Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Allah Menyayangi kita semua, selamat Hari Valentine untuk LGBT Muslim

Sumber : huffingtonpost

Sumber : huffingtonpost

Valentine day, atau banyak yang bilang hari kasih sayang. Sudah banyak sekali  orang menjadikan hari Valentine ini sebagai sebuah tradisi perayaan rutin tahunan, termasuk para umat muslim. Ada yang merayakannya dengan pasangannya, ada pula yang merayakannya  dengan orang tua dan anak-anak mereka sebagai perwujudan cinta dan sayang mereka.

Sudah menjadi kodratnya, setiap manusia diciptakan dengan hasrat untuk memiliki, berpasangan, berkawan tapi diatas itu semua, hasrat cinta (mencintai dan dicintai). Tetapi sayangnya, pemimpin-pemimpin muslim konservatif menyamakan hasrat kasih sayang LGBT dengan nafsu, miras dan narkoba.

Mereka beranggapan bahwa hasrat itu harus sesuai dengan pandangan umum mereka. Sebuah pandangan yang dibentuk oleh sebuah faham heteroseksisme -suatu sikap, bias dan diskriminasi terhadap hal-hal yang berpihak pada hubungan heteroseksual-. Bias-bias seperti itu juga yang mempengaruhi cara mereka memahami kitab suci. Dan akibatnya, mereka pun merasa punya kuasa untuk menggunakan cerita-cerita yang sebenarnya tentang ketidak ramahan dan kekejian lalu menggunakannya untuk mengutuk cinta sesama jenis.

Kemantapan religius ini memungkinkan mereka untuk mengekalkan budaya yang dianggap taboo seperti pada kelompok seksual minoritas, menjadi suatu kebencian dan penghinaan. Konsekuensinya, LGBT muslim mendapati dirinya dalam sebuah pernikahan tanpa cinta atau dalam kesendirian yang dia buat sendiri yang terinspirasi oleh pengorbanan diri dalam cerita-cerita percintaan. Mereka  juga mungkin menjadi kurang diterima oleh keluarganya sendiri dan akhirnya jatuh ke dalam kehidupan jalanan yang kejam. Dalam beberapa kasus, marginalisasi yang mereka alami pun berubah menjadi penganiayaan.

Bahkan dalam lingkungan gay sendiri, LGBT muslim masih harus berselisih pendapat dengan kefanatikan anti-muslim yang sudah merajalela, di atas tekanan yang sudah mereka dapatkan dari sebuah subkultur yang berisi larangan-larangan yang terbentuk oleh attribut-attribut yang berhubungan dengan body image, warna kulit dan attribut-attribut lainnya.

Akhirnya banyak LGBT muslim berakhir dengan perasaan patah hati dan tak dicintai. Keinginan mereka untuk mengisi kekosongan itu, menyebabkan mereka terjerumus pada perilaku seksual tidak sehat atau bahkan ada yang akhirnya menganut puritanisme. Ada juga yang bunuh diri karena kehampaan hidup yang mereka rasakan yang disebabkan karena hasrat mereka untuk mencintai dan dicintai.

Film berjudul Fire ini mengisahkan kerinduan yang mendalam yang disampaikan melalui kata-kata si protagonis, Radha.

“Tanpa hasrat, aku mati
Tanpa hasrat
Tak ada gunanya hidup
Aku ingin hidup”

“Aku menginginkan Sita,
Aku menginginkan kehangatannya,
Perasaan belas kasihmya. tubuhnya.
Aku ingin hidup lagi.”

Para muslim yang progressif, inklusif dan universalis paham terhadap banyaknya jumlah paksaan yang harus dihadapi LGBT muslim serta tekanan kebutuhan manusia akan cinta. Karena alasan ini lah banyak dari mereka duduk bersama untuk memberitahu para LGBT muslim agar jangan melepaskan harapan mereka dan untuk lebih hidup, tidak hanya sekedar hidup-hidup saja.

Muslim Gay dan Straight, muda dan tua, pria dan wanita, berkulit putih atau berwarna, Sunni atau Shia harus bersatu dan mengirimkan pesan yang kuat kepada LGBT muslim bahwa “Allah menyayangi kita semua.”

Ini bukan sebuah cinta yang merupakan cobaan dan ujian tetapi cinta yang dibentuk oleh nilai-nilai radikal inklusi yang ditanamkan oleh ajaran Nabi untuk mencintai sesama manusia seperti kita mencintai diri kita sendiri.

Pesan mereka sederhana. Seseorang menghabiskan hidupnya dalam ketakutan terhadap manusia lainnya adalah sebuah penistaan terhadap kehendak Sang Pencipta. Ini juga akan menimbulkan sebuah perasaan tidak bersyukur kepada Sang Pencipta yang muncul dari perasaan benci terhadap diri sendiri yang lahir dari ketidak mampuan untuk memenuhi tuntutan subkultur yang cenderung selalu melarang.

Para muslim progressif, inklusif dan universalis memberikan berkat dan restu kepada LGBT muslim untuk berada dalam jalan cinta. Mereka memberikan nasehat agar melepaskan konflik dalam diri mereka, sembuh dari cognitive dissonance-nya -sebuah perasaan tertekan dan tidak nyaman yang disebabkan karena melakukan hal-hal yang bertentangan dengan suatu agama, keyakinan dan nilai-nilai- dan menemukan kembali perasaan kagum dan terpesona mereka seperti saat mereka masih kecil serta membebaskan mereka dari  belenggu norma-norma dan tuntutan sosial yang salah.

Intinya, Muslim-muslim dari segala ragam sudah bersatu dan berkumpul dalam video ini untuk memberti tahu LGBT muslim untuk tidak berhenti berharap bahwa “Allah menyayangi kita semua”.

 

***

Teks asli:

Valentine’s Day will soon be upon us. Many Muslims celebrate it in their own special way. Some celebrate it to honour the love for their beloveds, while others cherish it with their parents or children.

Indeed, human beings were created with deep desire for belonging, companionship and above all love. However, conservative Muslim leaders equate the legitimate desires of LGBT Muslims for intimacy and affection with the urges and desires of alcoholics and drug addicts.

Such leaders feel that desires must be checked to conform to their worldview shaped by a deep-seated heterosexism. Such bias also informs their reading of the scriptures. As a result, they are able take a story about inhospitality and subjugation and make it about the condemnation of love between same gender couples.

This religious fervour allows them to perpetuate cultural taboos that subject vulnerable sexual minorities to hatred and contempt. As a consequence, LGBT Muslims may find themselves in loveless marriages or self-imposed loneliness encouraged by the martyr of love narrative. They may also find themselves on the receiving end by their own families or in the way of harm on the streets. In some cases, marginalization even turns to persecution.

Even in gay spaces, LGBT Muslims may have to contend with rampant anti-Muslim bigotry on top of the pressures of a forbidding subculture shaped by concerns of body image, skin colour and other attributes.

Many LGBT Muslims end up feeling dejected and unloved. To fill this void some resort to unhealthy sexuality whereas others turn to puritanism. Still others go through suicide ideation for they find no meaning in life in the absence of the fulfillment of their deepest desire to love and to be loved.

The movie Fire captures this powerful longing through the words of the protagonist, Radha.

“Without desire I was dead,
Without desire
there’s no point in living,
I desire to live.”

“I desire Sita,<
I desire her warmth,
her compassion, her body.
I desire to live again.”

Progressive, inclusive and Universalist Muslims understand the incredible amount of duress faced by LGBT Muslims and the pressing human need for love. It is for this reason many of them have banded together to let vulnerable LGBT Muslims know to not let go of hope and to live beyond mere existence.

Gay and straight, young and old, men and women, white and coloured, Sunni and Shia Muslims have come together from far and wide to send a powerful message to LGBT Muslims that “Allah Loves us All.”

This love is not based on conditions of trials and tests but is shaped by the value of radical inclusion instilled by the Prophet’s teaching to love for humanity what we love for our ownselves.

Their message is simple. It would be a calumny against the Creator to spend one’s life appeasing the fears of other human beings. It would equally be ingratitude to the Creator to harbour self-hatred that arises from the inability to meet forbidding subculture expectations.

Progressive, inclusive and Universalist Muslims bless LGBT Muslims in their path to love and to be loved. They counsel them to let go of inner conflict, heal from cognitive dissonance and rediscover their childlike awe and wonder that frees them from the shackles of societal conformity and false expectations.

In essence, Muslims of various stripes have banded together in the following video to let LGBT Muslims know to not let go of hope for “Allah Loves us All”.

Imam Daayiee Abdullah, President and Chair, Muslim Education Center for Creative Academics

Shahla Khan Salter, Director, Universalist Muslims

Junaid Jahangir, Assistant Professor, MacEwan University, Edmonton, Alberta

Rabea Murtaza, Muslims for Ontario’s new health and physical education curriculum

Fauzya Talib, founding member of the Ottawa Valley Unity Mosque

Tanda Chmilovska, Coordinating Imam of Calgary Alberta Unity Mosque

Garrett Nicholas Fugate-Kiriakos, PhD Candidate in Islamic Studies, Boston University

Omar Sarwar, Queer Muslim Activist and PhD Candidate in History, Columbia University

Dino Suhonic, Maruf, Dutch Queer Muslims

Shayma Johnson, women and LGBT rights activist, Strathmore, Alberta

Owais Siddiqui, straight Muslim ally and activist, Edmonton, Alberta

Mark Brustman, writer and activist , Oakland, California.

Frank Parmir, Director, Muslims for Progressive Values, Columbus, Ohio

Kelly Wentworth, Secretary, Muslims for Progressive Values; President, MPV-Atlanta

 

Sumber : huffingtonpost

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: