Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Pasca aksi penolakan Front Jihadi Islam, Ponpes Waria Al-Fatah dengan terpaksa ditutup sementara

Suasana Kegiatan mengaji Pondok Pesantren Al-Fatah Sumber : rappler

Suasana Kegiatan mengaji Pondok Pesantren Al-Fatah
Sumber : rappler

Buntut dari penyerbuan Front Jihadi Islam (FJI) Yogyakarta ke pondok pesantren Al-Fatah -Pondok Pesantren khusus Waria- pada tanggal 19 Februari 2016, membuat kegiatan ponpes dengan terpaksa dihentikan sementara. Pada aksi FJI tanggal 19 Februari yang lalu, mereka menyerahkan surat kepada otoritas setempat terkait keberatan mereka atas aktivitas santri waria yang sedang belajar agama Islam.

Pada hari Rabu 24/2/2016 terjadi  terjadi pertemuan antara pengelola ponpes dengan FJI Yogyakarta, pada pukul delapan malam WIB di aula kantor lurah Jagalan, Yogyakarta.

Dalam pertemuan yang berlangsung 2 jam tersebut dihadiri oleh Anggi Rosangge dari pihak ponpes, ketua RT, Lurah dan Komandan Ryaon Militer setempat.

Dalam pertemuan pada Jumat pekan lalu, hadir lima orang perwakilan dari ponpes, belasan anggota FJI, Camat Banguntapan, Kepala Pedukuhan Celenan, hingga Kapolsek.

Anggi mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut pemimpin FJI menyulut kebencian terhadap LGBT yang diikuti dengan orasi-orasi Allahu Akbar. Anggi menuturkan bahwa FJI tetap akan memburu ke mana pun komunitas LGBT beraktivitas setelah ponpes ditutup.

“Pimpinan FJI menyampaikan pernyataan yang berapi-api, menyulut kebencian terhadap LGBT, dan disambut teriakan Allahu Akbar, Allahu Akbar,” kata Anggi, Kamis, 25 Februari.

Ia memberitahukan bahwa pada intinya masyarakat keberatan atas keberadaan ponpes waria Al-Fatah. Pertemuan diakhiri dengan penutupan ponpes secara resmi Rabu 24/2/2016 tanpa memberikan kesempatan sama sekali kepada pihak ponpes untuk menyampaikan tanggapan dan keinginan anggota ponpes. Nasib para waria anggota ponpes pun juga belum jelas, bahkan Anggi, salah satu anggota masih enggan untuk berkomentar.

“Intinya seluruh komponen masyarakat menyampaikan keberatan atas keberadaan ponpes waria Al-Fatah dan pihak ponpes sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan tanggapan,” kata Anggi.

“Aku waria yang hadir di sana pun tidak ditanya ditanya apa mauku,” ungkapnya.

Sebenarnya Pemda melalui Dinas Sosial sudah mengetahui keberadaan ponpes tersebut, dan justru malah memberikan dana bantuan pada tahun 2014 untuk program-program kegiatan mereka. Seperti dikatakan oleh salah satu santrinya, Ys Al Bukhori yang menyebutkan beberapa kegiatan tersebut, bahkan setelah kegiatan selesai, para santri mendapat alat-alat penunjang ketrampilan mereka.

“Pada saat itu, kami mengadakan program keterampilan memasak, pijat, pesan, dan potong rambut untuk santri pesantren selama satu bulan,” kata Al Bukhori.

Menanggapi polemik LGBT di Yogyakarta yang sudah menuju kepada tindakan kekerasan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Bawono X menyatakan bahwa Pemda DIY akan mengambil langkah bijak.

Baca juga : Front Jihadi Islam menutup paksa Ponpes Waria di Yogyakarta

Baca juga : Masa Solidaritas Perjuangan Demokrasi meminta Yogyakarta kembali memiliki rasa toleransi

Mendengar berita tersebut para santri Waria pun bisa bernafas lega, “Kami berharap dukungan dari pihak keraton,” kata Al Bukhori, pembimbing santri ponpes Al-Fatah.

 

Sumber : Rappler

 

 

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 24 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: