Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Dalam Bahasa Jawa Kuno, Apakah kedi berarti homoseksual?

Sumber : portal sejarah.com

Sumber : portal sejarah.com

Pakar hukum pernikahan Universitas Indonesia, Neng Zubaidah, menuturkan, larangan aktivitas homoseksual, baik itu oleh laki-laki maupun perempuan, telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk.

Setidaknya ada dua pasal dalam perundang-undangan Majapahit yang dibuat sekitar abad ke-13 tersebut yang mengarah pada pelarangan aktivitas lesbian, gay, biseksual, dan transjender (LGBT).

Pasal 17 yang menyatakan bahwa kedi, pencuri dan pendusta akan dikenakan hukuman mati apabila melakukan tindakannya.

Menurutnya Kedi artinya homoseksual.

“Kedi itu siapa? Homoseksual,” kata Neng dalam sebuah acara diskusi di Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (18/2/2016).

Pada pasal 214, menyatakan jika wanita yang menikah dengan wanita atau hidup bersama wanita dan melarikan diri dari suaminya akan dikenakan hukuman empat tali. Menurutnya hukuman 4 tali adalah hukuman denda.

“Artinya, hal seperti itu memang ada di masyarakat. Hanya, pada masa Majapahit, hukuman bagi kedi adalah hukuman mati; bagi perempuan yang hidup bersama perempuan, hukumannya empat tali,” ujarnya.

***

Coba kita lihat dari beberapa sumber :

Pemerintahan Majapahit memakai bahasa jawa kuno. Kata Kedi  dalam bahasa jawa kuno berarti Orang Mandul atau orang yang tidak berdatang bulan. Menurut kamus jawa kuno Wojo Wasito, Kedi berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Namun jika dihubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, “KEDI” berarti Suci atau Wadad. Jadi seperinya sama sekali tidak mengacu pada homoseksualitas.

Sedangkan pasal 214 mungkin masuk pada Kitab Karta manawa Bab XII Paradara yang mengatur tentang perzinahan, Paradara sendiri artinya istri orang lain, atau bisa dikatakan  setiap perbuatan yang kurang senonoh terhadap istri orang lain. Sayang sekali Neng Zubaidah tidak menunjukan pasal tersebut ada dalam kitab apa dan bunyi aslinya bagaimana, sehingga tidak bisa ditelusuri apakah penafsirannya memang benar. Semoga saja ada penjelasan lebih lanjut tentang pasal ini.

 

Sumber : Kompas Keturunan Airlangga Kedirikab.go.id hukum hindu Referensi lain tentang Paradara

 

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: