Advertisements
ARTIKEL SEJARAH TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, Ceritaku

Kisah Nyata : Surat Coming-Out Michael kepada ibundanya

Michael dalam Film Tales of The City SUmber : slate.com

Michael dalam Film Tales of The City
SUmber : slate.com

Surat ini adalah bagian dari buku  Amistead Maupin berjudul Tales of the City, menceritakan kehidupan sekelompok orang yang tinggal di San Francisco dari tahun 1976 sampai pertengakan tahun 80-an.  Penulis surat ini adalah Michael Toliver, seorang gay yang saat itu mengetahui bahwa orang tuanya ikut dalam kampanye Anita Bryant di Floria ynag ingin menumpas para gay.  Berikut surat yang diberi judul “Letter for Mama” -Surat untuk Mama”. Terjemahan dalam bahasa indonesia ada di bagian bawah.

Dear Mama,

I’m sorry it’s taken me so long to write. Every time I try to write to you and Papa I realize I’m not saying the things that are in my heart. That would be O.K., if I loved you any less than I do, but you are still my parents and I am still your child.

I have friends who think I’m foolish to write this letter. I hope they’re wrong. I hope their doubts are based on parents who loved and trusted them less than mine do. I hope especially that you’ll see this as an act of love on my part, a sign of my continuing need to share my life with you. I wouldn’t have written, I guess, if you hadn’t told me about your involvement in the Save Our Children campaign. That, more than anything, made it clear that my responsibility was to tell you the truth, that your own child is homosexual, and that I never needed saving from anything except the cruel and ignorant piety of people like Anita Bryant.

I’m sorry, Mama. Not for what I am, but for how you must feel at this moment. I know what that feeling is, for I felt it for most of my life. Revulsion, shame, disbelief – rejection through fear of something I knew, even as a child, was as basic to my nature as the color of my eyes.

No, Mama, I wasn’t “recruited.” No seasoned homosexual ever served as my mentor. But you know what? I wish someone had. I wish someone older than me and wiser than the people in Orlando had taken me aside and said, “You’re all right, kid. You can grow up to be a doctor or a teacher just like anyone else. You’re not crazy or sick or evil. You can succeed and be happy and find peace with friends – all kinds of friends – who don’t give a damn who you go to bed with. Most of all, though, you can love and be loved, without hating yourself for it.”

But no one ever said that to me, Mama. I had to find it out on my own, with the help of the city that has become my home. I know this may be hard for you to believe, but San Francisco is full of men and women, both straight and gay, who don’t consider sexuality in measuring the worth of another human being.

These aren’t radicals or weirdos, Mama. They are shop clerks and bankers and little old ladies and people who nod and smile to you when you meet them on the bus. Their attitude is neither patronizing nor pitying. And their message is so simple: Yes, you are a person. Yes, I like you. Yes, it’s all right for you to like me, too.

I know what you must be thinking now. You’re asking yourself: What did we do wrong? How did we let this happen? Which one of us made him that way?

I can’t answer that, Mama. In the long run, I guess I really don’t care. All I know is this: If you and Papa are responsible for the way I am, then I thank you with all my heart, for it’s the light and the joy of my life.

I know I can’t tell you what it is to be gay. But I can tell you what it’s not.

It’s not hiding behind words, Mama. Like family and decency and Christianity. It’s not fearing your body, or the pleasures that God made for it. It’s not judging your neighbor, except when he’s crass or unkind.

Being gay has taught me tolerance, compassion and humility. It has shown me the limitless possibilities of living. It has given me people whose passion and kindness and sensitivity have provided a constant source of strength. It has brought me into the family of man, Mama, and I like it here. I like it.

There’s not much else I can say, except that I’m the same Michael you’ve always known. You just know me better now. I have never consciously done anything to hurt you. I never will.

Please don’t feel you have to answer this right away. It’s enough for me to know that I no longer have to lie to the people who taught me to value the truth.

Mary Ann sends her love.

Everything is fine at 28 Barbary Lane.

Your loving son,
Michael

Terjemahan

Teruntuk Mama

Maafkan aku karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menulis ini. Setiap kali aku mencoba menulis untukmu dan Papa, aku sadar kalau aku tidak menuliskan apa yang ada di dalam hatiku. Tentu sebenarnya itu juga tidak apa-apa, jika aku kurang menyayangimu, tapi kalian masih orang tuaku dan aku masih anak kalian.

Aku punya teman-teman yang berpikir bahwa aku ini bodoh menulis surat ini. Semoga saja mereka keliru.  Semoga saja keraguan mereka karena orang tua mereka tidak segitu sayang dan percaya pada mereka seperti sayang dan percayanya kalian padaku. Aku berharap kalian melihat ini sebagai uangkapan sayang dariku, sebuah tanda bahwa aku masih ingin membagi hidupku dengan kalian. Aku rasa. aku tidak akan menulis surat ini jika kalian tidak memberitahuku tentang keikut sertaan kalian dalam kampanye Save Our Children. Hal itu memperjelas bahwa sudah menjadi kewajibanku untuk memberitahu kalian tentang yang sebenarnya, bahwa anak kalian adalah seorang homoseksual, dan aku tidak akan pernah membutuhkan perlindungan dari apapun, kecuali dari orang-orang kejam dan orang sok alim seperti Anita Bryant.

Maafkan aku Mama, bukan karena siapa aku, tetapi karena apa yang harus kamu rasakan saat ini. Aku tahu seperti apa perasaan itu, perasaan yang sudah aku rasakan seumur hidupku. Rasa jijik, malu, tidak percaya -penolakan melalui ketakutan atas suatu hal yang aku tahu, bahkan sebagai seorang bocah, itu ada secara alami seperti warna mataku.

Tidak Mama, Aku tidak “diajak”.  Tidak ada homoseksual yang pernah menjadi guruku. Tapi kamu tahu Mama? Aku berharap ada seseorang yang lebih tua dariku dan lebih bijak dari orang-orang di Orlando yang pernah duduk di sampingku dan berkata “Kamu baik-baik saja nak, Kamu bisa tumbuh menjadi dokter, guru seperti orang lain. Kamu tidak gila,  sakit atau pun jahat. Kamu bisa sukses dan bahagia dan mendapatkan kedamaian dengan teman-teman -semua jenis teman- yang tidak peduli dengan siapa kamu tidur. Tapi yang terpenting, kamu bisa mencintai dan dicintai, tanpa harus membenci dirimu sendiri.”

Tapi, tidak ada seorangpun yang mengatakan itu padaku Mama. Aku harus mencari tahu itu sendiri, dengan bantuan kota ini, kota yang sudah menjadi rumahku. Aku tahu ini mungkin sulit untuk kalian percayai, tapi San Francisco penuh dengan laki-laki dan wanita, ada yang straight ada yang gay, yang tidak menggunakan seksualitas sebagai ukuran untuk menilai seseorang.

Mereka bukan orang-orang radikal yang aneh, Mama. Mereka penjaga toko dan pegawai bank dan  wanita-wanita tua dan orang-orang yang suka mengangguk dan senyum pada kalian ketika kalian berpapasan dengan mereka di bis. Mereka melakukan itu bukan karena merendahkan atau mengasihani. Dan pesan mereka sangat sederhana: Ya, kamu adalah seseorang. Ya, saya suka kamu. Ya. tidak apa-apa kalau kamu menyukaiku juga.

Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Kamu bertanya pada dirimu sendiri: Kesalahan apa yang sudah kami buat? Bagaimana kami bisa membiarkan ini terjadi? Siapa diantara kami yang membuatnya seperti ini?

Aku tidak bisa menjawabnya, Mama. Aku rasa, lama kelamaan sebenarnya aku tidak peduli. Yang saya tahu hanya ini: Jika kalian memang bertanggung jawab atas apa yang terjadi denganku, maka aku berterima kasih dengan sepenuh hatiku, atas kebahagian hidupku saat ini.

Aku tahu aku tidak bisa memberi tahumu bagaimana rasanya menjadi gay itu. Tetapi aku bisa memberi tahumu bagaimana rasanya tidak menjadi gay.

Ini adalah suatu hal di mana kita tidak harus bersembunyi dibelakang kata-kata, Mama. Seperti Keluarga dan Sopan santun dan Kekristenan. Ini tidak membuatmu takut, atau membuatmu takut atas kenikmatan yang Tuhan berikan. Ini  bukan seperti mengatai tetanggamu, kecuali ketika mereka kasar dan tidak baik.

Menjadi gay sudah mengajarkanku toleransi, rasa iba, dan rendah hati. Menjadi gay juga sudah menunjukkanku hidup dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak ada batasnya. Juga sudah memperkenalkku kepada orang-orang yang mempunyai semangat dan kebaikan dan kepekaan yang sudah memberikan sumber kekuatan yang terus menerus. Ini sudah membawaku kepada keluarga manusia, Mama dan aku senang  berada di sini. Aku menyukainya.

Sudah tidak ada lagi yang bisa aku katakan, kecuali bahwa aku masih Michael yang sama, yang selama ini kalian kenal. Kamu hanya sudah mengenalku lebih baik sekarang. Aku belum pernah melakukan apapaun dengan penuh kesadaran untuk melukaimu. Tidak akan pernah.

Tolong, jangan berpikir bahwa kamu harus segera  menjawab surat ini. Buatku sudah cukup mengetahui bahwa aku tidak harus lagi berbohong kepada orang-orang yang sudah mengajariku tentang nilai-nilai kebenaran.

Mary Ann mengirim salam sayangnya untukmu.

Semuanya baik-baik saja di Barbary Lane 28

Anakmu yang menyayangimu,
Michael

Baca juga : Cerita jujur, dari hati seorang muslim gay Iskan Darilyas

Baca juga : Cinta 2 gay muslim yang tumbuh di masa Perang Irak akhirnya dipersatukan setelah terpisahkan lebih dari 1 dekade

Sumber: mic.com

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: