Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

PDSKJI akan berdiskusi dulu untuk menjawab surat dari Asosiasi Psikiater Amerika

Dr. Danardi Sosrosumihardjo SpKJ Ketua Sumber: mitrakeluarga.com

Dr. Danardi Sosrosumihardjo SpKJ
Ketua PDSKJI
Sumber: mitrakeluarga.com

Presiden Asosiasi Psikiater Amerika –American Psychiatric Association (APA), Renée Binder, M.D, dan Direktur Medis dan CEO APA, Saul M. Levin, M.D., M.P.A. pada tanggal 9 Maret 2016 lalu melayangkan surat kepada kepada Asosiasi Psikiater Indonesia (IPA -Indonesian Psychiatric Association atau PDSKJI – Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) terkait keputusan PDSKJI yang mengklasifikasikan homoseksualitas (Lesbian dan Gay), Biseksual sebagai orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).

Menanggapi surat tersebut, Ketua PDSKJI Dr. Danardi Sosrosumihardjo mengatakan masih harus berdiskusi dengan rekan-rekannya. Ia memberi tahu bahwa sikap PDSKJI sejalan dengan Undang-Undang No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa yang di dalamnya menjelaskan tentang Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (OMDJ). Danardi menuturkan bahwa ODMK mempunyai resiko mengalami gangguan jiwa, sedangkan ODGJ sedang mengalami gangguan jiwa.

“ODMK bukanlah diagnosis. Itu bisa juga, misalnya orang sedang dalam bencana alam, orang sedang kebanjiran, orang sedang ujian,” kata Dr Danardi.

Terkait LGBT, Danardi menjelaskan bahwa PDSKJI menggunakan PPDGJ III  (Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa). Ia mengatakan bahwa lesbian, gay dan biseksual masuk dalam kelompok ODMK dan Transgender masuk kelompok ODGJ.

“Secara profesi kami punya pedoman mengacu pada PPDGJ III (Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa). Dalam buku pegangan kami, lesbian, gay, biseksual masuk dalam kelompok ODMK, kalau transgender masuk ODGJ yang perlu mendapat terapi,” katanya

Baca juga : Asosiasi Psikiater Indonesia mengelompokkan LGB sebagai ODMK dan Transgender sebagai ODGJ

Ia mengungkapkan alasan kenapa LGB dimasukkan kelompok ODMK karena bertujuan mengklasifikasikan gangguan psikologis jenis apa yang mereka alami, bukan menangani orientasi seksual mereka. Ia memberi tahu bahwa orientasi seksual bukan menjadi fokus diagnosisnya, melainkan pada gangguan psikologisnya.

“Dalam profesi kami, untuk memahami lesbian, gay, dan biseksual, orientasi seksual bukan menjadi fokus diagnosisnya. Fokus diagnosis adalah apabila terjadi gangguan psikologis, gangguan perilaku pada kelompok lesbian, gay, dan biseksual. Gejala perilaku bisa terjadi dari berbagai hal, apakah itu aspek biologi, aspek psikologi, bisa aspek sosialnya. Orientasi seksual justru bukan yang menjadi fokus masalahnya,” tutur Danardi.

Dr Danardi mengatakan tidak akan mengutik-utik dan memberikan terapi kepada homoseksual untuk mengubah orientasinya.

“Kelompok ODMK itu komunitas yang sehat, komunitas yang normal, tapi punya resiko jatuh ke gangguan jiwa. Sehingga, dengan Undang-undang ini, pengelompokan ODMK sebenarnya ingin memberi perhatian lebih, ingin mencegah agar ODMK tidak sampai jatuh ke ODGJ. Tapi yang sering terjadi, malah stigma. Orang dikelompokkan ke ODMK itu dianggapnya gangguan jiwa juga,” kata Danardi.

“Kita pengen memberi penjelasan, ODMK itu bukan gangguan (kejiwaan). ODMK juga banyak dialami oleh kelompok urbanisasi, warga yang tinggal di daerah bencana alam, bajir, daerah teroris. Masyarakat di situ high risk (beresiko tinggi mengalami masalah kejiwaan),” katanya.

Danardi menegaskan sesuai prinsip profesi, psikiater tidak akan berbicara berdasarkan agama, melainkan berdasarkan kajian ilmiah.

“Memang, ada sementara psikiater yang berpendapat secara pribadi, bahwa yang dimaksudkan menyembuhkan LGB adalah dikembalikan ke heteroseksual. Tetapi, sikap profesi resmi kami jelas, tidak memaksakan untuk ke heteroseksual, melainkan dikembalikan (pilihan) ke individunya,” urai  Danardi.

Menurutnya homoseksual mempunyai beberapa spektrum:

  • Homoseksual tetap
  • Homoseksual ragu-ragu
  • Homoseksual mengarah heteroseksual

“Secara medis profesional, kasus homoseksual ada beberapa spektrum, mengarah tetap homoseksual, ragu-ragu, atau mengarah ke heteroseksual. Apabila dia cenderung mengarah ke heteroseksual, barangkali kami tawarkan, ‘Apakah Anda mau ke sana?’ Tapi, kalau dia memang kuat ke arah homoseksual, maka orientasi seksualnya tidak kami utik-utik lagi,” katanya.

 

***

Kabar LGBT :

Berdasarkan Undang-undang no 18 tahun 2014, tentang Kesehatan Jiwa, ODMK adalah “orang yang mempunyai masalah fisik, mental dan sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa”.

Jika dibaca dengan lebih seksama, Orang Dengan Masalah Kejiwaan (OMDK) bukan lah orang yang berbeda dari orang pada umumnya. Setiap orang tentu saja pernah dan mungkin sedang mempunyai masalah-masalah seperti masalah fisik, mental, sosial dan lain-lain. Tetapi bukan berarti orang tersebut sakit jiwa. Kunci kesehatan jiwa sesungguhnya terletak pada kemampuan seseorang untuk menanggulangi masalah-masalah yang disebutkan itu, sehingga masalah-masalah itu tidak melekat/menetap/permanen. Kemampuan ini bersifat subjektif (individu per individu, bukan pertama-tama kelompok) dan berubah sepanjang hayat, disumbang oleh berbagai faktor, termasuk kita di sekeliling orang tersebut.

Membaca penjelasan Juneman Abraham tersebut bisa pula disimpulkan, jika LGB mampu menanggulagi masalahnya, maka ia sebenarnya dinyatakan sehat. Masalah-masalah LGB,

  • Tekanan, terjadi karena stigma sosial terhadapnya. Jika stigma tersebut hilang, maka LGB bisa menerima kondisinya dan tekanan pun akan hilang.
  • Apakah LGB punya perilaku, kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat? Ada yang tidak. Banyak LGB ynag mempunyai perilaku, kebiasaan dan gaya hidup sehat.
  • Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial. LGB tentu punya kemampuan tersebut, terbukti bahwa banyak LGB bisa berperan dan memberikan sumbangsih pada kehidupan di masyarakat, terlepas dari orientasi sosialnya. Masalahnya di sini adalah, masih adanya sikap masyarakat yang anti-pati terhadap LGB yang membuat LGB tidak diberi ruang di lingkungan sosial.

Jadi sebenarnya, kuncinya ada di penerimaan masyarakat. Jika masyarakat menerima maka tekanan yang dialami LGB juga akan hilang dan para homoseksual yang merasa orientasi seksualnya bukan sebuah tekanan (bisa berdamai) maka mereka tidak masuk kelompok ODMK. Jadi tidak semua homoseksual adalah orang dengan masalah kejiwaan.

Mengacu pada definisi ODMK, sebenarnya heteroseksual sendiri bisa masuk kelompok tersebut. Terutama para heteroseksual yang mempunyai masalah berupa tekanan, perilaku, kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial.

Menyoal terapi pengubahan orientasi seksual pada individu homoseksual yang merasa orientasi seksualnya sebagai sebuah tekanan, memang adalah hak individu tersebut apakah ingin menjalani terapi tersebut atau tidak.

Tetapi seperti fakta-fakta yang ada, kebanyakan terapi-terapi tersebut justru berbahasa bagi individu tersebut. Selain itu sampai saat itu tidak ada bukti konkret tentang keberhasilan terapi tersebut. Justru menimbulkan masalah kejiwaan baru seperti  depressi, kecemasan, perilaku yang cenderung merusak diri sendiri, pencobaan bunuh diri, serta mengurung diri dari lingkungan sosial.

Seperti yang dikatakan Ahli Neurologi, dr. Ryu Hasan, orientasi seksual bukanlah penyakit dan tidak bisa diubah, jadi konseling hanya bertujuan untuk menghilangkan rasa tidak nyaman terhadap orientasi seksualnya.

Baca juga : Terapi dan Rehabilitasi ‘penyembuhan’ homoseksualitas yang ternyata sangat membahayakan pasien

Baca juga : Hipnoterapi ynag tidak ampuh ‘menyembuhkan’ homoseksualitas

Baca juga : Terapis dan mantan-homoseksual mengaku bahwa rehabilitasi penyembuhan homoseksualitas adalah kebohongan

Baca juga : Terapi penyembuhan homoseksualitas yang brutal dan berbahaya

 

Sumber : BBC portalkbr.com

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: