Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Māhū : “transgender” yang sangat dihormati dan dihargai di kebudayaan Hawaii, seperti Bissu di Sulawesi

Kumu HIna Sumber: prideoftheocean

Kumu HIna
Sumber: prideoftheocean

Dalam Budaya Barat dan Timur Tengah yang sudah diadopsi banyak daerah di dunia, identitas gender sering dianggap sebagai sebuah konsep yang biner -berpasangan-. Hanya ada pria dan wanita. Kesempitan konsep ini membuat masyarakat sulit untuk menerima keberadaan transgender, karena mereka tidak bisa masuk ke dalam pengotakan mereka.

Banyak transgender yang melakukan transisi dari pria menjadi wanita atau sebaliknya, tetapi ada yang merangkul dua gender.

Pada akhirnya, dengan mengubah dan memperluas pengetahuan kita tentang definisi identitas gender, kita tidak hanya bisa memahami gender dengan lebih baik, tetapi kita juga bisa lebih menerimanya.

Di Kebudayaan orang-orang Hawaii, orang yang mempunyai kemiripan dengan pria dan wanita  bukan suatu hal yang aneh. malah justru dihormati.  Hampir mirip dengan Bissu di Sulawesi.

Baca juga : gender ke-3 di Indonesia : bissu, India dan Albania

Māhū dalam pemahaman awam adalah sebutan untuk orang yang digolongkan mempunyai gender ke-3 -Kaumakaiwa Kanaka‘ole- di Hawaii atau Kanaka Maoli, dan di Tahiti atau dalam budaya-budaya Maohi . Malah mereka tidak menyebutnya gender ke-3, mereka menyebutnya diri ketiga, yaitu seseorang yang memiliki dua konsep gender (pria dan wanita). Māhū mempunyai peran besar dalam tradisi di masyarakat Kanaka Maoli dan Maohi. Mirip dengan fakaleiti di Tonga, fa’afafine di Samoa dan juga femminiello di Neapolita. Namun dalam kehidupan modern di Hawaii, nama māhū lebih sering digunakan untuk memanggil seorang waria atau transgender.

Ketika kamu menemukan tempat itu di dalam dirimu dan mengakui adanya aspek pria dan wanita di dalamnya, dan mempunyai kapasitas untuk menerimanya, itu lah saat di mana māhū berada dan kebebasan yang sebenarnya terjadi.

Māhū sangat dihormati dan dihargai, serta mendapatkan tempat di dalam tradisi orang-orang Hawaii. Mereka dipercaya memiliki suatu kualitas yang membuat mereka mampu menjadi guru, pengasuh dan penyembuh.

“Saya tidak memilih hidup sebagai anak laki-laki dalam keluarga saya” Kata Hina Wong Kalu yang menjadi tokoh utama dalam film dokumenter berjudul Kumu Hina.  “Saya mau menjadi anak perempuan mereka, Tetapi dengan berkembangnya perjalanan dan tantangan hidup saya, saya harus merangkul  salah satu sisi dalam diri saya yang aggressif -sisi maskulin- ketika saya butuhkan. Tapi sebenarnya itulah indahnya menjadi seorang māhū, itu adalah berkah. Kita harus menerimanya dengan segala aspek yang ada.”

 

Kumu Hina adalah sebuah film yang sangat bagus, menceritakan tentang perjuangan mempertahannya budaya dan nilai-nilai luhur pengguni kepulauan pasifik, yang tergerus modernisasi di masyarakat Hawaii serta pengarus agama yang dibawa oleh missionaris dari eropa. Mengangkat salah satu tokoh māhū yang bangga dan percaya diri dengan dirinya, yang juga dihormati, sebagai seorang guru, praktisi budaya dan pemimpin komunitas.

Bayangkan sebuah dunia di mana seorang bocah laki-laki bisa tumbuh menjadi seorang wanita yang ia mimpikam, dan seorang bocah perempuan yang bisa tumbuh menjadi seorang pemimpin di antara  kelompok laki-laki.

Kumu Hina Sumber : Huffingtonpost

Hinaleimoana Wong-Kali Sumber : Huffingtonpost

Adalah Hinaleimoana Wong-Kali, seorang guru, praktisi budaya, dan seorang pemimpin suku yang berasal dari suku Kanaka Maoli. Lahir di Nu’uanu, distrik O’ahu.  Ia menempuh pelajaran formal di sekolah Kamehameha dan Universitas Hawaii. Ia adalah salah stau anggota pendiri organisasi bernama Kulia Na Mamo, sebuah organisasi yang mempunyai tujuan mengangkat kualitas hidup māhū wahine (māhū perempuan). Selama 13 tahun ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang Direktur Kebudayaan di Sekolah Umum Honolulu yang menggunakan kebudayaan, sejarah dan pendidikan tradisional Hawaii sebagai sarana membangun dan memperkuat generasi muda Hawaii. Saat ini ia adalah seorang penasehat kebudayaan dan pemimpin di banyak komunitas yang mengurusi masalah-masalah sipil, termasuk  sebagai ketua Dewan Pemakanan di pulau O’ahu yang mengurusi makan suku asli dan warisan kebudayaan Hawaii.

sumber : kumuhina.com huffingtonpost

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: