Advertisements
Ceritaku

Ada cinta antar Lelaki

Sungai air mata mbak Faradina—sahabat, penyair Merah Yang Meremah—meluap. Adik perempuan tersayang kecewa di Cikarang. Mereka sedih melihat saya bahagia. Sebab saya yang lelaki ini jatuh cinta pada dia yang juga lelaki. Sulit dijelaskan, pun sulit menjelaskan. Coba bayangkan perasaan maha dahsyat ini: kaki menjejak bumi, jiwa melambung ke langit tinggi. Dunia yang sumpek seketika menjelma surga. Bising kendaraan bermotor terdengar alunan melodi indah. Terik mentari terasa hangat di badan. Sunyi malam riuh geletar batin. Seluruh indera menjadi begitu peka. Hanya ada dia di setiap kedipan mata: lelaki tercinta.

Bagi saya, cinta adalah anugerah. Cinta bukan sejenis keinginan yang didapat dengan parameter tertentu. Cinta hadir, membuat manusia demam rindu atasnya. Dan yang terjadi di sini asmara. Menyeret saya dan dia menembangkan syair Kahlil Gibran,”Bila cinta memanggilmu, turutlah ke mana dia pergi.” Saya telah pergi menuju lelaki. Sebesar apa cinta itu, hanya saya sendiri yang tahu. Tidak pasangan saya, apalagi orang lain. Cukup disimpan di hati dan sesekali berbagi dalam bentuk puisi, semisal puisi Matahari Terbit Malam Hari.

Saya bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Selama empat tahun hati ini terkunci dan sekarang terbuka kembali. Bukan lantaran tak laku. Untuk seorang Antok Serean: ganteng, pintar, dan baik hati (ckckck) tawaran menjalin kasih—lelaki maupun perempuan—datang silih berganti. Tapi, saya tak bergeming. Cinta tanpa kompromi. Seolah mata air jernih yang bergulir indah di lereng-lereng hati dan menggenangi danau perasaan. Datang tanpa pesanan. Tugas saya hanyalah menjalani dengan lapang dada, jujur, ikhlas, dan penuh syukur. Sekarang cinta mempertemukan dengan lelaki, jalani saja. Pun nanti cinta mempertemukan dengan perempuan, jalani saja. Hati tak usah dikonstruksi. Biarkan mengalir apa adanya. Tak perlu dilawan, apalagi bunuh diri dengan ragam pengingkaran.

Dia berhasil membuat saya takhluk. Satu bulan dia mendekat, tak lelah mengajak, dan akhirnya tak menolak. Kenyataan bahwa pacar saya tampan tak bisa dipungkiri. Saya suka lantaran fisik memang iya. Bukankah senang mulanya pandangan? Tapi, bukan hanya itu alasannya. Dia serius dalam tindakan, terbuka, dan sudi berbagi apa saja. Di sisi lain, interpretasi saya tentang cinta, realitas hidup, dan nilai-nilai kehidupan sangat berbeda dibanding empat tahun lampau. Saya memahami konsep keutuhan diri dan konsep cinta yang membebaskan. Sekilas terdengar naïf. Tapi, bagi saya, cinta tidak untuk menjajah satu sama lain, justru membebaskan. Apabila sendiri berhadapan dengan cermin tunggal, maka berdua berhadapan dengan cermin ganda. Melalui dia saya dapat melihat diri saya yang lain.

Sebab hubungan antar lelaki tak ada patriarki, maka wilayah domestik aman-aman saja. Keseharian sederhana penuh makna. Seperti apa? Saya setrika, dia cuci baju. Saya bikin sarapan Sereal, dia antar belanja ke Carrefour. Juga saling mengingatkan satu sama lain. Dia yang rajin shalat mengingatkan saya untuk ibadah—sudah bisa ditebak, saya terlalu ndableg menjalankannya— . Dia minta saya mengurangi merokok. Dia menganjurkan minum jus buah dan rajin olahraga. Sebaliknya, saya minta dia teratur menaruh barang karena sifat pelupanya. Saya minta dia mengurangi makan dan rajin fitnes agar perutnya rata. Saya sumbang pemikiran ketika dia hendak pindah kerja. Atau menjalankan aktivitas bersama, seperti nonton ke bioskop, pergi ke tempat karaoke, pergi ke tempat ngeber, atau makan malam berdua. Indah bukan?

Tetapi, segala yang saya paparkan di atas tak ada di benak orang lain (baca: hetero). Selalu dan selalu, saya dihadapkan pada komentar, pertanyaan, dan ocehan dangkal seputar seks: siapa pewong siapa lekong, siapa nembak siapa ditembak. Memang tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi, please deh, cerdas sedikit masa tidak bisa. Seolah kehidupan gay seputar selangkangan belaka. Lebih parah lagi, banyak yang melihat aktivitas gay terkait jual-beli tubuh. Saya benar-benar marah, ngamuk, mencak-mencak, ketika seorang karib bicara dengan enteng,”Kon dibayar piro sekali ngencuk?” (Kamu dibayar berapa sekali ML?) Saya dendam sebulan lamanya. Sebagai kawan dekat, saya merasa dilecehkan. Karib mengiba maaf. Oke, saya maafkan. Tapi, jangan memandang rendah saya atau gay lain.

Saya selalu bilang pada kawan hetero,”Saya suka lelaki atau perempuan tak merubah pribadi Antok Serean yang kamu kenal. Saya tetap suka membaca, menulis, melamun, dan cangkruk di warung kopi.” Pada kenyataannya, saya menerima perlakuan berbeda. Ketika pacaran dengan perempuan, mereka bersorak-sorak bergembira. Sebaliknya, ketika saya pacaran dengan lelaki, mereka menjaga jarak, seolah orang asing. Entahlah. Barangkali ini harga yang harus saya bayar demi nilai kejujuran. Menantang mainstream memang berat. Tapi, itu jalan yang saya pilih, lengkap dengan resikonya—banyak kawan dekat tak lagi mau kenal, terlebih setelah saya aktif di GAYa NUSANTARA—. Kalau sudah begitu, saya bakar semangat dengan baca ulang buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

Meski masih dalam suasana kasmaran, tapi tampuk kesadaran saya tetap mengeja kefanaan hidup. Pertemuan dan perpisahan, kelahiran dan kematian, bak dua sisi mata uang. Kita tak bisa merenggut salah satunya. Bagi saya, titik beratnya bukan pada dua sisi itu, tapi proses di dalamnya. Setiap percintaan adalah kesempatan. Kesempatan menuai pengalaman. Bukankan hidup melaju dari rangkaian pengalaman demi pengalaman? Ada masanya kesempatan itu terhenti dan perpisahan terjadi. Bisa dengan akhir biasa-biasa saja: masing-masing merasa cukup lalu melanjutkan kehidupan sendiri—saya suka perpisahan indah ala Dee dan Marcel—. Bisa juga dengan dramaturgi klise: pertengkaran, perselingkuhan, salah satu menikah dengan perempuan, atau kematian. Saya tidak kenal kata putus, saya memilih kata pisah. Sebab kebersamaan bisa dilanjutkan dengan pola berbeda: sebagai kawan, sahabat, atau saudara. Kebencian pada orang lain hanya menjadi racun yang membunuh diri sendiri. Tebarkan cinta, hidup akan lebih berwarna.

Dua bulan: satu bulan pendekatan, satu bulan pacaran. Saya tidak suka harapan. Saya lakukan yang terbaik sekarang. Adik tersayang bertanya,”Sampai kapan, Mas?” Saya jawab,”Tidak tahu.” Jujur, saya tidak tahu yang akan terjadi nanti, bahkan esok hari. Nanti biar jadi misteri. Detik ini berarti detik ini. Sebisa mungkin saya isi dengan pengalaman indah. Sebab keindahan selalu memberi kekuatan. Apabila saya tengok kenangan yang terlewat, tercipta senyum anggun. Betapa hidup, dengan caranya yang tak terduga telah mengajarkan makna. Tak perlu hidup seribu tahun, dua bulan saja pemahaman itu terhampar begitu nyata. Dan saya akan terus mencipta keindahan dari kesempatan yang ada sekarang. Sampai suatu saat perpisahan itu terjadi.

Sekali lagi, kenangan indah memberi kekuatan. Masa yang terlewat, yang tak terengkuh kembali, kekal dalam diri. Persis kristal kenangan karaoke di NAV, kilaunya masih memancar sampai sekarang. Berdua, duet lagu Mayangsari: Rasa Cintaku. Tak ada sesiapa di dunia, hanya saya dan dia, berteriak di tengah malam buta, agar semesta mencatat cinta yang membuncah di dada:

Jangan jangan aku takut mendengar

Kuingin selalu, selamanya denganmu

Hanya engkau saja satu­satunya

Tempat kubersandar di dalam dunia

Hanya padamu, kuserahkan cintaku

cerita dikutip dari gerakan-gay.blogspot.com

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 23 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: