Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Berita berumur 7 tahun lebih yang terlupakan “Homoseksual bukan penyimpangan seksual”

Sebuah berita yang mungkin sudah banyak yang lupa, karena sudah berumur 7 tahun lebih. Beruntung, berkat internet, berita-berita dalam portal-portal berita daring masih bisa dibaca kembali, meskipun sudah bisa dibilang tua. Tahun 2008, sebelum polemik LGBT menjadi bahan pembicaraan secara nasional, tepatnya tanggal 11 November, dalam situs kompas.com, diunggah sebuah berita berjudul “Homoseksual Bukan Penyimpangan Seksual”.

dr Lukas Mangindaan, SpKJ Sumber : berita kawanua.com

dr Lukas Mangindaan, SpKJ
Sumber : berita kawanua.com

Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Lukas Mangindaan, SpKJ dalam seminar nasional berjudul “Seksualitas yang ditabukan: Tantangan Keberagaman” di Hotel Sahid Jaya, Jakarta 11 November 2016, mengatakan bahwa Orientasi Homoseksual tidak memenuhi kriteria gangguan jiwa atau mental. Istilah Homoseksualitas sebagai orientasi seksual menyimpang tidak lah tepat dan menyesatkan karena memberi dampak negatif seperti stigmatisasi, pengucilan oleh masyarakat yang kurang mendapat informasi yang benar.

Penghapusan paham bahwa homoseksualitas sebagai gangguan jiwa merupakan keputusan WHO -Organisasi Kesehatan Sedunia- pada tanggal 17 Mei 1990 dan sudah pula dicantumkan Depkes RI dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993).

“Jadi sudah terbukti bahwa orientasi homoseksual tidak memenuhi kriteria gangguan jiwa atau mental,” ujarnya.

Homoseksualitas, Biseksualitas dan Heteroseksualitas adalah bagian dari identitas diri seseorang.

“Identitas diri itu tak lain adalah ciri-ciri khas dari seseorang seperti nama, umur, jenis kelamin termasuk orientasi seksual (heteroseksual, biseksual, homoseksual). Sedangkan identitas diri perlu dibedakan dengan perilaku, karena identitas diri bersifat netral dan perlu diterima sebagaimana adanya, tetapi perilaku dapat bersifat positif, negatif, netral, dan lain-lain. Jadi jangan dicampurbaurkan identitas diri dengan perilaku,” ujarnya.

Lukas menekankan perlunya melihat pelbagai jenis identitas diri sebagai bagian dari keberagaman manusia dan bersikap pluralistik tanpa sikap apriori.

“Upaya untuk berempati yakni kemampuan untuk mengerti, menghayati dan menempatkan diri di tempat mereka yang terpinggirkan perlu dikembangkan. Sikap homofobia yang menyisihkan, melecehkan, diskriminasi dan mendapat perlakuan kekerasan pada kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transjender) harus dihilangkan. Ini yang perlu disosialisasikan pada masyarakat,” jelasnya.

Dede Oetomo, Pendiri dan Pembina Yayasan Gaya Nusantara, mengatakan bahwa tidak semua agama dan kepercayaan mengharamkan homoseksualitas dan Transgenderisme.”Tafsir ulang atas ajaran yang mengharamkan homoseksualitas dan transjenderisme sudah dilakukan beberapa agama yang sangat menentang hal itu, supaya tak menghasilkan pandangan yang memusuhi homoseksualitas dan transjenderisme,” katanya.

Peran negara untuk melindungi hak-hak kaum LGBT, dikatakan Dede, perlu dikembangkan untuk menuju ke kehidupan bersama yang lebih baik.

Berita juga bisa diunduh di sini: Homoseksual Bukan Penyimpangan Seksual – Kompas 11 nov 2008

Sumber : Kompas 

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: