Advertisements
Ceritaku

Cerita Nurjanah yang menyentuh : Teman-teman LGBT saya adalah manusia-manusia yang saya sayangi

Nurjanah Sumber : Malela.org

Nurjanah
Sumber : Malela.org

Nurjanah, seorang muslimah yang merasakan pahit getirnya kehidupan dan bagaimana ketidakpedulian mengubah hidupnya. Di mana penilaian terhadap seseorang masih pada penampilan luar dan stigma. Kesulitan hidupnya dulu pun akhirnya memberikannya pelajaran berharga tentang cinta kasih.

Baginya melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi saat itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa ia bayangkan, apalagi bisa sampai sekolah program doktoral, di Tokyo pula. Segala cara ia tempuh dari mulai mencari bantuan dari keluarga, bahkan sampai ke tempat-tempat pendidikan agama  (Madrasah-Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah), dengan harapan bisa mendapatkan pendidikan yang terjangkau. Mengajukan keringanan ke pemerintah pun juga sudah dicoba, tapi semua nihil.

Ia merasa harapan dan asanya sudah hilang. Sampai akhirnya ia dipertemukan dengan orang-orang yang banyak orang lihat sebelah mata karena orientasi seksualnya. Ya, orang-orang tersebut adalah LGBT, yang sudah menjadi temannya di saat ia putus asa. Mereka lah yang sudah mendorongnya untuk bangkit lagi dan mengejar cita-citanya meneruskan bersekolah lagi.

Saat terjadi bencana gempa dahsyat di Yogyakarta yang menelan ribuan korban, ia adalah satu satu suka relawan yang turun tangan langsung membantu para korban. Apapun bantuan yang diberikan kepadanya ia terima dan langsung ia berikan kepada korban bencana. Tetapi itu semua ternyata tidak cukup, mengingat betapa banyaknya korban. Sampai akhirnya datanglah bantuan dari kelompok LGBT Jakarta dan Yogyakarta dan dokter yang kebetulan berwisata di Yogyakarta. Berkat bantuan mereka banyak orang tertolong. Dari anak kecil yang akhirnya bisa bersekolah dan membantu orang tuanya sekarang, sampai seorang ayah yang akhirnya bisa kembali bekerja dan mencari nafkah. Dari tangan mereka lah banyak orang mendapatkan makanan yang layak di saat-saat sulit.

Ia merasa tidak berhak menghakimi orang lain, karena yang ia tahu setiap orang yang menebarkan kebaikan akan bermanfaat bagi orang banyak. Hendaknya orang yang mengatakan beriman membuka mata dan hati, meringankan langkah, mengulurkan tangan, ketika banyak permasalahan sosial terjadi di sekitar kita. Biasakah kita sejenak melepaskan segala atribut di badan kita? Dan hanya meletakkan tubuh ini sejajar sebagai sesama manusia? Bisakah kita membedakan, bahwa antara penjahat dan LGBT tidaklah sama?

“Saya bukanlah orang suci, saya tidak berhak menghakimi, Karena saya belum tentu lebih baik dari mereka.”

Sebuah tulisan yang jujur dan sangat menyentuh. Untuk membaca keseluruhan cerita bisa klik di sini Nurjanah: Teman-teman LGBT saya adalah manusia-manusia yang saya sayangi. credit to Malela.org

Sumber : Malela.org

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: