Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Front Jihadi Islam menyegel Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta

Front Jihadi Islam

Front Jihadi Islam

Tindakan kekerasan dan pelanggaran hak-hak LGBT sepertinya belum berhenti walaupun Kapolda Badrodin Haiti menyatakan akan menindak siapapun yang melanggar hak-hak orang lain, termasuk hak LGBT.

Baca juga : Kapolda akan menindak pelaku pelanggaran hak-hak orang lain, termasuk hak-hak LGBT

Front Jihadi Islam secara resmi mengundang Ikhwah semua untuk MENOLAK dan MENYEGEL PONPES WARIA yang berada di YOGYAKARTA pada Hari Jum’at, 19 Februari 2016, setelah sholat Jum’at.

Mengetahui berita tersebut Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta mengajak para aktivis dan simpatisan Jumat, 19 Februari, untuk mendatangani pondok pesantren waria Al Fatah di Kotagede, Yogayakarta.

Perangkat desa dan pihak kepolisian mendatangi pondok pesantren pada pukul 11:30 siang dan meminta para santri untuk mengosongkan lokasi tersebut.

Saat ini, pihak pondok pesantren sedang meminta perlindungan dari LBH Yogyakarta.

Pondok Pesantren Al Fatah ‘Senin-Kamis’  yang didirikan oleh Maryani ini terletak di Kampung Notoyudan, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Yogyakarta. Namun, meninggalnya sang pendirinya, membuat pesantren yang beranggotakan 42 waria ini sempat vakum.

Pesantren ini kembali aktif namun berpindah tempat di Celenan, Kotagede Yogyakarta, dan diketuai oleh Shinta, murid dari pesantren tersebut. Pesantren ini diklaim sebagai pesantren satu-satunya di dunia yang penghuninya waria.

Shinta salah satu waria harus meninggalkan rumahnya karena takut dengan ancaman yang akan menutup Ponpes. Tindakan penutusan paksa oleh FJI ini diyakini berawal dari adanya berita bahwa Pondok Pesantren Al-Fatah mempunyai fiqih waria. Menanggapi itu, Shinta menyatakan bahwa para waria di ponpes melakukan kegiatan beribadah dan doa bersama, seperti umat islam pada umumnya.

Ustad Arif yang mendampingi para waria mengatakan bahwa ia juga tidak pernah mengatakan tentang fiqih waria. Ia bahkan mengatakan bahwa ia dan para waria tidah memerlukan itu.

“Saya disarankan pergi dari Ponpes. Dan kami memilih pergi dan dengan ada teman yang menjaga di sini (ponpes). Kami mendapat jaminan keamanan dari Pak Kapolsek (Banguntapan), Pak Camat,” kata Shinta.

“Kami di sini beribadah, dan doa yang sama, ritual yang sama dengan umat Islam yang lain,” imbuhnya.

“Tidak ada fiqih waria,” tegas Shinta.

Salah seorang ustadz pendamping ponpes, Arif mengamini pernyataan Shinta.

“Selama saya mengajar di sini, tidak pernah mengatakan itu (fiqih waria). Kita nggak perlu dan nggak butuh itu,” kata Arif.

Menurutnya, bukan berarti waria tak boleh beribadah. Kehadirannya di Ponpes itu untuk memberi kenyamanan untuk beribadah kepada para waria yang ingin beribadah.

“Pemikirian-pemikiran benar nggak sih, waria boleh beribadah. Saya pikir, ya, boleh,” kata Arif.

 

Berikut wawancara dengan Perwakilan dari pihak penyerang (Front Jihadi Islam) menganggap Ponpes Al-Fatah hanyalah ‘kedok’ bagi para waria.

UPDATE !!!

Tim Gabungan Advokasi Penolakan Penyegelan Pondok Pesantren Al-Fatah membuat surat Pernyataan Sikap Atas Ancaman Penyegelan Pondok Pesantren Alfatah

pernyataan sikap gabungan advokasi penyegelan Ponpes Alfatah

Sumber : Rappler.com Merdeka Merdeka detiknews detiknews

 

 

 

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: