Advertisements
ARTIKEL PENGETAHUAN TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, PENGETAHUAN

Apakah harus mengulangi sejarah yang pernah disesali?

Pada akhir pekan ini, kontroversi terhadap Kelompok Pendukung  LGBT di Universitas Indonesia membuat Menristekdikti, Muhammad Nasir mengeluarkan pernyataan bahwa ia akan melarang LGBT Indonesia di semua Universitas di Indonesia link. Ketua MPR Zulkifli juga setuju dengan perkataan Muhammad Nasir, dan menyatakan bahwa seksualitas LGBT tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. link

Kelompok Pendukung LGBT (SGRC-UI, Support Group and Research Centre), adalah sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh seorang pelajar yang ingin memberikan pelayanan konsultasi tentang gender dan persoalan seksualitas kepada pelajar-pelajar serta menyediakan forum diskusi tentang Pembelajaran Kritis tentang Seksualitas. Walaupun diprakarsai oleh mahasiswa, pengajar dan alumni UI, Humas UI mengeluarkan pernyataan resmi pada tanggal 21 Januari yang mengatakan bahwa SGRC-UI belum disetujui secara resmi oleh Universitas. link Ini membuat tuduhan bahwa kegiatan tersebut mempunyai maksud mempromosikan homoseksualitas dan merusak moral pelajar-pelajar Indonesia. link

Apa yang sudah terjadi terhadap SGRC-UI  sayangnya bukan hal yang baru di Indoensia. Pada akhir tahun 2015, Forum Internasional Pemuda Brawijaya –Diskusi yang berlangsung 2 hari  yang membahas Hak-Hak LGBT Indonesia dan kaum minoritas lainnya- harus dibatalkan setelah penyelenggara dari Universitas Brawijya mendapatkan ancaman.  Pada bulan Desember, rektor Universitas Lampung memperingatkan bahwa ia akan mengeluarkan pelajar dan pengajar yang terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan LGBT.

Amat disayangkan, Tekanan pada zaman demokrasi malah datang dari pemerintah, bukan dari tempat lain, termasuk Universitas-universitas, yang seharusnya menjembatani pemikiran-pemikiran kritis, bukannya malah melarang. Meskipun sebenarnya praktek-praktek gender sejenis dan ketidaksesuaian -non-conforming- gender sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama. Sepertinya Universitas-Universitas tidak memiliki pengetahuan sedikit pun tentang hal ini atau malah sebenarnya memang mengabaikan.

Ketakutan yang berkembang dan kepanikan moral terhadap masalah-masalah LGBT di Indonesia merupakan sebuah tanda bagaimana tidak siapnya pejabat-pejabat pemerintah –dalam hal ilmupengetahuan- untuk menangani masalah hak-hak LGBT. Perkembangan Hak-hak LGBT yang cepat di seluruh dunia –termasuk, contohnya pencabutan pelarangan pernikahan sesama jenis di negara tetangga Vietnam- sudah menimbulkan reaksi masyarakat di negara-negara yang belum siap untuk menangani masalah tersebut secara rasional. Brunei Darussalam mungkin akan memberlakukan hukum rajam kepada gay, Peraturan kriminalitas baru di Aceh yang memasukan perbuatan seks sesama jenis ke dalam perbuatan kriminal. Atas nama moral dan kesusilaan, sepertinya institusi-institusi pendidikan di Indonesia mempunyai respon yang serupa, pemikiran yang sempit-tertutup-.

Pernyataan Muhammad Nasir juga bisa dengan mudah dihapus dan dianggap sebagai pemberitahuan yang tidak dipikirkan dahulu dari seorang menteri dengan disiplin –ilmu- yang buruk. Dengan memtajam perbedaan antara seksualitas LGBT dan moral serta norma di Indonesia, (seolah) ini berarti bahwa LGBT Indonesia dan mereka yang mendukung hak-hak LGBT adalah tak bermoral dan bukan orang Indonesia. Ini mempersulit orang-orang yang memiliki pandangan moderat, untuk menentang pernyataan yang seperti itu dan lebih jauh lagi akan memperketat ruang untuk berdebat.

Jika Menristekdikti melaksanakan pelarangan tersebut, berarti ia melanggar UUD 1945 pasal 28 C yang menyatakan bahwa „Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.” Setelah mendapat peringatan tentang hal ini, pada hari senin Menristekdikti, mem-tweet yang mengatakan ”Mau menjadi lesbian atau gay itu menjadi hak masing2 individu. Asal tidak menganggu kondusifitas akademik.”  . Yang membingungkan lagi, dia menambahkan bahwa ini tidak berarti bahwa pemeritah memberikan legitimasi terhadap status LGBT Indonesia, hanya hak saja sebagai penduduk. Dia mengatakan bahwa pelarangan hanya untuk LGBT indonesia yang pacaran atau bercinta secara terang-terangan di kampus.  Katanya, „Larangan sy terhadap LGBT masuk kampus apabila mreka mlakukan tindakan yg kurang terpuji seperti bercinta, atau pamer kemesraan dkampus.”

Beberapa Tweet-an terakhirnya lebih menyita perhatian. Dia mengatakan, „Himbauan saya kepada seluruh pihak perguruan tinggi untuk selalu melakukan pendampingan secara intensif kepada mahasiswanya.”, ” Karena lingkungan kampus akan sangat berpengaruh terhadap psikologi mahasiswa.” Pernyataan ini mencerminkan pandangan umum di Indonesia bahwa seksualitas yang –dianggap- tidak normal adalah suatu penyakit,  mengenyampingkan fakta bahwa Buku Panduan Pengklasifikasian dan Diagnosis Penyakit Kejiwaan di Indonesia, yang diterbutkan Kementrian Kesehatan, edisi ke dua (tahun 1983) dan editis ke-tiga (1993), menyatakan bahwa orientasi seksual tidak memenuhi kriteria penyimpangan seksual atau penyakit Kejiwaan.

HOMOSEKSUALITAS ADALAH PILIHAN

Unesco belum lama ini merilis laporan yang memberikan informasi detail tentang stigma-stigma yang beredar, kekerasan dan perlakuan diskriminasi terhadap pelajar-pelajar dengan identitas gender yang non-conforming, ekspresi-ekspresi gender dan orientasi seksual di Asia Pasifik. Akibat dari perlakuan tersebut, termasuk didalamnya tingkat DO –Drop Out- dari sekolah, prestasi akademis yang rendah, dan bahkan –dalam kasus-kasus yang lebih parah- percobaan bunuh diri. Pernyataan-pernyataan Menteri tersebut hanya akan berkontribusi pada situasi yang sudah tragis seperti ini. Melarang dan memberikan stigma terhadap LGBT Indonesia tidak bisa menghentikan keberandaan mereka. Ini hanya akan memaksa mereka untuk menyembunyikan identitas seksualnya, memperburuk pendidikan dan ancaman kesehatan yang serius.

Hak untuk mendapatkan pendidikan, lebih jauh ditulis dalam Undang-Undang Tentang Pendidikan Tinggi (no. 12/2012). link : lihat halaman 7  Tapi seperti kebanyakan hukum-hukum di Indonesia, ini berisi definisi dan prinsip-prinsip yang samar –kurang jelas-. Berdasarkan Undang-Undang tersebut. Pendidikan tinggi harus berprinsip  „a. pencarian kebenaran ilmiah oleh Sivitas Akademika; b. demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama, nilai budaya, kemajemukan, persatuan, dan kesatuan bangsa”

Tetapi karena masyarakat Indonesia sangat majemuk, agama dan nilai budaya ynag mana yang harus dijunjung tinggi? Lebih jauh lagi, bagaimana jika pemahaman konservatif tentang agama dan budaya menghambat perkembangan pembahasan, atau bahkan penemuan kebenaran ilmiah?

Ada banyak contoh sejarah yang memperlihatkan bagaimana interpretasi agama yang fundamentalis bisa menghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Pada zaman dahulu, Galileo Galilei dihukum penjara dan Giordano Bruno malah dihukum bakar  hidup-hidup karena pernemuannya berselisih dengan ajaran gereja. Nilai-nilai yang bertentangan  yang tertanam pada Undang-undang tentang Pendidikan Tinggi mencerminkan kebingungan yang tersebar dalam Institusi-Institusi Pendidikan di Indonesia. Nilai-nilai agama, yang sebenarnya masalah individu, tercampur dengan nilai-nilai ilmiah yang seharusnya menyokong pemikiran kritis dan kebebasan akademis.

Alan Turing SUmber : thelifeofsavni.weebly.com

Alan Turing
SUmber : thelifeofsavni.weebly.com

Sebagai Menteri Teknologi, Muhammad Nassir terlihat mengabaikan fakta bahwa Korporat-korporat besar yang bergerak dalam bidang teknologi mendukung hak-hak LGBT. Google, IBM, Apple, facebook dan Lenovo. Semua mempromosikan masuknya LGBT di dunia industri. Pada tahun 1940, Ahli matematika Alan Turing menemukan konsep Mesin Universal, ynag dikatakan sebagai dasar komputer modern. Turing sendiri sudah diketahui bahwa ia mendapatkan prosekusi dan harus menjalani terapi yang tidak manusiawi karena homoseksualitasnya, yang akhirnya meninggal bunuh diri –sesuai laporan resmi- pada tahun 1954. Perdebatan kematian Turing Saat ini, Tim Cook, Direktur Eksekutig Apple, Perusahaan Teknologi Informasi terbesar, juga seorang gay.

Tim Cook Sumber : masable.com

Tim Cook
Sumber : masable.com

Saya tidak tahu apakah Menteri ini tahu tentang dua laki-laki ini, tapi saya yakin bahwa dia memiliki Ipad, Iphone. Mungkin dia harus melihat film The Imitation of Game untuk bisa memahami bahwa seksualitas tidak mempengaruhi kemampuan belajar serta tidka mempengaruhi peradaan manusia maju, yang pastinya adalah inti akhir tentang Pendidikan itu sendiri.

Film berjudul The Immitation Game

Henry YuliusDiterjemahkan dari artikel berbahasa inggris yang ditulis oleh Hendri Yulius tanggal 26 januari 2016 LGBT Indonesians on campus: too hot to handle

Hendri Yulius  adalah seorang peneliti dan penulis. Dia juga adalah penulis beberapa buku, termasuk Coming Out. Dia mendapatkan Tittle Master dari the Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore.

 

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: