Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Akhirnya ahli menjelaskan kebenaran ilmiah tentang LGBT, jika tidak sesuai keyakinan, sains itu tidak benar

teori lgbt

Akhirnya satu Neurolog dari Rumah Sakit Mayapada, Roslan Yusni,  mengatakan pendapatnya tentang pembentukan Orientasi Seksual. Orientasi seksual adalah hasil dari variasi struktur otak manusia.

Ia mengatakan bahwa masih banyak ilmuwan dan pekerja medis, seperti dokter belum menyerap pengetahuan tersebut. Sehingga masih banyak dokter yang menganggap bahwa  LGBT adalah penyakit. Tidak hanya dalam kalangan dokter, bahkan dalam kalangan psikolog. Sudah sejak lama Orientasi seksual tidak dikategorikan sebagai penyakit, tetapi masih banyak psikolog yang tidak tahu.

Seharusnya pada ilmuwan, dokter dan ahli kejiwaan menggunakan sains untuk membantu mencerahkan publik, sehingga bisa mengurangi diskriminasi.

Menurutnya, ketika sains tidak sesuai dengan keyakinan, maka sains itu diabaikan -dianggap tidak benar-.

 

Berikut kutipan beritanya.

***

Dunia sains terbuka pada banyak hal, tetapi kurang pada urusan seks, jender, dan orientasi seksual.

Sementara ilmu psikologi, neurologi, fisiologi, genetika, dan ekologi perilaku memberi petunjuk tentang proses di balik pembentukan identitas seks, jender, dan orientasi seksual, cukup banyak pula ilmuwan yang belum menyerapnya.

Akibatnya, di tengah isu lesbian, gay, biseksual, dan transjender (LGBT) yang ramai belakangan ini, ilmuwan belum mampu mencerahkan publik dan membantu mengurangi diskriminasi.

Neurolog dari Rumah Sakit Mayapada, Roslan Yusni atau Ryu, mencontohkan yang terjadi pada kalangan dokter.

Neurologi kini telah mengungkap bahwa orientasi seksual seks, jender, dan orientasi seksual disebabkan oleh variasi struktur otak. Variasi tersebut terbentuk sejak masa kehamilan sekitar 8 minggu.

Variasi itu bisa dibuktikan lewat pindai Positron Emission Tomography (PET). Bagian otak yang disebut amigdala pada laki-laki homoseksual mirip dengan perempuan heteroseksual.

“Tapi, masih banyak dokter yang belum tahu itu,” kata Ryu dalam diskusi di Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta, Selasa (9/2/2016).

Menurut Ryu, masih banyak dokter yang menganggap bahwa homoseksualitas adalah penyakit.

Permasalahan lain dalam dunia kedokteran Indonesia, menurut Ryu, adalah adanya penolakan hasil riset karena alasan kepercayaan.

“Menganggap bahwa science dan keyakinan adalah dua hal yang terpisah. Kalau tidak sesuai keyakinan, maka science-nya diabaikan,” imbuhnya.

Dalam soal LGBT, walaupun sains mengungkap bahwa itu adalah variasi, keyakinan akhirnya mematahkan.

Peneliti pada Pusat Kajian Jender dan Seksualitas Universitas Indonesia mengatakan kasus yang sama pada dunia psikologi.

“Homoseksualitas sudah lama dihapus dari golongan gangguan jiwa, tetapi sampai sekarang masih banyak psikiater dan psikolog yang belum tahu,” kata Irwan.

Dalam soal seksualitas, banyak psikolog belum bergerak dari pandangan Sigmund Freud seabad lalu. Padahal, seksualitas dalam pandangan Freud telah usang.

Di sisi lain, ada keengganan dari kalangan ilmuwan untuk berpendapat tentang seksualitas.
“Mungkin karena ini sensitif,” kata Irwan.

Di tengah penghakiman, sains sebenarnya bisa memberi pencerahan, setidaknya mengurangi aksi diskriminasi secara verbal maupun tindakan.

Irwan menekankan pendekatan dialog untuk menumbuhkan pemahaman.

dikutip dari Kompas

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: