Advertisements
BERITA TERKINI, FIGURES TERBARU

Lika-Liku hidup mantan buruh lesbian

Namaku Adon. Usiaku 32 tahun. Aku seorang pria transgender, atau yang sering disebut priawan (pria-wanita). Sesuai pilihanku, sehari-hari aku lebih nyaman berpakaian selayaknya pria pada umumnya. Kaos gombrong, celana panjang, topi, dan tanpa riasan wajah.

Kini aku menjadi aktivis buruh LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender), karena memang mereka adalah bagian dari diriku, beigtu pula sebaliknya. Dulu, pada 2001, aku pernah menjadi buruh pabrik tekstil di kawasan Cakung, Jakarta Utara, selama beberapa tahun.

Ternyata, lingkungan pabrik tidak membuatku leluasa hidup sebagai priawan. Dari sindiran, hinaan, sulit mendapat cuti haid, kritik atas penampilanku, sampai pelecehan seksual harus kutelan bulat-bulat. Kala itu, aku masih bodoh, tidak bisa melawan karena kepalang butuh pekerjaan.

buruh lesbiansumber foto: Narasumber Lipsus CatataPra May Day yang diselenggarakan oleh Pelangi Mahardhika di kawasan Cakung, Jakarta Utara, Minggu (12/4). (CNN Indonesia/ Yohannie Linggasari)

Aku masih ingat betul ketika seorang atasan meraba dan menyentuhku, menanyakan mengapa aku tidak memakai bra. “Kamu ‘kan perempuan. Nantinya kalau tidak pakai bra, bentuknya jadi jelek, tidak ada laki laki yang seneng.” Begitu kata laki-laki kurang ajar itu.

Hati ini berontak diperlakukan demikian. Namun, aku tidak punya pilihan. Kala itu aku sangat membutuhkan pekerjaan. Pelecehan lainnya dilakukan juga oleh bosku. Ia mempertanyakan orientasi seksualku yang suka perempuan. “Supaya kamu suka sama laki-laki, ayo coba kita check in. Kamu pasti bisa sembuh sama aku.” Begitu katanya.

Saat mau mengambil cuti haid pun, sering kali timbul ucapan yang tidak mengenakkan. “Lo masih haid enggak? Lo laki ‘kan?” Kira-kira begitu omongan yang kudengar dari pengawas pabrik. Hal ini cukup membuat priawan tidak nyaman ketika mau mengambil cuti haid.

Pernah pula aku dipecat karena terlihat sedang dekat dengan perempuan lain di lingkungan kerja. Mereka tidak secara spesifik mengatakan pemecatanku dikarenakan orientasi seksualku. Namun, dari cara mereka berbicara dan perlakuan mereka, aku yakin alasannya adalah orientasi seksualku.

Salah aku apa? Kerja tidak pernah bolos, masuk tepat waktu, pergaulan pun tidak pernah salah, tidak pernah rugikan perusahaan. Katanya cuma kinerja kurang baik. Apa yang aku berikan ke perusahaan dikatakan tidak memuaskan. Namun, aku yakin ada teman sesama pabrik yang mengadu ke atasan bahwa aku seorang lesbian. Ya sudah, apa mau dikata.

Penerimaan dari keluarga membuatku lebih tegar. Namun, prosesnya pun berdarah-darah dan penuh air mata. Bagaimana tidak, ayah dan adik laki-lakiku memukuli aku. Mereka begitu anti terhadap homoseksual.

Bahkan, aku hampir dijatuhkan ke sumur yang super dalam. Konon katanya, sumur berdiameter tiga meter itu punya kedalaman selayaknya tujuh bus yang dideretkan! Hanya ibuku yang membelaku mati-matian.

Namun, kejadian itu tidak membuatku semakin lemah. Justru sebaliknya, aku semakin kuat dan bangkit dari keterpurukan. Aku buktikan bahwa aku mampu jadi orang berguna, apalagi, aku adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Aku tunjukkan bahwa aku bisa mendapatkan pekerjaan, bahkan membagikan hasil jerih payahku kepada mereka.
Dan kini, setelah aku mandiri dan aktif berorganisasi, keluarga akhirnya menerimaku. Bahkan, aku bisa mengenalkan kekasihku kepada ibu dan bapak. Dengan adanya penerimaan dari mereka, aku sudah lebih enteng menjalani kehidupan sebagai priawan. Meski tak jarang, masih ada anggapan bahwa aku ini mengidap penyakit menular atau bahkan sakit jiwa.
Itu kisah Adon kala menjadi buruh pabrik. Sudah 14 tahun lamanya itu waktu berlalu. Namun, ternyata, diskriminasi terhadap kaum priawan tidak jua enyah. Boy begitu ia ingin dipanggil, buruh priawan di pabrik tekstil di kawasan Tipar Cakung, Jakarta Utara, bercerita kepada CNN Indonesia bahwa perlakuan diskriminatif masih terjadi hingga detik ini.

Diskriminasi tersebut memang tidak nyata tertulis, namun tampak secara verbal dan perilaku sosial. Bahkan, sampai muncul perilaku merisak. “Omongannya menyindir kami, para priawan, seperti jeruk kok makan jeruk? Apa enaknya?” kata priawan berusia 32 tahun itu kepada CNN Indonesia saat ditemui di kawasan Semper, Jakarta Utara, Maret lalu.

Boy pun pernah sulit mendapatkan pekerjaan. Diceritakan olehnya, perusahaan kerap memilih-milih buruh yang melamar pekerjaan berdasarkan penampilannya. “Pihak perusahaan maunya buruh perempuan yang tampilannya cewek banget. Jadi kalau mau melamar masuk ke sana ya harus punya kenalan, misalnya kenal orang dalem,” kata Boy bercerita.

Berbeda halnya dengan yang dialami Romiah, 31 tahun. Romiah merupakan buruh lesbian di pabrik tekstil di Cakung, Jakarta Utara. Romiah suka mengenakan pakaian berwarna cerah bermodel feminin lengkap dengan pemulas bibir.

“Mungkin karena penampilanku sangat feminin, jadinya tidak dijauhi dan dicibir. Dari pengalamanku, teman-teman welcome-welcome saja. Aku pun mengakui ke mereka bahwa aku lesbian,” kata Romiah.

Bahkan, Romiah bisa mendapatkan posisi yang lebih tinggi dibandingkan kawan-kawan priawannya, yaitu sebagai staf administrasi di pabrik tekstil tersebut. “Yang lebih didiskriminasi itu memang priawan, mungkin karena penampilan mereka. Kalau penampilan kayak cewek gini, enggak masalah,” katanya.

Hari ini adalah hari buruh internasional. Namun hingga saat ini, belum ada hitungan pasti seberapa besar komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Sebab masih banyak yang belum bersedia membuka diri soal ini. Lembaga Buruh Internasional (ILO) bersama dengan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada melakukan penelitian tentang persepsi anggota serikat buruh tentang pekerja LGBT (lesbian, biseksual, gay, transgender). Judul penelitian ini adalah Gender Identity and Sexual Orientation: Promoting Rights, Diversity and Equality in the World of Work (PRIDE).

Riset ini menunjukkan bahwa pekerja LGBT masih kerap mendapatkan diskriminasi. Ditemukan bahwa mereka sulit mengakses pekerjaan, terutama pekerjaan di sektor formal, karena banyak pemberi kerja yang homophobic dan karena lingkungan (pada umumnya) tidak ramah terhadap kaum LGBT. Sementara, mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan juga kerap mengalami perlakuan diskriminatif seperti dihina, dijauhi, dirisak, diancam, dan bahkan mengalami kekerasan secara fisik.

Aktivis LGBT Dede Oetomo berpendapat transgender, terutama waria, mengalami diskriminasi paling berat di antara semuanya. Ekspresi gender dan orientasi seksual yang terlihat jelas membuat kehadiran mereka begitu menonjol dan menjadi pusat perhatian. Dalam banyak kasus, waria paling kesulitan mendapatkan pekerjaan dibandingkan lesbian, gay, biseksual, maupun priawan. Maka tak jarang, waria kerap menjadi pekerja seks komersial karena keterbasan pilihan pekerjaan tersebut.

sumber: CNN Indonesia, Kisah Perjuangan Mantan Buruh Lesbian

Teman-teman juga bisa membaca kisah-kisah menarik lainnya:

Kisah buruh gay yang mencari selamat

Si cantik Felicia, Kisah hidup si buruh waria

Advertisements

About Kabar LGBT

Korannya Komunitas LGBT Indonesia

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Cerita Buruh Gay yang Cari Selamat | Kabar LGBT - January 12, 2016

  2. Pingback: Si Felicia yang Cantik, buruh pabrik | Kabar LGBT - January 12, 2016

Tinggalkan Pesan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements

Ikuti Tweet kami

Follow Kabar LGBT on WordPress.com

Join 20 other followers

Komunitas kami

%d bloggers like this: