Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Tanta Ginting bingung dengan KPI. Dulu ada Warkop DKI dan Tessy juga tidak terjadi apa-apa

Tanta Ginting Sumber : tabloidbintang

Tanta Ginting
Sumber : tabloidbintang

Setelah Oscar Lawalata yang dengan cerdas mengkritik keputusan Komisi Penyiaran Indonesia yang ia nilai tidak tepat sasaran. Sekarang, Tanta Ginting seorang artis peran juga ikut mengkritisi Surat Edaran bernomor 203/K/KPI/02/16 tersebut. Ia membandingkannya dengan zaman film-film Warkop DKI yang sering mengangkat karakter melambai, lalu Tessy di Srimulat yang tidak mempengaruhi pola pikir penonton hingga dewasa.

“Dari dulu aja kita fun-fun aja. Maksudnya, kayak dari zamannya Dono, Kasino, dan Indro dari dulu juga ada. Mereka pakai-pakaian cewek,ngelambai, terus ada Tessy. Terus kita gede-nya (dewasa) aman-aman aja,” kata Tanta ketika diwawancara per telepon pada Jumat (26/2/2016).

Aktor bernama lengkap Tanta Jorekenta Ginting ini bingung, karena menurutnya LGBT itu karena faktor lingkungan di mana ia dibesarkan, bukan karena tayangan televisi. Tata menghimbau KPI lebih menekankan pengawasan orang tua terhadap anak, bukan malah melarang kreativitas pekerja seni.

“Anak-anak muda yang sekarang? ini menurut gw bukan karena pengaruh televisi. Karena pergaulan, awalnya mereka di rumahnya seperti apa dibesarinnya?” ucap dia.

“Seni kan punya karakter masing-masing. Tapi, menurut gue, KPI mau bagaimana pun juga harus tetap kembali ke orangtua yang mendidik anak untuk nonton apa di TV,” ucapnya lagi.

Berbeda dengan Tata Ginting, Dedy Corbuzier justru mendukung keputusan KPI. Dedy secara pribadi mengaku tidak ada masalah dengan LGBT, tetapi terkait keputusan KPI ini ia setuju.

“Saya pribadi tidak pernah mengatakan tolak LGBT, tetapi yang saya katakan adalah stop propaganda LGBT. Misalnya, artis X dandanannya kemayu dan kayak perempuan, apakah mereka tidak boleh lagi di TV? Boleh, enggak masalah. Yang tidak boleh adalah melakukan hal kemayu tersebut. Tidak mendidik, tetapi pro-kontralah,” imbuh Deddy

Menurutnya, walaupun lucu, tayangan-tayangan tersebut tidak mendidik, terutama untuk anak.

“Saya juga ketawa kalau nonton. Namun, kalau ditanya sebagai seorang ayah, kalau anak Anda menonton seperti itu dan terus (anak) mulai ikut-ikutan pakai wig panjang warna-warni pakai bulu mata, gimana? Nah, baru kerasa itu. Kan bahaya. Kan kita tidak bisa mendampingi anak kita 24 jam,” ucapnya.

Sumber : Kompas Kompas

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: