Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Perselingkuhan antara pria beristri dengan pria lain di Bengkulu bukti bahwa orientasi seksual tidak bisa diubah

Ilustrasi Sumber: ohsempapa.com

Ilustrasi
Sumber: ohsempapa.com

Sekretaris Koalisi Perempuan Indonesa (KPI) wilayah Bengkulu, Irna Riza Yuliastuti menganggap persoalan LGBT yang terjadi di daerahnya sudah mengkhawatirkan.  Ia mencontohkan kasus digerebeknya pasangan gay beberapa waktu yang lalu. Ia menyayangkan tindakan yang dilakukan laki-laki tersebut karena yang menjadi korban adalah istri dan anaknya.

Baca juga : Pasangan Gay di Bengkulu terancam dikeluarkan dari kampung dan disuruh menyembelih hewan agar darahnya bisa digunakan untuk membersihkan kampung

Ia yang berpendapat bahwa LGBT adalah sebuah pilihan ini mengatakan bahwa perbuatan selingkuh laki-laki tersebut harus diproses secara hukum.

“Dari kacamata pernikahan, sang pria jelas sudah melakukan perselingkuhan, harus dilakukan proses hukum untuk menentukan arah rumah tangga mereka,” kata Irna di Bengkulu, Rabu (16/3/2016).

Baca juga : Apakah Homoseksualitas adalah pilihan?

Iren setuju jia pelakunya dihukum berat tetapi meminta agar masyarakat tidak menghakimi secara sepihak.

“Kami minta masyarakat tidak menghakimi secara sepihak, silakan saja pelakunya dihukum berat, baik secara hukum negara maupun hukum adat. Namun tolong juga dilihat keluarga terdekat mereka, yaitu istri dan anak. Jangan sampai ikut menanggung beban malu,” tegasnya.

***

Sebuah ironi memang. Bukankah perselingkuhan seorang laki-laki beristri, bahkan sudah mempunyai anak ini justru sebagai bukti kuat bahwa memang sebenarnya orientasi seksual itu bukan pilihan dan tidak bisa disembuhkan? Laki-laki tersebut sudah memilih untuk berumah tangga dengan seorang perempuan, tetapi bisa dilihat bahwa ia punya ketertarikan kepada laki-laki.

Dalam kasus ini, jika pelaku perselingkuhan itu adalah gay, kita harus melihat dari dua sisi. Sisi di mana si laki-laki tersebut sebagai pelaku perselingkuhan yang tentunya adalah perbuatan yang TIDAK BENAR dan harus dihukum, dan sisi di mana ia juga sebagai korban stigmatisasi dan tuntutan sosial di masyarakat yang mengharuskan dia hidup dengan seorang wanita. Istri dan anaknya memang adalah korban, korban dari tindakan seorang suami dan ayah, juga korban dari tuntutan sosial yang mengharuskan setiap laki-laki untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.

Tuntutan sosial seperti ini lah yang sebenarnya akan melahirkan kasus-kasus perselingkuhan serupa di kemudian hari. Bukankah seharusnya kasus-kasus seperti ini bisa membuka pandangan masyarakat bahwa untuk menghindari hal ini terjadi, maka tuntutan sosial tersebut harus diredam. Sudah jelas bahwa mengubah orietasi seksual itu tidak bisa, dan memaksakan laki-laki menikah dengan perempuan tidak menjamin kesembuhannya. Banyak kasus gay yang mengaku sembuh, bahkan setelah melalui terapi ‘penyembuhan’ dan menikah dengan perempuan ternyata itu hanya cover-up agar dia bisa diterima di dalam lingkup sosial di masyarakat.

Jika pria tersebut adalah seorang biseksual, maka tentu tindakan laki-laki tersebut juga tetap salah, karena sebagai seorang biseksual yang menyukai 2 jenis kelamin dan menikah, maka dia diharuskan setia dengan pasangan pilihannya tersebut. Karena ia seorang biseksual maka ia tidak akan mempunyai beban menjalin hubungan dengan seorang wanita.

Sumber : Liputan6.com

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: