Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Siapa Yang Salah?

Ilustrasi jenazah Sumber : republika

Ilustrasi jenazah
Sumber : republika

Banyak sekali anggapan-anggapan yang mengatakan bahwa LGBT adalah penyakit menular, penyimpangan seksual, kelainan/penyakit kejiwaan, bahkan menganggap homoseksual adalah pilihan dan gaya hidup. Anggapan-anggapan tersebut banyak tersebar sehingga menimbulkan kecemasan masyarakat dan kesalahpahaman mengenai homoseksualitas. Tetapi dengan kebenaran ilmu pengetahuan, anggapan-anggapan itu pun „ditumbangkan” oleh beberapa orang baik melalui media sosial, laporan wawancara dengan ahli dan penggiat HAM maupun oleh beberapa blogger.

Baca juga : Hal-hal yang anda belum tahu tentang homoseksualitasApakah harus mengulangi sejarah yang pernah disesali?

Sebenarnya Kementerian Kesehatan dalam buku terbitannya, Buku Panduan Pengklasifikasian dan Diagnosis Penyakit Kejiwaan di Indonesia, edisi kedua (tahun 1983) dan edisi ketiga (1993), menyatakan bahwa orientasi seksual tidak memenuhi kriteria penyimpangan seksual atau penyakit kejiwaan. Dalam Undang-Undang dijelaskan bahwa Pendidikan Tinggi merupakan lembaga yang berasaskan kebenaran ilmiah. Sudah seharusnya pemahaman tentang orientasi seksual dan pendidikan seksual menjadi bagian dari kurikulum yang diajarkan. Hal ini dikarenakan pentingnya pemahaman tentang orientasi seksual, terutama, dalam ranah kebenaran ilmiah.

Beberapa hari yang lalu beredar berita tentang 2 jenazah yang meninggal dikarenakan mengidap AIDS yang dianggap dari kelompok LGBT (1 waria yang sudah tidak punya keluarga dan 1 gay dari keluarga miskin yang ditolak keluarganya) yang terlantar di rumah sakit dan tidak ada yang mau merngurusi jenazahnya. Yang pada akhirnya diurus oleh Kawan Pelangi (sebuah ormas yang menangani pasien marginal), yang kemudian mendapatkan bantuan salah satu uztad dari yayasan Dakwah Bil Hal. Dikatakan baik KPAP (Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi) maupun aktivis HAM dan aktivis LGBT tidak membantu. Hujatan dan kutukan pun datang bertubi-tubi yang ditulis pada kolom komentar di beberapa situs yang memberitakan berita tersebut maupun yang tersebar lewat media sosial. Kebencian-kebencian terhadap LGBT semakin menjadi yang kebanyakan meyalahkan ketidakhadiran  aktivis LGBT di sana untuk membantu. Berita LGBT Meninggal terlantar, republikaBerita LGBT meninggal terlantar NBCIndonesia

Ini adalah sebuah berita duka yang tidak seharusnya dijadikan suatu alat untuk menyalahkan seseorang atau suatu kelompok.

Kebanyakan orang yang membaca berita tersebut pasti akan menyimpulkan beberapa hal, diantaranya:

  1. LGBT = (penular) HIV, yang bisa berubah menjadi AIDS
  2. Pembela/Aktivis LGBT tidak konsisten dengan perjuangannya dan tidak peduli dengan LGBT, terutama penderita HIV, AIDS. Lihat saja, dalam situasi seperti ini, di saat ada 2 orang LGBT yang meninggal, aktivis pun tidak mau membantu.

Apakah LGBT = (penular) HIV?

Banyak masyarakat sampai sekarang masih menyangkut pautkan LGBT dengan penularan HIV. Bahkan mungkin banyak yang tidak tahu perbedaan HIV dan AIDS.

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

HIV bisa menyebar karena perilaku hubungan seksual yang tidak aman, pemakaian jarum suntik narkoba, jarum tattoo, bahkan transfusi darah. Hubungan seksual yang tidak aman itu meliputi gonta-ganti pasangan serta hubungan seksual tanpa pengaman (kondom). Umpama ada dua orang A dan B. A dilahirkan gay dan berperilaku seks aman, sementara B seorang yang hetero dan berperilaku seks tidak aman. Maka B lebih beresiko menyebarkan HIV daripada A yang homoseksual. Dari sekian banyak jumlah penderita HIV dan AIDS, jumlah penderita terbanyak ada pada kelompok heteroseksual. Data resmi Jumlah Penderita HIV, AIDS 2014, menunjukkan, jumlah infeksi HIV yang dilaporkan menurut faktor resiko, pada kaum heteroseksual 8.922, sedangkan pada hubungan laki-laki dengan laki-laki 2.518, karena penasun (penggunaan napza suntik) 1.348, dan karena faktor lainnya, 4.793 penderita.

Bisa dilihat, faktor penularan melalui hubungan seksual tidak aman masih yang tertinggi. Ini membuktikan rendahnya pengetahuan tentang hubungan seksual yang aman. Kenapa? Apa karena absennya pendidikan seks yang seharusnya diajarkan sejak dini?

Aktivis LGBT bahkan KPAP Jatim yang dikatakan tidak mau membantu jenazah yang meninggal karena HIV, AIDS:

Para aktivis LGBT biasanya sukarelawan, yang berarti tidak dibayar atas semua pekerjaannya. Serta jumlah mereka yang tidak banyak. Tapi hak-hak yang mereka perjuangkan banyak. Perjuangan Hak-Hak LGBT, Litbang dan KomNas perempuanYogyakarta Principle, the Application of International Human Rights Law in relation to Sexual Orientation and Gender Identity. Selain itu, seperti orang biasa, mereka juga punya kehidupan pribadi masing-masing, dari urusan pekerjaan sampai keluarga. Memang akan lebih baik kalau ada orang dari aktivis LGBT yang bisa membantu, pertanyaannya, kenapa tidak ada? Itu yang seharusnya dicari tahu dan dicari solusinya. Menyalahkan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.

Apakah semua orang sudah paham akan bahaya HIV dan cara penularannya? Bagaimana AIDS bisa terjadi?

Kenapa keluarga bisa sampai menolak anggota keluarganya sendiri? Apakah stigma negatif yang beredar di masyarakat penyebabnya? LGBT identik dengan aib keluarga?

Tidak adanya biaya? Masalah kesehatan selalu menjadi pukulan terbesar pada rakyat miskin. Jumlah rakyat miskin di Indonesia juga sangat besar.

Apakah karena mereka takut tertular HIV dari proses pemandian jenazah? Apakah karena masalah ada dan tidaknya waktu? Apakah karena dana? Kalau memang negara dan masyarkat menginginkan aktivis LGBT selalu hadir dalam keadaan darurat seperti itu, seharusnya ini juga harus dicarikan solusinya.

Solusi yang perlu dicari, bukan siapa yang bersalah. Kita harus melihat masalah tersebut sebagai wake-up-call, dan mulai mencari solusinya.

sumber : sindikter.dikti.go.id, depkes.go.id wikipedia, republika

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: