan rombongannya yang berjumlah 16 orang memasuki The Grove minggu ini. Manager The Grobe melihat Pacquiao di area The Grove, dan setelah mereka meninggalkan The Grove, ia memutuskan untuk melarang Pacquiao kembali memasuki area The Grove.

Keputusan itu kembali dikeluarkan terkait pernyataan Pacquiao yang mengatakan “Gay lebih buruk daripada binatang” pada sebuah interview dan pernxataan “Gay harus mati” yang ia unggah di instagram.

Baca juga : Pernyataan kasar Pacquiao tentang gay

Baca juga : Nike mendepak Pacquiao

Pemilik The Grove, Rick Caruso mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan Pacquiao tersebut adalah pernyataan kebencian. Banyak sekali orang dari komunitas gay dan datang ke The Grove dan mereka punya hak untuk tidak merasa tidak nyamana.

“These are statements of hatred, a lot of people from the gay community come to The Grove and they have a right not to feel uncomfortable.”

Ia menegaskan bahwa Pacquiao tidak lagi diterima di The Grove

“Manny Pacquiao is no longer welcome.”

Sumber : TMZ

Dubes RI untuk Belanda : LGBT adalah isu Global dan belum selesai dibahas di forum internasional termasuk di PBB

Duta Besar Indonesia untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja Sumber : news.viva.co.id

Duta Besar Indonesia untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja
Sumber : news.viva.co.id

Pada Jamuan makan siang Kepala Perwakilan RI yang diselenggarakan oleh KBRI Den Haag pada hari Rabu 16 Maret 2016 yang bertujuan mempromosikan dan menjelaskan tentang Indonesia terkini kepada publik Belanda, para jurnalis senior Belanda melontarkan beberapa pertanyaan, termasuk tentang isu LGBT yang sedang menjadi kontroversi di Indonesia dan menjadi perhatian dunia.

Para wartawan yang hadir pada acara makan siang bersama tersebut dari berbagai media cetak dan elektronik terkemuka di Belanda, seperti De Telegraaf, Algemeene Dagblad, Elsevier, Diplomatic Magazine, Geassocieerde Pers Diensten, Jurjenz Production, Wassenaarse Krant,  dan Indo Radio, salah satu media online dari Indonesia.

Seorang Wartawan De Telegraf, Wouter de WInther menanyakan perihal polemik LGBT di Indonesia.

Duta Besar Indonesia untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja mengatakan  bahwa hal tersebut merupakan  isu global yang juga dihadapi negara lain dan belum selesai dibahas di forum internasional termasuk di PBB.

Seperti diketahui, sebenarnya di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta pernah digelar pertemuan Komisi Ahli Hukum Internasional, International Service for Human Rights dan ahli hak asasi manusia dari seluruh dunia di Universitas Gadjah Mada di Yogyakartapada tanggal 6-9 November di 2006, yang selanjutnya menghasilkan Yogyakarta Principles (Prinsip-prinsip Yogyakarta), berisi 29 prinsip yang dimaksudkan untuk menerapkan standar hukum hak asasi manusia internasional untuk mengatasi pelecehan hak asasi manusia terhadap lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), dan (secara sekilas) interseks. Yogyakarta Principles sendiri dicontoh oleh organisasi serupa di negara lain.

Sumber : news.viva.co.id

 

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: