Advertisements
ARTIKEL SEJARAH TERBARU, BERITA, BERITA TERKINI, SEJARAH

Gender ketiga di India, Indonesia dan Albania

Di beberapa belahan dunia, ternyata gender tidak hanya terdiri atas laki-laki dan wanita. Mereka menganggap mereka gender ketiga. Bukan wanita, bukan pula pria.

 

Hijra. di India

 

3rd gender india

 

Eksistensi hijra sendiri sudah ada sejak ribuan tahun. Hijra sering melakukan ritual pemberkatan kepada wanita dan bayi yang baru lahir agar mendapatkan keberuntungan dan kesuburan. Menjadi Hijra sendiri di India sama saja dengan memasukan diri ke dalam kelompok kasta orang buangan (outcast), walaupun untuk beberapa orang, ini menjadi satu-satunya jalan. Sering kali anak laki-laki yang berperilaku feminin, sering mendapat cemoohan bahwa dia berperilaku seperti hijra. secara tidak langsung cemoohan itu sudah membentuk pola pikir anak tersebut bahwa dia adalah seorang hijra. Meskipun secara tradisi dan sejarah, keberadaan hijra diakui dan bagian dari masyarakat, pada prakteknya mereka tetap mendapat diskriminasi dan cemoohan, malah kadang dianggap seperti bukan manusia.

sumber foto : allianceindia.org

sumber foto : allianceindia.org

 

Tapi, ada satu festival untuk memuja Dewa Arafan,  di mana para Hijra ini bisa menikah dengan Dewa Arafan. Sebagai orang yang disisihkan dari masyarat, festival ini tentu  memberikan tempat khusus bagi para hijra.Setiap tahun sekitar 30.000 hijra datang ke tempat ini untuk menikah dengna Dewa Arafan. Dewa Arafan sendiri diceritakan dalam cerita Maha Barata. Arafan adalah orang yang diputuskan untuk dikorbankan dalam perang Maha Barata. Mengetahui bahwa hidupnya tinggal satu hari, Arafan tetap diminta untuk menikah. Namun tidak ada satu wanita pun yang bersedia menikahinya, dengan alasan tidak mau menjadi janda. Maka turunlah Dewa Krisna dalam wujud seorang wanita dan menikah dengannya. Cerita ini menggambarkan Hijra sebagai seorang wanita yang dulunya adalah laki-laki yang tersakiti dan menjadi korban sosial di masyarakat.

Satu hari setelah festival selesai, semua Hijra harus menjadi janda dengan melepaskan gelang ikatan pernikahan mereka. Ini lah hari yang membuat para Hijra sedih karena harus berpisah dengan suami mereka dan harus kembali menghadapi hidup mereka ynag penuh diskriminasi.

 

Bissu, di Sigeri, Sulawesi

 

3rd gender sulawesi

Di Sulawesi Selatan, sebelum datangnya agama-agama yang ada sekarang ini, sudah ada kepercayaan  orang-orang bugis  memberikan tempat kepada beberapa orang yang dalam dunia modern mereka sering disebut waria. Namun bedanya menjadi seorang bissu adalah suatu panggilan alam, lahir sebagai bissu. Puang matoa adalah tittle yang disandang seorang bissu, Poang Matoa bukan laki-laki, bukan pula wanita. Poang Matoa biasanya memimpin upacara penyuburan tanah. Berdasarkan tradisi Bugis, sebenarnya bisu sendiri adalah orang yang terlahir dengan 2 kelamin, atau sering disebut hermaphrodite. Dalam tradisi kuno bugis, sebenarnya selain gender laki-laki, perempuan, dan bisu masih ada 2 gender lagi, yaitu perempuan yang hidup sebagai seorang lak-laki, atau Calelai dan laki-laki yang hidup sebagai seorang wanita atau Calebai.

Menurut definisi Bissu adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan di Pulau Sulawesi, Indonesia. Golongan Bissu umumnya disebut “di luar batasan gender”, suatu “makhluk yang bukan laki-laki atau perempuan”, atau sebagai “memiliki peran ritual”, di mana mereka “menjadi perantara antara manusia dan dewa”. Tidak ada penjelasan meyakinkan definitif untuk apakah arti “di luar batasan jender” dan bagaimana sebutan tersebut dimulai.

Menurut Sharyn Graham, seorang peneliti di University of Western Australia di Perth, Australia, seorang Bissu tidak dapat dianggap sebagai banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender apa pun namun setelan tertentu dan tersendiri untuk golongan mereka. Menurut Sharyn Graham, dalam kepercayaan tradisional Bugis, tidak terdapat hanya dua jenis kelamin seperti yang kita kenal, tetapi empat (atau lima bila golongan Bissu juga dihitung), yaitu: “Oroane” (laki-laki); “Makunrai” (perempuan); “Calalai” (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki); “Calabai” (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan); dan golongan Bissu, di mana masyarakat kepercayaan tradisional menganggap seorang Bissu sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut.

Para Bissu tidak jarang digambarkan dan dianggap sebagai waria, hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman masyarakat awam dalam banyak sejarah dan peran mereka dalam masyarakat. Untuk menjadi Bissu, seseorang harus memadukan semua aspek gender. Dalam banyak contoh ini berarti mereka harus dilahirkan dengan sifat hermafrodit. Ada juga muncul contoh Bissu di mana Bissu laki-laki atau perempuan sepenuhnya terbentuk secara seksual.

Peran interseksual seorang Bissu yang tidak biasa dalam masyarakat Bugis tradisional tidak secara eksklusif berhubungan dengan anatomi tubuh mereka, tetapi peran mereka dalam kebudayaan Bugis. Identitas ketiadaan gender mereka (atau kemencakupan tentang segala jenis kelamin) dan karakter berbagai jenis yang tidak dapat dialokasikan secara akurat kepada jenis kelamin apa pun.

Hal ini terbukti dalam cara berpakaian para Bissu. Para Bissu mengenakan sejenis gaun dan pakaian yang tidak dikenakan oleh jenis kelamin lain, namun juga memasukkan elemen dan karakter pakaian “pria” dan “perempuan”, yang menjelaskan mengapa golongan Bissu tidak dapat disebut sebagai waria, karena mereka hanya diizinkan untuk memakai pakaian yang sesuai untuk kasta gender mereka.

Peran unik yang dilakukan golongan Bissu dalam budaya Bugis sangat erat kaitannya dengan status ketakterbatasan gender mereka. Diperkirakan bahwa, karena kita adalah manusia yang tinggal di balik suatu batasan gender, kita pun tidak ada di tengah-tengah dunia yang tampak dan yang tersembunyi. Pikiran ini diduga mirip dengan ide awal Muslim tentang “Khanith” dan “Mukhannathun” yang menjadi “pengawal batas-batas suci” dan adanya posisi setara untuk para interseksual dan transgender yang ada dalam budaya Muslim tradisional tertentu, tetapi dalam kasus ini tampaknya budaya Bissu bersumber dari budaya daerah Sulawesi yang jauh lebih awal dari budaya Muslim.

Dalam budaya Bugis, para Bissu biasanya dimintai nasihat ketika “persetujuan tertentu” dari kekuasaan dunia batin (spiritual) diperlukan. Hal ini terjadi misalnya ketika orang Bugis Sulawesi berangkat untuk perjalanan naik haji ke Mekah. Dalam situasi ketika dimintai nasihat, seorang Bissu akan melakukan ritual untuk mengizinkan jin yang sangat baik untuk merasuki mereka dan untuk berbicara sebagai utusan dari dunia tak nampak.

Golongan Bissu yang telah terlatih dikenal dengan keunikannya di mana mereka dipercaya tak mempan sama sekali akan senjata tajam.

Untuk menjadi bissu pun harus melalui serangkaian pengawasan dan ujian. Sejak kecil semua anak diperhatikan perilaku mereka. Apakah cenderung berperilaku yang pada umumnya dilakukan lawan jenis mereka, jika iya, apakah perilaku tersebut berubah atau tetap? Jika tetap ia akan dibawa ke komunitas bissu dan pepimpin bissu akan melangsungkan ritual spiritual.  Lalu ia akan memperoleh pelatihan spiritual, olah kanoragan, kedisiplinan, pengendalian nafsu birahi hingga puasa mutih sampai 40 hari. Penting bagi seorang bissu untuk menjaga kehormatan. Seorang bissu tidak diperkenankan berhubungan seksual maupun menikah.

Walaupun tradisi Bissu dalam memanggil jin adalah tidak sesuai dengan tradisi Islam lokal di Sulawesi, tradisi ini telah dipertahankan oleh komunitas Muslim regional di Sulawesi, dengan syarat bahwa Bissu dan tradisi mereka tidak menunjukkan atau terdiri dari tindakan yang jelas bertentangan dengan syariah Islam. Dalam kasus yang tidak biasa untuk kerasnya tradisi Islam ini, itu berarti bahwa kekuatan seorang Bissu dan jin yang mereka kuasai tidak boleh diukur dengan cara apapun sebagai otonom (berdiri sendiri) dari kekuasaan Allah, karena di dalam sistem Islam, Allah adalah satu-satunya yang harus dihormati.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, golongan Bissu bersama dengan golongan Calabai (“bukan perempuan”) dan Calalai (“bukan laki-laki”), diberi kewenangan penuh dan tidak ada larangan untuk memasuki bagian tempat tinggal perempuan maupun laki-laki di desa-desa.

Di dalam masyarakat Indonesia saat ini, golongan Bissu semakin dianggap sebagai golongan pelestari tradisi Bugis yang berjasa bagi kekayaan budaya nasional Indonesia, walaupun keberadaan mereka semakin jarang dan mungkin akan punah pada masa depan karena maraknya globalisasi dan tertekannya keberadaan mereka oleh agama-agama konvensional di Indonesia.

Definisi laki-laki dan perempuan yang berbeda di Albania.

 

3rd gender albania

 

Di Pegunungan Kaukasian di Albania, tradisi masih sangat kental. Di daerah ini terdapat tradisi dengan kode etik-kode etik  yang berumur raturan tahun, yang bermula pada abad pertengahan. Dalam kode etik tersebut, laki-laki didefinisikan sebagai seseorang yang memegang keseimbangan kekuatan politik dan sosial sedangkan seorang wanita adalah seseorang yang miliki sifat tuduk dan patuh. Hal ini membuat keberadaan “Sworn Virgin” muncul. “Sworn virgin” yang dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan Perawan tersumpah adalah seorang wanita yang mengambil alih peran sebagai seorang laki-laki. Ini biasanya terjadi pada keluarga yang kehilangan generasi laki-laki dalam keluarganya atau generasi laki-lakinya terlalu kecil, sehingga membuat anggota keluarga tertua berjenis kelamin perempuan mengambil alih peran laki-laki. Dalam tradisi di ALbania pada abad pertengahan hanya seorang laki-laki yang bisa mendapatkan warisan keluarga,  laki-laki mendapatkan kebebasan dalam hubungan sosial di masyarakat sedangkan wanita diperlakukan sebagai sebuah barang yang bisa “diperdagangkan” (sebagai istri) yang tidak mempunyai kebebasa. Jika seorang perempuan memutuskan untuk menjadi sworn virgin, maka ia harus menjalaninya seumur hidup dan tidak boleh melakukan aktifitas seksual.

 

 

Sumber : National Geography, Wikipedia

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: