Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Penyebab-penyebab anggapan bahwa orang bisa tertular LGBT

Ilustrasi Sumber: dailymail

Ilustrasi
Sumber: dailymail

Memang sangat sulit menghilangkan stigma dan prasangaka yang sudah melekat dan ‘mendarah daging’ di masyarakat. Jangankan menghilangkan, mengubahnya pun juga sulit. Seperti halnya stigma dan prasangka yang melekat pada LGBT, apalagi di dalam masyarakat yang cenderung tertutup untuk melihat alternatif lain dalam mencari penjelasan suatu masalah dan hanya menerima penjelasan dari sisi agama saja.

Banyak orang, tidak hanya di negara yang belum maju, bahkan di negara maju pun masih masih ada yang tidak percaya bahwa orang tidak bisa tertular LGBT .

Coba kita analisa kira-kira apa saja yang menyebabkan banyak orang beranggapan seperti itu

  1. Proses berdamai dan menerima orientasi seksual dianggap sebagai proses penularan LGBT

Seperti diuraikan oleh Lenes Angela, seorang transgender yang bekerja di organisasi penanggulangan HIV/AIDS, GWL-INA.

Menurutnya ada kekeliruan pemahaman yang terjadi di masyarakat. Konsep penerimaan dianggap sebagai proses penularan. Ia mengatakan bahwa ada tahap-tahap saat seseorang dianggap ‘menjadi’ LGBT.

Ada tahapan satu di mana dia merasa berbeda dari orang lain. Tahap berikutnya dia akan mencari orang yang sama dengannya, mulai mencari komunitasnya. Saat ini dia akan lebih intens datang ke komunitas

Pertama, tahap di saat seseorang merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain,

Kedua, tahap di saat ia akan mencari orang-orang yang sama seperti dirinya -tahan mencari komunitas- ,

Ketiga, tahap di saat ia mulai lebih intens datang ke komunitas.

Tahap-tahap yang akhirnya membuat ia terbebaskan dari belengku tekanan batin dan sosial dan bisa berdamai dengan keadaannya. Hal inilah yang sering dianggap sebagai proses penularan. Orang-orang tahunya bahwa orang tersebut dulunya tidak Lesbian, Gay, Biseksual atau Transgender, setelah bergaul dengan komunitas LGBT kok akhirnya ia mengatakan bahwa ia juga LGBT. Orang-orang itu tidak tahu bahwa sudah sejak lama orang tersebut tahu bahwa ia LGBT.

Selain itu ada banyak orang yang sangat menentang dan tidak setuju dengan LGBT yang sebenarnya ia sendiri LGBT. Rasa bencinya terhadap keadaannya tersebutlah yang membuatnya membenci LGBT, dan di mata orang awam ia kelihatan sangat heteroseksual karena sikapnya tersebut. Dalam ilmu psikologi, orang seperti ini justru disebut memiliki kejiwaan yang tidak sehat, Mereka disebut sebagai dystonic-homosexual.

Baca juga : dystonic- dan syntonic-homosexual

2. Fakta adanya hubungan seksual Laki-laki Sama Laki-Laki  (LSL) dan Perempuan Sama Perempuan (PSP) yang terjadi di penjara.

Hubungan seksual sesama jenis yang terjadi di penjara bisa karena beberapa hal. Memang orang tersebut pada dasarnya gay atau biseksual, atau karena kebutuhan seksual yang mendesak dan tidak ada pilihan untuk melakukannya dengan lawan jenis dan jenuh dengan m*sturbasi. Selain itu juga perlu diingat bahwa kondisi kejiwaan orang yang dipenjara bisa dikatakan berbeda dengan orang yang hidup bebas (tidak dipenjara).

Ada juga yang namanya Consensual Relationship, yaitu hubungan yang dijalin antara penghuni penjara senior dengan junior. Hubungan ini selain tidak sepenuhnya melibatkan hubungan seksual. Jika melibatkan hubungan seksual maka kemungkinan besar mereka gay atau biseksual, bisa juga karena si junior merasa tidak aman dan akhirnya mau menjalani hubungan tersebut, dengan harapan dirinya akan dilindungi dari kerasnya penjara. Si senior yang seorang gay atau biseksual yang merasa sudah melindungi si junior akhirnya meminta imbalan berupa hubungan seksual. Hubungan seperti ini masuk kedalam ranah pelecehan HAM yang serius karena memiliki unsur paksaan dan kekerasan, seperti yang dikatakan Martha Kempner dalam artikel berikut ini. Jadi sangat tidak relevan dan orang yang beranggapan seperti ini bisa dipastikan memiliki kekurangpahaman tentang orientasi seksual dan HAM.

Consensual Relationship ini juga dipakai saat mendefinisikan hubungan antara seorang guru senior dan muridnya, apakah hubungan seperti ini tidak dianggap tabu di masyarakat dan tidak seharusnya terjadi.

Seperti pengakuan seorang laki-laki yang pernah masuk penjara dan akhirnya melakukan hubungan seks sesama jenis. Ia mengatakan bahwa ia melakukannya karena ia mempunyai kebutuhan seksual layaknya orang lain, dan ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan tidak ada lawan jenis yang bisa ia ajak, akhirnya ia melakukannya dengan sesama jenis, yaitu heteroseksual yang lebih lemah secara paksa atau dengan gay atau biseksual baik secara paksa atau memang orang tersebut mau. Setelah ia keluar dari penjara dia tetap heteroseksual dan tidak punya keinginan berhubungan dengan sesama jenis.

“I’m completely straight. What happened then was just about having my sexual needs met, in a particular time and place where I couldn’t get [heterosexual] sex.”

Bukti adanya hubungan seksual sesama jenis di penjara ini hanya membuktikan bagaimana buruknya pengamanan penjara-penjara. Tidak relevan dengan masalah orientasi seksual. Selain itu, sampai sekarang tidak ada penelitian yang detail tentang masalah hubungan seksual sesama jenis di penjara ini.

3. Ada beberapa pekerja seks komersial yang katanya heteroseksual, ternyata memberikan ‘jasanya’ kepada homoseksual. Dan akhirnya orang tersebut dicap tertular LGBT.

Penjelasan in tentu saja mirip dengan penjelasan nomor dua. Adanya faktor keterpaksaan, yaitu faktor ekonomi. Selain itu, bagaimana bisa membuktikan bahwa orang tersebut tidak gay atau biseksual? Pengakuannya yang mengatakan bahwa ia heteroseksual bisa jadi membuatnya banyak dicari. Karena ia mau melakukan hubungan sesama jenis tersebut apakah membuatnya menjadi penyuka sesama jenis?

Sekali lagi, kasus ini justru memperlihatkan kegagalan pemerintah yang tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.

Baca juga : Menurut Ahli Neuorologi, LGBT adalah genetik dan tidak menular

Baca juga : Apakah LGBT sebuah pilihan?

Baca juga : 8 pemahaman keliru tentang LGBT

Baca juga : Bahaya Rehabilitasi LGBT

Baca juga : Penyembuhan homoseksual yang berbahaya dan dikecam banyak negara

Baca juga : Sejak tahun 1983, Depkes menyatakan homoseksualitas bukan gangguan jiwa

Sumber : Wikipedia Queerty Portalkbr Theguardian studentaffairs.georegtown.edu rhrealitycheck.org

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: