Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Hubungan erat antara homofobik dan homoseksual. Syntonic- dan dystonic-homoseksual

Ilustrasi Sumber : medicaldaily

Ilustrasi
Sumber : medicaldaily

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Tetapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dalam ilmu psikologi, homoseksualitas bisa dibagi menjadi dua (2). Yaitu, homoseksual syntonic (sintonik) dan homoseksual dystonic (distonik) yang bisa memberi penjelasan bagaimana seorang homoseksual bisa menjadi homofobik internalized . 

Baca juga : jenis-jenis homofobia

Sigmund Freud, pendiri ilmu Psikologi. Dalam bukunya  Das Ich und das Es atau dalam bahasa inggris The ego and The id yang diterbitkan tahun 1923, menjelaskan apa itu id, ego dan super ego.

Menurut Freud, pikiran dan jiwa manusia dibagi menjadi 3, yaitu id, ego and super ego.

ID adalah kondisi kejiwaan yang bersangkutan dengan dorongan dan tindakan yang tidak dipikirkan dahulu dan pemuasan yang segera harus dipenuhi, seperti makan, seks, marah. Hal-hal ini bisa kita lihat pada anak-anak. Mereka hanya peduli dengan pemenuhan keinginan mereka, contohnya bayi akan menangis jika lapar.

Super EGO, adalah suatu dorongan atau tindakan yang dilakukan atas dasar pertimbangan moral, dan suara hati. Contohnya: saat seseorang makan enak, ia merasa tidak enak memakannya atau bahkan merasa berdosa karena ia tahu banyak orang di dunia yang kelaparan.

Memiliki id dan super-ego bersamaan adalah suatu keadaan yang sulit.Seseorang bisa melakukan tindakan-tindakan berbahaya tanpa kontrol dan tak dipikirkan terlebih dahulu. Atau malah seseorang merasa sangat berdosa atau mempunyai rasa sakit moral  atas tindakan-tindakan yang ia anggap salah sehingga menyebabkan ia tidak bisa makan, tidur atau melakukan apapun. Di sini lah pentingnya EGO, si kondisi seimbang. Sebuah ego yang kuat, bisa mengontrol rasa lapar, seks, moralitas dan pertimbangan hati nurani. Jika kondisi egonya bagus, maka orang tersebut bisa dibilang bahagia. Jika seseorang egonya lemah, maka secara kejiwaan ia bisa jadi sakit. Ego adalah bagian terakhir kejiwaan orang dewasa yang sejalan dengan konsep diri atau bagaimana kita melihat diri kita.

 

Ego sendiri ada dua, yaitu Ego syntonic dan Ego dystonic.

Ego syntonic adalah suatu kondisi keselarasan konsep diri seseorang, di mana orang tersebut merasa bahagia dan tidak ada masalah dengan kondisinya. Atau bisa dibilang merasa semuanya sudah sinkron, dan ia menerimanya.

Sedangkan Ego dystonic adalah suatu kondisi kejiwaan di mana seseorang merasa tersiksa dengan kondisinya yang tidak selaras dengan konsep dirinya atau kondisi egonya. Atau bisa dibilang kondisinya tidak sambung atau tidak sinkron dengan ego yang ia rasakan. Ia merasa bahwa ada yang salah dalam dirinya, pikirannya, perasaannya, perilakunya sehingga akhirnya menjadi sebuah konflik batin.

Mengacu pada 2 definisi tersebut, munculnya Syntonic homoseksual dan dystonic homoseksual.

Syntonic homoseksual adalah kondisi dimana seorang homoseksual bisa menerima dan bahagia dengan orientasi tersebut.

Sedangkan, Dystonic homoseksual adalah sebaliknya. Kondisi di mana ia tidak bisa menerima orientasi seksualnya, sehingga ia merasa tertekan, depressi dan akhirnya melakukan segala cara untuk merubahnya. Perasaan gagal untuk merubah kondisinya tersebut justru semakin membuatnya tertekan dan bisa mendorong tindakan bunuh diri atau benci terhadap diri sendiri atau terhadap orang lain dengan kondisi yang sama. Ini lah mengapa banyak sekali homofobik yang sebenarnya mereka sendiri adalah homoseksual.

Sebenarnya istilah Syntonic dan Dystonic dalam orientasi seksual sendiri masih menuai perbedaan karena orientasi seksual sendiri bukan lah penyimpangan ataupun penyakit kejiwaan.

Yang perlu digaris bawahi adalah bukan pada homoseksualitasnya tetapi lebih pada pada kesehatan jiwa seseorang. Pada kasus syntonic homoseksual, mereka bisa menerima dan bisa hidup dengan wajar, produktif, sehat, layaknya heteroseksual karena mereka tidak merasa ada tekanan. Sedangkan pada kasus dystonic homoseksual, mereka cenderung menjadi pribadi yang tidak sehat, produktifitas tidak maksimal, bersifat lebih negatif karena tekanan yang mereka rasakan. Maka jauh lebih penting memikirkan cara bagaimana melepaskan tekanan dan depressi seorang dystonic homoseksual, agar ia bisa hidup lebih nyaman dengan kondisinya sehingga ia bisa hidup wajar layaknya orang lain tanpa harus terbelenggu oleh stereotip, tekanan dan stigma negatif tentang orientasi seksualnya.

 

Sumber : apa.org psycholozied.org richardjoesl mental health resource The Freud Encyclopedia livescience

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: