Advertisements
BERITA, BERITA TERKINI

Bukti-bukti budaya ketimuran Nusantara menerima LGBT

Banyaknya kecamaman dan penghakiman terhadap komunitas LGBT belakangan ini didasarkan pada opini yang menyatakan bahwa LGBT ataupun perilaku LGBT dianggap bukan budaya ketimuran. Entah pernyataan tersebut terlontar karena ketidak tahuan tentang budaya di Nusantara (sebelum berdirinya Indonesia) atau memang tidak mengakui budaya nenek moyang mereka sendiri yang lebih bijak dan adil. Dulu orang-orang tidak hanya memberikan ruang bahkan memberikan penghormatan atas perbedaan tersebut.

 

Kesenian Ludruk

 

Kesenian Ludruk Sumber : Kidnesia

Kesenian Ludruk
Sumber : Kidnesia

 

Sebuah kesenian panggung yang berasal dari  Jawa Timur dan juga terkenal di Jawa Tengah. Pertunjukan Ludruk hampir mirip dengan Ketoprak, hanya saja Ludruk lebih mengangkat serita-cerita kehidupan sehari-hari. Bahasa lugas yang digunakan pada pertunjukan Ludruk membuat seni Ludruk bisa dinikmati semua kalangan.

Ludruk tidak bisa lepas dengan Tari Remo. Sebuah tari yang menceritakan perjuangan seorang pangeran yang sedang berjuang dalam medan pertempuran. Tari yang identik dengan kemaskulinan. Tetapi Tari Remo sendiri juga sering ditarikan oleh perempuan.

Selain itu ada yang namanya Tandak Ludruk, sebuah kesenian Ludruk yang menampilkan seorang tandak, yaitu seorang laki-laki yang yang merias diri dan berperan sebegai perempuan. Tokoh tandak ini banyak mendapatkan apresiasi dan sanjungan dari masyarakat.

 

Lengger Banyumas

Didik Nini Thowok (kanan) mementaskan tarian Lengger Lanang bersama maestro tari Lengger Lanang, Dariah (kiri) di Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kec. Nusawungu, Cilacap, Jateng, Kamis (15/11). Pentas Lengger tersebut selain dimainkan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946, juga bagian dari proses pendokumentasian budaya tari Sumber : suarakita

Didik Nini Thowok (kanan) mementaskan tarian Lengger Lanang bersama maestro tari Lengger Lanang, Dariah (kiri) di Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kec. Nusawungu, Cilacap, Jateng, Kamis (15/11). Pentas Lengger tersebut selain dimainkan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946, juga bagian dari proses pendokumentasian budaya tari
Sumber : suarakita

 

Sejarah transgender di Banyumas tercatat sejak abad ke-18. Kala itu Mangkunegaran VII memerintahkan tiga sastrawan untuk berkeliling Jawa. Mereka diperintahkan untuk menulis kehidupan penduduk Jawa saat itu.

Tiga sastrawan itu singgah di Banyumas dan menjumpai kesenian Lengger Lanang Banyumas. Kisah mereka belakangan tertulis dalam Serat Chentini, kisah tentang Jawa.

Lengger Lanang menurut  penjelasan Yusmanto, pemerhati budaya dari Banyumas, muncul dari kebudayaan yang bermuasal di sepanjang aliran sungai Sedayu. Pada masa dahulu, muncul kebudayaan dan kesenian pada bagian barat dan timur aliran Sungai Sedayu. Di bagian barat sungai Sedayu, muncul dan berkembang tarian Ronggeng. Sementara, di bagian timurnya, Lengger hidup dan berkembang.

Lengger adalah akronim dari kata leng dan jengger, yang berarti “perempuan yang ternyata laki-laki”. Lengger merupakan salah satu kesenian yang berkaitan dengan upacara syukuran keberhasilan panen di daerah Banyumas. Bagi masyarakat Banyumas ia menjadi lambang kesuburan.

“Lengger merupakan pertunjukan rakyat, bukan berasal dari kebudayaan keraton, yang  lazim dilakukan di daerah Banyumas, Kedu, Kebumen, Purbalingga. Karena berasal dari kebudayaan rakyat, tarian ini jarang sekali memiliki pakem gerak dan setiap penari bebas menafsirkan gerak sesuai dengan ekspresi personal mereka, ” jelas Yusmanto.

Sesuai namanya, tarian ini ditarikan oleh penari lelaki dan bukan perempuan. Latar belakangnya adalah ketika masa lalu kebudayaan kesenian masih patriarki. Kebudayaan ini menyebabkan ruang bagi perempuan dalam kesenian menjadi minim dan terbatas. Sehingga, banyak peran yang semestinya dilakukan oleh perempuan, akhirnya dilakukan oleh lelaki. Lengger Lanang adalah salah satunya. Meski demikian, uniknya, para lelaki ini tidak malu berubah dan berdandan menjadi perempuan dan melatih gerakan tubuh mereka jadi gemulai. Masyarakat pun merespon dengan baik pertunjukan dari para penari lelaki yang ‘cantik’ dan ‘gemulai’ ini.

“Peran lelaki dalam menarikan Lengger bergeser saat memasuki tahun 1970. Saat itu ada kepentingan politis yang dilakukan pemerintah terkait dengan kebudayaan daerah sebagai penopang kebudayaan nasional. Sehingga, perempuan menjadi lebih banyak menarikan Lengger,” jelasnya.

Mulai dari tahun tersebut, selain perempuan banyak yang mulai menarikan Lengger, perubahan juga terjadi terutama pada tujuan diadakannya pertunjukan tari. Jika dahulu, tarian Lengger biasa dilaksanakan sebagai pemujaan terhadap dewi Sri (bersifat ritual) sekarang tarian ini dipentaskan untuk tujuan hiburan.

 

Kesenian Arja

 

Pertunjukan Arja Sumber : zainbie.com

Pertunjukan Arja
Sumber : zainbie.com

Berasal dari bahasa Sansekerta Reja yang berarti kedindahan, adalah sebuah kesenian mirip ketoprak juga, yang lahir tahun 1820 pada masa pemerintahan Raja Klungkung, menampilkan drama tari yang dialognya di tembangkan secara macapat. Awalnya pertunjukkan Arja melakonkan tokoh Arja pada cerita Panji (Malat). Lalu lahir lah cerita-cerita lainnya seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang  serta cerita-cerita dari cerita Mahabarata dan Ramayana.

Pada abad 20, lahir lah kesenian Arja Muani, di mana semua pemainnya pria, yang sebagian memerankan peran wanita.

Kesenian Arja ini sangat digemari oleh masyarakat seperti halnya tari kecak.

 

Kesenian Randai

 

Kesenian randai Minang Sumber: tradisikita.my.id

Kesenian randai Minang
Sumber: tradisikita.my.id

Randai adalah seni pertunjukan teater khas Minangkabau yang merupakan gabungan dari seni peran, seni tari, seni musik dan seni beladiri.

Pertunjukan randai ini diadakan di lapangan terbuka di kampung hampir di seluruh nagari di kabupaten Solok dan juga Sumatera Barat. Pemain Randai tergabung dalam kelompok seni Randai yang anggotanya terdiri dari anak anak dan orang dewasa. Pada Kelompok Randai zaman dahulu tidak ada anggota randai wanita, sehingga untuk memerankan seorang wanita salah seorang anggota randai didandani mirip wanita. Pemain pemeran wanita ini disebut bujang gadih. Seiring perkembangan zaman, sekarang sudah banyak kelompok randai yang memiliki anggota wanita.

Bissu 

 

Bissu

Bissu

Di Sulawesi Selatan, sebelum datangnya agama-agama yang ada sekarang ini, sudah ada kepercayaan  orang-orang bugis  memberikan tempat kepada beberapa orang yang dalam dunia modern mereka sering disebut waria. Namun bedanya menjadi seorang bissu adalah suatu panggilan alam, lahir sebagai bissu. Puang matoa adalah tittle yang disandang seorang bissu, Poang Matoa bukan laki-laki, bukan pula wanita. Poang Matoa biasanya memimpin upacara penyuburan tanah. Berdasarkan tradisi Bugis, sebenarnya bisu sendiri adalah orang yang terlahir dengan 2 kelamin, atau sering disebut hermaphrodite. Dalam tradisi kuno bugis, sebenarnya selain gender laki-laki, perempuan, dan bisu masih ada 2 gender lagi, yaitu perempuan yang hidup sebagai seorang lak-laki, atau Calelai dan laki-laki yang hidup sebagai seorang wanita atau Calebai.

Menurut definisi, Bissu adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan di Pulau Sulawesi, Indonesia. Golongan Bissu umumnya disebut “di luar batasan gender”, suatu “makhluk yang bukan laki-laki atau perempuan”, atau sebagai “memiliki peran ritual”, di mana mereka “menjadi perantara antara manusia dan dewa”. Tidak ada penjelasan meyakinkan definitif untuk apakah arti “di luar batasan jender” dan bagaimana sebutan tersebut dimulai.

Baca juga : Penjelasan lebih jauh tentang Bissu

 

Gemblak dalam tradisi Reog Ponorogo

Reog Ponorogo Sumber : negerikuindonesia.com

Reog Ponorogo
Sumber : negerikuindonesia.com

Warok adalah pahlawan lokal tradisional Jawa atau “orang kuat” yang biasanya melakukan kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo. Menurut tradisi, warok diwajibkan untuk melakukan pantangan, ia dilarang untuk terlibat dalam hubungan seksual dengan perempuan, namun berhubungan seks dengan laki-laki yang berusia 8 sampai dengan 15 tahun diperbolehkan. “Kekasih muda” tersebut disebut gemblak dan biasanya disimpan oleh warok dalam rumah tangga mereka di bawah perjanjian dan kompensasi kepada keluarga anak itu. Warok dapat menikah dengan seorang wanita sebagai istri mereka, tetapi mereka mungkin tetap memiliki gemblak. Hal ini menyebabkan hubungan Warok-Gemblakan mirip dengan tradisi perjantanan di Yunani kuno. Siapa saja yang mengenal cara hidup tradisional di Ponorogo, tahu bahwa ada pria yang lebih tua yang disebut warok, tidak berhubungan seks dengan istri-istri mereka, tetapi berhubungan seks dengan anak laki-laki yang lebih muda.[10] Mungkin yang dilakukan warok dan gemblak adalah tindakan homoseksual, namun mereka tidak pernah mengidentifikasi diri mereka sebagai seorang homoseksual.

Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok [1], namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya . Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan “kerasukan” saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Ritual inseminasi anak laki-laki Papua dan Papua New Guinea

Ritual “homoseksualitas” adalah sebagai ritual peralihan kedewasaan dari anak laki-laki menjadi pria dewasa telah dicatat dipraktekkan di kalangan orang Melanesia dari Pulau Papua, seperti orang Sambia dan Etoro dari Papua Niugini.[11] Di pulau Papua di sisi Indonesia, ritual serupa telah direkam dipraktekkan antara orang-orang Kimam, di Provinsi Papua bagian selatan, Indonesia. Beberapa laporan yang serupa catatan praktek di antara suku-suku lainnya. Praktek ini adalah disusun berdasarkan usia dan diarahkan kepada anak-anak muda sebagai ritus kedewasaan. Menurut kepercayaan mereka, anak laki-laki tercemar dengan unsur perempuan, melalui cairan perempuan seperti melalui menyusui, dan kontak dengan ibunya dan anggota keluarga perempuan lainnya. Untuk menghindari kontaminasi unsur perempuan lebih lanjut, setelah usia tertentu, anak laki-laki diambil dari ibu mereka, dan tinggal terpisah di rumah komunal bersama anak-anak laki-laki lain dan kaum b yang belum menikah. Rumah ini disebut dengan rumah bujangan. Anak laki-laki yang dipisahkan dari keluarganya ini hidup bersama dengan laki-laki muda lainnya dalam rumah bujangan. Hal ini bertujuan untuk membina solidaritas dan ikatan antar kaum laki-laki dalam suku, juga untuk mempersiapkan anak-anak muda agar menjadi seorang prajurit yang berani dan hebat.

Untuk dapat tumbuh berkembang sebagai seorang pria yang jantan, sehingga kelak dapat menjadi seorang prajurit yang berani, seorang anak laki-laki harus menyerap cairan laki-laki, yaitu semen, yang dianggap sebagai inti sari laki-laki. Cara menerima cairan laki-laki ini dapat dilakukan dengan menelan sperma melalui fellatio (oral seks) atau sebagai pihak yang dipenetrasi dalam hubungan seks anal homoseksual. Laki-laki yang berperan sebagai inseminator yang menyumbangkan spermanya adalah anggota suku yang lebih tua, biasanya paman mereka, atau jika sang anak telah dijodohkan dengan seorang anak perempuan, maka calon mertua laki-laki atau calon kakak ipar anak itu dianggap sebagai inseminator yang tepat. Ritual dan aktivitas ini berlanjut sejak masa akhir kanak-kanak dan selama masa remaja dalam rumah bujang. Ritual ini berhenti ketika anak laki-laki itu dianggap telah menyerap cukup unsur laki-laki, yaitu anak itu mencapai usia dewasa, ketika kumis atau jenggotnya mulai tumbuh dan akan segera menikah.

Klik di sini: Rekaman tradisi Inseminasi di Papua

 

Sumber : Malangpagi,  Wikipedia : Ludruk , Wikipedia : Arja Muani , Tradisikita.my.id Wikipedia Gemblak Wikipedia: homoseksualitas di Indonesia Liputan6 utamidkusumawati Salihara.org

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 24 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: