Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Penyembuahan Homoseksualitas yang berakhir petaka – 1

Penyembuhan dengan Terapi Sengatan Listrik Sumber:newnownext.com

Penyembuhan dengan Terapi Sengatan Listrik
Sumber:newnownext.com

Tahun 2011, Lin Yan mendatangi Pusat Konseling Psikologi Chuanwei di Shenzhen karena orientasi seksualnya (gay). Ia takut orang tuanya tidak bisa menerimanya. Pada saat ia berumur 24 ia memulai terapi yang diberi nama “Conversion Therapy”, tak tanggung-tanggung, dalam 3 bulan ia menghabiskan 1.700 dollar, sekitar lebih dari 28 juta rupiah.

Dalam terapi tersebut ia diperlihatkan foto-foto laki-laki sensual dan dipaksa untuk muntah dengan bantuan obat yang disuntikan. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan perawatan yang dia namakan sebagai “siksaan mental”. Berkali-kali ia diperdengarkan kata-kata yang mengatakan,

“Orang tuanya tidak akan pernah memaafkanmu!”

“Menjadi gay adalah tak bermoral!”

Tak hanya itu, ia juga mendapatkan terapi dengan cara disengat aliran listrik.

Terapi yang Lin jalani kedengaran sangat mengerikan, tapi praktek tersebut bukanlah suatu hal yagg tidak umum di kota-kota besar di Cina pada saat itu.  Pada tahun 2001, Cina menyatakan bahwa homoseksualitas adalah sebuah penyimpangan. Saat ini sudah ada beberapa festival LGBT, bahkan sudah ada lebih dari 100 kelompok pendukung LGBT. Tetapi di daerah-daerah pelosok, pendapat bahwa Homoseksualitas bisa disembuhkan masih saja ada.

Setiap orang merasa mendapatkan desakan dan tuntutan sosial untuk memberikan keturunan, hal itu lah yang membuat banyak orang merasa tertekan. Zhang Beichuan of Qingdae University menunjukan data bahwa 4-5 laki-laki gay di China sudah menikah dengan perempuan. Laki-laki seperti ini lah yang biasanya mendatangi Klinik “Penyembuan” Homoseksualitas, walaupun harus membayar sangat mahal, setidaknya 5000 dollar, atau sekitar 70 juta rupiah.

Baca juga : Menurut Ahli Neuorologi, LGBT adalah genetik dan tidak menular

Baca juga : Apakah LGBT sebuah pilihan?

Baca juga : 8 pemahaman keliru tentang LGBT

Baca juga : Bahaya Rehabilitasi LGBT

Di belahan dunia lain, terapi dan rehabilitasi Penyembuhan LGBT semacam ini sudah dikecam. Asosiasi Psikiater Amerika mengatakan bahwa menjalani terapi semacam itu menyebabkan depressi, kecemasan dan perilaku yang cenderung merusak diri sendiri. Dewan Psikoterapi di Inggris bahkan mengatakan bahwa terapi tersebut sangat tidak beretika.

Di Cina sendiri, terapi semacam ini sudah ada sejak puluhan tahun, tetapi belum ada protes keras dari lembaga-lembaga medis maupun pemerintah. Pada bulan Desember tahun 2014, sebuah NGO yang memberikan advokasi terhadap hak-hak LGBT melakukan protes kecil di depan salah satu klinik. Mereka membuat plakat bertuliskan “Homoseksualitas bukan penyakit”. Mereka juga sudah mengirimkan 20 surat teguran kepada Departemen Kesehatan di 10 kota yang berisi nama-nama Klinik yang memberikan jasa layanan terapi yang berbahaya tersebut. Namun sayang surat mereka tidak dibalas. Zhang, salah satu advokat mengatakan bahwa setiap Klinik membutuhkan perizinan khusus untuk melakukan terapi berbahaya seperti sengatan listrik tegangan tinggi.

Seorang anak yang menjadi korban terapi penyembuhan homoseksualitas di Cina

Seorang anak yang menjadi korban terapi penyembuhan homoseksualitas di Cina

Selain tidak ada izin, ternyata klinik-klinik tesebut juga tidak memiliki standar yang profesional. Seorang praktisi konseling di Pusat Konseling Psikologi di Nanjing mengunakan metode Hipnoterapi guna membuka ingatan masa kecil seseorang untuk mengetahui penyebab awal homoseksualitasnya. Dalam situsnya, dikatakan bahwa seorang anak laki-laki yang lahir dalam keluarga yang didominasi oleh tokoh seorang ibu, membuat anak tersebut menjadi gay.

Alternatif pengobatan lainnya adalah Elektroterapi yang dilakukan untuk menimbulkan rasa kebencian, rasa jijik terhadap homoseksualitas. Praktisinya bahkan mengatakan bahwa angka kesuksesannya adalah 70%.

Tetapi, apapun klaim para praktisi terapi tersebut, Lin merasa bahwa mereka sudah gagal menyembuhkannya. Ia sendiri sudah menghabiskan semua harta bendanya untuk pengobatan tersebut, tetapi hasilnya justru ia menderita kecemasan, insomnia, penurunan berat badan, rambut rontok. Dan yang paling membuatnya sedih, ia tetap seorang gay. Setelah dia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyembuhkannya, ia akhirnya terbuka tentang orientasi seksualnya dengan orang tuanya. Tetapi akhirnya orang tuanya bisa menerimanya, bahkan mengatakan dengan nada bercanda, seumpama anak laki-lakinya ingin memperkenalkan pacarnya, setidaknya ia harus kaya dan tampan.

Sumber : The economist gitsmania.com

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: