Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, PENGETAHUAN

Ibu yang menerima anaknya gay

Ibu Asianti Purwantini Sumber: suarakita

Ibu Asianti Purwantini
Sumber: suarakita

Adalah Asianti Purwantini. mengatakan bahwa dia memiliki seorang anak gay dan bisa menerima kondisi anak tersebut. Cerita berawal ketika ia menikah dengan suami ke-empatnya yang sudah memiliki dua anak laki-laki dan perempuan yang tinggal dirumahnya.

Dua minggu setelah menikah, salah satu anak tirinya, mengaku bahwa dia digerayangi oleh anak kandungnya. Pada saat itulah ia tahu bahwa anaknya gay.

Ibu dengan panggilan Anti sendiri sebelumnya, tidak tahu dan curiga bahwa anaknya gay. Menurutnya anaknya tidak kelihatan gay, seperti stereotip gay -kemayu-.

Ia pun berpikir mungkin ini terjadi karena kehilangan figur ayah, mengingat sejak kecil anaknya diasuh oleh dia sendiri, tanpa figur ayah. Akhirnya ia mengirimkan anaknya ke bapaknya. saat anaknya kelas 2 SMA. Tetapi saat kembali ke rumah Ibu Anti, ternyata anaknya masih gay.

Akhirnya ia membawa anaknya ke psikiater. Psikiater pun mengatakan “Kira-kira kalau anaknya ibu begini bisa terima nggak?”,tanya psikiater.

“Saya rasa bukan bisa terima atau tidak, mingkin saya harus terima kali ya”. Jawab Ibu Anti.

Pada akhirnya ibu Anti mencoba untuk menerima, karena ia tahu kalau ia tidak bisa menerima hubungannya dengan anaknya. Mungkin akan selalu marah dengan anaknya.

Ibu Anti pun mulai mencari informasi tentang gay, termasuk mendekati komunitas gay. Menurutnya, gay, hanya orientasi seksual, diluar itu tidak ada perbedaan. rasa marah, cinta dan rasa sedih tidak memandang jenis kelamin. Menurutnya, selain ia harus menerima anaknya yang gay, anaknya pun juga harus bisa menerima orientasi seksualnya.

Sebagai seorang yang beragama, ia percaya bahwa kondisi anaknya merupakan kehendak Tuhan, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa (merubahnya). Kita bisa berbuat lebih baik, bisa. Tetapi memaksa merubah sesuatu yang sudah menjadi kehendak Tuhan, tidak bisa.

Ibu Anti menyarankan, kepada komunitas gay. Jika memang mereka (gay) yakin akan kondisinya dan bahagia, maka harus bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa kondisinya mereka itu tidak berbeda, hanya sebuah orientasi seksual. Sedangkan soal prestasi, hubungan sosial kepada masyarakat.

Untuk orang tua, ia menyarankan untuk menerima, dan bila tak bisa menerima pun, sebaiknya jangan sampai anaknya merasa tidak diterima (dibuang) yang akhirnya bisa berada ditempat yang lebih buruk.

Untuk Masyarakat, selama, kehidupan gay tidak menganggu masyarakat, kenapa harus diusik. Karena seksualitas adalah masalah pribadi setiap orang.

sumber: suarakita

 

 

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 24 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: