Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Renungan : Manusia yang sudah kehilangan rasa kemanusiaannya

Ilustrasi

Ilustrasi

Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat sedang berjalan. Tiba-tiba ada jenazah umat Yahudi yang sedang diusung untuk dikuburkan. Nabi langsung berhenti, menghormati jenazah tersebut.

Para sahabat bertanya, “kenapa Nabi berhenti saat melihat jenazah umat Yahudi?”. Nabi tersenyum sembari menjawab, “Bukankah jenazah umat Yahudi juga manusia?”

Itulah akhlak yang diajarkan oleh Nabi perihal menyikapi umat yang berbeda agama dengan kita. Nabi adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi kemanusiaan.

Sejak pulang dari Kairo pada tahun 2000-an, saya langsung aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama sebagai peneliti di Lembaga Kajian Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) dan Perhimpungan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

Seingat saya, pada masa itu NU sedang mengalakkan pengarustamaan (mainstreaming) Hak Asasi Manusia (HAM) di pesantren-pesantren melalui program Fikih HAM, yang dikenal dengan Fiqh Huquq al-Insan.

Ide dasarnya, bahwa HAM merupakan sesuatu yang penting dijadikan sebagai prinsip dan nilai dalam relasi antar sesama manusia di dalam masyarakat global. Pertanyaannya, apakah HAM sejalan dengan Islam? Apakah umat Islam harus memperjuangkan HAM?

Saya masih ingat, Gus Dur – panggilan akrab almaghfur lahu KH. Abdurrahman Wahid – sangat aktif menghadiri forum-forum untuk menjelaskan pentingnya HAM bagi umat Islam, khususnya warga NU.

Apalagi selepas Gus Dur tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI, ia kerap menghadiri halaqah-halaqah yang digelar untukmainstreaming HAM. Walaupun forum itu hanya dihadiri kiai-kiai muda yang jumlahnya hanya 30 orang.

Di lingkungan NU sebenarnya sudah muncul sebuah diktum yang sangat populer, yaitu al-ukhuwwah al-insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan). Diktum ini secara eksplisit menegaskan, bahwa persaudaraan antara sesama manusia merupakan sesuatu yang sangat penting dalam Islam.

NU harus menjadi teladan untuk membumikan persaudaraan kemanusiaan, apapun agama, jenis kelamin, suku, dan bahasanya. Persaudaraan kemanusiaan merupakan kunci penting untuk membangun relasi antar manusia di era globalisasi, yang disebut Thomas L. Friedman sebagai dunia yang datar (the world is flat).

Nah, ketika muncul upaya mainstreaming HAM sebenarnya tidak ada kendala yang berarti, karena NU sudah menganut prinsip persaudaraan kemanusiaan, di samping persaudaraan kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathaniyyah) dan persaudaraan keislaman (al-ukhuwwah al-islamiyyah).

Di kitab-kitab klasik sangat mudah untuk mendapatkan rujukan untuk memperkuat penting HAM, antara lain lima prinsip dalam tujuan-tujuan pokok Syariat (Maqashid al-Syariah), yang dikenal dengan al-kulliyyat al-khamsah. Yaitu, melindungi akal (hifdz al-‘aql), melindungi jiwa (hifdz al-nafs), melindungi harta (hifdz al-mal), melindungi keturunan (hifdz al-nasl), melindungi agama (hifdz al-din).

Muhammad ‘Abid al-Jabiri menegaskan, bahwa lima prinsip tersebut dapat dijadikan pintu masuk untuk mengenalkan HAM kepada umat Islam, meskipun harus ada tafsir kontekstual yang mempunyai relevansi dengan nilai-nilai yang dianut dalam HAM.

Menurut al-Jabiri, melindungi akal (hifdz al-‘aql) mesti mendorong kreativitas, inovasi, dan kebebasan berpikir. Melindungi jiwa (hifdz al-nafs) berarti setiap orang harus diberi hak hidup. Melindungi harta (hifdz al-mal) berarti setiap orang harus mempunyai hak yang sama untuk hidup layak. Melindungi keturunan (hifdz al-nasl) berarti setiap orang berhak untuk mempunyai keturunan yang saleh dan berbudi luhur. Melindungi agama (hifdz al-din) berarti setiap orang berhak menganut agama dan keyakinan yang sudah menjadi pilihannya.

Salah satu kemusykilan yang kerap mengganggu, bahwa setiap umat agama hanya mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak Tuhan. Menurut al-Syatibi dalam al-Muwafaqat, bahwa selain memenuhi hak Tuhan (huququllah), setiap umat harus memenuhi hak-hak hamba (huququl ‘ibad).

Di sinilah sebenarnya Islam memberikan keseimbangan antara tuntutan untuk memenuhi hak-hak Tuhan sebagai bentuk penyerahan diri setiap hamba-Nya. Tetapi juga yang tidak kalah penting, yaitu memenuhi hak-hak hamba, yang dalam bahasa modern dikenal dengan HAM.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah terperangkap dalam sikap-sikap intoleran dan bernuansa kekerasan. Begitu mudah kita melakukan diskriminasi yang berbeda agama, berbeda aliran, berbeda jenis kelamin dengan kita. Lalu hilanglah rasa kemanusiaan kita dengan memberikan label kafir, sesat, dan menyimpang.

Perilaku beragama semacam ini, menurut saya, sangat mengkhawatirkan. Karena kita secara sengaja telah menghilangkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang melekat dalam agama kita.

Dalam menyikapi kelompok minoritas, seperti Kristen, Syiah, Ahmadiyah, bahkan LGBT yang ramai diperbincangkan selama ini, sebenarnya kita sudah kehilangan rasa kemanusiaan. Kita mudah menghakimi orang lain yang berbeda dengan kita, tanpa mempertimbangkan rasa kemanusiaan terhadap mereka. Maka dari itu, mainstreaming HAM mutlak diperlukan. Untuk apa?

Tentu tujuannya untuk menjaga keindonesiaan kita. Puncaknya, seperti kata Bung Karno, bahwa agama yang kita yakini pada hakikatnya bertujuan membangun keadaban. Yaitu keadaban yang saling menghargai dan saling meng hormati antara satu agama dengan agama yang lain. Tidak memupuk egoisme, apalagi fanatisme.

Sebelum terlalu jauh menjadi bangsa yang mudah memelihara dendam dan benci, ada baiknya kita kembali ke HAM yang sudah menjadi bagian penting dalam konstitusi kita. Apalagi dalam agama kita yang juga sangat menjujung tinggi HAM.

Soal HAM dalam Islam ini, saya selalu rindu Gus Dur, sosok yang tidak hanya membincangkan HAM, tetapi juga mengamalkan HAM dengan paripurna. Gus Dur selalu berkata, “dalam hidup ini, saya tidak pernah punya musuh. Saya ingin bersahabat dengan siapapun.”

Gus Dur telah mengalirkan pemikiran yang sangat penting bagi kita saat ini. Mungkin juga pada masa-masa yang akan datang. Kita perlu mainstreaming HAM kepada siapapun.

Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Ketua Moderate Muslim Society. Akun twitter @zuhairimisrawi

Dikutip dari tulisan Zuhairi Misrawi di kompas:

Zuhairi Misrawi Sumber : kompas

Zuhairi Misrawi
Sumber : kompas

Zuhairi Misrwai, lahir di Sumenep Madura, 5 Februari 1997. Pernah mondok selama 6 tahun di Pondok Pesantren al-Amien, Prenduan. Menyelesaikan kuliah di Jurusan Akidah-Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Menerbitkan sejumlah buku, antara lain: Doktrin Islam Progresif (2002), Islam dan Terorisme (2002), Dari Syariah menuju Maqashid Syariah (2005), Al-Quran Kitab Toleransi (2007), Mekkah(2008), Madinah (2009), Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan (2010), Hasyim Asy’ari(2011), Menjadi Muslim Moderat (2012), dan lain-lain..

 

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: