Advertisements
BERITA TERKINI, Ceritaku

Ceritaku: Bapak berhak bahagia, Bapak tetap orang tua saya terlepas dari orientasi seksualnya

Ilustrasi Sumber : youngisthan.in

Ilustrasi
Sumber : youngisthan.in

Bapak

Tiga tahun berlalu sudah semenjak Ibu dan Bapak saya bercerai. Meskipun mereka berpisah, tetapi hubungan mereka tetap terjaga dengan baik. Bapak masih rajin dan menyempatkan diri mengunjungi kami setiap dua minggu sekali. Karena hubungan mereka masih sangat hangat, saya mulai bertanya-tanya, kenapa Bapak dan Ibu memutuskan untuk berpisah?

Sekitar tujuh bulan yang lalu, tepatnya bulan September, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Ibu kenapa beliau berpisah dengan Bapak. Raut wajah Ibu berubah; bukan sedih bukan juga marah. Ibu terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu matang-matang hingga ucapan beliau yang cukup mengejutkan saya terlontar, “Bapakmu seorang homoseksual.”

Jujur, reaksi pertama saya terkejut dan bingung. Saya bukan seorang homofob, saya banyak belajar mengenai gender dan orientasi seksual semenjak saya duduk di kelas 3 SMA.

Pengetahuan mengenai orientasi seksual bukan hal baru bagi saya. Akan tetapi, sungguh masih sulit bagi saya untuk menerima bahwa Ayah saya sendiri seorang homoseksual.

Bapak… beliau tidak kemayu dan tidak juga semaskulin seperti gambaran stereotip masyarakat yang sering dilekatkan pada orang-orang homoseksual. Penampilan dan ekspresi gender Bapak saya biasa-biasa saja. Bapak saya tidak tampan, namun beliau sering tersenyum dan sangat ramah pada orang lain. Wajahnya yang teduh dan tutur katanya yang santun melekat hingga menjadi ciri khas beliau di mata masyarakat.

Selama 22 tahun saya hidup, Bapak menjadi sosok yang luar biasa bagi saya. Beliau tak pernah kenal lelah memotivasi saya untuk meraih cita-cita, bahkan ketika saya sering didiskriminasi karena cita-cita saya katanya tidak cocok untuk perempuan.

Bapak dan Ibu saya dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Awalnya Bapak menolak, tapi entah kenapa akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Bapak dikenal keluarga sebagai sosok yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarga, apalagi saya yang anak semata wayangnya.

Setelah Ibu saya terbuka mengenai penyebab perceraian beliau, hal pertama yang saya tanyakan adalah, “jadi selama ini Ibu dibohongi oleh Bapak?”

Jawaban Ibu saya sangat tidak terduga; beliau menjawab, “Nduk, Ibu ndak merasa dibohongi oleh Bapak. Ibu sebenarnya sudah tahu lama sebelum kami berpisah kalau Bapak itu ndak suka sama perempuan. Ibu terenyuh lihat Bapak yang masih berusaha untuk mempertahankan rumah tangga, mencukupi kebutuhan kita semua dan nggak pernah lupa dengan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Tapi terus terang, Ibu ndak tega lihat Bapak menderita terus-terusan. Ibu tahu Bapak sayang sama Ibu tapi beliau ndak pernah cinta sama Ibu. Kamu harus tetap hormat sama Bapak, salah satu yang membuat Bapak bertahan adalah kamu nduk. Bapak cintanya sama kamu, jangan benci sama Bapak ya, Nduk.”

Kata-kata Ibu menjadi tamparan keras bagi saya. Saya lupa, bahwa yang paling menderita adalah Bapak. Bapak lah yang selama ini memendam perasaannya karena takut dengan kejamnya stigma masyarakat. Bapak yang tetap menjalankan kewajibannya dengan baik sebagai orang tua. Bapak berhak bahagia.

Banyak yang bertanya bagaimana hubungan saya dengan Bapak setelah mengetahui hal itu. Saya dan beliau masih sangat dekat dan hubungan kami malah semakin hangat. Saya sering menginap di apartment beliau dan bahkan sering saling menggoda tentang pacar kami masing-masing.

Kenapa saya memutuskan untuk memberanikan diri berbagi cerita saya pada orang lain? Karena sepertinya masih banyak yang menganggap bahwa homoseksualitas bisa “sembuh” jika menikah dengan lawan jenis. Anda salah besar, menikah bukanlah solusi. Salah-salah malah akan menyakiti dan mengorbankan banyak pihak. Tidak semua anak bisa menghadapi dan menerima perceraian orangtuanya dan tidak semua perempuan setegar Ibu saya.

Bapak saya adalah salah satu korban dari masyarakat patriarkal yang konservatif. Bapak saya membohongi dirinya sendiri selama puluhan tahun dan mengabaikan kebahagiannya sendiri demi kami. Beruntung, Bapak bisa sanggup bertahan hingga sekarang, mengingat tidak semua orang punya mental sekuat beliau.

Bapak, terimakasih telah membesarkan saya dengan baik. Bapak tetap orang tua saya terlepas dari orientasi seksualnya. Bapak berhak mendapatkan kebahagian yang sepantasnya, beliau berhak mendapatkan haknya dan terbebas dari diskriminasi serta prasangka masyarakat. Bapak setara dengan manusia lainnya.

Terimakasih kepada Admin yang sudah mengizinkan saya untuk berbagi disini. Semoga tetap semangat mengedukasi.

Full credit kepada akun resmi Interseksionalisme di jejaring sosial LINE

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: