Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Fidiansjah tetap menyatakan LGBT penyakit kejiwaan

Dr. Fidiansjah Mursjid, Ketua Seksi Reliji Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP-PDSKJI) Sumber : republika

Dr. Fidiansjah Mursjid, Ketua Seksi Reliji Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP-PDSKJI)
Sumber : republika

Pada tanggal 17 Maret 2016, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) melayangkan somasi kepada Ketua Seksi Reliji Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP-PDSKJI) Fidiansjah Mursjid, yang juga mantan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan dan menjadi salah satu pembimbing di Peduli Sahabat, komunitas yang salah satu tujuannya adalah “meluruskan” LGBT”.

Baca juga : Fidiansjah diminta mengkoreksi ucapannya.

Baca juga : LBH mensomasi Dr. Fidiansjah

Pada hari Rabu tanggal 23 Maret 2016, ia melakukan konferensi pers di sekretariat Gerakan Indonesia Beradab di Jalan Haju Saabun, Jati Padang, Jakarta Selatan. Yang intinya meminta maaf terkait pernyataannya di acara Indonesia Lawyers Club yang diadakan TV One 16/2/2016 mengatakan bahwa LGBT adalah gangguan jiwa, dan mengatakan bahwa buku yang dijadikan pedoman aktivis LGBT hanyalah buku saku saja yang tidak menjelaskan tentang diagnosis LGBT. Ia membandingkan dengan buku yang ia pakai yang jauh lebih tebal dari buku yang dipakai aktivis LGBT.

Dalam 7 poin permintaan maafnya tersebut, ia tidak menyebutkan sama sekali pemintaan maaf terkait ucapannya yang mengatakan LGBT adalah gangguan jiwa. Sebuah pernyataan yang banyak dikritik oleh banyak orang, termasuk ahli kejiwaan.

Berikut tujuh butir permohonan maaf yang disampaikan oleh dr Fidiansjah:

  1. Permohonan ampun dan maaf yang pertama, kami sampaikan kepada Allah SWT Tuhan yang Maha Pemberi ilmu pengetahuan dan semua kebutuhan hidup ini karena kami belum dapat memanfaatkan semua titipan amanah yang diberikan untuk melaksanakan yang diperintahkan dan mencegah yang dilarang.

  2. Permohonan maaf yang kedua, kami sampaikan kepada orang tua, guru-guru dan para pemimpin serta pejuang yang telah memberi pola asuh, asih, dan asah serta pendidikan yang sangat berguna untuk bekal hidup ini namun masih banyak yang belum dapat kami terapkan dalam melanjutkan perjuangan kemerdekaan negara ini secara optimal menjadikan negara Indonesia yang adil dan makmur.

  3. Permohonan maaf yang ketiga, kami sampaikan kepada keluarga, kerabat, sahabat, dan handai taulan, serta semua orang yang selama ini telah memberi arti bagi kehidupan yang sangat berharga namun demikian kami merasa masih banyak keteladanan dan inspirasi yang diberikan belum sepenuhnya dapat kami ikuti.

  4. Permohonan maaf yang keempat, kami sampaikan kepada saudara-saudara kami yang sedang diberi musibah dan cobaan atas problematika yang dihadapi di bidang seksualitas dalam beragam bentuknya antara lain homoseksual, biseksual, dan transeksual. Kamu mohon maaf, baru dapat memberi keyakinan bahwa Allah SWT Tuhan Yang Maha Sempurna dan Maha Menyembuhkan senantiasa akan memberi pertolongan bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada fitrah seksual yang diridhai dan diberkatinya.

  5. Permohonan maaf yang kelima, kami sampaikan kepada para orang tua, keluarga, handai taulan dari saudara kami yang mengalami musibah dan cobaan atas problematika yang dihadapi di bidang seksualitas dalam beragam bentuk, antara lain homoseksual, biseksual, dan transeksual. Mohon maaf atas keterlambatan kami menyampaikan informasi bahwa apa yang dialami saudara-saudari kita yang menimbulkan problematika seksualitasnya, Insya Allah dengan ikhtiar yang optimal dan saling bekerja sama, bahu-membahu, tolong-menolong untuk membantu mereka, adalah bisa mendapat kesembuhan dengan izin Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa dan Berkehendak atas segala sesuatu.

  6. Permohonan maaf yang keenam, kami sampaikan kepada para penggagas dan pendukung press release yang keberatan dengan pernyataan kami di ILC TVOne tanggal 16 Februari 2016 sehingga menimbulkan ketidaknyamanan yang dirasakan, karena bagaimanapun kami harus tetap teguh konsisten menyampaikan kebenaran ini dalam rangka mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat menuju cita-cita sebagai negara yang berdaulat di atas landasan dasar Negara Pancasila dan UUD 1945.

  7. Permohonan maaf yang ketujuh, kami sampaikan kepada seluruh media di Indonesia yang agak terlambat dalam mengetahui lahirnya Gerakan Indonesia Beradab, satu gerakan yang lahir untuk mendukung kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai menuju negara yang lebih beradab, aman, damai, sejahtera dalam naungan kasih sayang Allah SWT, Tuhan yang Maha Bijaksana.”

Di akhir pernyataan tertulisnya, dr Fidiansjah juga menyampaikan bahwa terkait aspek kode etik kedokteran, ia menyerahkan sepenuhnya ke Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan PP PDSJKI) sebagai pihak yang memiliki otoritas.

Fidiansjah masih tetap teguh dengan pendapatnya, karena ia menganggap kebenaran itu adalah kebenaran komunal yang diakui sejumlah pihak di dalam Gerakan Indonesia Beradab. Dan tetap menegaskan LGBT adalah penykait kejiwaan. Ia mengatakan bahwa meminta maaf bukan berarti LBH benar

“Permintaan maaf yang saya sampaikan sesuai dengan yang mereka (LBH Jakarta) tuntut. Meminta maaf bukan berarti mereka benar,” ujar dr Fidiansjah

 

Dalam poin keenam, sepertinya ia ingin menunjukkan keteguhan pendapatnya untuk menolak LGBT dan menyatakan sebagai penyakit. Ia menolak membicarakan lebih lanjut poin tersebut dalam konferensi pers dan memilih membahasnya dalam forum ilmiah.

Menanggapi tudingan yang telah menhilangkan dua kalimat dalam Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, ia berdalih bahwa apa yang ia sampaikan dalam ILC sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh pembawa acara. Ia mengambil bagian yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia juga beralasan hal tersebut terkait dengan durasi waktu yang singkat. Fidiansjah juga beralasan jika tentang kesehatan jiwa, maka membahasnya juga sesama spesialis kesehatan jiwa.

“Kalau soal kesehatan jiwa, ngomongnya sama sesama spesialis kesehatan jiwa,” ujar dia.

Sumber :  Republika Republika

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

One thought on “Fidiansjah tetap menyatakan LGBT penyakit kejiwaan

  1. Saya mahasiswa institut kesenian jakarta, fakultas film , saya mau tanya kalo untuk wawancara ke komunitas lesbian dan gay itu kemana ya? Saya mau bikin film tentang lgbt trmksh

    Like

    Posted by Jagis | April 19, 2016, 4:25 pm

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 22 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: